Sohib Story #8 ~ Suwuk Mematikan Syafak

Saya sudah katakan di catatan sebelumnya tentang Dialog Wardono dengan Ibunya, bahwa saya punya buaaaaanyak temen hebat, tentu dengan bidang dan kapasitasnya masing-masing. Nah, salah satunya yang ingin saya ceritakan kali ini adalah Kang Muhammad Syafa', arek Malang alumni Pesantren Tebuireng Jombang, Aremania!.

Beberapa minggu lalu, saya main ke tempat tinggal Kang Syafa' ini di daerah Sleman. Sambil ngangkring dan udud di tepi Jalan Magelang, banyak hal yang diceritakannya kepada saya, sebagai 'ibrah, pelajaran berharga. Ada tiga sub-cerita dalam catatan ini; Sendiko Dhawuh, Santri Sepuh, dan Deathly Suwuk.

Sendiko Dhawuh

Dia ini asalnya Malang, kemudian disekolahkan (Madrasah Aliyah Ponpes Tebuireng Jombang) oleh seorang Ibu Nyai pengasuh Pesantren dan Panti Asuhan Az-Zuhriyyah Jogja (asal Malang juga). Selepas Aliyah, Syafa' lulus dengan nilai yang memuaskan, dia juga diterima di Ma'had 'Ali Tebuireng dengan konsentrasi pendalaman Kitab Salaf, selain itu juga diterima di Universitas Hasyim Asy'ari Jombang, ada lagi, dia juga lolos Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta (mantan alamamaterku dahulu, hehe), semuanya full beasiswa. Top!

Kang Syafa di Tebuireng (tengah)

"Terserah kamu, mau ngelanjutin di mana. Lha kamu mantepnya di mana?" tanya Bu Nyai suatu ketika.

"Saya sih mantepnya di Ma'had 'Ali, Bu.." jawab Syafa'.

"Oo.. Ya bagus itu, bagus.. terserah kamu aja.. mau di STAN Jakarta boleh, di Jombang boleh.. Kalo kamu mau mbantu-bantu Ibu di Jogja juga boleh.." sahut Bu Nyai, simbolis.

Sebagai seorang santri sejati, Syafa' dengan insting kesantriannya menangkap maksud tersirat dari ungkapan Ibu Nyai. Dia mencoba mengenang kebaikan Ibu Nyai yang telah menyekolahkannya, ia kesampingkan keinginan pribadinya.

Singkat cerita, beasiswa di Jombang ia tinggalkan, ikatan dinas di STAN Jakarta pun dilepasnya (konsekuensinya, dia harus bayar sekian juta rupiah). Apa yang diputuskan selanjutnya? Dia ngabdi kepada Bu Nyai di Yayasan Az-Zuhriyah Yogyakarta, waktu itu masih berupa Panti Asuhan, belum menjadi Pondok Pesantren.

Sebagai abdi, sehari-hari dia membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yatim di sana, juga mengajar. Selain itu dia juga mengambil kuliah di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, sekampus dengan saya. Siang kuliah, malam mengajar, begitu kesehariannya.

Setelah beberapa bulan di Yayasan, Ibu Nyai menitahkan Syafa untuk pindah, menjadi 'penunggu' rumah kosong Ibu Nyai di Sleman, di sebuah desa asri nan sepi. Sendiko Dhawuh. Mulai hari itu, dia tinggal di rumah sendirian, tanpa teman. Rumahnya berukuran sedang dan lumayan mewah, fasilitas komplit. Jadi, setiap hari Syafa' harus bolak-balik Sleman-Kampus untuk kuliah. Tiga kali Krapyak-Kampus, wah.

Begitu terus berlangsung beberapa bulan, hingga akhirnya Bu Nyai menitahkan sesuatu yang tak diduga Syafa'.

"Le, daripada sepi, mending kamu bikin pengajian.." kata Bu Nyai.

