2012: Menyambut, Tak Sekedar Merayakan

02:48
Memang agak out of date jika aku membicarakan tema Tahun Baru hari ini (udah tanggal 4 coy), tapi mau bagaimana lagi, 'kebelet' dari awal tahun, tapi baru sempet membuncahkannya sekarang.

Aku heran, kenapa dimana-mana orang terlalu lebay bertahun-baruan? Lebay dalam sikap pro dan kontra. Yang pro, jadi hura-hura. Yang kontra, jadi nglaknati dan caci maki.


Tahun Baru merupakan suatu fenomena alamiah.. sebagaimana Bulan Baru, Minggu Baru, Hari Baru, maupun Detik Baru.. Suatu momen biasa-biasa saja yang menjadi konsekuensi dari perguliran waktu yang -katanya- linear itu. Kebutuhan manusia terhadap perhitungan waktu melahirkan adanya tanggal-tanggal dan hari-hari, dengan pakem periode yang berulang-ulang, jam ke jam (24 jam), hari ke hari (7 hari), bulan ke bulan (12 bulan) menjadi komplikasi organ Tahun, yang bila semua sudah lengkap, maka berakhirlah ia dan 'lahir'-lah Tahun Baru.


Berhubung Tahun Baru merupakan momen yang tidak setiap hari terjadi, maka secara psikologis, wajar saja bila peradaban manusia mencoba mengekspresikan emosinya untuk mengapresiasi momen itu. Dan menurutku, ekspresi yang paling tepat adalah Menyambut. Masalah gembira atau tidak, ya tergantung dengan apa yang sudah dilakukan di belakang dan apa yang di'azamkan untuk dikerjakan ke depannya.


Mencaci, adalah hal yang bodoh. Bagaimana nggak bodoh, lha wong Tahun Baru adalah hal yang alamiah kok dicaci. Entah perhitungan tahun itu valid atau tidak, darimana pun asal muasalnya, mitologi pagan atau Kristenkah, yang jelas sekarang kini kita mengenakan perhitungan itu. Bagai mencaci pakaian kita sendiri.


Hura-hura, juga -menurutku- apresiasi yang tidak begitu pintar. Kenapa? Karena hak merayakan sesuatu adalah bagi pihak yang melakukan aktivitas itu. Katanya, satu tahun adalah relatif genapnya hitungan revolusi bumi mengelilingi matahari, jadi ya yang paling pantas merayakan Tahun Baru adalah Si Mbah Kiai Bantala alias Bumi itu sendiri, karena dialah yang 'lelah' beraktivitas. Itupun kalau beliau sudi merayakan, mungkin saja beliau malah mengeluh dan akhirnya 'selametan', tolak bala agar di putaran ke depan penghuninya nggak kemaki lagi.


Lagipula, jika benar-benar menghargai nikmat Tuhan yang namanya Waktu, harusnya yang dirayakan bukan hanya Tahun Baru saja, tetapi juga Detik Baru yang dialami, musti dirayakan semeriah-meriahnya. Dan ini sudah dilakukan (dari kata dasar "laku") oleh segelintir kelompok sufi, dengan mendawamkan dzikir "Allah" atau "Hu" di setiap hembusan nafasnya. Inilah perayaan sejati.


Aku sendiri -alhamdulillah- belum pernah merayakan Tahun Baru bersama bauran manusia-manusia dengan gegap gempita. Ini bukan karena terompet atau kembang apinya, bukan pula karena aku takut dicap tasyabbuh bil kuffar...

...tetapi karena; kalau judulnya "Merayakan", aku merasa pekewuh. Lha wong ganti hari saja kadang aku begitu malas. Akhir hari selalu aku tutup dengan keluhan. Begitu pula awal pekan, betapa malasnya melihat Si Senin datang lagi. Apalagi di lingkungan urban ada ungkapan motivasi; "I Like Monday", nah ini mengindikasikan adanya kecenderungan manusia tidak menyukai hari Senin sebagai awal pekan, artinya; awal beraktivitas.


Nah, awal pekan saja belum bisa aku rayakan dengan semangat, mana pantas merayakan awal tahun? Ada-ada saja. Aku memang manusia Jawa yang salah satu cirinya -katanya- adalah Hipokrit, tapi ya dalam hal-hal yang bisa kunalar semacam ini, secara naluriah aku nggak mau munafik.


