Klasifikasi Peran Sosial ala al-Hasan al-Bashri

01:34
Oleh: Zia Ul Haq

Di akhir kitab ad-Da'watut Taammah wat Tadzkiratut 'Aammah karya Syaikhul Islam al-Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad al-Hadhrami, di bab Mawa'idz (sebelum bab akhir), ada kutipan qoul al-Imam al-Hasan al-Bashri tentang jenis-jenis peran manusia sebagai makhluk sosial di tengah sistem kehidupan bermasyarakat.

Imam al-Hasan al-Bashri, sesepuh tabi’in terkemuka yang berdomisili di Madinah, hidup di jaman Umawiy, menyatakan stetmennya tentang manusia di dalam lingkup kemasyarakatan. “Ada lima kategori (khomsatu ashnaafin) manusia di dunia ini”, kata beliau, yaitu;

PERTAMA, al-‘ulamaa’

Adalah pelaku estafet yang menjadi pewaris para nabi, baik ilmu, peran, kebijaksanaan maupun kewibawaan. Dalam konteks ini, tentu yang dimaksud adalah mereka yang kompeten dalam ‘membaca’ ayat-ayat Langit demi kesejahteraan penghuni bumi, menjadi kontrol sosial spiritual bagi makhluk pemangku bumi (hamengkubuwono, Khalifah fil Ardh).

Jika kita berpegang pada makna kasar dari ‘ulama atau ‘aalim maka yang dimaksud adalah “orang yang tahu”, tak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga kelompok ilmuwan, cendekiawan, dan para pemikir di berbagai bidang ilmu pengetahuan lain. Baik itu ilmu-ilmu alam yang berkaitan dengan pengembangan teknologi dan pemeliharaan serta sumber daya, serta ilmu-ilmu sosial-humanoria yang berkaitan dengan kelestarian budaya dan tata pola sosiologis antar manusia.

Dalam semesta ‘ulama ini, adalah mereka yang dengan kecemerlangan akalnya mampu memahami serta membumikan keselarasan ekologis seperti Nabi Sulaiman as., mengoptimalkan pemanfaatan teknologi seperti Nabi Nuh as., menselaraskan peran seni dalam keharmonisan hidup seperti Nabi Daud as., dan sebagainya.

Nah, golongan orang ini, al-Imam sebut sebagai waraatsatul anbiyaa’ (pewaris para Nabi).



KEDUA, az-zuhhaad,

orang-orang zuhud, rakyat kecil yang nrimo ing pandum, penampung kekayaan batin dengan keranjang-keranjang kemelaratan lahir, pelaku suluk di dalam kesedarhanaan hidup. Mereka ini, kadang nampak sebagai penghuni-penghuni mihrab batin mereka sendiri, lebih memilih sibuk dengan aktivitas rohaninya daripada ngoyo dengan pemenuhan kebutuhan jasmani.

Orang-orang semacam ini, yang memanfaatkan umurnya dengan ritual ibadah an sich, serta melalui harinya dengan perenungan-perenungan spiritual, akan memiliki ketajaman sekaligus kelembutan batin yang luar biasa. Sehingga perkataan-perkataan maupun tindakannya mengandung madu hikmah yang manis, penawar bagi hati-hati yang luka digerogoti penyakit dunia.

Nah, golongan orang ini, al-Imam sebut sebagai al-adillaa’ (rambu-rambu rohani)

KETIGA, al-ghuzzah,

Golongan pejuang, pion-pion pertahanan eksistensi suatu kedaulatan dan kehormatan. Tentara, polisi, kejaksaan, dan apapun lembaga maupun kelompok yang memosisikan dirinya sebagai benteng suatu harga diri serta nilai-nilai kebenaran.

Orang yang menempati posisi ini tidak hanya defensif terhadap rongrongan virus-virus jaman, dengan tameng keyakinan dan keberanian. Tetapi juga ofensif terhadap penyelewengan-penyelewengan fitrah kemanusian, dengan sabetan-sabetan pemanusiaan kembali (rehumanisasi).

Nah, golongan orang ini, al-Imam sebut sebagai as-yaafullaah (pedang-pedang Allah).


KEEMPAT, at-tujjaar,

Yakni pelaku bisnis, stakeholder pasar, pemegang kapital-kapital besar maupun kecil, pedagang kelas kakap maupun teri, pos siklus barang produksi maupun pelayanan jasa, para penopang-penopang mood ekonomi.

Pemenuhan kebutuhan hidup merupakan hal pokok (haajiyyah) bagi masyarakat. Perilaku ini kemudian menimbulkan interaksi ekonomi satu sama lain, antar manusia, antar kelompok, antar entitas bisnis. Ketika kebutuhan manusia terpenuhi, maka tingkahnya akan tenang, cenderung tidak akan terjadi konflik antar-manusia yang timbul dari perebutan-perebutan barang ekonomi. Dan semua itu bergantung kepada praktek ekonomi yang efektif. Maka kesejahteraan pun akan lebih mudah tercapai.