Meskipun mengangguk mengiyakan, sebenarnya Syafa' nggak paham. Pengajian macam apa? Bagaimana mengelolanya? Di mana? Siapa? Kapan? Dia benar-benar bingung. Dua kali Bu Nyai perintahkan, tetap Syafa tidak mengerti. Hingga ketigakalinya Bu Nyai menitahkan, Syafa baru paham, apalagi waktu itu Bu Nyai memberinya sekardus jajanan. Dengan insting kesantriannya, Syafa' mulai bergerak.

Mulailah Syafa' berkeliling ke rumah tetangga-tetangganya di desa itu, sambil membawa kardus titipan Bu Nyai. Mengajak ibu-ibu sekitar dan anak-anak untuk ngaji di rumah malam Jum'at nanti. Belasan rumah ia datangi, dengan niat yang suci dan -tentunya- muka tebal, dia laksanakan titah gurunya. Ternyata memang TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang berpusat di Masjid sudah kembang kempis, tidak hidup tidak mati.

Malam Jum'at, Syafa' menunggu di teras rumah, malam itu ada 5 orang yang datang. Ya. Lima orang inilah santri awal yang mengaji al-Quran kepada Syafa', satu nenek, dua ibu, dan dua remaja perempuan. Alhamdulillah. Setelah berjalan beberapa bulan, santri Kang Syafa terus bertambah, terakhir tercatat, ada sekitar 60 (enam puluh) orang yang mengaji di tempat itu.

Karena semakin banyak jama'ah, pengajar dan jadwal pun ditambah, acara pun divariasi. Tidak hanya mengaji a-ba-ta-tsa serta al-Quran, tetapi juga mengaji ilmu-ilmu dasar seperti fiqh dasar, juga dzikir, dan tentunya Shalat berjama'ah Maghrib dan Isya, setiap malam Jum'at dan malam Rabu. Anak-anak juga diajari kesenian Hadrah (Rebana dan Marawis) seminggu sekali, para santri juga diajak berlatih Karawitan di sanggar milik seniman setempat. Benar-benar Rumah yang barakah.

Sebagai penabuh Hadrah yang handal


Santri Sepuh

Syafa' bercerita. Salah seorang dari lima orang santri awalnya, sebut saja Si Mbah namanya, bertanya-tanya tentang kaifiyyah Shalat Tahajjud dan Dhuha, tak seperti biasanya. Oya, Si Mbah pada awalnya sama sekali tidak bisa membaca al-Quran, benar-benar awam, mana alif mana ba' dia tidak tahu. Setelah tiga bulan intens mengaji, Si Mbah sudah bisa membaca al-Quran tartil, dan sudah sampai juz dua. Mengagumkan.

"Sholat Dhuha itu paling banyak berapa rokaat tho Mas?" tanya Si Mbah.

"Paling banyak dua belas Mbah.." jawab Syafa'.

"Kalo lebih banyak boleh?" tanya Si Mbah lagi.

"Wah itu sudah maksimal Mbah.." sahut Syafa'.

"Kalo Sholat Malam bagaimana Mas?" tanya Si Mbah penasaran.

"Sholat Malam, Tahajjud terserah Mbah, kalo Witir paling banyak sebelas rokaat saja." jawab Syafa' lagi.

Nah, suatu hari, Syafa berkesempatan menginap di rumah Si Mbah, kebetulan cucu Si Mbah lumayan akrab dengannya. Ketika malam-malam Syafa kebelet pipis, dia melihat Si Mbah sedang khusyu' Shalat Malam, Qiyamul Lail, dengan banyak rokaat! Saat siang hari pun sama, Si Mbah berdiri Shalat Dhuha, dengan rokaat maksimal. Karena penasaran, Syafa bertanya kepada si cucu tentang rutinitas Si Mbah. ternyata memang benar, sejak Si Mbah diajari tentang tata cara dan keutamaan Shalat-shalat Sunnah itu, dia selalu mengerjakannya dengan maksimal, setiap hari, siang dan malam.

Dan, empat puluh hari setelah Tanya-Jawab antara Si Mbah dengan Syafa, wafatlah Si Mbah yang 'abidah (ahli ibadah) nan istiqomah (konsisten) ini. Innaa Lillaahi wa Innaa Ilayhi Rooji'uun. Semoga Allah Ta'ala Menerima beliau.. aamiin.


