Ekuilibrium Sareat - Hakekat

02:48
Dulu, di serambi langgar Baitul ‘Alim SMANSAWI, hampir tiap siang aku ikut nimbrung ndopok sama kakak-kakak kelas, cerita apa aja dan kadang-kadang nyerempet bab ilmu, khususnya tentang agama. Dan mungkin itu yang bikin aku betah hidup di SMANSAWI.

Salah satu tema yang sering kami bincangkan adalah kisah-kisah tentang Waliyullah, cerita-cerita tentang karomah, dan berbagai hal yang menakjubkan. Ada kisah tentang seorang wali yang menenggak arak, lalu diprotes muridnya, dan setelah ditunjukkan ternyata di rongga mulutnya ada samudera, “Aku tidak minum arak, aku hanya membuangnya ke lautan..” jelas Sang Wali. Dan banyak lagi kish ajaib lainnya..

Nah, ujung-ujungnya, kakak-kakak kelas selalu menekankan bahwa setiap mukmin punya maqom (kedudukan) masing-masing. Maqom teri jangan berlagak paus. Maqom ayam jangan mengaum bagai macan, malah jadi lucu.. dan Haqiqat harus diiringi pelaksanaan Syari’at, sedangkan Syari’at harus dibarengi dengan pemaknaan Haqiqat.

Para ulama mengistilahkan;
“AL-HAQIIQOTU BILAA SYARII’ATIN BAATHILATUN (Hakekat tanpa Sareat adalah tak benar), WAS SYARII’ATU BILAA HAQIIQOTIN ‘AATHILATUN (dan Sareat tanpa Hakekat adalah percuma).”

Nah, inilah yang kepingin kuperbincangkan bareng rencang-rencang ROHIS, nostalgia lah ceritane.. apen-apen e kiye dewek lagi leyeh-leyeh ning serambi langgar SMA, hehehe...
:D

Hakekat tanpa Sareat itu misalnya begini;
Ada orang berkata bahwa tidak ada gunanya sholat, toh yang namanya keselamatan dan kesengsaraan, masuk surga atau neraka, sudah tertulis sejak jaman azali. Orang yang tidak solat jika tertakdir surga ya tetap masuk surga. Orang yang solat jika tertakdir neraka ya tetap masuk neraka.

Sedangkan Sareat tanpa Hakekat contohnya;
Ketika ada orang yang beribadah karena mengharapkan surga, kemudian berkata bahwa jika bukan karena amalnya itu tidak mungkin ia bisa masuk surga. Inilah Sareat yang ‘Aathilah (percuma), karena ada atau tidak adanya sama saja. Padahal masuk surga itu kan sebab Fadhal (keutamaan, anugerah) dari Allah semata.

Lalu, apa sih Sareat dan Hakekat itu? Ada empat terminologi yang sering kita dengar, yakni Syari’ah – Thariqah – Haqiqah – Ma’rifah. Dalam obrolan ini kita hanya bicarakan tentang Syari’ah (sareat) dan Haqiqah (hakekat) saja.

Sareat adalah segala perintah dan larangan dari Allah, yang kemudian identik dengan aturan main hidup manusia. Bersyahadat, melakukan sholat, puasa, zakat, haji, berbuat baik kepada tetangga, menyantuni fakir miskin, birrul walidayn, menjauhi zina, menutup aurat, tidak korupsi, semua itu  adalah pengamalan tataran sareat.

Sedangkan Hakekat adalah kesadaran tentang esensi amal dan perbuatan, bahwa melakukan ibadah dan meninggalkan maksiat adalah dari Allah, bahwa tidak ada daya maupun kekuatan diri kita untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan selain dari Allah semata. Laa Haula walaa Quwwata illaa Billaahi al-‘Aliyyi al-‘Adziim.

Dengan pemaknaan ini, maka kedua hal tersebut harus disejajarkan, diiringkan, bahkan disatukan. Harus ada keseimbangan antara Sareat dan Hakekat, ekuilibrium. Keseimbangan ini telah Allah simbolkan secara sempurna di dalam Surah al-Faatehah;

“IYYAAKA NA’BUDU (hanya kepada-Mu kami menyembah) WA IYYAAKA NASTA’IINU (dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan)”

“Iyyaaka Na’budu” menyiratkan suatu aktivitas Sareat, karena mangandung makna perbuatan hamba yang diupayakan, berupa penyembahan kepada-Nya di dalam setiap sisi kehidupannya. Sedangkan “Iyyaaka Nasta’iinu” menyiratkan Hakekat segalanya, bahwa aktivitas ibadahnya itu tak akan bisa eksis tanpa pertolongan dari Allah semata.

Jadi kesimpulannya, seorang hamba wajib beramal karena melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak sekali-kali memandang bahwa amalnya itulah yang akan menyelamatkannya dan memasukkannya ke surga. Tetapi melaksanakan semua itu semata-mata karena perintah Allah. Kalaupun ternyata Allah memberikan ganjaran, itu hanya karena Anugerah dari-Nya.

Imam al-Hasan al-Bashri menyampaikan;
“Ilmu Hakekat itu adalah meninggalkan perhatian terhadap ganjaran perbuatan, bukannya meninggalkan perbuatan itu.”

Sedangkan Sayyiduna Ali bin Abi Thalib menyatakan;
“Orang yang mengira bahwa tanpa bersungguh-sungguh (ibadah) dia bisa sampai ke surga adalah Pelamun (mutamann). Dan orang yang mengira bahwa dengan bersungguh-sungguh (ibadah) dia bisa sampai ke surga adalah orang yang Gagal (muta’ann).”

Nah, kata kakak-kakak kelas dulu, kalau keyakinan kita sudah mantap begini, tak masalah jika mau berobat ke dokter, tawassul dengan para wali, ziaroh kubur semalam suntuk, baca manaqib atau hizib atau suwuk…

TAPI YA ANGEL

Wallaahu A’lam

---
Rujukan: Syaikh Muhammad Ihsan Dahlan al-Jampesi al-Kediri; Sirojut Tholibin syarh ‘ala Minhajil ‘Abidin lil Imam al-Ghozali; 1/116; Darul Kutubil Islamiyyah; Beirut.
--
Krapyak; Valentine Day 2012

No comments:

Powered by Blogger.