Temujiwa: Akulah Kau

12:43
Siang yang terik, jalanan desa lengang. Warga lebih memilih berteduh di dalam rumah dan tempat-tempat bernaung lain. Tidak demikian dengan Muh, ia ingin mengakrabi silau dan terik sang surya.

Ia mulai berbaring di atas aspal. Ketika ditatapnya mentari, ia tak bisa melihat apa-apa, hanya buncahan sinar dimana-mana. Matanya mulai perih, namun Muh tetap membelalakkan matanya, penasaran dengan apa yang ada di dalam 'cahaya'.

Tiba-tiba muncul sesuatu, atau seseorang, yang asing namun akrab baginya.

"Siapa kau?!" bentak Muh, kaget.
"Aku? Kau!" jawab Ah, tak kalah galak.

"Apa maksudmu?" tanya Muh.
"Kau tahu maksudku!" sahut Ah, menggentak.

"Aku tak tahu.." kata Muh, mulai bingung.
"Bohong!" hentak Ah.

"Serius! Aku tak tahu siapa kau!" bentak Muh.
"Mungkin kau tak tahu, tapi kau merasakan.." kata Ah, melembut.

"Rasa?"
"Ya.."

Muh tercenung, hening, sambil mengamati sosok di hadapannya. Atas, bawah, ditatapnya. Depan, belakang, dikitarinya.

"Apakah kau..." kata Muh.
"Ya, aku.." sahut Ah.

"Tak mungkin!" sergah Muh, tiba-tiba.
"Benarkah?" tanya Ah.

Muh tediam meragu, tak bisa berkata-kata, ia merasa hilang dalam kenyataan.

"Aku adalah basah airmu, akulah panas apimu, aku getar suaramu, terang suryamu, cahaya rembulanmu, gelap malammu, makna kata-katamu, pandangan matamu, ucapan lisanmu, pendengaran telingamu, akulah kaumu, kaulah akuku!" seru Ah, meledak-ledak, menggema, memantul-mantul di relung lubuk paling dalam diri Muh.

"A.. aku.. aku menemukan diriku.." bisik Muh, lirih bergetar.
"Ya.. dan kau bukanlah kau, akulah kau.." ungkap Ah sambil berkelebat menghilang di balik silau sinar sang surya.

Muh bangkit dengan mata berkunang-kunang, badan lemas bermandi peluh, namun dengan senyum tersungging.


~
Kinahrejo, 7/17/2012

2 comments:

  1. "A.. aku.. aku menemukan diriku.." bisik Muh, lirih bergetar.
    "Ya.. dan kau bukanlah kau, akulah kau.."

    maknanya apa, Mas?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.