Mungkin hal ini bagi temen-temen adalah hal biasa, tapi bagi saya ini luar biasa. Nenek-nenek (bukan anak-anak lho ya) yang sama sekali tidak bisa mengeja huruf Arab, sampai menjadi orang yang gemar membaca al-Quran, sampai menumbuhkan ghirah untuk beribadah dan istiqomah, wah, merupakan barakah dan celengan amal yang luar biasa, inilah prestasi!

Bersama al-Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, acara di Yayasan Az-Zuhriyyah

Deathly Suwuk


Siang tadi, saat kuliah Statistik Pendidikan, mendadak handphone Syafa' berdering, dia keluar kelas sebentar untuk menjawab. Setelah kembali, saya tanya ada apa. Dia malah bercerita;

Semalam, Syafa' diundang oleh seorang tetangganya untuk memimpin Yasinan di rumah si tetangga. Sebuta saja namanya Pak Bro.

"Mas, nanti malam datang ke rumah saya ya." pinta Pak Bro tempo hari. "Njenengan pimpin dzikir, Yasinan di rumah kami.. bagaimana?" lanjutnya.

"Bisa Pak, insyaAllah, tapi ada acara apa ya?" sahut Syafa'

"Nggak ada acara apa-apa.. tapi, Ayah saya.." jawab Pak Bro.

"Kenapa Ayah njenengan?" tanya Syafa'.

"Sudah enam bulan sekarat, dokter pun sudah angkat tangan.. bukannya putus asa, tapi kami harap.. jika yang baik bagi beliau adalah kematian, maka kami minta kepada-Nya agar dicepatkan.. namun bila yang baik adalah sehat, maka kami berdoa agar beliau cepat sembuh.. begitu Mas.." terang Pak Bro.

"Oo begitu Pak.. Ya ya nanti saya datang, kita sama-sama berdoa.." sahut Syafa, manggut-manggut.

Malamnya, sekeluarga Pak Bro berdzikir, membaca Yasin dan rangkaian Tahlil, dipimpin oleh Kang Syafa'. Setelah selesai, Syafa' mendoakan sebotol air putih, "Ffuuhh.. ffuuhh..", disuwuknya air itu, kemudian diminumkan kepada Ayah Pak Bro yang sedang sekarat dan diusapkan ke wajahnya. Selesai. Syafa' pun pulang membawa berkat.

Siang harinya, saat kuliah itu, dia ditelfon Pak Bro.

"Halo, Assalaamu'alaykum, Mas Syafa?" sapa pak Bro.

"Wa'alaykumussalam Pak, ya ini saya, ada apa?" jawab Syafa'

"Begini Mas.. Ayah saya baru saja meninggal dunia dengan tenang.. ALHAMDULILLAH.." jelas Pak Bro.

"Meninggal Pak?! Innaalillaahi wa Inna Ilayhi Rooji'uun.." sahut Syafa', kaget.

"Iya.. baru saja beliau meninggal dengan damai.. akhirnya beliau bisa tenang.. ALHAMDULILLAH.." kata Pak Bro.

"Iya Pak, Innaalillaah..." kata Syafa', masih kaget.

"Alhamdulillaah.." kata Pak Bro, masih bersyukur penuh keharuan.

"Al.. al.. alhamdulillaaah.." Syafa mengikuti.

Kang Syafa' bersama kawan-kawan di Rumah Barakah

Krapyak, 28-11-2011

3 comments:

  1. assalamualaikum Zia Ul Haq
    sy raihan teman Kang Syafa dr malang juga
    bisa minta nomor kontak beliau ndak
    tolong kirim ke email sy taqyarraihan@gmail.com
    jzakallah khair :)

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum Zia Ul Haq
    sy raihan teman Kang Syafa dr malang juga
    bisa minta nomor kontak beliau ndak
    tolong kirim ke email sy taqyarraihan@gmail.com
    jzakallah khair :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.