Begitu juga, menjamurnya majelis-majelis dzikir, doa bersama, atau apapun itu yang digelar sebagai anti-aksi dari adanya Perayaan Tahun Baru di pusat-pusat kota. Kemudian di dalamnya ditularkan pemahaman bahwa merayakan Tahun Baru itu kelakuan orang kafir, dan bla-bla-bla... yang kemudian menghujat penanggalan masehiah, yang mana awal tahun itu adalah pemujaan terhadap dewa Janus, dan seterusnya... Ya, secara historis itu memang benar! Tapi secara faktual-pragmatis, buat apa meributkan itu?!



Seharusnya yang dikritisi dan kemudian dipangkas adalah budaya tentang bagaimana tata cara perayaan Tahun Baru itu, bukan kemudian mengkambinghitamkan Pergantian Tahunnya. Memang banyak budaya impor yang bobrok meracuni generasi muda, mulai dari ngedrugs sampai free sex. Itu semua memang kebatilan yang harus ditumpas, tapi bukan dengan pedang atau yang lebih tajam dari itu (lidah alias umpatan).


Sistem harus dilawan dengan sistem, budaya harus dihadang dengan budaya.


Ini adalah hal yang harus dipikirkan para pemuka agama. Menggelar hajatan yang bersifat ritual sebagai anti-aksi Perayaan Tahun Baru memang bermanfaat, sebagai penampung anak muda, "daripada hura-hura, mending di sini saja", mungkin begitu cara berpikirnya.


Tapi nilai manfaat itu ya hanya sebatas pada momen itu tok. Begitu pula perayaan, nilai manfaatnya ya hanya sebatas di saat itu saja, berupa kegembiraan, dan tentunya aktivitas ekonomi yang terjadi. Kalau dibandingkan, perayaan Tahun Baru jauh lebih memiliki nilai ekonomis daripada pengajian, manfaat buat pelaku bisnis kakap maupun teri.. lebih bermanfaat.. hehehe


Menurutku, kedua apresiasi seperti itu belum benar-benar berguna, jika dikatakan sebagai apresiasi terhadap waktu. Makanya aku kurang begitu tertarik berbaur di tengah hiruk pikuk perayaan tahun baru ataupun pengajian-pengajian anti-aksi dari perayaan tahun baru. Lebih nyaman berevaluasi diri, sendiri, sepi.


Tapi mungkin saja, jika suatu hari aku harus berkomuni dengan masyarakat yang akrab dengan perayaan-perayaan (hedonis), atau di lain pihak ada yang anti dengan hal-hal semacam itu (fundamentalis). Aku terpaksa harus mengkompromikan keduanya, dengan event yang sekiranya bisa bermanfaat bagi lingkungan, baik sosial, natural maupun ekonomi. Ya, saya memang pragmatis.


Misal, gelaran akhir tahun dengan menampilkan potensi wilayah (kampung). Tampilan-tampilan budaya sebagai selingan. Sementara, acara intinya adalah pembeberan kinerja aparatur desa, revaluasi tingkat ekonomi warga, hingga isu-isu khusus di dalam wilayah itu, seperti keamanan, pendidikan, maupun keagamaan. Semuanya menjadi muhasabah berjamaah terhadap segenap elemen kehidupan kampung. Dan event ini bisa tidak hanya digelar satu malam saja, bisa ditindaklanjuti dengan Pekan Tahun Baru, dengan pengadaan reboisasi (bagi daerah pegunungan), kerja bakti bersih desa (agar tahun depan tak lagi banjir) dan lain sebagainya.

Banyak sekali yang sebenarnnya bisa kita lakukan sebagai ekspresi Menyambut Pergantian Tahun yang istimewa itu, tanpa harus berhura-hura maupun antipati dengan caci maki. Karena Momen ini adalah momen setahun sekali yang seharusnya menjadi lensa ganda; bisa menjadi cermin sebagai refleksi pencapaian di belakang, dan sebagai teropong bagi cita-cita di depan.


Aku harap kelak suatu hari, aku bisa tetap seidealis ini. Dan aku masih mencari kawan-kawan yang selangkah-seirama, sejiwa secita-cita.


Wallahu A'lam, wa Nas-aluhul 'Inaayata fii Kulli Haal

 :: Kampus, 4 Januari 2012 ::

No comments:

Powered by Blogger.