Saturday, 21 May 2016

Minta Kitab Gratis dari Turki (Hakikat Hitabevi)

Awalnya, kulihat paket berwarna coklat teronggok di pojok ruangan kantor pondok. Setelah kulirik, pengirimnya dari Turki! Walah. Kulihat alamat pengirimnya dari Istanbul, tapi tak jelas dari siapa. Hanya ada tulisan HAKIKAT KITABEVI dan beberapa kata yang sepertinya alamat pos si pengirim.

Kata Pak Lurah, Ustadz As'ad, paketan dari alamat itu sering banget didapat santri Krapyak, sebulan bisa dua sampai tiga kali. Kata beliau, isinya buku gratis dari penerbit di Turki. Tak panjang kalam, akupun menelusur di Google tentang Hakikat Kitabevi. Kudapati sebuah situs penerbit buku-buku agama Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dari Turki. Selain mencetak buku yang kemudian dijual, penerbit ini juga menyediakan buku-buku gratis dan siap mengirimkannya bagi siapapun di manapun.

Cara Minta Buku

Banyak judul buku yang ditawarkan. Aku coba survey dulu situs resmi mereka, hakikatkitabevi.com, untuk melihat buku apa saja yang tersedia. Ternyata mereka menerbitkan buku-buku turats Sunni dalam berbagai bahasa; Arab, Inggris, Turki, Urdu, Ibrani, Perancis, Spanyol, Belanda, China, Persia, Rusia. Tapi tak ada bahasa Melayu, apalagi Bahasa Indonesia di rak buku mereka. Sayang sekali.

Dan cara mengajukan permintaan bukupun tak susah, tinggal kirim surat elektronik (e-mail) dengan identitas dan alamat lengkap ke info@hakikatkitabevi.com, lalu tunggu sekira lima sampai enam pekan. Maka kukirim surel ke alamat penerbit itu, tepatnya pada 25 Februari, dengan mendata beberapa kitab berbahasa Arab dan Inggris yang kuharapkan.

Saat itu buku yang kuajukan untuk dikirim ada delapan judul, yakni; Al-Munqidz min ad-Dhalal, Fitnatu al-Wahhabiyya, Al-Fiqh 'ala Madzahibi al-Arba'ah, Hujjatu Allah 'ala al-'Alamin, An-Ni'matu al-Kubra, Kitabu as-Shalat, Al-Islam wa Sairi al-Adyan, dan Confession by A British Spy. Memang bukan buku-buku besar yang ditawarkan gratis oleh pihak penerbit, tapi cukup ampuh untuk syiar dakwah alias propaganda. Ini rupa surel yang kukirimkan;


Lama tak ada respon, hampir dua bulan. Lagipula aku tak begitu berharap, lha wong gratisan kok. Baru pada 12 April, ada pengurus kantor kirim pesan; "Ada paketan buatmu Kang, dari Turki." Aha!

Kubuka -tentu saja- dengan suka cita. Dari delapan judul yang kuajukan, tidak satupun yang dikirim. Tapi tak mengapa, lha wong gratisan kok. Di dalam paket itu ada sembilan buku berbahasa Inggris dan berhologram yang tak kalah menarik, yakni; empat jilid buku Endless Bliss (Sa'adatu al-Abadiyyah), Sahaba The Blessed, The Sunni Path, Belief and Islam, Islam and Christianity, dan Could Not Answer. Semuanya tulisan dan terjemahan karya Husein Hilmi Isyik (w. 2001).

Tak berhenti di situ, pada medio Mei, ada paketan lagi datang dari Istanbul buatku. Kukira buku-buku yang sama, namun setelah kubuka ternyata beda. Ada 10 buku baru, yang kesemuanya juga tulisan Husein Hilmi Isyk; dua jilid Endless Bliss, Miftahul Janna, The Rising and The Hereafter, Islams Reformer, Documents of The Right Word, Confession of a British Spy, Advice for The Muslim, Ethics of Islam, dan Answer to The Enemy of Islam.

Alhamdulillaah :)

Siapa Husein Hilmi Isyk?

