Lelaku Guruku

11:55
Beberapa waktu lalu santer pemberitaan di media massa tentang bencana longsor di Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes yang terjadi tepat setelah Pilkades. Namun bukan tentang bencana itu yang akan kubicarakan. Plompong adalah kampung dimana aku sering menghabiskan waktu saat liburan sekolah, bersama kakekku, yang mengajariku tanpa buku, tapi dengan tingkah laku.

Aku hanya ingin mengenang sekenanya tentang beliau yang sudah wafat, demi menghidupkan kembali hatiku yang berkarat dan kian sekarat.

ذكر الممات يحي الأموات
 
Dahulu, kala senja, biasanya aku duduk bersila mengganjal pintu agar tetap terbuka dan bisa menikmati semilir aliran angin, sambil memperhatikan beliau duduk santai di atas kursi, sesekali mengepaskan posisi kacamata tebalnya, membahas beberapa bab dalam kitab tertentu bersama beberapa pemuda-pemudi.

Beberapa kalimat beliau baca lengkap dengan terjemah ‘gandul’ per kata ala pesantren, kemudian menerjemahkannya secara lengkap ke bahasa Indonesia, baru kemudian menerangkannya panjang lebar beserta hal-hal aktual yang berkaitan dengan tema tersebut dengan bahasa yang sederhana.

Beliau dirangkul dan merangkul siapa saja, golongan mana saja. Baik Muhammadiyyah maupun Nahdlatul Ulama, entah Aisyiyah atau Muslimat-Fatayat di sana, tak hanya dari Pemuda Muhammadiyyah tetapi juga kalangan Ansor mengharapkan arahan dan bimbingannya.

Agaknya aku terpengaruh sikap beliau yang tidak suka keributan atau saling hujat berkepanjangan. Apalagi ‘hanya’ sekedar masalah tahlilan, maulid, slametan, tingkeban, atau hal-hal ‘sepele’ lain dalam ranah ‘urf alias tradisi. Ketika ditanya oleh beberapa kerabat yang tidak sepakat dengan budaya tarhim menjelang fajar, beliau hanya berujar singkat;

“Tarhim itu bid’ah, dholalah, jika dijadikan sebagai ibadah yang merupakan keharusan. Apalagi dengan cara yang tak elok.” kemudian beliau alihkan pembicaraan ke topik lain.

Tapi di sisi lain, beliau sangat bersedia berlama-lama meladeni warga yang datang dan menanyakan pembagian harta waris keluarganya yang meninggal, atau tentang masalah paroan tanah dan hal-hal yang berhubungan dengan hak adami. Semua hak harus dipenuhi, kewajiban musti tertunaikan.

Seringkali aku tak setuju dengan pendapat-pendapat beliau, namun akhir-akhir ini, setelah sekian lama kurenungkan kembali, lengkap dengan realita sosial yang mengelilingi beliau, aku baru mengerti dan sepakat dengan sikap-sikap beliau itu.

Prinsip beliau adalah upaya agar masyarakat memahami agama ini sebagai suatu tata aturan yang musti ditaati tanpa meninggalkan esensinya, yakni cinta kasih. Beliau sosok yang tidak memaksakan agar kucing menjadi kerbau, kambing menjadi singa, atau gurita menjadi elang. Apalagi agar biru menjadi hijau atau sebaliknya. Hal terpenting adalah agar setiap individu bisa mendayagunakan potensinya masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat, tanpa memandang sekat golongan, dilandasi dengan spiritualisme.

~

Sikap ini, aku kira, karena beliau tidak hanya terpikat dengan jurisprudensi Islam (fiqh), tetapi juga disiplin mistisme Islam (tasawwuf amali) melalui Thariqah Syadziliyyah yang dilakoni semenjak mondok di Kaliwungu semasa mudanya dahulu. Namun beliau juga tidak terlalu suka dengan sikap terlalu menyibukkan diri dengan ritual-ritual. Bahkan penah dalam suatu kesempatan, beliau menegur saat melihatku terlampau asyik dan terpukau dengan wirid-wirid panjang.

“Ndak usah panjang-panjang dan macam-macam. Yang biasa-biasa saja, asalkan istiqomah. Seperti ini, ini, ini, dan ini, masing-masing sekian kali setiap pagi dan sore. Jadi bisa tetap belajar dan srawung di masyarakat,” tegurnya.

