SINGULARISME PESAN MORAL AGAMA-AGAMA SEBAGAI KUNCI KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA

23:13

Oleh: Zia Ul Haq
Santri Madrasah Huffadh 1 Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak
Yogyakarta



Konten;
Mukadimah
Sampel Kasus; Konflik Demak-Majapahit, Poso, dan Ketapang
Faktor Pemantik Anarkisme
Keberagaman Agama di Indonesia
Persamaan Pesan Moral Antar-agama
Singularisme


MUKADIMAH

Agama merupakan suatu sistem kepercayaan manusia terhadap Tuhan yang memiliki berbagai macam aspek, yakni keimanan (transenden), peribadatan (ritual) maupun nilai moral (etika). Di dalam kehidupan berbangsa di Indonesia, terdapat berbagai macam agama yang berkembang dan kemudian dianggap resmi menurut undang-undang, yakni Hindu, Buddha, Islam, Kristen (Katolik dan Protestan) serta Kong Hu Cu. Sudah jelas dengan sendirinya bahwa setiap hal mempunyai persamaan sekaligus perbedaan dengan hal-hal lainnya, demikian halnya dengan agama-agama. Bila tidak ada persamaan pada agama-agama, maka tidak bisa disebut dengan nama yang sama: “agama.” Bila tidak ada perbedaannya di antaranya, maka tidak akan pula disebut dengan kata majemuk: “agama-agama.” Perbedaan-perbedaan yang ada acapkali dituduh menjadi faktor konflik fisik antar pemeluk agama, meskipun sebenarnya ada banyak faktor lain yang mendalanginya.

Keberagaman dalam peradaban umat manusia merupakan suatu fitrah yang tak terelakkan, khususnya di negeri yang majemuk seperti Indonesia. Secara historis, kepulauan Nusantara yang sekarang bernama “Indonesia” ini memang sudah menjadi tempat hijrah manusia dari berbagai penjuru bumi. Perkumpulan bermacam ras manusia ini jualah yang mewarnai bumi Nusantara dengan aspek-aspek peradaban yang mengikutinya, baik itu budaya maupun agama.

Perbedaan-perbedaan yang terkandung di masing-masing kepercayaan merupakan keniscayaan. Apalagi jika berkaitan dengan perkara ritual dan konsep ketuhanan atau teologi. Namun hal yang menjadi permasalahan adalah ketika perbedaan-perbedaan yang ada memancing sensitivitas relijius dan mengarah ke aksi anarkisme berupa konflik fisik horisontal. Dan hal ini telah terbuktikan oleh sejarah dengan terjadinya banyak kasus kerusuhan atas nama agama. Konflik yang terjadi bisa berupa kekerasan fisik, unjuk rasa, atau lainnya.

Akan tetapi, mengembalikan kejadian-kejadian itu melulu pada kenyataan perbedaan agama tidaklah mencukupi, mengingat konflik juga terjadi di antara orang atau kelompok-kelompok dengan agama yang sama. Maka dari itu, kerukunan yang perlu dibangun bukan hanya kerukunan antaragama, melainkan juga kerukunan antarorang atau kelompok dalam agama yang sama. Dengan kata lain, tidaklah cukup bahwa kerukunan sejati dibangun atas dasar agama saja, yang makin jelas kalau menyangkut hubungan atarumat beragama yang berbeda.

Padahal, konflik yang mengatasnamakan agama sama sekali berada di luar semangat keilahian (divine spirit) agama-agama. Semangat agama yang diwahyukan adalah cinta dan kasih. Bahkan cinta dan kasih Tuhan yang diperkenalkan oleh para utusan melampaui kemurkaan-Nya.

Pada umumnya, konflik yang mengatasnamakan agama disebabkan oleh penyimpangan arah proses sosial yang berkorelasi logis dengan bentuk-bentuk menyimpang interaksi sosial antarumat beragama. Bila agama adalah cinta dan kasih, maka interaksi sosial antara umat beragama mestinya didasarkan pada prinsip-prinsip cinta dan kasih itu. Namun tampaknya persoalan tersebut bukan sesuatu yang mudah.

