LAKU :: Sedekah Pemulung

Suatu malam di masjid pondok, aku dan seorang temanku santai sambil bercengkerama sehabis shalat berjama’ah. Seketika itu, seorang bapak paruh baya dengan sorot mata ceria datang menghampiri kami berdua.

Perawakannya kurus, pendek, rambut cepak yang memutih, pakaian lusuh, cara bicaranya agak kaku dan gamang namun ramah.

“Ini, buat Mas berdua, buat jajan,” katanya, sambil menyodorkan dua lembar uang dua ribuan kepada kami.

Setelah sejenak kebingungan dan saling lempar pandangan, kamipun menerima uang itu sambil tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Sampai sekarang, jujur, aku masih heran dengan laku bapak itu.

Mungkin uang empat ribu rupiah tidak seberapa besar bagimu, tapi bagi orang yang berprofesi sebagai pemulung tentu empat ribu rupiah sangatlah berarti. Heran.

Jika uang itu keluar dari kantong hartawan sih aku tak akan gumun. Tapi, sedekah ini keluar dari seorang yang pendapatannya paling mentok –hanya- dua puluh ribu sehari. Berarti beliau –setidaknya- menyedekahkan sejumlah dua puluh persen dari penghasilannya di hari itu. Wah! Itu jumlah yang besar.

Bukankah ada sebuah maqalah;
الدرهام من الفقير خير من ألف دينار من الغني
"Satu dirham dari seorang fakir lebih baik daripada seribu dinar dari orang kaya."


Aku tahu betul, beliau itu sehari-harinya, keliling kampung –termasuk komplek pesantren ini- untuk mengais sampah, kemudian dijual demi menjalani siklus alamiah kehidupan.

Kenapa kok beliau dengan segala kesadaran mentalnya berani mengeluarkan begitu besar harta yang sebenarnya ia sendiri butuhkan? Sedangkan banyak di antara kita yang serba kecukupan namun masih saja takut kehilangan hal yang sebenarnya bukan milik kita.

Bukankah dalam ilmu ekonomi modern kelebihan semacam itu seharusnya diinvestasikan agar bisa lebih menghasilkan laba di kemudian hari? Sehingga uang akan menghasilkan uang kembali? Sehingga kita bermodal uang, bersusah payah mencari uang, dan kemudian uang itu digunakan untuk menghasilkan uang lagi?

Bukankah, dalam kondisinya sebagai orang miskin, tidaklah wajib baginya untuk menyedekahkan hartanya, apalagi sebesar itu?

Ah! Aneh betul..

Atau jangan-jangan.. pola pikirkulah yang salah perspektif dalam memandang semua ini. Jangan-jangan, kacamata materialisme yang kugunakan ini memang buram, sehingga seterang benderang apapun objek yang kulihat tetap akan terlihat buram.

Jangan-jangan, memang alam bawah sadarku sudah terracuni sekian lama oleh berbagai macam khurafat bahwa uang dapat membawa kebahagiaan, bahwa kebahagiaan esok hari bergantung pada sebanyak apa deposito uangku hari ini.

Padahal, khurafat adalah segala macam asumsi yang sejatinya palsu, tidak benar, dan tipuan.

Waduh! Gawat!

Bapak pemulung itu sudah merasa cukup dalam kemelaratannya, bahkan merasa kaya, sehingga tak ragu sedikitpun menyisihkan dua puluh persen penghasilannya.

Sementara aku.. begitu takutnya kehilangan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepersen pun memilikinya! Hebat! Sebegitu tololnya aku, hanya baru merasakan miskin ketika tak berduit dan baru merasa lemah setelah merasakan sakit.

Jangan-jangan, segala macam konspirasi Neo-Dajjalisme yang membolak-balikkan kesejatian dengan kepalsuan, konsep Suargo-Jahannam dan Neroko-Firdaus, telah berlapis-lapis mengerak sehingga menghalangi pandangan akal sehatku terhadap segala hakekat. Masya-a-Llah!

Jadi selama ini, aku masih saja dengan gobloknya tidak paham makna doa di ujung tahiyat akhir itu..
"Aku berlindung kepada Allah dari buruknya fitnah Al-Masikh Ad-Dajjal."


---
:: Krapyak, 12 Ramadhan 1433 ::

1 comment:

Powered by Blogger.