Beliau ini adalah sosok yang sangat produktif menulis, sebagaimana lazimnya ulama di Turki. Biografi tentangnya terpampang cukup komplit di situs resmi yang didedikasikan oleh murid-muridnya, www.huseyinhilmiisik.com. Ada satu fragmen kisah menarik yang tertulis di sana, mungkin kisah ini bisa menggambarkan kepada kita alasan mengapa tokoh ini gemar bagi-bagi buku karyanya secara gratis.

Suatu hari di Masjid Bayazid, Husein muda nimbrung kerumunan orang di salah satu sudut masjid. Mereka sedang menyimak pengajian seorang ulama sepuh yang Husein belum kenal. Tema yang dibahas cukup menarik hati Husein, yakni tentang adab berziarah ke makam para kekasih Allah. Ulama tersebut menerangkan dengan apik dan simpatik sambil membacakan materi itu dari sebuah buku.

Saat menyimak pengajian di tengah kerumunan itu, Husein bergumam dalam hati, "Kalau seseorang betul-betul ikhlas, mencintai Allah, semestinya ia membagikan buku-buku agama secara gratis."

Ketika masuk waktu shalat, orang-orang mulai bubar untuk berjamaah. Ulama sepuh itu mendekati Husein sambil berkata, "Ini hadiahku untuk seorang ulama muda, demi kerelaan Allah," katanya sembari memberikan buku itu. Husein tercenung, belum sempat mengucapkan sepatah kata pun dan shalat jamaah telah dimulai.

Seusai shalat, ia lihat buku itu, di sampulnya tertulis judul 'Rabithah Syarifah' dengan nama penulis 'Abdulhakim'. Seorang jamaah di sampingnya menjelaskan bahwa ulama sepuh itu ialah Sayyid Abdulhakim Effendi al-Arvasi, mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah dan khatib Masjid Ayyubiyyah. Dari sinilah dimulainya kisah tarbiyah seorang Husein, hingga nantinya ia menerima ijazah keilmuan secara lengkap dari gurunya, Sayyid Ahmad Nayyir al-Makki al-Husaini al-Arwasi bin Sayyid Abdulhakim Effendi al-Arwasi.

Ila hadhrati Syaikh Husein Hilmi Isyk bin Said al-Istanbuli, al-Fatihah.

Krapyak, 22 Mei 2016

Friday, 29 April 2016

Semalam di Mlangi

Harus kuakui betapa bersemangatnya empat muda-mudi yang kutemui tempo hari. Mereka menempuh puluhan kilometer mengendarai sepeda motor di tengah hari yang panas menyengat, untuk bertemu dan wawancara dengan beberapa orang, kemudian pulang lagi jelang tengah malam. Sungguh militansi yang patut diacungi jempol.

Jam setengah dua, aku sampai di Mlangi. Tepatnya di Masjid Jami’ Mlangi, salah satu dari empat masjid Pathok Negara kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Letaknya di seduah dusun di kabupaten Sleman, berjarak setengah jam dari pusat kota Jogja. Suasananya khas. Tak sulit untuk menuju lokasi ini. Dari ringroad barat, cukup masuk gerbang Mlangi dan lurus terus ke barat hingga mentok di masjid peninggalan Kiai Nur Iman. Di sanalah aku bertemu empat muda-mudi ini.

Mereka menyebut diri mereka sebagai Tim Pejuang Fakta; Imam, Isti, Syamsul, dan… Fina, ehm. Jauh-jauh datang dari Salatiga untuk menelusur pertalian nasab leluhurnya. Mereka memang sedang menggarap sebuah proyek biografi pendiri pesantren tempat mereka mengaji. Pondok Pesantren Madrasah Hidayatul Mubtadi-in (MHM) Kalibening, Tingkir, Salatiga. Dalam proses penelusuran ini, ternyata ada petunjuk yang mengarahkan mereka ke Mlangi, yakni ke sosok Mbah Kiai Nur Iman. Sosok yang semestinya menjadi pewaris tahta Mataram.