Salah satu hal yang penulis tawarkan di dalam tulisan ini adalah pentingnya pemahaman terhadap pesan-pesan moral agama yang mengandung banyak kesamaan. Pesan-pesan universal yang ada di dalam spiritualisme semua agama inilah yang menitikberatkan keserupaan peran agama-agama sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia, dan bahwa untuk meraih kesempurnaan itu terdapat banyak pintu menuju Tuhan, tanpa harus menafikan eksistensi agama-agama yang sudah mengakar di dalam kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia. Sebab, pada dasarnya, “to be human is to be homo religiosus”; menjadi manusia berarti menjadi makhluk beragama.[1]

SAMPEL KASUS; KONFLIK DEMAK – MAJAPAHIT, POSO DAN KETAPANG

Keberagaman agama di Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah dan sosial budaya. Fenomena yang terjadi dalam keberagaman itupun tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek sosial budaya yang melingkupinya. Adanya konflik atau pergesekan antar umat beragama merupakan suatu obyek kajian yang harus dicermati secara detail, apakah terjadi murni karena faktor agama itu sendiri, ataukah karena faktor-faktor eksternal berupa politik maupun ekonomi.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita betapa pahitnya akibat dari konflik-konflik sosial bernuansa keagamaan. Hal ini tidak hanya terjadi di masa kontemporer tetapi juga di zaman klasik ketika nama “Indonesia” belum mengikat keanekaragaman bangsa di Nusantara.

Konflik antara Kesultanan Islam Demak dengan Kraton Hindu-Buddha Majapahit misalnya, telah menyisakan kerugian yang tidak sedikit selama beberapa abad setelahnya.[2]

Penyerbuan Walisongo atas ibukota Majapahit adalah kejadian yang sangat menarik untuk diketahui, karena banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut. Ia bermula dari serbuan Kusuma Wardani yang memimpin Kadipaten Kediri, salah seorang putera Prabu Brawijaya V, atas prajurit muslim di Troloyo – sekitar satu kilometer dari Trowulan. Menurut spekulasi Gus Dur, Kusuma Wardani marah atas proses islamisasi Kraton Majapahit. Karena itulah, ia memutuskan menyerbu Kraton itu dan mengusir Prabu Brawijaya V yang kemudian melarikan diri dan bertapa di Gunung Lawu, sebelah barat Magetan.

Sehabis menyerbu Kraton Majapahit, pasukan-pasukan Kusuma Wardani menyerbu pertahanan kaum muslimin di Troloyo. Dalam pertempuran itu berguguranlah Syaikh Abdul Qohhar (Maling Cluring), Syaikh Usman Ngudung, dan Tan Kim Han, salah seorang duta besar China yang beragama Islam dan menggunakan nama Arab Abdul Qodir Jaelani. Di tempat itulah dikuburkan orang-orang Hindu Budha, setelah Kerajaan Majapahit hancur total.

Gugurnya para pemimpin tentara Islam di Troloyo itu diikuti oleh penguasaan Kusuma Wardani atas Kraton Majapahit yang lebih mempertahankan agama Hindu-Budha, sehingga ia berposisi sebagai Prabu Brawijaya VI. Hal ini mengakibatkan reaksi tajam. Walisongo, yang sementara itu telah berhasil mendirikan Kesultanan Demak, memutuskan untuk menggunakan kekerasan dan membentuk pasukan rakyat, berjumlah sekitar 350 ribu orang. Pasukan Kesultanan Demak membumihanguskan Kraton Majapahit setelah berhasil mengalahkan prajurit Prabu Brawijaya VI, yang justru kompensasi yang harus diterima adalah kehilangan banyak sekali data sejarah tentang catatan masa lampau.

Dari contoh di atas, terlihat jelas bahwa faktor politik sangat kental menjadi penyebab peperangan bernuansa agama. Belum lagi jika kita mencermati beberapa persinggungan antaragama di zaman kontemporer ini. Konflik antara umat Islam dan Kristen di Poso sekiranya bisa menjadi sampel.

Konflik di poso adalah salah satu konflik di Indonesia yang belum terpecahkan sampai saat ini. Meskipun sudah beberapa resolusi ditawarkan, namun itu belum bisa menjamin keamanan di Poso. Pelbagai macam konflik terus bermunculan di Poso. Meskipun secara umum konflik-konflik yang terjadi di Poso adalah berlatar belakang agama, namun kalau kita meneliti lebih lanjur, maka kita akan menemukan pelbagai kepentingan golongan yang mewarnai konflik tersebut.

Konflik Poso yang telah memakan korban ribuan jiwa serta meninggalkan trauma psikologis yang sulit diukur tersebut, ternyata hanya disulut dari persoalan-persoalan sepele berupa perkelahian antarpemuda. Solidaritas kelompok memang muncul dalam kerusuhan itu, namun konteksnya masih murni seputar dunia remaja, yakni: isu miras, isu tempat maksiat. Namun justru persoalan sepele ini yang akhirnya dieksploitasi oleh petualang politik melalui instrumen isu pendatang vs penduduk asli dengan dijejali oleh sejumlah komoditi konflik berupa kesenjangan sosio-kultural, ekonomi, dan jabatan-jabatan politik. Bahkan konflik diradikalisasi dengan bungkus ideologis keagamaan, sehingga konflik Poso yang semula hanya berupa tawuran berubah menjadi perang saudara antar komponen bangsa.

