THARIQAH

07:48
Para pendahulu umat Islam, para leluhur kaum bertaqwa, yang disebut sebagai salafusshaalih, senantiasa berjuang untuk selalu menapaki jalan yang pernah ditapaki oleh Baginda Rasulullah saw. dalam setiap sendi keseharian mereka, sehingga menjadikan mereka memiliki keterikatan emosional dengan Baginda Rasulullah saw..

Bukankah kita tahu bahwa Rasulullah adalah makhluk yang paling erat keterpautannya dengan ALLAH, maka sudahlah jelas, keterikatan para salaf dengan Rasulullah mengantarkan derajat mereka semakin dekat dengan ALLAH, semakin memahami hakikat penciptaan, hakikat kehidupan, hakikat segala hal yang diajarkan langsung oleh Sang Pencipta Segala Hal, inilah MAKRIFAT.

Adapun, derajat MAKRIFAT ini, bukanlah kedudukan yang bisa kita gapai dengan meremehkan Shalat, dengan meninggalkan tahajjud, dengan banyak tidur dan banyak makan. Sungguh, di dalam kedudukan ini terdapat suatu anugerah yang sangat agung yang hanya akan diperoleh oleh mereka yang ALLAH kehendaki, mereka yang ALLAH tuntun untuk bermujahadah dalam ibadah.


Berbagai Thariqah, Satu Muara

Mereka ini, melalui sebuah JALAN (Thariqah) yang tidaklah ringan, tidaklah remeh. JALAN yang mereka tempuh penuh dengan perjuangan dan ketekunan.

Ketika para salaf telah mencapai maqam (kedudukan) yang sekian lama mereka dambakan, ketika ALLAH Ta’ala telah singkapkan RAHASIA-NYA kepada mereka, maka dengan murah hatinya para salaf menginginkan agar kita pun merasakan hal yang sama, supaya kita juga kebagian merasakan kenikmatan hakiki…

Pada akhirnya, ulama salaf mengenalkan kita kepada THARIQAH mereka, jalan yang telah mereka tempuh, berbagai macam THARIQAH yang mereka tunjukkan, namun kesemua JALAN itu mengalir kepada MUARA YANG SAMA, yakni SAMUDERA MAKRIFAT kepada ALLAH.


Garis Besar Haluan Thariqah Salafusshaalih

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad menggarisbawahi 5 pokok tahapan yang menjadi landasan kesemua THARIQAH KEHIDUPAN kaum SALAFUSSHAALIH, yakni;

1. Yakin kepada ALLAH

Setiap jiwa yang yakin kepada Kekuasan ALLAH akan merasakan ketakutan dan kekhawatiran apabila dirinya tak mendapatkan RIDHA dan PANDANGAN KHUSUS dari ALLAH Ta’ala.

Namun, munculnya keyakinan kepada ALLAH tentunya diawali dari pengetahuannya tentang Sifat-Sifat Keagungan ALLAH, Keesaan-Nya dalam mengatur setiap nafas makhluk-Nya.

KEYAKINAN seorang insan yang berasal dari ILMU tentang ALLAH inilah disebut dengan ILMULYAQIIN.
Sedangkan, ketika dia telah mendapatkan ILMULYAQIIN, lantas ia mengamalkannya, kemudian bertambah yakinlah ia kepada Allah, semakin dekat jiwanya kepada Allah, maka sampailah ia ke derajat selanjutnya, ‘AINULYAQIIN.

Ketika kabar tentang Akhirat bukan lagi sekedar kabar, ketika berita tentang barzakh bukan lagi sekedar buah bibir, ketika kenikmatan surgawi bukanlah suatu kata penghibur belaka baginya, namun terkadang ALLAH tunjukkan padanya Akhirat, ALLAH tunjukkan padanya BARZAKH, Allah tunjukkan padanya SURGA, maka sungguh, inilah predikat derajat para wali, HAQQULYAQIIN.

2. Pembersihan Hati dari Akhlaq yang Tercela

Tatkala HATI-mu sudah melampaui tahapan pertama, kau pun memiliki keyakinan yang teguh kepada ALLAH, maka hatimu akan condong kepada semua hal yang menjadi jalan penghubung kepada ALLAH.

Ketahuilah, jalan yang paling cepat untuk menghubungkanmu kepada ALLAH adalah dengan MAHABBAH (cinta) dan ITTIBA’ (mengikuti) Baginda Rasulullah Muhammad saw.

Setelah hatimu penuh dengan KEYAKINAN kepada ALLAH dan MAHABBAH kepada Rasulullah, maka dengan sendirinya, kotoran-kotoran yang mengarat di dalam hatimu, sifat-sifat hitam yang lama mendekam dalam hatimu, satu persatu akan rontok, terkikis oleh gelombang cintamu kepada Sang Nabi, lebur oleh dahsyatnya keyakinanmu kepada ILAHI.

