Sohib Story #1 ~ Tamu

Sohib Story #1 ~ Khanan
Orang di sebelahku namanya Jintul, persis nama makanan seret berbahan singkong khas desaku. Kebetulan, kami sealmamater pas kuliah di Bintaro. Bedanya, dia berhasil lulus, sedangkan aku sukses meluluskan diri, hehe. Sekarang dia jadi pegawai pajak, masih muda belia dan beberapa bulan lagi bakal segera menyembelih anunya, eh, maksudku mengakhiri masa lajang bersama gebetannya, Waljinem.

Kemarin dia jauh-jauh terbang dari Riau ke Jogja untuk melaksanakan tugas pemeriksaan wajib pajak. Sebagai abdi negara yang punya tugas 'pahit', banyak tuan rumah yang ia datangi untuk diperiksa bermuka masam. Bahkan sesekali dia musti berhadapan dengan belasan bodyguard dan kejaran bulldog-bulldog ganas, lalu bergulat berkubang lumpur hingga babak belur. Hehe, gak ding pacman emotikon

Coba lihat tampang kawanku, Si Jintul itu. Wajahnya melas, kurus, tak ada sangar-sangarnya. Melotot pun malah lucu dia. Tapi karena tugasnya memeriksa kewajiban pajak, tak sedikit orang-orang yang bersikap sinis saat dia datang. Maka dia pun selalu membekali diri dengan seribu jurus basa-basi.

Sikap kita terhadap tamu selalu saja tergantung pada siapa sosok tamu itu. Kalau yang datang lurah, kita suguhi kopi susu, atau minimal teh manis. Jika yang bertamu utusan masjid minta sumbangan semen, segelas air putih saja sudah paling top. Bahkan kadang cuma disuguhi bau mulut kalau yang datang sekedar tukang ulem-ulem. Apalagi kalau yang datang petugas pajak, mungkin yang keluar air kobokan lebaran tahun lalu plus muka cemberut.

Tapi kalau yang mampir kamu, Nduk, jelas akan selalu kusajikan hatiku. colonthree emotikon

Nah, bulan Mulud ini banyak kalangan umat Islam menggelar berbagai acara untuk menyambut 'kehadiran' Rasulullah. Baik di masjid-masjid, langgar-langgar, majlis-majlis, hingga rumah-rumah mereka. Tentu Kanjeng Nabi Muhammad adalah sosok tamu istimewa dan sepatutnya disuguhi berbagai 'sajian' yang membahagiakan.

Lalu apa sajian itu? Bukan kopi bukan susu. Bukan bandrek bukan bajigur. Melainkan lantunan selawat salam lengkap beserta transkrip laporan catatan amal kita. Konon, catatan amal umat Islam yang tersambung secara spiritual melalui syahadatain dengan beliau dipampang secara berkala tiap Jum’at. Jika catatan amal dominan maksiat, beliau sedih. Jika lebih banyak ibadah, beliau gembira.

Beliau tidak melihat seberapa panjang sorban kita, seberapa tebal lapis-lapis jubah kita, dan seberapa lebat jenggot kita (ehm, sambil ngelus jenggot). Meskipun itu semua merupakan sebagian kecil dari sunnah, namun tidak menjamin busuk-wanginya jiwa. Padahal itulah yang Rasulullah pandang; kondisi spiritual kita.

Secara daging mungkin aku bisa berdandan ala para kiai, namun di saat yang sama mungkin aku nampak seperti babi berlumur nanah jika dilihat dengan mata batin sebab bersombong diri. Atau sebaliknya, sarung dan baju kokomu lusuh karena cuma punya satu pasang, itupun hasil menang panjat pinang lima tahun lalu pas Agustusan, namun batinmu justru nampak bercahaya bak malaikat sebab keikhlasan.

Ibarat tuan rumah, aku merasa tuan rumah yang kurang ajar. Yang datang penghulu seluruh alam, eh kusambut dengan tampang batin yang busuk mengerikan. Meski demikian, semoga saja dengan memperbanyak selawat bisa menjadi semerbak pewangi. Dan semoga semangat untuk menghadirkan Kanjeng Nabi di dalam hati bisa menerangi jiwa kita yang terlanjur gelap dan mengobati batin kita yang sekarat.

~
tiap rumah yang engkau singgahi,
tak membutuhkan pelita lagi,
tiap pesakitan yang kau sambangi,
seketika sembuh dengan izin ilahi.
~

Sholla Allahu 'ala Muhammad <3


~
Krapyak, 28 Desember 2014

No comments:

Powered by Blogger.