Akar penyebab konflik Poso sangat kompleks. Ada persoalan yang bersifat kekinian, namun ada pula yang akarnya menyambung ke problema yang bersifat historis. Dalam politik keagamaan misalnya, problemanya bisa dirunut sejak era kolonial Belanda yang dalam konteks Poso memfasilitasi penyebaran Kristen dalam bentuk dukungan finansial. Keberpihakan pemerintah kolonial itu sebenarnya bukan dilandaskan pada semangat keagamaan, tetapi lebih pada kepentingan politik, terutama karena aksi pembangkangan pribumi umunya memang dimobilisir Islam.

Politik agama peninggalan kolonial ini akhirnya telah membangun dua image utama dalam konstelasi politik Poso, yakni: Poso identik dengan komunitas Kristen, dan birokrasi di Poso secara historis didominasi umat Kristen. Namun, di era kemerdekaan fakta keagamaan itu terjadi proses pembalikan. Jika tahun 1938 jumlah umat Kristen Poso mencapai angka 41,7 persen, lama-lama tinggal 30-an persen. Data tahun 1997 bahwa Muslim Poso mencapai angka 62,33 persen, sedangkan Kristen Protestan 34,78 persen dan Katolik hanya 0,51 persen, ditambah sisanya Budha dan Hindu. 

Proses pembalikan ini bukan akibat pemurtadan, melainkan akibat migrasi kewilayahan, sehingga komposisi penduduk mengalami pergeseran. Dalam konteks Poso, konstelasi sosio ekonomi dan politik kultural terpengaruh oleh realitas perubahan komposisi komunitas ini, terutama berupa proses pemiskinan di kalangan penduduk asli. Proses pemiskinan ini terjadi baik karena kultur kemiskinan maupun akibat kekeliruan kebijakan (kemiskinan structural), seperti lunturnya ketaatan pada tanah ulayat. Pembangunan jalan-Sulawesi dari Palopo ke Palu lewat Tentena dan Poso ikut membawa implikasi bagi kian cepatnya proses migrasi pendatang muslim yang masuk ke wilayah basis Kristen.

Pendatang Bugis yang memiliki kultur dagang kuat dengan cepat menguasai jaringan perdagangan. Bugis dinilai punya loyalitas keislaman kuat, hampir selalu membangun tempat ibadah di setiap komunitas mereka tinggal. Realitas ini tidak saja menandai terjadinya pergeseran komunitas etnis, tetapi sekaligus dalam komunitas keagamaan.

Fakta pergeseran komunitas keagamaan ini pada akhirnya berpengaruh pula pada konstelasi politik Poso. Dengan digalakkannya program pendidikan era kemerdekaan, kaum terdidik dari kalangan Muslim bermunculan, dan berikutnya mulai ikut bersaing dalam lapangan birokrasi. Di sinilah, politik komunitas keagamaan mulai bermain pula dalam dunia kepegawaian, antara lain: (1) Kristen yang semula dominan mulai dihadapkan pada saingan baru kalangan Islam. (2) Jabatan strategis yang semula didominasi Kristen, secara alamiah terjadi peralihan tangan. Dalam situasi inilah politik agama dalam konteks birokrasi kepegawaian mulai merasuk dalam kehidupan masyarakat Poso. Perspektif komunitas keagamaan dalam konteks persaingan politik birokrasi, lengkap imbasnya berupa pembagian berbagai proyek pada orang-orang dekat, telah menjadi wacana penting dalam mencermati konflik Poso.

Dari situ tampak sekali bahwa aktor-aktor dalam konflik sebenarnya sangat kompleks, melibatkan elemen-elemen birokrat, para pelaku ekonomi, di samping kelompok kultur keagamaan, yang pada gilirannya melibatkan pula kekuatan-kekuatan dari luar Poso dengan segala kepentingannya, mulai dari para laskar, aparat keamanan, birokrat pada level propinsi ataupun pusat yang memanfaatkan persoalan Poso untuk kepentingan kekuasaan.[3]

Begitu pula dengan insiden Ketapang pada tahun 1998 terhadap gereja-gereja Kristen yang barangkali merupakan satu faktor penyebab peperangan Kristen-Islam di Ambon, yakni adanya hasutan antara orang Betawi (penduduk Jakarta asli). Sejak tahun 1990 telah terjadi serangan-serangan terhadap gereja dengan peningkatan momentum, mencapai klimaksnya pada insiden yang mengerikan tahun 1996 dan 1997 di Surabaya, Tasikmalaya dan Rengasdengklok, sedangkan di bagian timur Indonesia telah terjadi serangan terhadap masjid-masjid. Serta berbagai bentrok di penjuru tempat di Indonesia yang sayangnya diperparah oleh faktor politik, secara parsial dari TNI dan Polri serta orang-orang yang datang dari luar dan melibatkan diri di dalamnya.

