"Sajak Surup Srengenge"

07:04
.

lahir (merengek)..

ketika mentari terbit..
aura semangat terbersit..

merangkak melaju..
goreskan harapan baru..
memaknai makna waktu..

langkah nafsu bergegas..
taklukkan alam luas..
melanglang seantero bumi..
namun diri sendiri tak dikenali..

ilmu apa yang digali..
tanpa hikmah amatlah percuma..
amal menggunung jadi bakti..
tak guna tanpa peduli sesama..
seimbang langit, selaras bumi..

terus gerak hingga lelah..
terbang bahagia, jatuh pun gundah..
beruntung betul si pemberani..
tiada takut pun sedih hati..

menghias jiwa siapkan nyawa..
raut bahagia saat akhirnya..
memuara di kekal samudera..

bagai nuansa damai di kala senja..
saat karamnya sang surya..

mati (tersenyum)..

~

::Krapyak, 13112011::

1 comment:

  1. NB:
    Sajak ini diawali dengan satu bait dan diakhiri dengan satu bait pula, karena manusia terlahir sendiri (kecuali kembar siam) dan terkubur sendiri (kecuali korban tsunami atau gempa bumi).

    Sebenarnya awal sajak bukanlah “Lahir..” melain...kan satu tanda titik tak termaknakan. Karena awal kita bukanlah saat lahir, melainkan jauh sebelum terwujudnya jasad biologis kita. Dan akhir dari sajak bukanlah “Mati..” tetapi tanda 'seterusnya' yang tak terbatasi. Karena mati bukanlah akhir perjalanan kita, ada masa tak terbatas yang menanti.

    Sajak ini terdiri atas 25 bait, karena para utusan terkhatamkan di jumlah ke-25.

    Sajak ini berpuncak pada rumpun ke-5, karena itu adalah jumlah pondasi yang menjadi ejawantah tiga hal pokok dalam beragama; keyakinan, perbuatan, dan rasa.

    Sajak ini tersusun dari 9 rumpun sajak berrima, karena 9 adalah angka pungkasan, satu sampai sembilan merupakan jatah umur kita.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.