Maka mereka pun memutuskan untuk menyambung kaitan emosional, spiritual, dan intelektual dengan cara menziarahi peninggalan Mbah Nur Iman. Masalahnya, tidak ada kontak, relasi, atau apapun yang bisa mereka hubungi di Mlangi. Maka sebagai ‘orang Jogja’ yang kebetulan dilantik sebagai guide pada acara jalan-jalan ini, kuarahkan mereka kepada seorang kenalan, Mbak Ning Eva di Pesantren Ar-Risalah, namun baru bisa ditemui menjelang Maghrib.

Tim Pejuang Fakta ini awalnya kukira gerombolan mahasiswa yang sedang KKN sebab tampilan mereka; menenteng buku catatan, jeprat-jepret lokasi, dan memakai jas hijau dengan emblem almamater MHM. Yah, setidaknya cukup meyakinkan sebagai tim riset, tak sekedar orang plesir iseng-isengan. Hehe. Kutemui mereka di warung makan depan masjid selepas ziarah makam. Ternyata mereka memang serius menggarap proyek ini, bukan hanya dengan mengumpulkan literatur tertulis, tetapi juga wawancara dengan puluhan orang, serta sudah dan akan mengunjungi belasan kota untuk berburu data. Salut.

Sambil menunggu sore, kami pun putuskan untuk mewawancarai ketua takmir Masjid Jami’ Mlangi, Kiai Aban Ichwan, selepas Ashar. Bukan hal yang susah untuk menemukan beliau. Setelah shalat berjamaah, kami duduk santai di pendopo halaman masjid sebelah selatan. Suasana Masjid Jami’ Mlangi memang syahdu sekali. Ada sepasang pendopo di halamannya yang lumayan luas. Pintu masuk masjid dikitari kolam-kolam pembasuh kaki yang jernih. Di balik tembok putih tebal yang mengitari area masjid, terhampar pemakaman kraton, pemakaman warga, dan juga pemakaman sanak famili Mbah Kiai Nur Iman.
Bersama Kiai Aban di pendopo selatan Masjid Jami' Mlangi
Syamsul bertanya tentang perikehidupan Mbah Kiai Nur Iman. Dengan rendah hati, Kiai Aban mengatakan bahwa ia tidak ahli dalam urusan sejarah, maka tidak bisa memberikan jawaban. Kata beliau, orang yang paling paham tentang tetek bengek sejarah Mbah Nur Iman, mulai dari perjalanan hidup hingga jejaring kekeluargaan anak keturunan adalah Bapak Sri Pujo. Namun sayangnya beliau sudah wafat.

Namun bukan berarti wawancara mandek. Kami pun menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kapasitas beliau sebagai sesepuh dan pengurus masjid. Mulai dari tradisi ritual di masjid Mlangi hingga kondisi sosial masyarakat Mlangi.

Kiai Aban menjelaskan, bahwa sebanyak kurang lebih 450 kepala keluarga di Mlangi adalah anak keturunan Mbah Kiai Nur Iman. Sistem perjodohan antar keluarga yang dipraktekkan sejak dahulu menjadikan semua masyarakat Mlangi adalah saudara sebrayah. Hal ini menjadikan kultur sosial di Mlangi sangat khas dan kental dengan nuansa kekeluargaan dalam arti yang sebenarnya. Bukan hanya itu, Mbah Kiai Nur Iman juga sangat konsen mendidik anak keturunannya menjadi pribadi-pribadi saleh dengan keilmuan agama yang mumpuni. Sehingga tak heran bila banyak keturunan beliau yang kemudian menjadi ulama, bahkan hingga hari ini.

Di dusun Mlangi sendiri saat ini ada 13 pesantren yang berdiri, demikian tutur Kiai Aban. Ya, tiga belas! Hampir di setiap gang ada papan nama pesantrennya. Tentu saja lengkap dengan pemandangan para santri yang sedang mengaji di sana. Semuanya anak keturunan Mbah Nur Iman. Jika kita menelaah biografi para kiai sepuh di berbagai daerah pun, tak sedikit yang berhulu nasabnya ke Mbah Nur Iman Mlangi. Semisal Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Chudlori Tegalrejo, Mbah Asy’ari Kalibeber, Mbah Gunardo Parakan, dan masih banyak lagi.