Kalimat ini bukan omong kosong atau sekedar retorika, beliau membuktikannya sendiri. Biasanya beliau mulai bangun satu atau dua jam sebelum fajar, lalu menuju masjid menjelang fajar, menyusuri jalan pintas yang sepi di belakang kebun dengan senter tuanya. Ketika mengimami jamaah shalat subuh di lingkungan yang majemuk dan cenderung bernuansa ‘biru’ ini, beliau tuma’ninah agak panjang saat i’tidal di rakaat kedua, memberikan kesempatan bagi jamaah yang terbiasa membaca qunut subuh. Setelah menyampaikan ceramah pagi yang singkat, beliau tetap di masjid membaca Al-Qur’an dan berdzikir bersama bulir-bulir tasbihnya hingga menjelang terbit. Lalu pulang ke rumah menyusuri jalan yang berbeda, jalan yang ramai dan lebih jauh, sambil menyapa tetangga-tetangga yang nampak memulai geliat aktivitas kesehariannya. Kadangkala beberapa warga mengajak beliau mampir, untuk sekedar ngopi dan bincang pagi.

Ketika sampai rumah, sudah ada beberapa murid menunggu beliau bersama kitab-kitabnya. Lalu mengajar di madrasah tsanawiyah. Siangnya, beliau beranjak bekerja menggarap beberapa petak sawah bersama sang istri, meski pada belasan tahun sebelum wafat, beliau tak terlihat ke sawah lagi. Setelah istirahat siang, beliau mulai berkutat dengan hobinya; membaca. Kadang-kadang, sambil menunjuk beberapa jajar jilid al-Umm, beliau melirikku dan berpesan;

“Ini nanti kamu bawa pulang, kalau embah sudah ndak ada.”

Setelah ashar hingga isya, para murid kembali berdatangan untuk mengaji. Lepas isya, beliau menyempatkan menonton tayangan berita di televisi sambil berkomentar kesana-kemari. Setelah agak malam, beliau lanjut mengajar di salah satu yayasan milik Persyarikatan Muhammadiyyah.

Otak latahku dahulu terkadang heran, beliau begitu sibuk tetapi kok tetap saja melarat. Mengapa tidak mengikuti arus kapitalisme jaman sekarang? Bukankah agama adalah komoditi jual yang menjanjikan? Aku belum paham dengan cara berpikir atau sudut pandangnya terhadap harta benda.

Kamarnya tak berdaun pintu, hanya berbatas korden usang, kayu pintu bagian luar atas bertulis ‘Balya ibnu Malkan’ yang konon merupakan nama asli Khidhir ‘alayhissalam, entah apa maksudnya. Luas kamarnya dua kali dua meter, disekat anyaman bambu dengan kamar lain, ranjang dan lemari pakaiannya pun sangat lusuh. Sebagai pelengkap; ada seonggok payung rusak tergeletak begitu saja di atas lemarinya. Ketika aku drop out dari sekolah yang masyhur bisa ‘menjanjikan’ secara finansial beberapa tahun lalu, beliau justru nampak sumringah. Bahkan ketika ada oknum yang menggarong beberapa meter tanah beliau dan membuat para kerabat emosi, beliau justru tenang-tenang saja sambil mengomando;

“Sudah biarkan saja, jangan diributkan. Memangnya dunia ini mau sampai kapan?”

Aku sama sekali tak paham, atau mungkin belum paham.

~

Di pertengahan Ramadhan dua tahun lalu, beliau purna tugas di kehidupan dunia ini. Beliau dikebumikan di sudut kampung, tak sedikit yang merasa kehilangan suluh. Karena budaya ziarah kubur tidak populer di kampung ini, maka aku yakin, pusara beliau pun kini sudah menjadi semak sebagaimana kuburan-kuburan lainnya. Namun itu bukan masalah, ya, sama sekali bukan masalah.

Toh beliau juga bukan siapa-siapa, apalagi kiai, ustadz, ajengan, murobbi, muallim. Bukan, sama sekali bukan. Hanya seorang ayah dengan sepuluh putra-putri dan kakek dengan belasan cucu. Hanya orang biasa yang memandang kehidupan dunia dengan biasa-biasa saja, yang kebetulan menjadi seorang guru.

Kulo kangen, Mbah..

اللهم اجعل قبره روضة من رياض الجنان 

~
Jogja, 24/02/2013

5 comments:

  1. menyentuh pakdhe...
    aku juga punya 2 kakek, beliau berdua seperti sejajar dalam kehidupan walaupun berbeda masa, seperti dunia menuju akhirat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'sejajar dalam kehidupan' ki maksude piye paklik? sini berbagi cerita ;)

      Delete
  2. sangat menginspirasi :'(

    this story have reminded to my grand father and Gus Dur

    ReplyDelete
  3. Trenyuh moco catetan iki. Aku seneng gaya tulisane Kang Zia. Mugo biso ngikuti sampyan dlm menulis kang

    ReplyDelete

Powered by Blogger.