Kebun Kebaikan

08:28
Di kampung saya, sebagaimana lazimnya di kampung-kampung lainnya, ada semacam keharusan moral bagi orang tua -siapapun- untuk memadrasahkan anak-anaknya. Jenjangnya bertahap, mulai dari TPQ, kemudian masuk madrasah tingkat dasar (awali), lalu tingkat pertengahan (wustha), nah baru-baru ini dibuka tingkat atas ('ulya). Biarpun tidak mondok di pesantren, semua anak harus nyicipi madrasah. Apalagi kalau paginya sekolah tapi sorenya nggak madrasah, seakan malu-maluin orang tua.

Di madrasah ini anak-anak dididik oleh para ustadz, belajar berbagai ilmu syariat dasar. Mulai dari tata bahasa Arab, akidah, fikih, dan akhlak. Buku acuannya pun disesuaikan dengan jenjang usia dan kelas. Belum lagi malamnya ditambah pengajian Qur’an di mushola atau langgar, plus ngaji kitab tertentu bagi tingkat atas. Setiap tahun madrasah-madrasah sekecamatan berkumpul di satu desa, menggelar perlombaan antarmadrasah yang begitu semarak. Pekan Madaris namanya. Berbagai cabang lomba dipertandingkan, berupa, olahraga, hapalan, cerdas cermat. Banyak lagi.




Madrasah Diniyyah Bustanul Khairat Tuwel Bojong Tegal
Berikut ini sajak berbahasa Jawa dalam pelajaran Akhlak yang diajarkan di kelas satu tingkat dasar, saat itu kami masih berusia kira-kira 8-9 tahun. Ditembangkan dengan irama shalawat badar (sholatulloh salamulloh);

aku cilik dirumati
daning ibu kang gemati
disusoni didulangi
dicewoki disandangi
aku tansah dipikirna
dening bapak bengi rina
sekolahku lan ngajiku
diongkosi wong tuaku
mula aku kudu to`at
ring wong tua kanthi hurmat
hey sedulur ayo bekti
ring wong tua kang gemati

Pembiasaan wacana dan praktek keagamaan sejak belia jelas diharapkan bisa membentuk umat beragama yang tidak kagetan terhadap wacana-wacana. Pengenalan sejak dini diharapkan bisa membentuk umat beragama yang dewasa. Sangkin mengakarnya, norma agama tak lagi dirasakan sebagai aturan-aturan keras, tetapi sudah menjadi ukuran kepatutan. Misalnya, tak patut anak gadis kelayaban tak berkerudung. Saat lebaran pun, pria wanita bukan mahram enggan bersalaman, pekewuh. Penanaman nilai melalui pendidikan semacam madrasah jelas berbeda dengan model majlis mingguan atau sekedar tabligh akbar sekali sebulan.

Aku pribadi merasa sangat berterima kasih kepada guru-guruku di madrasah ini, meski tak tahu bagaimana membalasnya. Beliau-beliau begitu tulus mengabdi, secara kultural namun sistematis, mewarnai suasana kampung menjadi begitu relijius meski tanpa aturan ataupun undang-undang. Nama madrasah kami; Bustanul Khairat (Kebun Kebaikan).

Di kampungmu bagaimana, kawan? smile emotikon

~
Jogja, 13/01/2015

No comments:

Powered by Blogger.