Ayat "Penghibur" Kegundahan. Didikan OPTIMISME dalam Al-Quran

09:00
Catatan ini agak panjang... Mohon jangan dibaca saat Anda menyetir mobil atau sedang berkonsentrasi di WC... Kecuali kalo ada waktu luang, sandarkan punggung, selonjorkan badan, dan silakan membaca :-)

*********
Waktu saya lagi ngadepin masalah yang berat, kadang ada temen yang coba menghibur dengan Ayat ini;

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus'ahaa..
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.." (Al-Baqoroh:286)

Seakan-akan dia mau bilang;
"Tenang aja Bro.. Emang ente lagi ngadepin masalah, tapi Gusti Allah gak akan membebani Ente suatu masalah yang tidak bisa Ente atasi.. Pasti bisa Bro!"

Ya emang ada benarnya.. Namun, bila saya cermati Ayat tersebut dari konteks rangkaian ayat sesudah dan sebelumnya, maka Ayat tersebut kurang cocok bila disampaikan kepada Pengidap Beban Masalah.. Justru lebih cocok diutarakan kepada orang yang lagi ngerasa Males Ibadah atau Meremehkan Ibadah..

Yakni ketika ada orang mengeluh;
“Rasanya kok berat banget ya Sholat Tahajjud...”
“Duh... Berat banget kalau siang puasa, malemnya musti taraweh... mana kerjaan numpuk...”
“Rasanya kok susah banget buat sholat jama’ah...”
Dan keluhan-keluhan semisal itu...

ALASANNYA???

Coba lihat rangkaian ayat sesudah dan sebelumnya, ayat 285, semua berkaitan dengan keterikatan sosok hamba kepada syari’at Sang Pencipta... ketaatan untuk beribadah... Nah jika demikian, maka Ayat 286 Al-Baqarah ini ibarat ‘pengadem-adem’ bagi mereka yang sedang merasa malas dan enggan beribadah...

Ayat sebelumnya, [Aamanar Rasuulu bimaa...]
“Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al-Baqarah:285)

Ayat tersebut jelas mengabarkan keimanan dan ikrar ketaatan Mukminin kepada Allah Ta’ala. Ayat tersebut diakhiri dengan doa kaum Mukminin, dan uniknya, doa mereka ini ‘terpotong’ dengan pernyataan; [Laa yukalifulloohu nafsan.... maktasabat]

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah:286)

Kemudian doa Mukminin berlanjut di ayat yang sama; [Robbanaa laa tu-aachidznaa...]

“...(mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Al-Baqarah:286)

Nah, dalam ayat ini, Mukminin berdoa, agar Allah Ta’ala tidak membebani ‘beban’ yang berat sebagaimana dibebankan kepada umat-umat terdahulu. Lalu apakah ‘beban’ itu? Apakah ‘beban’ itu adalah permasalahan hidup? Ataukah beban persoalan sehari-hari? Dan siapakah Umat Terdahulu itu?

Ternyata, sebagaimana termaktub dalam Tafsir Al-Baghawiy, maksud dari ‘beban’ tersebut adalah Syari’at, dan yang dimaksud dengan Umat Terdahulu adalah Bani Israil alias Kaum Yahudi. Disebutkan bahwa dahulu, Allah Ta’ala mewajibkan Syari’at yang berat bagi Bani Israil, seperti 'memajang' dosa yang telah dilakukan di depan pintu rumah, memotong bagian pakaian yang terkena najis, memotong anggota tubuh yang melakukan maksiat… dan sebagainya. Wuih...

Maka jelas sudah, ayat populer yang berbunyi: [Laa yukallifulloohu nafsan...]
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” (Al-Baqarah:286)
Lebih cocok dijadikan ‘pengadem-adem’ bagi orang yang merasa berat melaksanakan ibadah. Dan sekaligus menjadi penghibur bagi mereka yang terlalu memaksakan diri dalam melaksanakan ibadah, sedangkan kondisi fisik tidak memungkinkan...

Nah... Kalau ada pertanyaan;
“Kalo begini, saat orang males ibadah trus dihibur pake Ayat ini... bukankah malah bikin dia tambah males ibadah??? Lha wong Gusti Allah gak membebankan dia, melainkan sesuai kemampuannya... Lha kebetulan, dia malah ngerasa bahwa ibadah itu di luar kemampuannya to??? Malah bikin orang males... Gimana tuh??”

Maka jawabannya;
Justru, pemahaman seperti itu tidak akan muncul jika ayat ini dipahami sesuai konteks rangkaian ayatnya.
Mari renungkan, sebelum Mukminin berdoa meminta agar tidak dibebani Syari’at yang berat, sebagaimana yang dibebankan kepada Bani Israil, Allah Ta’ala terlebih dahulu SUDAH memberikan pernyataan bahwa Dia TIDAK membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.