Faktor Pemantik Anarkisme

Budaya kekerasan dan anarkisme yang didemonstrasikan oleh berbagai bentuk konflik di atas bisa berkembang setidaknya karena empat faktor.

Pertama, faktor modernisasi dan globalisasi. Kedua hal ini memiliki daya tekan yang luar biasa terhadap masyarakat karena keuntungan dan ancamannya tidak terdistribusikan secara merata. Hanya mereka yang berada dalam kelompok kelas menengah ke atas yang bisa menikmatinya, sedangkan sisanya merasa terancam. Sehingga menempatkan masyarakat ke dalam keadaan stres sepanjang masa.

Kedua, faktor akumulasi kebencian dalam masyarakat. Yakni mudahnya masyarakat terprovokasi, disebabkan oleh kecenderungan eksklusivisme yang cenderung meningkat, baik dalam komunitas agama maupun komunitas suku. Orang-orang dari agama lain dianggap ‘kafir’ yang mesti diperangi. Saling tidak percaya, prejudis (sangkaan) berakumulasi dan hubungan antarkomunal menjadi panas.

Ketiga, mengguritanya budaya kekerasan di masyarakat. Yakni kecekatan dan kecepatan untuk melakukan tindakan kekerasan dengan brutal. Hal ini menunjukkan ada sesuatu yang salah di dalam mentalitas masyarakat Indonesia yang realitanya begitu plural. Padahal, bangsa yang plural seperti ini hanya bisa hidup bersama secara damai jika mereka membuang kapabilitas psikologis yang memunculkan sikap intoleran. Faktor ini bisa jadi disebabkan oleh faktor keempat.

Keempat, faktor sosial politik. Orde baru (pada saat itu) pada dasarnya merupakan  sistem kekerasan yang dilembagakan. Kekuasaan sesungguhnya berada di tangan militer, di mana perbedaan pendapat dan protes selalu diselesaikan secara brutal. Masyarakat merasa diri mereka menjadi “korban pembangunan”, teapi mereka tidak boleh berbicara, sebab jika mereka memprotes, maka mereka akan dituduh sebagai komunis atau malah Islam ekstrim. Apa yang dipelajari oleh masyarakat hanyalah bahwa pemerintah sekedar mengerti satu bahasa, yakni: kekerasan.[4]

Dari beberapa contoh konflik fisik di atas, dan sekelumit tentang faktor penyebabnya, kita bisa menyimpulkan betapa benar –seperti disampaikan oleh Gus Dur - bahwa begitu pentingnya arti kerukunan antarumat beragama serta arti toleransi bagi bangsa-bangsa dan suku-suku di wilayah Indonesia ini. Sebagai implikasi dari pandangan ini, menurut beliau, tepat sudahlah kebijakan yang diambil oleh para pendiri republik ini dengan kearifan untuk menghapuskan Piagam Jakarta di dalam pembukaan UUD 1945. Sebuah tindakan untuk menghilangkan dominasi suatu agama tertentu di atas agama-agama lain yang bisa berimbas kepada bidang-bidang non-agama serta memantik konflik-konflik bernuansa agama.[5]

KEBERAGAMAN AGAMA DI INDONESIA

Berbicara tentang Indonesia, kita harus berbicara tentangnya sebagai sebuah nation-state dalam pengertian modern. Sebuah negara bangsa yang tidak serta merta muncul begitu saja di muka bumi, melainkan memiliki latar sejarah yang panjang, khususnya di dalam kehidupan beragama.

Sebelum kedatangan agama-agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, maupun Kong Hu Cu di wilayah Indonesia, sudah ada sistem kepercayaan yang dianut oleh suku-suku bangsa asli, apa yang dikatakan sebagai suku-suku bangsa sekarang ini adalah bangsa-bangsa dalam unit kecil. Mereka memiliki agama dan kepercayaan tersendiri yang berkaitan dengan identitas dan harga diri mereka. Inilah yang dalam ilmu-ilmu sosial disebut sebagai agama-agama suku, atau dalam kacamata kepentingan politik praktis biasa disebut sebagai berbagai kelompok kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa.[6]

Pada saat itu, agama-agama suku hidup terisolasi sebagaimana kehidupan suku-suku bangsa itu sendiri. Hilangnya isolasi tersebut barulah terjadi setelah kedatangan apa yang dinamakan sebagai agama-agama dunia. Agama-agama ‘junior’ inilah yang sekarang ini diakui sebagai agama sah di Indonesia, yakni Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Kong Hu Cu. Di samping ajaran agama-agama ini lebih bersifat universal, para penganutnya pun terdiri dari berbagai bangsa dan bahasa.

Agama-agama ‘junior’ ini sebagian berhasil membentuk kerajaan dan negara yang besar, sekaligus mendobrak isolasi suku-suku bangsa itu serta mempersatukan mereka sebagai satu bangsa dan rakyat dalam sebuah kawasan berkepulauan ini.

