Mimpi Indah

03:21
Yaa Kariim.. betapa pedih.. betapa nikmat..

24/2
Cinta, adalah segumpal rasa yang tumbuh di alam bawah sadar kita, tanpa kontrol otak beserta saraf-sarafnya. Sederhananya, cinta adalah rasa ingin menyatu dengan hal yang menjadi obyek si pecinta. Definisi ini tidak kucatut dari kamus atau ensiklopedi manapun, murni laku pribadiku, sejak pertama kudengar irama suaranya dan kupandang lekuk senyumnya, di tempat itu…

17/4
Kukenang malam itu.. Tak bisa kuterka bagaimana paras dan gelagatnya, hanya sekilas nada suaranya. Namun, dari intonasi itu, dengan segala keterbatasanku tentang psikologi, agaknya dia ini bersifat lembut sekaligus berwatak keras..

Ya, ternyata benar dugaanku..
Ketika pertama jumpa..
__ Sorot mata dan senyum itu..
__ Seakan sudah kukenal sebelumnya..
Bagai dua kutub yang baru bertemu..
Setelah terpisah begitu lama..
__ Serasa dahulu pernah satu..
__ Entah kapan entah dimana..

5/6
Di atas sini, seperti pagi-pagiku yang lalu, yang biasa, sambil menatap ufuk samudera hindia, tepat di kolong kubah biru yang begitu luas, aku mengurai penat. Seekor merpati hinggap.

Indah. Sejuk. Nyaman. Damai.

Namun ketika kucoba mendekat mengakrabkan diri sebagai sesama makhluk Tuhan, ia malah terbang. Aku pun teringat akan dia.

Ketika kedekatan sudah begitu erat, aku mulai takut dengan jarak. Ketika mimpi sudah begitu membuai, aku takut terjaga. Ketika luka-luka sudah hampir mengering, aku takut tersayat lagi.
Betapa hati sudah terlalu sering tersayat. Semoga dia inilah penawarnya. Dan tak sekedar hinggap, seperti si merpati.

“Selamat..”

1/8
Ini adalah skenario Tuhan yang bahkan aku tak tahu darimana bermula dan entah serumit atau sesederhana apa mekanismenya. Jangan tanya kenapa. Pokoknya, cinta itu anugerah batiniah. Titik.

Dia dan segala tentangnya mengetuk dengan irama yang indah pintu hatiku. Semestaku sepi tanpanya. Aku bukan dokter yang ahli mendiagnosa, tapi aku yakin, inilah gejala cinta.

9/8
Ambisius, apa yang diinginkan harus terpenuhi. Jika tidak, akan jadi masalah yang bisa meruwetkan kejernihan hatinya. Sampai-sampai kadang aku khawatir, jika kelak aku menjadi ‘pakaian’ baginya tetapi tidak bisa mengimbangi sifatnya itu.

Ya, kekhawatiran-kekhawatiran ini wajar, toh aku pun sadar, siapa aku, keadaanku, kesempatanku, tanggunganku, dan semua variable hidupku.

Aku. Tak ada yang istimewa. Hanya seonggok gembel di kolong langit.

Hhhhh…
Namun, segala macam adegan hidup yang pernah kulalui membisikiku;

“Jangan pernah kau resah oleh sifat maupun sikap orang lain. Itu semua fitrah dan tak ada kuasa bagimu. Cukup kau maklumi saja semuanya. Perbagus sifat dan sikapmu. Jangan tunggu pengaruh luar untuk menikmati kebahagiaan. Cukup kau ciptakan bahagiamu sendiri!”

Ya, semoga aku bisa memahaminya, dan ia pun memahamiku.

Hunna Libaasun Lakum, wa Antum Libaasun Lahunna..”

5/9
Halilintar menyambar. Aku hampir pingsan. Hujan mengguyur. Lebat. Sangat lebat.

9/9
Bekas-bekas lagi-lagi tersayat-sayat. Jahitan terputus. Luka menganga. Tak ada darah ataupun nanah. Karena ini perih yang bukan daging, ngilu yang bukan tulang. Nampaknya aku, lagi-lagi, harus mulai bersahabat dengan waktu.

Unik. Kenangan yang manis, dalam kondisi seperti ini, menjadi pahit. Cinta pun berubah jadi duri, yang dulu begitu nikmat menelusup dalam hati, kini malah menusuk, menyayat bak belati.

Hari ini aku terbangun. Terjaga lagi. Begitu indah mimpi ini hingga aku ingin terlelap lagi. Namun percuma, mimpi itu tak kembali. Satu-satunya hal yang tidak bodoh dan tidak sia-sia adalah bangkit dan melegawakan hati. Jangan ada benci, karena membenci hanyalah menyiksa diri sendiri.

Tangisnya, deritaku. Senyumnya, kebahagiaanku.

Kasih sayangku mengindah, cintaku mengkristal, menjadi untaian manik-manik harapan dan kepasrahan. Agar dia -yang tak ‘kan kulupa- selalu dipeluk keayeman, kebahagiaan.

Yaa Kariim

---------
Jogja, Ahad; 14.30 - 16.40 WIB; 9/9/2012

2 comments:

Powered by Blogger.