Hal ini tak lepas dari peran Mbah Nur Iman di masa lalu yang memang lebih memilih berkiprah dalam dakwah ajaran Islam di Tanah Jawa. Meskipun secara nasab, Mbah Nur Iman yang bernama asal Raden Mas Sandiyo inilah yang semestinya menjadi putra mahkota Kerajaan Mataram Islam warisan Sultan Agung, namun beliau tidak berkenan dan melarutkan diri di tengah umat secara kultural. Adapun tahta kerajaan dipangku oleh adik-adik beliau, yakni Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi sultan pertama Yogyakarta dan Susuhunan Pakubuwono III yang menjadi pemimpin Surakarta pertama.

Akan sangat panjang jika kita membicarakan sejarah Mbah Nur Iman sejak ibu yang mengandung beliau dititipkan di Gedangan Surabaya hingga kiprah anak-murid beliau pada masa Perang Jawa pimpinan Pangeran Diponegoro. Namun yang kami ingin dengar adalah bekas yang ditinggalkan oleh Mbah Nur Iman, baik berupa situs material maupun kultur sosial.

Di Mlangi, kultur ngaji sangat mengurat nadi bagi masyarakatnya. Inilah warisan tak ternilai harganya yang dibangun oleh Mbah Nur Iman berabad-abad lalu. Sesuai dengan namanya, Mlangi, yang berasal dari ‘mulangi’, maka aktivitas ngaji di ‘pamulangan’ tak pernah sepi di sini. Tiap bakda Maghrib hingga Isya, anak-anak masuk ke pamulangan-pamulangan yang ada, entah di pesantren maupun langgar. Tidak ada televisi menyala di waktu itu, tabu hukumnya. Bahkan dulu, tutur Kiai Aban, ia kerap ‘nyamplong’ batu ke rumah warga yang menyalakan televisi selepas Maghrib. Di Masjid Jami’ Mlangi sendiri, yang buka 24 jam, digelar ngaji bagi masyarakat. Tiap bakda subuh ada pengajian tasawuf, Al-Hikam, sedangkan bakda Maghrib ngaji fiqh. Kecuali hari dan malam Jumat, libur. Itupun masih diisi dengan kegiatan solawatan atau manakiban.

Tradisi keagamaan yang diamalkan mulai zaman Mbah Nur Iman pun masih dilestarikan hingga kini. Semisal muludan, manakiban, solawatan, dan terutama pengajian. Masjid Jami’ peninggalan beliau hari ini diurus oleh takmir yang dibimbing oleh dewan kiai se-Mlangi. Sehingga corak keagamaan dan tradisi sosial yang baik di Mlangi tetap bisa bertahan di tengah perubahan Yogyakarta yang begitu pesat. Orang-orang Mlangi, menurut Kiai Aban, bukan tipe orang neko-neko. Hal ini dipengaruhi suasana relijius masyarakat yang memang sudah ayem tentrem. Misalnya dari sisi keamanan, tidak perlu ada siskamling. Namun untuk menemukan orang yang melekan, gampang sekali di sini. Bahkan kalau kita marker motor, misalnya, di depan rumah orang sampai tiga hari tiga malam pun tak akan bergeser posisinya.