Dalam hal inilah, menurut hemat penulis, peranan strategis agama-agama yang ada di Indonesia dalam menciptakan wawasan kebangsaan yang relijius dan agamis, yakni rasa kebangsaan yang bertumbuh kembang dalam landasan nilai agama-agama yang dianut oleh rakyat Indonesia. Dan wawasan kebangsaan ini tidak hanya diilhami oleh satu ajaran saja, melainkan juga semua penganut agama yang ada.

Untuk itulah pentingnya pemahaman terhadap ‘anatomi’ agama-agama besar di Indonesia tersebut, khususnya karakteristik nilai moral normatif yang memiliki kesamaan. Dalam pembahasan ini, kita harus mengenal terlebih dahulu ajaran-ajaran pokok dari agama-agama besar yang secara otoritatif memiliki peran strategis tersebut.

Meskipun tidak mengupas keseluruhan isi ajaran agama yang mencakup ranah transendental (keimanan) maupun ritual, setidaknya pembahasan tentang sekilas konsep agama-agama yang bersangkutan sudah mencukupi untuk menarik benang merah persamaan nilai moral setiap agama secara global.

Adapun seluk beluk agama-agama yang dibahas di sini adalah agama-agama resmi yang ada di Indonesia menurut senioritas keberadaannya berdasarkan catatan sejarah, yakni Hindu, Buddha, Islam, Kristen dan Kong Hu Cu.
 
1.      Hindu[7]

Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh.

Sanatana Dharma adalah nama lain untuk agama Hindu, sebuah agama yang sudah ada sebelum agama-agama lain ada. Tidak ada bukti yang pasti kapan agama Hindu muncul. Nyatanya, ia dimulai pada suatu zaman tertentu. Nama “Hindu” yang sekarang lazim dikenal dan telah dipergunakan secara umum di seluruh dunia, merupakan nama asing karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu. Nama tersebut disematkan pada kelompok masyarakat yang memiliki agama dan tradisi Dharma.
Jiwa dari sistem agama adalah kepercayaan. Agama selalu mencakup masalah percaya dan kepercayaan, inilah keimanan. Dalam agama Hindu, iman disebut dengan Sraddha.

Sedangkan pokok-pokok ajaran Hindu tertuang dalam Panca Sraddha, yakni:
Ø  Percaya terhadap adanya Brahman (Sang Hyang Widhi)
Ø  Percaya terhadap Atman yang merupakan percikan dari Atman tertinggi yakni Brahman
Ø  Percaya terhadap Hukum Karmaphala (balasan perbuatan)
Ø  Percaya terhadap adanya Punarbawa atau lingkaran kelahiran kembali
Ø  Percaya terhadap adanya Moksa atau kelepasan jiwa dari ikatan duniawi.

2.      Buddha[8]

Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama. Seperti kerajaan Sailendra, Sriwijaya dan Mataram. Kedatangan agama Buddha telah dimulai dengan aktivitas perdagangan yang mulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra antara India dan Indonesia. Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia, mencakup candi Borobudur di Magelang dan patung atau prasasti dari sejarah Kerajaan Buddha yang lebih awal.

Buddha berarti Yang Sadar, merupakan sebutan bagi seseorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yakni suatu kondisi batin yang telah berkembang meningkat sedemikian rupa sehingga mampu menyadari kenyataan atau kebenaran yang terdapat dalam kehidupan ini. Orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna ini adalah Siddharta Gotama yang lahir pada tahun 623 SM di India Utara dan wafat pada usia 80 tahun yakni 543 SM. Beliau lahir sebagai putra mahkota Kerajaan Kapilavatthu yang sekarang berlokasi di dekat perbatasan India dengan Nepal.

Perlu ditekankan bahwa Buddha bukanlah Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
 
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Ø  Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Ø  Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan.
Ø  Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila
Ø  Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
Ø  Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran

Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya. Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.

3.      Islam[9]

Kata Islam berarti berserah diri kepada Tuhan, agama ini adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya (dalam bentuk plural) adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada kalimah syahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa enam abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Umat Islam juga meyakini al-Qur'an yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Di dalam al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas. Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.

Isi dari lima Rukun Islam itu adalah:
Ø Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
Ø Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
Ø Berpuasa pada bulan Ramadan.
Ø Membayar zakat.
Ø Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Umat Islam meyakini doktrin bahwa Agama Islam yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad adalah bentuk Kasih Sayang-Nya terhadap alam semesta atau rahmatan lil ‘aalamiin. Juga terkait dengan tugas diutusnya Nabi Muhammad yakni sebagai pembenah moralitas manusia secara keseluruhan. Maka banyak sekali aspek pembenahan sosial yang sangat kompleks dan ditekankan untuk dilakukan oleh penganut agama Islam.

