Menolak Jatuh Cinta?

09:33
Ketika dahulu mabuk asmara, aku dibuai berbagai keindahan cita-cita. Bayang-bayang kehidupan bersama kekasih dan rencana-rencana manusiawi nampak nyata di kelopak mata. Lalu ketika semua dipatahkan oleh takdir Tuhan, maka segala rencana ibarat istana pasir tersapu gelombang, ambyar!

Satu kali, dua kali, tiga kali, empat hingga lima kali terulang. Siapa yang tak kecut hatinya bila terus demikian?

Aku tak bisa melepaskan diri dari sistem sosial yang menuntut kemapanan duniawi sebagai tangga menuju jenjang suci. Sehingga, bila hal itu belum terwujud, bersiaplah kecewa. Tak masalah jika hanya hatiku yang kecewa, namun tak kuat rasanya melihat kekasih teteskan air mata. Memakai dalih atau topeng bagaimanapun, ia pasti juga kecewa.

Memang sebaiknya, sebelum benar-benar siap merajut ikatan, tak usah membuka hati. Tak usah mengumbar harapan yang hanya akan terhempas di palung kekecewaan. Oleh sebab itu, sebisa mungkin kutolak untuk jatuh cinta.

Tapi apakah bisa?

Perkara satu ini bukan hal yang mudah dihapus semacam file di komputer. Tak seperti daun-daun kering di halaman yang gampang disapu kemudian dibakar hingga mengabu tak bersisa. Cinta bisa tumbuh tanpa diduga. Ia bisa menyeruak tanpa dinyana-nyana.

Dan parahnya, jika sudah kuat mengakar, ia siap mecabik lagi hati inangnya. Pedih rasanya menolak jatuh cinta. Namun akan lebih pedih jika nanti cinta yang sudah terlanjur tumbuh, harus pelan-pelan dibunuh.

Kurasa, jatuh cinta tak layak ditolak. Ia harus tetap disambut selayaknya tamu istimewa. Namun jangan sekali-kali diperlakukan bagai gadis manja. Kenapa? Karena jika sudah terbiasa menolak jatuh cinta, bisa jadi akan sulit menerimanya ketika sudah tiba saatnya.

Lalu bagaimana solusinya? Jangan ditolak, biar saja tenggelam dalam kesunyian.

usia dua puluh lima
~
mengubur masa lalu
menerawang esok hari
hanyalah gincu
bagi kelamnya paras hati

ia tertipu dalam tawanya
pendam segala duka
kecewa

gundah gelisah ini
tiada samudera yang bisa menenggelamkan
selain kesunyian

kerinduan ini
tiada yang sanggup memahami
selain kesunyian

~
Yogyakarta, 1 Januari 2015

No comments:

Powered by Blogger.