Filsafat Dolob: Stop Berpikir Positif! Apalagi Negatif!

23:00
Stop Berpikir Positif! Apalagi Negatif by @dolobwae
Pernah kubaca terjemah naskah-naskah para filsuf, dari Plato sampai Nietzche, butuh beberapa kali proses berpikir untuk memahaminya. Dan ternyata 'hanya' berujung pada dua hal: penjabaran realita dan kebijaksanaan menyikapinya. Nah, buku ini, bolehlah disebut buku filsafat praktis. Bahkan lebih renyah dinikmati.

Dengan nama samaran @dolobwae, seratus persen aku yakin ini tulisan Mbah Ali Antoni, spesialis kolom "Tafsir Sesa[a]t Kiai Jarkoni" di Buletin Mocopat Syafa'at milik jamaah maiyah Yogyakarta. Buku ini menyajikan kenakalan-kenakalan akal sehat berupa percakapan ringan para tokohnya, yakni Dolob, Kiai Jarkoni, Nyai Maemunah, Gimin, Predi, Bang Jack, Predi, dan tentunya Mitha.

Buku ini hanya dijual online lewat fanpage Anda Bertanya Kiai Jarkoni Asal Menjawab dan sesekali digelar di acara-acara maiyah. Buku ini seri kedua setelah seri pertamanya, Dolob Undercover, laris manis.

Dolob Under Cover; antara uang, agama, tuhan, dan body perempuan. By @dolobwae
Mengapa buku ini disebar 'eksklusif'? Mungkin karena tak aman bila pembaca tidak sefrekuensi dengan cara berpikir ala maiyah, hanya akan mengganggu kenyamanan pikiran si pembaca. Mungkin itu sebabnya penulis 'tidak begitu serius' menggarap buku ini untuk diterbitkan dan dipasarkan di khalayak populer. Tidak seperti buku 'serupa', Markesot Bertutur, karya Mbah Nun yang juga sangat filosofis.

Ketidakseriusan ini sudah nampak di halaman katalog buku. Non mainstrem, sangat parodi, dan cuek dengan kemapanan. Demikian tertulis:

~

Hak Cipta 2014, dilindungi oleh Allah SWT
All Right Beibeh

Cetakan I, 2014
ISBN: 0857-2994-6859
(bagi yang membutuhkan seri satu dolob bisa menghubungi nomor ISBN ini)

Bagi mereka yang hendak memperbanyak sebagian isi atau keseluruhan buku ini dalam bentuk apapun diperbolehkan selama mendapat izin tertulis dari RT/RW setempat ^__^ \m/

~

Tuangan-tuangan ide dalam setiap judul bagian buku ini menyampaikan pesan yang tak sepele. Adakalanya tentang kemanusiaan, kebebasan berpikir, relijiusitas, pluralisme, hingga ketangguhan. Adakalanya berisi sindiran pedas terhadap berbagai fenomena kehidupan dan sistem manusiawi saat ini.

Dolob mencoba menanggapi arus kebobrokan multidimensi yang terjadi dengan percikan-percikan, bukan frontal dengan melawan arus. Memberikan kesempatan bagi pikiran kita untuk sejenak merenung; benarkah apa yang selama ini kita yakini, tentang masyarakat, demokrasu, kemakmuran, kesejahteraan, hingga tentang iman.

Di bagian awal buku, tertoreh dialog-dialog nyeleneh dan informatif yang dimuat ulang dari fanpage Anda Bertanya Kiai Jarkoni Asal Menjawab. Di bagian-bagian akhir, artikel terasa lebih berat, muat ulang dari Buletin Mocopat Syafa'at.

Ukhti and The Dolob Under Cover, by @dolobwae
Dan untungnya, keseluruhan tulisan di buku ini dibalut dengan humor cerdas yang mana tawa -atau sekedar senyum- tak bisa ditahan. Jadi, meskipun setebal  320 halaman, dicetak dengan hardcover dan diberi pembatas buku macam Kitab Suci, buku ini tetap saja 'snack' yang sangat pas dibaca buat refreshing pikiran.