4.      Kristen (Katolik dan Protestan)[10]

Agama Kristen untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara.  Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.

Kata Kristen sendiri memiliki arti "pengikut Kristus atau "pengikut Yesus". Murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristen ketika mereka berkumpul di Antiokia (Kisah Para Rasul 11: 26c).

 Agama Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dari Nazaret ke surga, sebagaimana dijelaskan dalam Perjanjian Baru, umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam dari Perjanjian Lama (atau Kitab suci Yahudi). Kekristenan adalah monoteisme, yang percaya akan tiga pribadi (secara teknis dalam bahasa Yunani hypostasis) Tuhan atau Tritunggal. Tritunggal dipertegas pertama kali pada Konsili Nicea Pertama (325) yang dihimpun oleh Kaisar Romawi Konstantin I.

Pemeluk agama Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat, dan memegang ajaran yang disampaikan Yesus Kristus. Dalam kepercayaan Kristen, Yesus Kristus adalah pendiri jemaat (gereja) dan kepemimpinan gereja yang abadi (Injil Matius 16: 18-19)

Umat Kristen juga percaya bahwa Yesus Kristus akan datang pada kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim akan dunia ini. Sebagaimana agama Yahudi, mereka menjunjung ajaran moral yang tertulis dalam Sepuluh Perintah Tuhan atau Dekalog.

Sepuluh Perintah Allah untuk Gereja Katolik adalah sebagai berikut:
Ø  Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
Ø  Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
Ø  Kuduskanlah hari Tuhan.
Ø  Hormatilah ibu-bapamu.
Ø  Jangan membunuh.
Ø  Jangan berzinah.
Ø  Jangan mencuri.
Ø  Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
Ø  Jangan mengingini istri sesamamu.
Ø  Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Dalam pandangan Kristen Protestan tentang Sepuluh Perintah Tuhan tersebut, bagian pertama sampai keempat mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan perintah kelima sampai kesepuluh mengatur hubungan manusia dengan sesama.

5.      Kong Hu Cu[11]

Agama Konghucu berasal dari Cina daratan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan  imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Kong Hu Cu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. 

Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Kong Hu Cu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya. Meskipun orang kadang mengira bahwa Kong Hu Cu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia.

Dalam agama Kong Hu Cu atau Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Kong Hu Cu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut "Ren Dao" dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah "Tian" atau "Shang Di".

Ajaran falsafah ini diasaskan oleh Kong Hu Cu (Konfusius) yang dilahirkan pada tahun 551 SM Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini. Ia meninggal dunia pada tahun 479 SM.

Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.

Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.

Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya, Mensius, ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan. Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu untuk mengenang Kong Hu Cu. Berdasarkan kitab Zhong Yong, agama adalah bimbingan hidup karunia Tian/Tuhan Yang Maha Esa (Tian Shi) agar manusia mampu membina diri hidup di dalam Dao atau Jalan Suci, yakni "hidup menegakkan Firman Tian yang mewujud sebagai Watak Sejati, hakikat kemanusiaan". Hidup beragama berarti hidup beriman kepada Tian dan lurus satya menegakkan firmanNya.

Intisari ajaran Khong Hu Cu terdiri atas 8 Pengakuan Iman, 5 Sifat Kekekalan, 5 Hubungan Sosial, dan 8 Kebajikan. Perinciannya sebagai berikut;
Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:
Ø  Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
Ø  Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
Ø  Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
Ø  Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
Ø  Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
Ø   Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
Ø  Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
Ø  Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)

Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang); Ren – Cintakasih, Yi – Kebenaran / Keadilan / Kewajiban, Li – Kesusilaan dan Kepantasan, Zhi – Bijaksana, Xin - Dapat Dipercaya.
Lima Hubungan Sosial (Wu Lun):
Ø  Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
Ø  Hubungan antara Suami dan Isteri
Ø  Hubungan antara Orang tua dan anak
Ø  Hubungan antara Kakak dan Adik
Ø  Hubungan antara Kawan dan Sahabat

Delapan Kebajikan (Ba De): Xiao - Laku Bakti, Ti - Rendah Hati, Zhong – Setia, Xin - Dapat Dipercaya, Li – Susila, Yi – Bijaksana, Lian - Suci Hati, Chi - Tahu Malu.

PERSAMAAN PESAN MORAL ANTAR-AGAMA DI INDONESIA

Dari uraian tentang konsep dasar enam agama resmi di Indonesia di atas, setidaknya kita bisa menyimpulkan adanya titik-titik temu yang berkaitan dengan pesan moral. Perbedaan-perbedaan mendasar tentang konsep teologis memang tidak bisa dinafikan. Pluralitas seperti ini adalah suatu kenyataan yang harus diarifi, bukan untuk dicampuradukkan, juga bukan menjadi senjata untuk klaim kebenaran.

