Sohib Story #9 ~ Mengapa Ibu Menangis?

Biarpun saya gak hebat, tapi saya punya buaaaanyak teman hebat. Nah, tiga di antaranya bernama Karyadi, Rohisam, dan Wardono. Saya katakan hebat dengan tolak ukur semangat mereka bertiga dalam 'nyuprih' Ilmu, sekolah, meski pas-pasan keadaan ekonominya. Mereka ini adik-adik kelas saya di SMA, meskipun usia mereka dua atau tiga tahun di atas saya. Paham?

Sekolah kami itu terletak di pusat Kota Slawi, namanya SMA N 1 Slawi, sementara tempat tinggal saya di Desa Tuwel, kawasan pegunungan yang basah, tempat tinggal mereka bertiga di Desa Harjosari, dataran rendah yang kering.

Jarak sekolah dari tempat tinggal saya maupun tempat tinggal mereka bertiga sekitar 20-25 kilometer. Sama-sama jauh, bedanya, saya naik sepeda motor, mereka naik sepeda onthel. Bayangkan, 20 km bolak-balik dengan sepeda, katanya sih mereka berangkat dari rumah tepat ba'da sholat shubuh, tiap hari, enam hari seminggu, sekian hari sebulan, sekian hari setahun. Wow.

Ketika MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMA dulu -kebetulan saya menjadi panitia bidang kerohanian- Kang Karyadi inilah siswa baru yang berani dengan lantang mengkritik rekan-rekan panitia di saat sarasehan; "Saya kecewa dengan panitia, masa sih ketika masuk waktu shalat, kami disuruh menunaikan shalat sedangkan kakak-kakak ini banyak yang nongkrong!?", nah mau bagaimana lagi, sayalah yang harus menjawab, atau lebih tepatnya, berkelit. Hehehe.

Saya yakin banyak cerita menarik yang lahir dari perjalanan mereka selama mengais ilmu. Namun saya hanya akan menceritakan satu dari ribuan fragmen kisah Kang Wardono, kebetulan sekarang kami sekolah di kampus yang sama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedangkan Kang Karyadi sekolah di Universitas Pancasakti Tegal, dan Kang Rohisam menyibukkan diri dengan olah batin, sufi.

Malam Jum'at sebelum Ramadhan, saya nginep di kos Wardono, banyak hal yang diceritakannya. Salah satu hal yang 'indah' adalah saat-saat kebersamaan Wardono dengan ibunya. Menurut saya, ibu Wardono yang petani ini adalah sosok pendidik yang luar biasa. Perlu diketahui, Wardono yang hobi naik gunung ini adalah anak yatim, ditinggal ayahnya sewaktu kecil. Allahumma ighfir li abihi warkhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Kang Wardono di Maktabah al-Jami'ah (Perpustakaan Kampus)

Suatu hari saat Wardono menikmati liburan kuliah di kampung, ia berkesempatan jalan-jalan bersama ibunya di Slawi, berbonceng ria dengan sepeda motor melihat keramaian kota, 'napak-tilas' masa-masa ia sekolah dulu. Di situlah Wardono mengajak Sang Ibu mampir di SMA N 1 Slawi, salah satu sekolah favorit di Kabupaten Tegal, dengan lantainya yang kinclong-kinclong dan temboknya yang mulus-mulus. Beda dengan sekolah-sekolah di kampung, begitu pikir Ibu, kagum, bangga.

Nah, di perjalanan pulang dari Slawi ke Harjosari, di atas sepeda motor, Ibu membayangkan betapa berat perjuangan anaknya, setiap hari, selama tiga tahun, bolak-balik dari rumah ke sekolah ke rumah lagi dengan sepeda. Bagaimana jika cuaca begitu terik? Sengatan matahari yang menaungi. Bagaimana jika hujan deras? Guyuran air yang memayungi. Tak terasa Ibu menangis, terharu. Tak henti-henti air matanya mengalir selama perjalanan. Dari kaca spion, Wardono melihatnya, ia pun terus memacu motornya, tak mau bertanya.

Sesampainya di rumah, Wardono pun memberanikan diri bertanya; (kira-kira begini);

"Bu, kenapa tadi nangis?"

"Lho, kamu liat?"

"Iya lah.. Kenapa, Bu?"

"Ibu mbayangin kamu dulu sekolah.. Yaa Allaah.. Waar, War.. susahnya perjuanganmu, musti bolak-balik 'ngepit', capek.. kalo terang kepanasan, kalo hujan kedinginan.. Ibu kasihan War.." jawab Ibu dengan nada hampir menangis.

Wardono tertegun atas jawaban ibunya. Tatapannya tak lepas dari wajah ibunya. Dengan halus disahutnya;


"Ibu... perjuanganku sekolah seperti itu, 'ngepit' tiap hari, capek, kehausan, lapar, kepanasan, kehujanan... belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan Ibu, yang tiap hari ke sawah, mengais nafkah untuk menyekolahkanku.. Aku sih enak Bu, tinggal berangkat, pulang, belajar, nggak mikirin apa-apa... nggak mikirin darimana buat makan, dari mana buat bayar sekolah... Ibu-lah yang mikirin semuanya.. Perjuangan Ibu jauh lebih berat, jauh lebih berat, Bu.."

Ibu dan anak ini pun berpelukan, nangis bareng.
Kang Wardono di Puncak Gunung

No comments:

Powered by Blogger.