DUHAI TUWEL YANG DAMAI NAN ASRI

08:46
Puisi ini teruntuk Desaku...
Juga untukmu kawan-kawan sekampungku...
Juga untuk semua teman yang bernaung di bawah sejuknya hati...
Mbah Gunung Slamet yang bersahaja dan berbudi...
:-)

DUHAI TUWEL YANG DAMAI NAN ASRI

Pertalian cinta Ayah dan Bunda bertaut di sini
Di kampung yang damai ini
Memulai ‘hidup baru’ mereka sebagai suami istri
Merajut kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti

Di sanalah bumi pertama yang kupijak
Di situlah sejuk air yang kuteguk
Di bawah naungan langit Tuwel-lah aku tumbuh
Dan di tengah pelukan Tuwel-lah aku menangis, tersenyum, terbahak

Di sanalah kukenal adab dan ajaran budi pekerti
Di situlah aku dikenalkan siapa Ilahi, siapa Sang Nabi, siapa Imam Syafi’I, siapa Imam Ghozali
Di bawah didikan Tuwel aku diajarkan bagaimana mengurang, menambah, dan ‘berbagi’
Dan di tengah kehangatannya, kukenal sahabat dan tetap kan kukenang sampai mati

Duhai Tuwel yang damai nan asri
Engkaulah desa kesejukan, kesederhanaan dan ketenteraman hati
Engkau berhias senyum ramah warganya, penuh peduli dan rasa kekeluargaan
Engkau bernaung di kaki Mbah Gunung Slamet, ‘bangunan’ Tuhan lambang keselamatan

***
Duhai Tuwel yang damai nan asri
Adakah anak-anak masih lincah ‘bal-balan’ di bawah pepohonan cengkih
Belepot lumpur dan duri-duri ‘ucen’ saat pulang di senja hari
Ataukah sudah terganti asyiknya permainan maya yang canggih?

Duhai Tuwel yang damai nan asri
Adakah kaki-kaki kecil masih seceria dulu, berlarian di pematang
Sambil sesekali ‘mencopet’ tomat dan wortel petani dermawan
Tuk dibawa ‘sangu’ santap siang, di Kali Gung bersama kawan-kawan?

Mengusung drijen-drijen besar dan ban bekas sumbangan tukang tambal ban
‘gupak’ di sungai bening nan segar di antara kokohnya hijau perbukitan
Tertawa lepas di sejuknya hawa pegunungan
Menebar aura kebahagiaan bagi bebatuan dan pepohonan

Adakah anak-anak itu masih mau berlarian di pelataran
Sambil lempar-melempar bola plastik atau memainkan ‘panggalan’
Masihkah mereka mau bergelut dengan ‘lugut’ tuk membuat ‘jeblugan’
Ataukah semua itu tlah terganti oleh permainan praktis dengan kuasa uang???

***
Duhai Tuwel yang damai nan asri
Adakah sawah-sawahmu, masih menghijau luas menghampar bersengkedan
Bagaikan anak tangga, yang menyejukkan pandangan setiap mata yang memandang
Ataukah semua itu telah terganti keangkuhan gedung-gedung pertokoan?

Masihkah ‘Wa’, ‘Kang’ dan ‘Yu’ seramah dulu dengan senyum sapa khas pedesaan
Yang setia hidup di kampung halaman dengan segala kesederhanaan dan keprihatinan
Berbagi cerita di sore hari sambil ‘petan’ dan mengawasi anak-anak bermain riang
Ataukah mereka telah hengkang, tergiur gemerlap dan tertular kecongkakan perkotaan?

Masihkah benih-benih keuletan terus menyemangati jiwa petani di sana
Menyemai kehidupan dan penghidupan warga desa
Ataukah semangat itu telah terpudarkan oleh berbagai macam kemalasan
Untuk ‘hidup tenang’ tanpa ‘beban’ menjadi pegawai negeri sambil menanti pensiunan?

Masihkah orang-orang tua memelihara putra-putrinya dengan segala kesopanan
Menegur lembut dengan ‘ora ilok’ jika ada yang macam-macam
Sehingga tiada gadis yang tak berkerudung, walau di pinggir jalan
Ataukah semua sudah tak peduli, yang penting uang, pendidikan dan kemapanan?

