Kimia Kebahagiaan: Dihidrogen Monoksida (H2O)

12:40

Sejak siang tadi hingga sore ini, langit Krapyak dihujani Pasukan Dihidrogen Monoksida (H2O) dalam bentuk cair, kalau boleh kutelusur ke belakang, mereka ini pasti sebelumnya terbang menguap dari laut kidul, dan terkumpul menjadi awan di angkasa, atau bahkan lebih tinggi menjadi kristal-kristal es yang kemudian jenuh dan meluncur turun ke bumi.

~

Jika ada golongan orang-orang yang tidak mencita-citakan kebahagiaan, maka akulah salah satunya. Kebetulan, selama ini aku tidak sempat mengkhayalkan kebahagiaan di esok hari, atau bercita-cita bergelimang kebahagiaan besok.

Karena menurutku; jika kita bisa berbahagia sekarang, kenapa harus menunggunya hingga besok? Ya, saat yang paling aktual adalah masa kini. Masa lalu maupun masa depan sama sekali tidak terjangkau selain dengan ingatan dan harapan. Maka alangkah sayangnya bila kebahagiaan itu hanya dinikmati di alam angan-angan: memori dan asa.

Bukankah lebih pas jika kebahagiaan itu kita nikmati sekarang?

Mungkin mindset kita tentang kebahagiaan berbeda. Aku punya pandangan bahwa kebahagiaan itu bukan hal material, ia abstrak namun terasa konkrit, ia relatif namun wujudnya mutlak.

Kebahagiaan bukanlah kesenangan maupun keserbaadaan. Kebahagiaan merupakan himpunan semesta yang cakupannya melingkupi kesenangan dan kesedihan. Sedih bukan antonim bahagia. Jadi, orang senang bisa bahagia, orang sedih pun bisa bahagia.

Lawan kata bahagia, menurutku, adalah sengsara. Dan kesengsaraan bisa dirasakan baik oleh orang yang sedih bahkan orang yang senang. Sedangkan salah satu karakter sengsara adalah rasa gelisah.

Maka, orang yang berpesta pora, bersenang-senang dengan segala macam kemilau pernik materi belum tentu bahagia, dia bisa merasakan kesumpekan jiwa berupa kegelisahan-kegelisahan yang tak terpuaskan oleh keriangan-keriangan sesemarak apapun.

Dan orang yang mengalami kemalangan dalam proses hidup pun belum tentu sengsara. Kondisi batin yang tahan banting justru mengolah kemalangannya menjadi satu keberuntungan bagi daya pikir maupun daya rasanya. Dia legawa, dia bahagia. Tak ada kegelisahan, itulah bahagia.

Singkatnya, kebahagiaan tetaplah kebahagiaan, dan ia sebenarnya bisa menyelinap ke segala kondisi dalam romantisme hidup kita; sehat - sakit, susah – senang, untung – malang, terbang – terbanting.

~

Dihidrogen Monoksida ketika berbentuk cair bernama air, ketika menjelma gas disebut uap, dan saat membeku dikenal dengan nama: es. Namun pada hakekatnya, dia tetaplah Dihidrogen Monoksida.

Hanya bentuk fisiknya yang terlihat berubah, namun unsur kimiawinya tetap sama.
Hanya kondisi ragawinya yang nampak susah, namun jiwanya tetaplah bahagia.

menadah rahmat

~

Krapyak, Ashar/13/12/2012

No comments:

Powered by Blogger.