Kami berlima kemudian diantar ke rumah Kiai Aban di utara masjid, komplek Pesantren Aswaja. Di ruang tamu kulihat ada logo Nahdlatul Ulama dan foto besar yang tak asing, almarhum KH Ali Maksum Krapyak. Dari beliau kami mendapat satu kopian pohon silsilah dan rekaman tertulis sejarah Mbah Kiai Nur Iman. Kami pun berpamitan dan menyempatkan diri untuk foto bersama beliau sebagai kenang-kenangan. Kemudian lanjut sowan ke kediaman Ning Eva di Pesantren Ar-Risalah, seratus meter dari gerbang masjid.
Tim Pejuang Fakta bersama Kiai Aban (atas) dan Gus Syukron (bawah)
Tak kunyana, sore itu secara tak sengaja aku bertemu seorang kawan lama. Teman kampus yang sudah hampir tiga tahun tak ketemu, ndilalah ketemu di sini, di Mlangi. Yik Duloh, begitu biasa aku menyapanya. Pemuda –dulu- kribo –tapi kini sudah cukur- yang sama-sama masih belum tuntas kuliahnya sepertiku. Kalau aku, sebab ambruk penyakitan. Kalau dia, sibuk ngalor-ngidul berwirausaha. Ternyata dia mukim di salah satu kamar Pesantren Ar-Risalah, tempat yang ndilalah juga akan kami tuju.

Empat muda-mudi kuantar ke gerbang ndalem Pesantren Ar-Risalah, untuk bertemu dengan sohibul bait yang memang sudah janjian sebelumnya. Sedangkan aku memilih masuk komplek asrama santri, rehat di kamar Yik Duloh sambil menunggu kawan-kawan selesai sowan. Ada sekitar enam puluh santri yang mukim di pesantren ini. Selepas Maghrib, lantunan nadzam Asmaul Husna disenandungkan. Selepas Isya, suara apsahan kitab mulai terdengar.

Selain bertukar kabar, ada banyak hal lain yang kuobrolkan dengan Yik Duloh. Semisal kondisi kampung santri Mlangi hari ini yang sudah agak berbeda dengan dahulu. Terutama dari sisi demografisnya. Juga tentang polemik perombakan masjid beberapa tahun lalu yang sempat memantik ketegangan antarwarga. Satu tema yang juga kami bicarakan ialah tentang kelambanan santri untuk tanggap dalam dunia nyata zaman sekarang, terutama dalam urusan pekerjaan dan nafkah. Tak sedikit santri yang menyamakan kondisi hari ini dengan zaman dahulu, yakni masa di saat santri pulang mondok langsung ketemu pacul dan lahan siap garap. Padahal zaman sudah berbeda. Betapa banyak santri hari ini yang kebingungan mau ngapain untuk memenuhi kebutuhan nafkah. Memang rejeki sudah ditanggung oleh Allah, namun ikhtiar sesuai zaman haruslah tetap optimal. Begitu katanya.

Hal ini, menurutnya, juga berlaku pada kawan-kawan mahasiswa. Tak sedikit kawan-kawan sarjana berijazah yang bingung urusan pekerjaan. Begitu dapat kerja, tak sesuai sebab gajinya kecil atau apalah. Semua itu, kata Yik Duloh, sebab kurang gaul. Bukan sebab ijazahnya yang nggak laku. Tetapi karena semasa kuliah atau dalam kehidupan nyata di luar kampus, si mahasiswa kurang bergaul luas di lingkungan, entah itu berupa organisasi, minat, ataupun pengabdian masyarakat. Aku ditanya tentang acara kami di Mlangi, kemudian Yik Duloh menganjurkan agar kami sowan ke dua orang yang mumpuni perihal informasi tentang Mbah Nur Iman. Yakni Pak Tamam, putra almarhum Mbah Sri Pujo yang sempat disinggung Kiai Aban, dan Habib Ahmad yang merupakan juru kunci makam Mbah Nur Iman.
Aku dan Yik Duloh, beberapa tahun lalu di pojok kampus saat Diskusi Santai Selingkar
Jam sembilan malam rombongan sowan keluar dari ndalem. Betah betul mereka. Kulihat ekpresi wajah-wajah sumringah, meskipun masih kumus-kumus karena belum mandi seharian. Terutama Fina. Hahaha. Kami berlima keluar dari komplek pesantren dan ngobrol sebentar di pendopo masjid bagian utara, membahas agenda selanjutnya. Rencana sowan ke Pak Tamam atau Habib Ahmad pun kami urungkan karena sudah terlampau malam, terlalu larut untuk bertamu. Lagipula saat itu juga akan digelar rapat Peringatan Isra Mi’raj di pendopo selatan, kemungkinan besar orang-orang yang akan kami sowani juga ikut rapat tersebut.

