Bincang Pagi bersama Mbah Gunung Slamet

01:46
Gunung Slamet dan Simulasi Pengungsian Desa Tuwel, 14 Maret 2014
Pagi ini suasana desa kami, Desa Tuwel, begitu semarak. Personil TNI dari Danramil Bojong terdengar mengumumkan pengarahan melalui pick-up keliling desa. Warga digiring menuju lapangan dengan membawa barang-barang seadanya, entah tas, koper, kardus, tandan pisang atau kambing. Haha.

Aku cukup santai saja di beranda rumah, ngeteh sambil kongkow sama Mbah Slamet, sosok gunung setinggi 3.428 meter di atas permukaan laut.

“Ada apa ini rame-rame?” tanya simbah yang pagi ini nampak segar.

“Lhoh, apa Mbah ndak tahu? Hari ini ada simulasi pengungsian di lapangan,” jawabku.

“Walah, ngungsi kenapa emangnya?”

“Lha Sampean sudah beberapa hari batuk-batuk, warga ‘kan takut Mbah. Daripada pas Sampean njeblug kami ketimbun abu, mending siap-siap dulu ‘kan?”

“Hahaha.. Itu ‘kan sudah wajar, gerak badan biar seger. Ah kalian kayak ndak pernah liat aku batuk saja.”

Memang ada benarnya kata beliau. Berdasarkan catatan badan vulkanologi, Mbah Slamet memang rutin beraktivitas tiap beberapa tahun. Erupsi yang sempat tercatat dalam data modern adalah pada 1772, kemudian erupsi lagi 53 tahun kemudian, yakni pada 1825.

Selanjutnya terjadi selang sepuluh, dua belas, lima, empat, bahkan dua tahun sekali, yakni pada 1835, 1847, 1849, 1860, 1875, 1885, 1890, 1904, 1923, 1926-30, 1932-33, 1937, 1939-40, 1944, 1948, 1951, 1953, 1955, 1957-58, 1960-61, 1966-67, 1969, 1973-74, 1988, 1999-2000, 2009, dan lima tahun kemudian yakni hari ini, 2014.

Berdasarkan catatan rentang tahun tersebut, bisa kita tahu kebiasaan Mbah Slamet. Ternyata beliau rutin erupsi dalam skala ringan beberapa tahun sekali. Dan itu suatu kewajaran.

“Ya tapi kalo Sampean njeblug beneran gimana Mbah?”

“Ah kamu ini, mbok yao husnudzon saja.”

“Gimana bisa husnudzon Mbah, menurut berita, Sampean udah puluhan kali erupsi ringan beberapa hari ini kok!”

“Maksudku husnudzon dalam arti luas.”

“Maksudnya gimana Mbah?”

“Kalaupun aku muntah, itupun karena memang sudah saatnya aku muntah. Bukan karena aku jahat sama kalian. Ndak usah takut. Kamu tahu, dulu orang-orang menyebutku Gunung Gora.”

“Artinya apa Mbah?”

“Seram, mengerikan. Wah masa’ ganteng-ganteng gini dibilang ‘gora’..”

“Hahaha.. Lhah, katanya Sampean dulu disebut Gunung Agung, Mbah?”

“Kata siapa?”

“Anu, aku pernah baca di sajak Bujangga Manik, seorang kelana dari Tanah Sunda yang keliling Jawa, terus pulangnya mampir ke daerah Pemalang dan ketemu Gunung Agung.”

“Oooh.. Ya mungkin karena bentukku yang gedhe ini. Di antara sedulurku gunung-gunung lain di Tanah Jawa, memang aku yang paling bongsor. Meskipun ketinggianku masih kalah sama Kang Semeru.”

“Kalau dulu Sampean ndak dipenggal sama Ki Semar, pasti Mbah Semeru kalah, pasti tertinggi se-Jawa lho Mbah..”

“Hahahahaha..”

Dia ketawa geli. Entah karena lucu atau konyol. Memang beredar mitos di masyarakat, dahulu Gunung Slamet berpuncak lancip, tak seperti sekarang. Sangkin tingginya, hingga kera-kera di lereng Slamet bisa mendaki ke langit dan memetik bintang-bintang. Gelaplah dunia.

Akhirnya Bathara Guru mengutus Ki Semar Badranaya untuk membereskan masalah itu. Iapun memenggal puncak Slamet dan memindahkannya ke daerah Cirebon. Di sana, puncak Slamet itu mendapak julukan baru; Ceremai.

Saat aku kecil dan masih sering ikut bersawah, nampak jelas Gunung Ceremai dari kejauhan. Dari sawah itu, Gunung Slamet nampak gagah di sebelah selatan, dan Gunung Ceremai tampil cantik anggun di sebelah utara. Kami sering menyebut mereka pasangan, Slamet pria tanah Jawa, Ceremai wanita tatar Sunda.

“Mbah, apa Sampean ndak kangen sama istri tercinta, Mbah Ceremai?”

“Haaisy.. memangnya kamu, pengidap sakit rindu.. Hahaha..”

Sialan Mbah Slamet ini, sempat-sempatnya menggoda. Di balik candanya yang renyah pagi ini, ia menyimpan kebijaksanaan yang luar biasa. Usianya yang begitu tua pasti sudah menyaksikan perjalanan sejarah begitu lama. Terutama sejarah lima wilayah yang mengelilinginya; Pemalang, Tegal, Brebes, Purbalingga, dan Banyumas.

Nama yang disandangnya, Slamet, menjadi saksi masuknya pengaruh Islam di daerah ini. Konon, Syekh Maulana Malik Maghribi yang menamainya demikian. Karena dahulu, hanya sosok sekelas wali atau raja yang bisa menyematkan nama suatu daerah. Kisahnya, beliau datang jauh-jauh dari timur untuk mencari penawar bagi penyakit kulit yang dideritanya. Mungkin gudhig atau semacamnya, biasalah, penyakit santri. Hehe.

Maka berpetualanglah beliau sambil berdakwah hingga sampai di lereng gunung ini. Tak diduga, beliau menemukan sumber mata air panas yang bisa mengobati penyakitnya. Maklumlah, mata air panas gunung ini mengandung banyak belerang. Maka beliau menyebut gunung ini dengan nama ‘Slamet’, sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Arab, ‘salamah’.

Mungkin nama itu disematkan karena sepanjang sejarah, erupsi Mbah Slamet tidak menelan korban jiwa, karena muntahan material vulkanisnya terbang jauh atau kembali ke kawah sendiri. Tapi, kalau sampai beliau njeblug beneran, asumsinya Pulau Jawa bisa terbelah, Tegal sampai Cilacap habis diterjang air dari Laut Jawa dan Samudra Pasifik. Itu hanya andai-andai saja, kecemasan dan ketakutaan manusiawi.

Teh manisku sudah mendingin. Kabut mulai menipis dan papar mentari pagi sudah terasa hangat. Akupun harus segera masuk untuk minum obat dan sarapan, sambil pamit sungkem sama Mbah Slamet.

“Mbah, gimana perasaan Sampean sering ditakuti dan disalahpahami oleh manusia-manusia macam kami ini?”

“Aku ra po po..”


~
Santai dipeluk kabut
Tegal, 14 Maret 2014

No comments:

Powered by Blogger.