Untuk Apa Semuanya?

09:57
Akhir-akhir ini saya terkenang masa-masa dulu...

Saya teringat saat kanak-kanak, tiap sore jam 2 berangkat ke Madrasah Diniyyah Bustanul Khoirot (Kebun Kebaikan) dan pulang jam 4 sore. Di sana saya dan teman-teman diajari dasar-dasar ilmu agama, baik itu Tauhid, Fikih maupun Akhlak. Selain itu kami juga diajari Bahasa Arab melalui Ilmu-ilmu Alat, dari Nahwu sampai Shorof. Jadi, ketika saya lulus di tingkat Wustho, sudah menghapal Kitab Tashrif al-Amtsilatut Tashrifiyyah serta gramatika Arab dasar, yakni Jurumiyyah dan 'Imrithiy. Sehingga, sedikit-sedikit bisa memahami buku-buku berbahasa Arab.

Nah, setiap kali pulang madrasah itu saya selalu berpapasan dengan beberapa orang kuli yang baru pulang dari sawah-sawah milik majikannya, kebanyakan ibu-ibu, dengan wajah lelah melangkahkan kaki mereka. Dan di belakang hari saya baru tahu, bahwa pemilik lahan-lahan itu, sebagian besar, bukan lagi orang-orang pribumi, melainkan Pak Ini Pak Itu, orang-orang kota yang entah di mana rimbanya, yang mungkin tidak pernah sekalipun kakinya terpercik lumpur sawah milik mereka sendiri.

Apalagi tidak jarang, jika sedang duduk bercengkerama dengan ibu, ada tetangga yang datang, pinjam uang, kadang sambil memelas. Beras habis, katanya.


Kuli Angkut Sayur
Saya juga teringat masa-masa sekolah di SMA N 1 Slawi dulu, kebetulan ngekos di dekat sekolah karena kampung saya cukup jauh dari sekolah favorit itu. Setiap Rabu sore dan Sabtu sore saya mampir di rumah teman, kadang di rumah Kang Heri Kiswanto (sekarang bekerja di BPKP, Riau), atau di rumah Kang Khanan Rifa'ul Kasbi (sekarang bekerja di KPPKP, Koba), atau di rumah Kang Akwal Sadida, atau yang lain. Ngapain? Acaranya ngaji di Majlis Ta'lim dan Da'wah Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Giren, salah satu mercusuar Islam di Kota Tegal.

Di sana, kami ngaji Tauhid, dengan pegangan kitab Risalah karya Hadhratussyaikh KH Sa'id bin Armiya, juga Ummul Barohin alias Dasuqiyyah, juga Akhlaq dengan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali. Dengan kapasitas intelektual maupun spiritualnya yang luar biasa, KH Ahmad Sa'idi membimbing kami mengasah akal dan membersihkan hati, menanamkan keyakinan yang kuat atas Keberadaan Allah swt. serta Sifat-sifat-Nya Yang Qadim.

Nah, setiap kali pulang dari Giren menuju Slawi, di Pasar-pasar daerah Talang yang saya lewati, selalu aja ada tukang-tukang becak yang berebut penumpang, entah karena ingin mengabdi kepada umat dengan pelayanan optimal ataukah karena memang kepepet cari makan? Nggak kayak di Jogja, ketika calon penumpang sudah bilang "mboten", penarik becak langsung diam, nggak berani-berani menguntit atau berebut dengan tukang becak lain.

Saya juga teringat masa-masa singkat di Lirboyo. Betapa terpana saya menyaksikan tradisi santri salaf, Islam Jawa, Jawa Islam, tradisi intelektual yang begitu bergairah, tradisi sosial yang teramat kental, tradisi spirirual yang lestari. Mulai dari perdebatan-perdebatan argumentasi ilmiah sampai sosok aneh yang sedang silau Cahaya Tuhan (majdzub), semua ada di sana. Setiap pukul 5 sore saya take off ke masjid pondok, Lawang Songo, mengikuti ritual santri; jama'ah Maghrib, baca awrad, baca Surah Yasin, baca al-Quran, jama'ah 'Isya. Kemudian saya lanjutkan dengan ziarah ke pusara sesepuh-sespuh pondok di belakang masjid. Nah, setelah ziarah, saat keluar dari area pemakaman, pasti langsung terlihat halaqah-halaqah (lingkaran) santri, puluhan halaqah, sedang membahas pelajaran, sungguh suatu pemandangan yang 'wah'.