Artinya apa?
Artinya, Syari’at yang Gusti Allah tentukan kepada umat Kanjeng Nabi Muhammad ini, sudah DISESUAIKAN dengan kadar kemampuan penganutnya. Bukti konkretnya adalah; Waktu Shalat yang Allah wajibkan hanya 5 waktu, jumlah ini tentu jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah 50 waktu yang pernah Gusti Allah perintahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad saat Mi’raj.

Orang yang sakit dan tak mampu berdiri, boleh shalat sambil duduk, bahkan boleh sambil berbaring.
Orang yang uzur tak kuat berpuasa sebab usia, boleh tidak berpuasa, diganti dengan membayar fidyah.
Dan banyak lagi keringanan-keringanan lain yang bisa kita pelajari melalui fan Ilmu Fiqh, semuanya sudah dikodifikasikan dengan rapi oleh para Imam Madzhab berlandaskan dalil-dalil yang ada dalam Al-Quran dan Al-Hadits.

Jadi, sangatlah tidak pantas, jika setelah mendengar Ayat ini, kita malah bertambah malas beribadah. Justru seharusnya, kita akan berpikir;

“Oh iya ya... shalat Tahajjud yang Rasulullah contohkan ini sudah Allah sesuaikan dengan kemampuan umatnya... Gak mungkin kalo gak mampu... paling-paling bisikan nafsuku aja yang berat...”
“Wah... Gusti Allah pasti sudah menyesuaikan kadar waktu puasa, dan segala ibadah yang wajib... bisa saja Allah tetapkan lebih banyak dari ini...”
“Duh sholat lima waktu kok berat.. pasti ini nafsu. Padahal Allah Ta’ala bisa saja membebankan Syari’at yang lebih berat lagi...”

Nah, apalagi bila Ayat tersebut dilanjutkan dengan ‘kalimat pernyataan’ selanjutnya, maka akan lebih ‘klop’ dan lebih cocok dijadikan Ucapan Penghibur sekaligus Penyemangat bagi mereka yang sedang mengeluhkan kemalasan beribadah;

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah:286)

JADI KESIMPULANNYA...

kalo ada orang lagi ngeluh;
"Ah, rasanya susah banget mau tahajjud.."
"Berat banget sih.. Siang puasa, malem teraweh, padahal kerjaan numpuk.." dan keluhan semacem itu..

Maka kita 'hibur';
Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus'ahaa.. Lahaa maa kasabat wa 'alayhaa maktasabat..

Seakan-akan kita bilang;
"Hey Bro.. Gusti Allah menetapkan Syari'at kepada Umat Nabi Muhammad tu udah disesuaikan dengan kemampuan kita.. Gak kayak syareatnya umat-umat terdahulu yang berat-berat.. Semua bentuk ibadah sudah Allah sesuaikan dengan kemampuan kita.. Dia gak membebankan kepada kita ibadah yang tidak bisa kita kerjakan.. Dasar kitanya aja yang muales! Tapi ya terserah... Mau dikerjain, pahalanya buat Ente sendiri.. Mau dilanggar, ruginya juga buat Ente sendiri.. Up to you Bro.."

Nah, kalo begini, terasa lebih SREG kan??

LHA TRUS, KALO ORANG YANG LAGI BERMASALAH, APA DONG AYAT YANG COCOK???

Adapun bagi orang yang lagi Mengidap Masalah Berat Beban Hidup.. hehe.. Maka Ayat yang cocok untuk kita sampaikan adalah;

Fa inna ma'al 'usri yusroo.. Inna ma'al 'usri yusroo.. "Maka sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan.. Sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan.." (As-Syarh: 4-5)

Sekilas, 2 ayat ini seperti 'hanya' pengulangan.. Padahal 2 ayat ini, BUKAN SEKEDAR PENGULANGAN.. Tapi juga penegasan, bahwa ketika kita menghadapi SATU rumitnya problematika, ada DUA kemudahan yang Allah Ta'ala tawarkan.. Sebagaimana dijabarkan dalam berbagai kitab tafsir.

Dijelaskan dalam tafsir Al-Baghawiy bahwa dalam kebiasaan berbahasa orang Arab, jika ada kata yang sifatnya Ma'rifah atau Definit (yakni kata Al-'Usr yang bermakna Kesusahan) diulang di kalimat lain dengan bentuk yang sama (yakni sama-sama bentuk Ma'rifah atau Definit); maka hal itu tetap dihitung satu (maksudnya, Kesusahan dalam ayat kedua adalah Kesusahan yang ada di ayat pertama).