Biar review abal-abal ini lebih maknyus, kukutipkan salah satu bagian buku ini. Di halaman 310: Stop Berpikir Positif #92;

~

"Kiai, menurut sampean kenapa Mas Predi itu bodoh? Padahal dia mahasiswa? Lha saya yang cuman anak sekolah ini berarti bisa jauh lebih bodoh dong dari pada Mas Predi?" tanya Gimin.

"Karena Predi berhenti berproses Min, seseorang disebut bodoh itu manakala dia sudah merasa selesai dengan ilmu dan hidupnya, padahal cakrawala pengetahuan dan kedalaman ilmu belum setetespun yang ia dapat, tapi dia sudah merasa intelektual, dia merasa lebih pandai dari orangtuanya yang cuma petani, dia merasa lebih dari segalanya, padahal ilmu yang ia dapat cuma copy paste, bukan dari hasil murni pencariannya sendiri."

"Berarti kalau copy paste pasti bodoh, Kiai?"

"Tentu tidak, asalkan itu adalah titian awal, pengantar dasar untuk proses berikutnya!"

"Berarti Mas Predi bodoh itu bukan karena dia tidak tahu apa-apa?"

"'Kan saya sudah bilang, prefesor doktor sekalipun, kalau dia sudah merasa final ilmunya, sudah merasa selesai prosesnya, apalagi kalau dia merasa sudah jadi maestro, master, habis dia, bodoh dia, padahal kewajiban kita terus berproses sampai titik darah penghabisan!"

"Kayak perang, Kiai?"

"Hidup ini memang perang, tapi ini perang yang mengasyikkan sekaligus menggemaskan."

"Ah, malah kayak permainan?"

"Lho hidup ini memang permainan, dunia dan seisinya ini adalah tempat bermain belaka, bagi yang tak tahu cara main, siap-siap kalah atau ditendang!"

"Lho kok malah..."

"Sudah Min, koe kakean cangkem terus malah saya tendang sekalian! Sono minggat, ini malam minggu, waktunya anak muda sepertimu keluar kandang, ora malah cerewet terus neng omahku! Wes, lungo kono seng adoh,, besok ke sini lagi, bawa jus jambu, jangan lupa"

^__^

~

Tuhan dan Setan main Ping Pong

Dalam pemahaman Dolob dan kawan-kawan, Iblis bukanlah musuh Tuhan sebagaimana dikhayalkan para penyembah materi dari Barat. Karena Iblis seketurunannya adalah para petugas khusus yang juga mengabdi kepada-Nya. Tokoh yang disetting menjadi rival bagi perkembangan manusia. Oiya, terakhir. Tentang filsafat, kondisi Dolob yang selalu tak nyaman mengatakan di halaman 113:

"Filsafat itu apa Bang Jack?"

"Ketika kamu jatuh cinta dan orang yang kamu cintai tidak minat, lalu kamu mencoba berpuisi, itulah filsafat. Ketika perut kamu lapar, tapi tak ada yang bisa kamu makan, lalu kamu cari hutangan, itulah filsafat. Dan ketika kamu mau kuliah, tapi kamu kere, lalu kamu teriak kemana-mana bahwa sekolah itu adalah racun, itulah filsafat."

"Berarti filsafat itu jalan kepepet ya Bang? Jadi ingat Socrates pernah bilang, menikahlah - kalau kau beruntung dapat istri yang nyaman buat hidupmu kamu akan berbahagia. Tapi bila kau dapat istri yang membosankan dan memuakkan, aka kau akan bisa berfilsafat!"

^__^__^

~

Selamat berfilsafat! Jaga apimu jangan sampai padam, kawan! :D

9 comments:

Powered by Blogger.