Nah, setiap kali saya naik kereta, baik berangkat atau pulang, Tegal - Kediri -Tegal, pasti usek-usekan, berdesak-desakan. Belum lagi banyaknya pencari nafkah yang unik, ibu-ibu bawa anak sambil menyanyi lagu entah apa, laki-laki kerempeng bawa sapu sambil 'ngusap' lantai kereta dan minta uang, mas-mas yang tiba-tiba main semprot parfum dan minta uang. Ada apa dengan mereka? Apa yang terjadi dengan sistem lapangan kerja dan birokrasi kepedulian pengayom mereka di daerah masing-masing?
Usek-usekan Naik Kereta


Saya juga teringat masa-masa kuliah di STAN Jakarta, kawasan Bintaro (mepet Jakarta Selatan). Tiap hari Minggu pagi, ba'da Shubuh, saya keluar kos, jalan kaki ke Jalan Ceger, kemudian naik angkot sampai ke Blok M, dari Blok M naik Kopaja 75 sampai di Tugu Pancoran, dari situ naik angkot lagi sampai di suatu tempat di Bukit Duri, sekitar 2 jam perjalanan. Tempat itu namanya Majlis Ta'lim Pondok Pesantren al-Kifahi at-Tsaqafi, dibimbing oleh al-Habib 'Umar bin 'Abdurrahman bin 'Ahmad as-Segaf.

Tiap Ahad pagi beliau mengajar berbagai fan ilmu agama. Kitab yang dikaji macam-macam, ada Tafsir Jalalain (tafsir), ada Jauharatut Tauhid (kalam), ada ad-Da'watut Tammah (adab), ada Khasyiyah Ibni Qasim (fikih), lengkap. Pembahasannya pun padat dan mendalam. Dimulai pukul 8 pagi dengan pembacaan maulid Simthud Duror, diakhiri dengan kasidah do'a sekitar pukul 11 siang. Jam sebelas saya mampir ke musholla dekat majlis, tidur sampai dzuhur, sehabis dzuhur baru pulang ke Bintaro.

Nah, setiap kali melalui perjalanan berangkat-pulang, pasti ada saja orang pamer kelaparan, tiga hari lah, seminggu lah, dengan postur yang memang terlihat benar-benar lapar. Belum lagi kadang ada juga anak-anak remaja sok jago, berantem di jalan, ngumpet di Kopaja sambil menganjing-anjingkan musuhnya.
"Anjing lo!"


Ah..

Sekarang saya di sini.. dengan kegiatan yang masih setipe dengan kegiatan-kegiatan terdahulu. Hanya bedanya, sesuatu dalam kepala ini terasa lebih panas, memikirkan sesuatu yang sebenarnya bukan wewenang saya.

Untuk apa dan kapan hal-hal yang saya jalani itu bisa bermakna bagi orang lain?
Semua buku yang saya baca itu untuk apa? Memperkaya teori? Memamerkan daya pikir? Apa?
Semua kearifan yang saya pelajari itu untuk apa? Dipendam sendiri? Diceramahkan? Apa?

Menebus harga tanah pribumi? bisakah?
Menjamin persediaan makanan? bisakah?
Menyediakan lapangan kerja? bisakah?
Mempersatukan saudara semanusia? bisakah?
atau setidaknya..
Menenangkan hati sesama?

Sampai sekarang saya masih terus memikirkannya, hanya memikirkannya.. tanpa berbuat apa-apa..
Memang, untuk bisa menetas haruslah sudi menunggu.. menetas pada tingkah laku..
Semoga tidak membusuk di kepala.
Pengemis Tua (Kebayoran Lama)


::Krapyak 17 November 2011::

2 comments:

  1. yoi bledeg tanpa udan jenenge.kekekeke, udanpun juga mesti lewat menunggu.

    salam gahol!

    ReplyDelete
  2. yaa arane wong enom... njaluke gagianan ya wa.. hahaha

    ReplyDelete

Powered by Blogger.