Tim Pejuang Fakta memutuskan untuk pulang ke Salatiga malam itu juga. Agenda sowan lebih dalam bisa dilanjutkan di kesempatan lain. Informasi yang mereka dapatkan dari keluarga Pesantren Ar-Risalah, yakni Ning Eva dan suaminya, Gus Syukron Amin, sudah cukup untuk diolah. Belum lagi ikatan emosional yang terbentuk di saat sowan, sudah cukup menyalakan api kekeluargaan setelah sekian lama tidak ada hubungan antara Mlangi-Salatiga.

Mereka berempat pun pamitan pulang. Sementara aku kembali ke asrama Ar-Risalah untuk istirahat. Pas jam sebelas malam, jam malamku yang memang masih sangat rentan ambruk jika kecapekan. Aku menginap di sana, pagi hari selepas subuh aku nyelonong keluar untuk sarapan. Lalu beranjak ke makam untuk ziarah lagi. Nampak beberapa santri putri nyeker memasuki gerbang masjid untuk ziarah, terlihat pula beberapa ibu nyai membawa cucu-cucunya mendoakan leluhur mereka di pemakaman. Seusai ziarah, aku pulang ke Krapyak.

Sehari itu aku melihat semangat anak-anak muda yang begitu merindukan leluhurnya. Sehari itu aku melihat kehangatan kekeluargaan dari orang-orang yang belum pernah berjumpa sebelumnya, yang diam-diam saling memendam rindu entah karena apa. Sehari itu aku melihat wajah-wajah yang merona sebab kangen yang terlampiaskan.

~
Jogja, 27 April 2016

Wednesday, 17 February 2016

BERBAHAGIALAH! ~ Ngobrol Bareng Dokter Paulus Andrian

Daerah perumahan Bayeman Permai Jalan Wates KM 3 siang itu cukup lengang. Maklum jam kerja, mungkin para penghuninya sedang beraktivitas di luar. Di teras yang menjadi ruang tunggu itu hanya ada aku, kawanku Mahmud –orang yang mengantarku, dan seorang bapak pengidap vertigo dari Kulonprogo.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit dalam yang sudah sangat berpengalaman. Jam sembilan pagi aku dan Mahmud berangkat dari Krapyak, dengan kondisi perut yang masih tak karuan. Sesampainya di depan rumah Dokter Paulus Adrian itu, aku muntah walau memang tak banyak. Hanya muntah basa-basi karena perut mual disiksa belasan polisi tidur di perjalanan tadi.
Sambil duduk menunggu, kuatur napas untuk mengontrol sensasi mules dan cemas yang muncul tiba-tiba. Rasa ingin buang air, sedikit mual, cemas, dan semacamnya adalah hal yang biasa kualami saat asam lambung naik. Persis seperti orang yang lagi stress atau grogi parah.

Pintu terbuka, bapak pengidap vertigo keluar sambil membawa bingkisan obatnya. Aku pun masuk. “Silakan duduk,” sambut Pak Paulus. Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito. Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan. Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa. Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan. Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’ Saya heran saat itu, saya tanya kenapa. Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen, tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun. Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi. Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati. Kapanpun mati, siap! Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun. O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanan sudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan. Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap. Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy. Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya. Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya. Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung. Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang. Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis. Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya, “Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab. Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah. Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan. Jadi ya betul-betul sehat. Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan. Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee. Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami. Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang. Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa. Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh. Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja. Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis. Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu. Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu. Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu. Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan) Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalu hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti. Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut. Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau. Bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran. Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit. Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan. Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib. Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik. Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan. Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah. Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali. Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap. Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya, “Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam. Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh. Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang. Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah unuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang. Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit. Menuru penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”

“Ya!”

“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal. Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi, aku manggut-manggut. Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri. Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat, nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan. Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan. Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya. Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga. Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain. Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disanguni berbagai macam jenis obat pun keliru. Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD. Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya. Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit. Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya. Terima kasih Pak Paulus. []

Kadipiro Yogyakarta, 17 Februari 2016