3. Penghiasan Hati dengan Akhlaq yang Terpuji

Bersih sudah hatimu dari sifat-sifat tercela, dari KESOMBONGAN yang hanya menjadi HAK ALLAH, lebur sudah segala karat kegelapan dari hatimu. Maka kini, hati yang siap menerima cahaya seyogyanya kau isi dengan muatan-muatan yang dapat memantulkan cahaya, yakni AKHLAQ yang terpuji, akhlaq yang dicontohkan oleh Baginda NABI. Bukankah Al-Imam Hujjatul-Islam As-Syaikh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzaliy telah meringkaskan untuk kita 10 bentuk AKHLAQ TERPUJI yang merupakan keteladanan Baginda NABI? Yakni;

Taubat (;meninggalkan kubangan dosa dan kembali kepada ALLAH),
Khauf (;takut pada kemurkaan ALLAH)
Zuhud (;tak terpaut hatinya kepada dunia),
Sabar (dalam melaksanakan ibadah, menolak maksiat dan menghadapi musibah),
Syukur (;bersujud atas segala yang ALLAH karuniakan),
Ikhlash (;segala yang kau lakukan hanyalah untuk mendapatkan perhatian khusus dari ALLAH),
Tawakkal (;hanya menyandarkan diri kepada ALLAH)
Mahabbah (;kecintaan dan kerinduan akan perjumpaan dengan Sang Pencipta),
Ridha (;buah mahabbah, menerima dengan pasrah terhadap ketentuan dan pemberian ALLAH), dan
Dzikrul-Mawt (;selalu dalam keadaan merenungi nasibnya ketika dan setelah kematian).

4. Pemantapan Amal-Amal Dzahir

Saat kau berdiri menghadap kiblat, maka bukan saja jasadmu yang dituntut untuk menghadap Ka’bah, namun HATI-mu pun dituntut untuk hadir dan tunduk menghadap SANG MAHARAJA, ALLAH Ta’ala. Saat hatimu tunduk dan merasakan getaran kehadiran ALLAH, inilah yang disebut dengan keadaan KHUSYU’.

Lalu pertanyaannya, bukankah meraih KHUSYU itu SULIT???
Ya, benar, tidaklah mudah untuk menenggelamkan diri dalam kekhusyuan saat beribadah…

Namun, jika kau telah melalui 3 tahapan sebelumnya, maka tanpa kau undang, kekhusyu’an itu pun akan datang menemuimu dengan sendirinya. Sebab itu maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh keyakinanmu kepada ALLAH, kemudian tanggalkan jubah kesombonganmu, lalu hiasi hatimu dengan AKHLAQ SANG NABI, maka akan kau temukan KHUSYU menyebar menyejukkan jiwamu!

5. Pembenahan Urusan-Urusan Duniawi

ALLAH mengingatkan dalam Alquran,
“Beramallah untuk kehidupan akhiratmu, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.”

Firman ALLAH ini menyiratkan, bahwa kita dituntut untuk mempersiapkan segala perbekalan kita untuk kehidupan di akhirat, sedangkan seorang yang serius menapaki THARIQAH ini dan memetik buah kesungguhan mereka terkadang sampai lupa terhadap urusan dunianya. Maka dari itu, ALLAH ingatkan hamba-hamba shalih ini, “…dan jangan lupakan bagianmu di dunia.”

Beginilah keadaan para salaf, sedangkan kita, justru melupakan bagian kita di akhirat dan malah menyibukkan diri dengan dunia, menjual harta akhirat dengan sampah duniawi…

Setelah Keyakinanmu akan Kekuasaan dan Ketetapan ALLAH Ta’ala tidak lagi tergoyahkan..

Setelah dirimu bersih dari kesombongan dan merasa menjadi manusia terhina di seantero alam…

Setelah kau hiasi hati, ucap, dan perilakumu dengan ADAB berupa AKHLAK TERPUJI…

Yang kesemua itu telah mengantarkanmu ke maqam KHUSYU’, yakni selalu merasakan kehadiran dan PENGAWASAN ALLAH, kemudian meningkatkan derajatmu pada derajat IHSAN, melewati ILMULYAQIN, AINULYAQIN dan merasakan HAQQULYAQIN…

Maka tibalah saatnya kau urusi segara perkara duniawimu, aturlah segala kebutuhan duniawimu, yang akan kau manfaatkan untuk bekal kehidupanmu, di dunia dan akhirat.
Para salaf baru memperhatikan urusan keduniaan mereka setelah mereka meraih maqam KHUSYU dengan IHSAN…

Lantas, bagaimana dengan kita?

- Nasihat KH Ubaidillah Hamdan (PP Darul Musthafa al-Mukhtar) -

Kamis Malam Jumat 7 Mei 2009

No comments:

Powered by Blogger.