Sohib Story #4 ~ Profesi Pengabdian

Sohib Story #4 ~ Said
Kau tahu nama tokoh yang diangkat Kang Abik dalam novel ‘Api Tauhid’? Ya, nama pemuda yang duduk sok mikir di sampingku ini mirip dengan tokoh itu; Sayd Nursiba. Mungkin bapaknya kagum dengan tokoh sufi revolusioner asal Turki itu, Said Nursi Badiuzzaman, dan berharap putranya ini bisa meneladani kecerdasan intelektual, ketangguhan perjuangan dan ketajaman spiritualnya. *Ngimpi ya, Pak? :p

Beberapa malam lalu, sebagaimana malam-malam sebelumnya dan malam-malam yang akan datang, Sayd ndobos ngalor ngidul di kamar kosku. Bersama pasangan homonya, Fahmi, ia membincangkan tentang kerja. Nah, aku yang lagi ngetik pun kebagian nguping. Beginilah enaknya kalau punya kawan-kawan cerdas, meskipun kau tak baca buku, kau tetap bisa kulak pengetahuan dan pemahaman baru.

Sebagaimana pernah dikeluhkan Pramono yang sama sekali tidak punya hobi baca buku, maka kusarankan untuk perbanyak ngobrol tentang hal-hal spesifik dengan orang-orang yang memang bergelut dalam hal-hal itu. Biar orang-orang itu yang baca buku dan mengalami laku, kau tinggal gali intisarinya, toh mereka pun tidak akan menolak, bahkan dengan senang hati ngoceh kesana kemari. Karena biasanya, dengan menyampaikan apa yang sudah dipahami, mereka pun bakal mendapatkan pemahaman baru. Begitulah ajaibnya ilmu.

Kebetulan, Sayd mengajar secara honorer di sebuah institusi pendidikan di kampungnya. Kuliahnya belum lulus, masih tahap pengajuan skripsi. Ia juga menangani advertising beberapa usaha, mulai dari packaging hingga clothing. Maka setiap hari dia keliling dari kantor ke kantor, penerbit ke penerbit, pabrik ke pabrik, untuk ngglembuk sekaligus membangun relasi bisnis. Sedangkan Fahmi sudah jadi sarjana komunikasu, sambil bekerja menjadi guide bagi para bule yang melancong ke negeri kita tercinta. Sungguh pemuda-pemuda idaman mertua.

Nah, malam itu mereka –dengan begitu mesra- saling curhat tentang pekerjaannya masing-masing. Aku pun melipir di sudut ruangan, takut mengganggu momen romantis mereka. colonthree emotikon

Menurut mereka, profesi adalah segala jenis kegiatan yang menjadi pekerjaan sebagai mata pencaharian, praktisnya; pekerjaan yang menghasilkan uang. Berbeda dengan pengabdian yang murni sebagai lahan penumpahan kreativitas tanpa mengharapkan timbal balik material. Setiap orang musti paham bedanya, sehingga hidupnya tak melulu material dan hampa.

Sebagai guru dan ustadz TPA, Sayd menganggapnya sebagai pengabdian. Sedangkan kegiatannya mondar-mandir kesana kemari, ia jadikan sebagai profesi dan seni bertahan hidup. Istilah yang sering kami gunakan di sini; upaya menjemput rejeki. Maka dia membagi betul waktu dan porsi energi agar pengabdiannya di sekolah tidak terbengkalai akibat terlalu ruwet dengan urusan profesi. Dia termasuk penganut paham sekuler; profesi ya profesi, mengabdi ya mengabdi.

Lalu bagaimana dengan orang yang menjadikan profesinya sebagai pengabdian? Atau sebaliknya, memosisikan lahan pengabdiannya sebagai profesi? Ya sah sah saja. Asalkan dia harus mencurahkan segenap energi jiwa sebagai totalitas berkarya. Menjadikan pengabdian guru sebagai profesi? Silakan, asalkan betul-betul mendidik dan menjadi teladan, tak sekedar mengajar dan menunggu gaji bulanan. Jadi pegawai negeri sebagai pengabdian? Ya silakan, berarti harus betul-betul taat aturan dengan niat melayani kepentingan rakyat tanpa korupsi dan tindakan indisipliner. Ini bagi yang menganut paham unifikatif, memadukan antara profesi dan pengabdian.

Baik sekuler atau univikatif memiliki konsekuensi masing-masing. Bagi sekularis, ia harus mampu membagi waktu agar pengabdiannya tak kalah oleh kesibukannya cari duit. Sekaligus jangan sampai menjadikan pengabdian itu sebagai alasan kekacauan perkembangan profesinya. Banyak guru yang menelantarkan tugas pengabdiannya karena sibuk berbisnis. Konsekuensi bagi orang yang memadukan antara profesi dan pengabdian pun tak ringan, ia harus optimal dalam bidangnya itu dan tak sekedar menumpang hidup. Karena seperti kata Hamka; kalau hidup sekedar hidup, tikus saja bisa.

Namun alangkah baiknya jika setiap orang, sesibuk apapun dengan lapangan profesinya, tetap menyempatkan energi dan meluangkan waktu untuk pengabdian yang ada di luar profesinya itu. Di manapun dalam bidang apapun sesepele bagaimanapun. Karena seberlimpah apapun seseorang, tetap saja akan ada lubang besar dalam jiwanya jika tak meluangkan energi untuk mengabdi.

Malam tadi, wajah Sayd nampak sumringan setelah dicharge secara spiritual oleh Kang Rizal. Selepas wiridan Ratib al-Haddad di kos wetan Kandang Menjangan hamba dalam rangka ‘Mencangkul di Langit’, ia menggali motivasu dari Kang Arif sebagai sama-sama pengusaha muda. Tentu saja, setelah membantai gorengan, ia pamit pulang dengan meninggalkan selembar brosur ekspedisi. Isinya begini; Bagi kawan-kawan yang ingin mengirimkan barang apapun, antarkota antarpulau, baik via darat, laut atau udara, atau berminat bikin kaos berkualitas untuk pribadi, geng dan instansi, silakan hubungi Mr Sayd dengan hotline 0857 8635 8555. Pelayanan terjamin! *Iklan gratisan*

Selaras dengan motto almarhum Bob Sadino, ia beranggapan bahwa segala makhluk yang ada di muka bumi bisa dijadikan lahan bisnis, jadi duit. Apalagi setelah dia nonton film PK yang dibintangi Aamir Khan itu, bisnis ketakutan bertopeng agama ternyata sangat menggiurkan.

“Ayo Zi, ente sediakan air putih, cari menyan yang murahan, terus pasang gentong celengan di pintu masuk. Nanti biar ane yang blusukan pencitraan. Ane cari pasien yang lagi galau, terus ane bawa ke sini, nah ente ekting jadi dukun ampuh, tinggal pake software primbon sama air keran dan rambut gondrong. Bam bam bolee bam bam bolee.. Nanti hasilnya fifty-fifty. Gimana?”

Ndasmu renyah ‘id!

~
Krapyak, 21/01/2015

No comments:

Powered by Blogger.