Namun, bila ada kata yang sifatnya Nakiroh atau Indefinit (yakni kata Al-Yusr yang bermakna Kemudahan) diulang di kalimat lain dengan bentuk yang sama (yakni sama-sama bentuk Nakiroh atau Indefinit); maka hal itu dihitung sebagai 2 hal yang berbeda (maksudnya, Kemudahan dalam ayat kedua bukanlah Kemudahan yang ada di ayat pertama).

Jad kalo mau diucapkan secara 'gampang'; Dalam SATU kesulitan, ada DUA kemudahan... Sebagaimana disebutkan dalam atsar; "Satu Kesusahan Tidak Bisa Mengalahkan Dua Kemudahan..."

Lalu apakah 2 Kemudahan itu?? Termaktub dalam Tafsir Khazin, bahwa ada dua kemudahan yang Allah sediakan dalam setiap masalah.. Sehingga, tak mungkin satu Kesusahan akan mengalahkan dua Kemudahan.. Namun bisa juga berarti bahwa 2 Kemudahan itu adalah Kemudahan di Dunia dn Kemudahan di Akhirat..

Jadi, walaupun kita tidak menemukan kemudahan di dunia (karena 'terkalahakan' oleh kesusahan), maka kita akan mendapatkan Kemudahan di akhirat (karena kesusahan di dunia tidak bisa mengalahkan Kemudahan di Akhirat).

Sedangkan penggunaan kata hubung "Bersama" (Ma'a) dalam ayat ...inna MA'A al-'usri yusroo... merupakan PERLAMBANG, bahwa Kemudahan yang Allah janjikan tidak berselang LAMA setelah munculnya Kesusahan tersebut. Sangkin tidak lamanya, maka Kemudahan itu seakan-akan 'bersama' (ma'a) dengan munculnya Kesusahan itu.

Terakhir,
Mengomentari dua Ayat 'kembar' ini, Ulama kita, Kyai Muhammad Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah mengomentari, bahwa dua ayat ini berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya (yakni Surah Asy-Syarh; Alam Nasyroh Laka Shodrok... dst). Sebagaimana Para Ulama Mufassir sepakat, bahwa Surah ini Allah Ta'ala turunkan sebagai PENGHIBUR bagi Sayyiduna Muhammad saw., seakan-akan Allah Ta'ala sedang menyatakan:

"Wahai Nabi-Ku... Kelapangan Hati yang engkau dapatkan... dan Pengangkatan Beban Berat yang memberatkan punggungu... dan Keluhuran Nama yang engkau dapatkan... serta kehadiran dua Kemudahan yang Aku sediakan di setiap Kesusahan... Adalah karena keteguhan hatimu serta kesabaranmu dalam menghadapi setiap masalah, dan kemantapanmu melaksanakan perintah-Ku..."

KESIMPULAN:
Nah, kesimpulan tulisan saya ini adalah...

Ayat-ayat Al-Quran yang kita bahas di atas, (yang bisa saya 'baca'), ada dua Pelajaran penting di dalamnya dan sangat Berkaitan dengan OPTIMISME:

PERTAMA; adalah DIDIKAN OPTIMISME saat merasakan Beratnya Beribadah Kepada Allah Ta'ala, sekaligus sebagai 'cambuk' pemacu bagi semangat kita, yakni ayat;

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus'ahaa.. Lahaa maa kasabat wa 'alayhaa maktasabat..
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah:286)

dan KEDUA; adalah DIDIKAN OPTIMISME saat merasakan Beratnya Beban Kehidupan, saat berhubungan dengan sesama manusia, pekerjaan, perjalanan hidup, dan sebagainya, agar kita senantiasa bersabar dan berusaha. Yakni Ayat;

Fa inna ma'al 'usri yusroo.. Inna ma'al 'usri yusroo..
"Maka sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan.. Sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan.." (As-Syarh: 4-5)

PENUTUP;
Kalo ada yang nanya, sebagaimana yang pernah Mas Ainur Rizan (Rizan Sp.) tulis di status Facebook-nya;
"Untuk apa Anda memperlihatkan tulisan Anda?"
Maka saya jawab;
"Ya untuk memperlihatkan pemahaman saya kepada Anda... Kalo ada yang gak Anda setujui, mohon sampaikan dan kasih koreksi, Alhamdulillaaah... Nah kalo Anda setuju, mari sini kita mojok di Angkringan sambil Ngopi... hehehehe"

*********
Ahad, 6 Juni 2010
17.20
Krapyak, Yogyakarta

No comments:

Powered by Blogger.