Prinsip bahwa agama memegang kebenaran transendental memang dapat diterima. Mutlaknya, kebenaran agama terbukti dengan penggunaannya sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara: moralitas yang luhur, ketaatan kepada Tuhan, kewajiban melaksanakan ajaran agama, dan seterusnya. Tidak ada agama yang mau melepaskan ‘hak tunggal’-nya untuk memonopoli ‘kebenaran ajaran’, karena persamaan teologis antara dua agama tidak akan mungkin ada kalau diartikan sebagai hak merumuskan kebenaran mutlak Tuhan.[12]

Di abad pertengahan, teologi pernah disebut sebagai the queen of the science: ilmu pengetahuan paling tinggi dan otoritatif. Semua hasil penelitian rasional harus sesuai dengan teologi. Pandangan keagamaan mendominasi pemikiran manusia. Ketika ada perselisihan pandangan, maka pandangan keagamaan harus dimenangkan. Dalam perkembangan ilmu-ilmu teologi di kemudian hari, muncul asumsi dasar: bahwa hanya agama tertentu saja yang benar, agama-agama lain dianggap tidak benar. Tuntutan eksklusif partikularis ini –oleh para pemerhati studi agama- disebut truth claim: klaim kebenaran. Sementara itu, studi empiris fenomena keberagaman menemukan kenyataan yang sulit dielakkan. Yakni adanya pluralitas keyakinan dan pedoman hidup manusia. Akibatnya, timbul hubungan tak serasi antara pendukung kedua pendekatan tersebut dan hal ini berlangsung hingga sekarang.[13]

Namun, meskipun ada berbagai macam perbedaan di dalam ranah transenden atau keimanan dan tak dapat disatukan, juga ketidaksamaan di dalam aspek ritual yang juga mustahil dipersatukan, setidaknya masih ada peluang kesamaan yang bisa disatukan, yakni kesamaan di dalam tataran nilai substantif berupa pesan-pesan moralitas.

Maka pesan moral normatif inilah yang semestinya diidentifikasi dari setiap agama untuk digarisbawahi kesamaan tujuannya. Secara rinci, setidaknya ada tujuh hal pokok yang dikandung oleh semua agama[14], yakni;

1.      Adanya realitas transenden, yakni Tuhan Yang Maha Suci, dengan nama yang berbeda-beda.
2.      Realitas yang transenden itu adalah immanen di lubuk hati manusia, bersemayam di dalam jiwa manusia.
3.      Realitas transenden tersebut adalah kebaikan tertinggi, mutlak.
4.      Realitas ketuhanan ini adalah cinta sejati yang mewujud di dalam kehidupan manusia.
5.      Jalan manusia menuju Tuhan adalah universal, menyerahkan diri, disiplin diri dan ritual.
6.      Semua agama tidak saja mengajarkan tentang jalan menuju Tuhan, tetapi secara bersamaan juga mengajarkan cara bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
7.      Cinta merupakan jalan yang paling tinggi menuju Tuhan.

Dengan melihat secara seksama pesan-pesan moral dari setiap agama dalam poin B di atas, yakni tentang kewajiban manusia untuk menaati Tuhannya, serta berbuat baik terhadap alam sekitar, apalagi sesama manusia, maka dapat disimpulkan bahwa dasar moral dari setiap ajaran agama adalah kasih sayang, yakni menyerap cinta dari Tuhan di alam makna untuk ditebarkan kepada lingkungan sekitar, alam ragawi.

Kesadaran semacam inilah, yang mengarifi kebijaksanaan-kebijaksanaan setiap agama yang semestinya dipropagandakan oleh setiap corong keagamaan jika memang mendambakan kondisi yang damai antar pemeluk agama. Corong yang penulis maksudkan adalah berupa sosialisasi pesan moral keagamaan yang berkaitan dengan cinta kasih, melalui kurikulum pendidikan, khotbah keagamaan, maupun media-media sosial lainnya. Baik secara formal maupun informal, baik secara struktural maupun kultural.

Pesan moral utama dan penting yang dikandung dalam setiap agama adalah keniscayaan seorang pemeluk agama untuk memperhatikan hubungannya dengan Tuhan sekaligus dengan sesamanya. Secara teknis, hal ini tersirat di dalam Pancasraddha umat Hindu, Pancasila umat Buddha, konsep Rahmatan Lil ‘Alamin umat Islam, Sepuluh Perintah Tuhan umat Kristen, serta falsafah kebijaksanaan ajaran umat Kong Hu Cu. Titik berat dari tujuannya adalah perwujudan keharmonisan vertikal maupun horisontal.