***
Duhai Tuwel yang damai nan asri
Adakah remaja-remajamu masih giat melangkahkan kakinya kepada kemuliaan
Yang selepas penat ‘sekolah negeri’ di pagi hari, selepas santai sejenak dan santap siang
Dengan riang, mereka ‘ngalap’ keberkahan para ustadz di madrasah yang sarat hapalan

Masihkah dendang ‘puji-pujian’ kepada Tuhan, mendayu melemaskan hati yang gersang
Lantas duduk sejenak menghadap kiblat di barat, sambil ‘wiridan’ selepas sembahyang
Mengharap Kasih Sayang Tuhan bagi segala tingkah laku keseharian
Mengamini panjatan doa imam, khusyu walaupun ‘belum’ tahu arti doa yang dihaturkan

Masihkah remaja-remajamu setia duduk menunggu isya sehabis maghrib menjelang
Bercanda sesama teman sambil menanti sang guru datang
Melingkar memperbaiki bacaan Alquran dan tata cara ibadah keseharian
Ataukah sudah terganti dengan ‘genjrengan’ gitar dan bual-bualan di sudut remang-remang?

Masihkah mereka setia bersarung dan berkopyah, beramai menembus kegelapan malam
Sambil mendekap kitab kuning di dada, menuju ‘ndalem’ Abah Kyai tuk mengkaji agama
Dan saat lebaran lewat beberapa hari, mereka berbondong sowan mengecup tangan Abah Kyai
Ataukah semua itu telah hilang, berganti tipuan televisi dan kemoderenan?

***
Duhai Tuwel yang damai nan asri
Masihkah malam Jum’atmu ramai dengan dendang indah Barzanji
Mengalun memuji keindahan budi pekerti Sang Nabi
Memanjakan telinga-telinga penduduk desa dan pendengaran setiap makhluk ciptaan Ilahi

Masihkah dapat kujelang fajar dengan sejuk untaian ‘tarhim’ suara serak orang-orang tua
Menanti subuh dengan butiran tasbih di jemarinya, dan lilitan sorban menghangatkan lehernya
Selepas subuh, masihkah terdengar ceramah penuh kedamaian dari corong-corong langgar tua
Mengantarkan langkah-langkah ceria warga dengan segala aktivitasnya

Masihkah Bapak-bapak dan Mas-mas setia, berkumpul tuk ‘sekedar’ berdzikir sekali sepekan
Membaca Yasin, Tahlil, Khataman Al-Quran, Diba’an atau Manaqiban
Keliling dari satu rumah ke lain rumah, demi mengharap keberkahan
Sambil mempererat jalinan pertalian dan kehangatan pedesaan

Masihkah ‘taqwinan’ dimaknai dengan kemurahan hati dan kesadaran berbagi?
Masihkah tata krama tetap diajarkan sebagai mata pelajaran non-formal di tengah keluarga?
Masihkah spiritualisme dan semangat Agami Islam menjiwai setiap kegiatan…
walaupun mereka tak berjubah, bergamis ataupun bersurban?

Ataukah semua itu telah berganti…
Dengan berbagai ‘umbar’ kepalsuan televisi dan hedonisme yang meracuni…
Ataukah semua itu telah hilang…
Oleh segala tuntutan kehidupan yang memaksa waktu tersempitkan tuk sekedar ‘wiridan’?

Duhai Tuwel yang damai nan asri…
Bagaimana kabarmu di sana? Baik-baikkah?
Semoga sikapmu kepadaku masih seperti dulu ketika aku pulang nanti…
Menyejukkan, menenteramkan dan menenangkan hati…

***
Duhai Tuwel-ku
Duhai Tuwel kami…
Aku sangat merindukanmu…
Duhai Tuwel Yang Damai Nan Asri…

Lembah Dusun Kemaron, Desa Tuwel

Jakarta
Ahad, 28 Februari 2010 (14 Mulud 1431)
03.07 am

No comments:

Powered by Blogger.