“GURU KENDI”, zuhud-lah!

08:17
Tersebutlah suatu zaman, pada masa itu ada seorang murid yang amat taat kepada gurunya, setelah ia menempuh waktu belajar yang lama ia pun kembali ke kampung asalnya, tahun demi tahun ia lalui dan akhirnya santri ini menjadi seorang yang alim nan terkenal di kampung itu dengan julukan “Syekh Maulana Kendi”.

Kenapa dia dijuluki Maulana Kendi? Karena dia tidak lepas dengan sebuah kendi yang digunakannya untuk mengambil air wudhu serta untuk diminum airnya, ia sangat taat beribadah, wara’ dan qana’ah, sehingga ia tak memiliki harta apapun, kecuali gubuk kecil yang ditempatinya bersama seorang murid kesayangan. Keta’atan dan ketaqwaannya menjadi contoh bagi sang murid yang selalu mendampinginya sehingga murid itu pun menjunjung tinggi akhlak dan kebesaran ilmu Sang Guru.

Suatu saat, Syekh Kendi bercerita tentang gurunya yang berada di negeri seberang kepada muridnya itu, kemudian akhirnya menyuruh muridnya untuk menemui Sang Guru Besar, keesokan hari sang murid berangkat melaksanakan titah gurunya dan sampailah di depan gerbang kediaman Sang Guru Besar.

Maka murid Syekh Kendi bertanya, “Apakah ini rumah guru besar Syekh Kendi?”, sambil ia memandangi dengan heran keadaan rumah yang bagaikan istana itu, bangunan yang luas dan megah, serta penjaga yang begitu banyak membuat keraguan murid Syekh Kendi, seraya bergumam dalam hati, “Guruku Syekh Kendi miskin tak punya apa-apa, sedangkan guru besarnya seperti ini”.

Bertambahlah keanehan di kala ia melihat ke dalam istana, bangku-bangku emas dan hiasan-hiasan yang begitu gemerlap, berlimpah batu-batu mulia terpajang di setiap perabot yang ada di dalam istana itu.

Dan akhirnya berjumpalah murid Syekh Kendi dengan Sang Guru Besar yang bernama Syekh Sulaiman, lantas Syekh Sulaiman bertanya,

“Anak muda, apakah engkau murid dari murid kesayanganku Syekh Kendi?”

“Benar, wahai guru besar,” jawab murid itu.

“Sampaikan kabar kepada muridku Syekh Kendi agar dia lebih zuhud lagi di dunia dan salamku untuknya,” titah Syekh Sulaiman.

Kebingungan sang murid bertambah, “Guruku yang miskin disuruh tambah miskin lagi?” katanya dalam hati, dan pertanyaan ini membuatnya bingung. Dengan membawa setumpuk keraguan dan rasa bingung yang menggelayut, ia pulang ke negerinya untuk menghadap Syekh Kendi.

“Muridku, adakah kabar yang kau bawa dari guruku tercinta?” sambut Syekh Kendi saat bertemu muridnya.

“Wahai guruku, aku diberi wasiat oleh beliau agar engkau lebih zuhud lagi hidup di dunia.” Jawab muridnya dengan nada penuh keheranan.

Tiba-tiba Syekh Kendi menangis, menangis tersedu-sedu.

Ia terus menangis, kemudian diambilnya kendi yang biasa menjadi alatnya untuk berwudhu, lalu dibantingnya sampai pecah berkeping-keping kendi itu.

“Guruku benar, guruku benar…” ucap Syekh Kendi sambil terisak.

“Ketahuilah wahai muridku, kemewahan dan keindahan duniawi yang mengelilingi Syekh Sulaiman guruku, tak sedikitpun masuk ke dalam hatinya. Sedangkan aku, walaupun tampak tak memiliki apa-apa, selalu mencari-cari kendiku sampai-sampai aku takut kehilangannya… Inilah yang menyebabkan aku kurang zuhud untuk Allah Ta’ala, karena masih ada dunia di dalam hatiku.”

-kendi?-

Maa syaa’Allaah!!!

Disarikan oleh Ziaulhaq dari wejangan ulama dalam Majelis Nurul Musthafa, Jakarta

No comments:

Powered by Blogger.