Hal ini juga menunjukkan secara jelas bahwa agama yang sebenarnya menguatkan keberadaan pengalaman spiritual yang unik dan bersifat individual dari seorang pemeluk agama. Pengalaman spiritual itulah yang mendorongnya untuk memiliki pemahaman yang mendalam secara bersama-sama antar berbagai orang dari seluruh sistem keagamaan yang ada. Agama yang sebenarnya bertindak sebagai ‘kendaraan’ atau ‘alat’ untuk mengungkapkan rasa pelayanan (pengabdian) yang tulus dari seluruh penganutnya. Pengabdian tersebut ditujukan kepada Tuhan, lalu dimanifestasikan pula kepada eksistensi kosmik berupa alam semesta ini.[15]

Di akhir pembahasan ini, ide utama dari nilai-nilai moral agama-agama di Indonesia setidaknya terrangkum di dalam ungkapan al-Bantani. Beliau menyatakan bahwa intisari dari perintah dan larangan di dalam kitab-kitab suci hanya dua hal saja, yakni mewujudkan keharmonisan dengan al-Khaliq (Pencipta) dan mewujudkan keharmonisan pula dengan al-Makhluq (ciptaan, semesta alam kosmik).[16]

SINGULARISME

Sudah saatnya bangsa ini melek terhadap persamaan-persamaan nilai suci di dalam setiap agama, tidak hanya mengetahui perbedaan apalagi memperruncing perbedaan tersebut yang justru bisa menimbulkan konflik horisontal bernuansa agama. Selain itu, bagi setiap peminat pluralisme seyogyanya memilah hal-hal yang transenden, ritual, maupun norma-norma substantif sehingga tidak ‘keseleo’ ketika mendengung-dengungkan isu kesatuan agama-agama maupun kebenaran yang sama antaragama.

Selain itu, citra pluralisme yang masih dipandang negatif oleh sebagian kalangan masyarakat agaknya bisa diatasi dengan istilah baru, yakni singularisme. Jika pluralisme menjadikan keberbagaian serta perbedaan-perbedaan agama sebagai titik fokus kajian untuk mewujudkan kerukunan, maka singularisme cenderung memosisikan pesan-pesan moral utama yang seragam dan tunggal (singular) sebagai titik tolak wacana kerukunan antarumat beragama. Sehingga obyek pembahasan tidak lagi berputar di lingkungan transenden teologis, tetapi ke tataran akhlak, moral normatif.

Dan alangkah baiknya jika kurikulum-kurikulum di sekolah-sekolah kita, baik itu dalam pendidikan formal maupun nonformal, memberikan ruang khusus bagi tema pesan moral keagamaan untuk disosialisasikan kepada generasi penerus bangsa. Dalam hal ini, wawasan tentang konflik-konflik bernuansa agama harus dicermati dan diterangkan sebagai imbas dari persinggungan sosial budaya, bukan murni karena nilai-nilai agama yang menganjurkan pertumpahan darah, baik itu konflik berskala nasional maupun internasional, baik yang klasik maupun kontemporer.

Lukisan Nida Ul Umaim, adik penulis, sebagai juara satu dalam FLSN (Festival Lomba Seni Nasional) Lombok 2012 yang menunjukkan kebhinnekaan agama dan budaya di Nusantara

 Zia Ul Haq
Yogyakarta, 12-12-12


[1] Mircea Eliade, The Sacred and The Profane, (1961), hal.204
[2] Abdurrahman Wahid, Membaca Sejarah Nusantara, (Yogyakarta: LKiS, 2011), hal.71-74.
[3] Hamdan Basyar (Ed.), Konflik Poso: Pemetaan dan Pencarian Pola-pola Alternatif Penyelesaiannya, (Jakarta : P2P LIPI, 2003), hal.45-55
[4] Frans Magnis Suseno, “Faktor-faktor Yang Mendasari Terjadinya Konflik Antara Kelompok Etnis dan Agama di Indonesia” dalam Konflik Komunal di Indonesia Saat Ini, (Jakarta: INIS, 2003), hal.123
[5] Abdurrahman Wahid, Op.cit., hal.74
[6] Victor I. Tanja, “Etnisitas dan Religiositas” dalam Atas Nama Agama, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hal.76
[7] Djam’annuri, Agama Kita, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta. 2000), hal.35-51.
[8] Ibid., hal.63-73
[9] Ibid., hal.107-115.
[10] Ibid., hal. 79-104
[11] Ibid., hal.111-135
[12] Abdurrahman Wahid, “Yang Sama dan Yang Benar” dalam Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Yogyakarta: LKiS, 2011), hal.82.
[13] Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 44.
[14] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1990), hal.42
[15] Amin Abdullah, op cit., hal.169
[16] Muhammad Nawawi al-Bantani, Nashaihul ‘Ibad, (Surabaya: Ihya Kutubil ‘Arabiyyah, tt.), hal.25

No comments:

Powered by Blogger.