Mengintip Sekelebat Maharuang Makna "al-Falaq"

09:21
"Qul A'uudzu bi Robbil Falaq.."

Begitu bunyi ayat pertama Surat al-Falaq, selarik surat yang turun di Madinah, tersusun atas lima ayat, dua puluh tiga kata dan tujuh puluh empat untai huruf.

"Katakanlah: aku berlindung kepada Tuhan Penguasa AL-FALAQ", begitu kira-kira terjemah singkat dari untaian mutiara Mahapanjang Firman Allah tersebut.

Lalu, apa makna "al-Falaq"?

Syaikh Muhammad Nawawi Banten rahimahullah, seorang 'alim dari Tanah Jawa yang bergelar Sayyidu 'Ulama Hijaz, memaparkan setidaknya tiga makna lafadz "al-Falaq"...

PERTAMA, "al-Falaq" bermakna "Waktu Subuh", saat dipanjatkannya pinta orang-orang yang remuk hatinya, saat disambutnya penyesalan setiap hamba.

Jadi, seakan-akan makna ayat ini: "Katakanlah; aku berlindung kepada Tuhan Penguasa saat-saat dilapangkannya segala kegundahan."

Waktu Shubuh juga diibaratkan sebagai Hari Kiamat. Karena pada saat itu kebanyakan manusia bagaikan mati, tertidur. Dan setiap tempat menjadi gelap nan sepi, bagaikan kubur.

Maksudnya, ada banyak kondisi manusia ketika mereka tertidur maupun terbangun dari tidurnya. Ada yang bangun dalam keadaan telanjang, papa, miskin, serta berhutang, dan harus melunasi semuanya kepada sang juragan. Ada pula yang dalam keadaan serba ada, serta dilayani oleh punggawa-punggawanya.

Begitu pula keadaan di Hari Kiamat.. Ada yang bangkit dari kuburnya dalam keadaan papa, melarat pahala, telanjang dari busana taqwa, dan harus mempertanggungjawabkannya di hadirat Sang Maharaja al-Malik al-Jabbaar. Ada pula yang bangkit dalam kekayaan pahala, hasil ketaatannya di dunia, menjadi konglomerat akhirat yang dilayani makhluk-makhluk langit.

Demikian, "al-Falaq" dimaknai sebagai "Waktu Shubuh" yang menjadi lambang Hari Kebangkitan.

KEDUA, "al-Falaq" bermakna "Sebuah Lembah di Neraka". Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa makna "al-Falaq" ialah sebuah rumah di neraka, yang jika ia dibuka maka tersadarlah ahli neraka, terguncanglah sanubarinya, disebabkan betapa panas dan menyiksanya tempat itu.

Adapun hikmah disebutkannya siksaan "al-Falaq" di dalam ayat ini adalah untuk menunjukkan bahwa Allah Ta'ala Mahakuasa atas siksaan sepedih itu, namun, sudah jelas, bahwa Kasih Sayang-Nya lebih agung, lebih luas, lebih cepat daripada siksaan-Nya.

Jadi, seakan-akan makna ayat ini: "Katakanlah; wahai Pemilik Siksa Yang Pedih, aku berlindung kepada-Mu dengan Kasih Sayang-Mu yang jauh lebih luas dari siksaan-Mu."

KETIGA, menurut Imam Fachruddin ar-Razi, dengan pendekatan etimologi, menyatakan bahwa "al-Falaq" bermakna sesuai dengan makna dasarnya, yakni "belah". Jadi, "al-Falaq" adalah segala hal yang dibelah oleh Allah Ta'ala dan memunculkan sesuatu darinya.

Seperti terbelahnya bumi dan muncul darinya tetumbuhan, gunung-gunung yang muncul darinya mata air, awan-awan yang muncul darinya hujan, rahim-rahim yang muncul darinya bayi-bayi, telur-telur yang muncul darinya anak burung, atau hati manusia yang darinya muncul pemahaman-pemahaman.

Maka Dialah Allah, yang telah membelah Samudera Kegelapan Ketiadaan ('adam) dan muncul darinya Cahaya Keberadaan (wujuud) segala makhluk.

Jadi, seakan-akan makna ayat ini: "Katakanlah; aku berlindung kepada Tuhan Penguasa setiap ciptaan, dan Pencipta segala hal yang baru."

Inilah, menurut Imam ar-Razi, makna yang paling menunjukkan pengagungan yang teragung daripada makna-makna yang lain. Karena di dalam makna ini, terdapat pengakuan hamba terhadap Kekuasaan Allah atas segala hal yang tercipta, tidak hanya waktu shubuh, tidak hanya siksa neraka, tetapi semuanya yang gaib maupun yang nyata.

Wallaahu A'lam

(: disarikan dari Tafsiir Surah al-Falaq dalam Tafsir Marah Labiid karya Sayyidu 'Ulamaai Hijaz, as-Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, rahimahullaah, juz 2 hal. 473. Satu ayat dulu mari kita resapi, jika penasaran berlanjut, hubungi ulama :)

:: Tuwel, 12 September 2011 ::

No comments:

Powered by Blogger.