Nah, golongan orang ini, al-Imam sebut sebagai umanaa-ullaah (payung keayeman dari Allah)


KELIMA, al-muluk,

Raja, pemimpin, orang yang dipercaya memandu rakyat yang dipimpinnya, memikul beban rakyat, yang seringkali disalahartikan sebagai “penguasa”. Dalam suatu komunitas, entah apa teorinya, pasti ada sosok yang menjadi pemimpin, yang paling menonjol, dan menjadi representasi dari komunitas itu. Sosok yang jika keputusannya berjalan ngalor maka pengikutnya pun akan ngalor. Dan ngalor itu pun demi kesejahteraan dan keselamatan mereka yang dipimpin.

Persis gembala, peran mereka mencari lahan subur yang penuh rumput segar agar kambing-kambing kenyang, kemudian menggiringnya kesana. Sekaligus menghindari tebing-tebing curam agar kambing-kambing tidak celaka. Bukan sebaliknya.

Nah, golongan orang ini, al-Imam sebut sebagai ri’aatul kholq (penggembala makhluk Tuhan).



Lima peran ini saling berkait satu sama lain, saling bersandar satu sama lain. Nah,

MASALAHNYA adalah, jika terjadi malfungsi di dalam masing-masing kategori, penyelewengan peran, maka akan terjadi hal-hal yang kita lihat saat ini, di negeri ini, yang entah darimana mulanya.

Yakni ketika Golongan Pertama sudah jadi tamak terhadap harta, kesenangan duniawi, sehingga pengetahuannya tentang agama, sains dan teknologi, maupun pola sosial, hanya menjadi alat baginya untuk menumpuk-numpuk kekayaan, mabuk popularitas, silau pencitraan. Institusi pendidikan yang notabene lembaga 'pabrik' pemikir sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, malah menjadi mesin uang atas nama pendidikan. Lha kalo mereka sudah jadi thaami’ (orang tamak) begini, mau kemana umat memijakkan amalnya?

Apalagi ketika Golongan Kedua sudah jadi peminta-minta, selalu menadah mengharap pemberian, atribut-atribut kesalehan hanya menjadi simbol saja sementara ketahanan mentalnya jauh dari maqam ikhlas, tidak mandiri, kacau kondisi hatinya oleh kebutuhan duniawi dan akhirnya hilanglah kebijaksanaan. Lha kalo mereka sudah jadi raaghib (pengemis) begini, mau kemana umat sowan minta pituduh?

Apalagi ketika Golongan Ketiga sudah suka cari muka, dia jadi pedang dan tameng terhadap citra dan apresiasi kuasa semata. Mana yang menguntungkan dirinya, itu yang dibela. Wah apalagi jika mereka mulai suka unjuk gigi pamer kekuatan menggilas rakyat yang dianggapnya lemah. Lha kalo mereka sudah jadi muroo-i (tukang pamer) begini, mau kemana umat berlindung?

Apalagi ketika Golongan Keempat sudah tega berkhianat, monopoli kemakmuran, tak peduli dengan mereka yang kekurangan, hanya kekenyangan perutnya sendiri yang diperhatikan, seakan uang yang masuk ke laci kasirnya tidak berasal dari perputaran transaksi yang juga berasal dari mereka yang melarat di tepian negeri. Lha kalo mereka sudah jadi khaa-in (pengkhianat) begini, mau kemana umat mempercayakan investasinya?

Apalagi ketika Golongan Kelima sudah jadi predator, gembala sudah jadi serigala. Asal dia kenyang, rakyatnya dimakan. Asal dia kaya, gusur menggusur hobinya. Asal dia berkuasa, pengkritik dibuangnya. Lha kalo mereka sudah jadi dza-ban (serigala) begini, siapa yang ngemong kambing-kambing gembalaan?

Perilaku-perilaku salah tempat alias zalim inilah biang kerok masalah-masalah kemasyarakatan di muka bumi. Maka penting sekali adanya kesadaran diri terhadap peran di tengah masyarakat. Baik itu semesta negara, atau galaksi kadipaten, atau planet kelurahan, atau benua keluarga, kelompok-kelompok sosial, atau di dalam pemerintahan diri sendiri yang mungkin mencakup lima peran itu sekaligus.

Nah, dari klasifikasi peran sosial ala al-Imam al-Hasan al-Bashri di atas, kita masuk yang mana?

_________
Krapyak, 28 Januari 2012

No comments:

Powered by Blogger.