Sohib Story #6 ~ Ilmu atau Pengetahuan?

Sohib Story #6 ~ Bastian
Di semester-semester awal dahulu aku masih sering mampir di masjid kampus. Sholat Dhuha? Nggak sih, Cuma buat nunggu jam-jam kuliah berikutnya sambil –tentu saja- bobok manis. Bagi punggung lelahku saat itu, buntelan tas buluk bisa seempuk bantal kapuk, lantai keramik masjid sama nyamannya dengan spring bed kelas raja. Serasa tuntas segala masalah asmara di dunia. *uhuk!

Biasanya menjelang waktu shalat Dzuhur, petugas takmir keliling men-sweeping para gelandangan macam kami. Tapi kalau tidurnya selepas jamaah shalat Dzuhur, tentu kemungkinan besar aku bakal mbablas sampai Ashar, padahal masuk kelas jam dua, misalnya. Nah, di saat-saat kritis seperti itulah biasanya teman-temanku yang jadi alarm untuk membangunkan. Bastian inilah salah satunya.

Rambutnya agak kriwil, kulit lumayan cerah meskipun nggak secerah kulitku, ngahaha, dan ngomongnya kadang ribet. Tapi ya masih mending ketimbang Sutri Si Sohibul Mesem itu. Asli Godean. Di facebook namanya Bastian Ev’, entah apa kepanjangan inisial ‘Ev’ itu, mungkin singkatan dari ‘Emang vekok’ atau semacamnya.

Dia sudah lulus kuliah (aku belum, mungkina karena kebanyakan tidur), sekarang ia mengajar di sebuah SMK yang sangat menantang. Bukan hanya sebab tipe anak-anak ‘liar’ yang dihadapinya, tetapi juga karena lingkungan pengajar yang susah diajak move on kayak pemuda yang patah hati. Ciaaa!

Di sekolah tempatnya mengajar ini, Bastian begitu bersemangat mengajak murid-muridnya untuk percaya diri. Jangan minder dengan sekolahan lain yang banjir ‘tropi prestasi’. Meskipun dia guru agama dan sudah diangkat sebagai ‘kiai’ di sana, ia juga sanggup mengajar teknik mesin karena di situlah passion-nya.

Belakangan, dia sedang membimbing beberapa siswa membuat alat detektor pengairan tambak ikan dengan teknologi sensor untuk diikutkan dalam lomba bergengsi. Konon, lomba terakhir yang berhasil dimenangkan di sini adalah lari marathon, itupun beberapa millenium lalu. Hahaha. Kalau bisa juara dalam satu mata lomba ini, ia berharap bisa mengangkat kepercayaan diri siswa dan para guru. Hadiahnya sendiri, menurut Bastian, tidak terlalu penting.

Mengajar anak-anak ‘liar’ tak segampang mengajar siswa penurut di sekolah-sekolah favorit. Beberapa kali ia sudah pernah ditantang tarung oleh muridnya. Sebagai petarung Tae Kwon Do, tentu Bastian tak gentar dengan ancaman semacam itu. Tapi sebagai guru, ia mulai belajar mempertimbangkan sikap dan etika. Kini ia lebih suka ngobrol santai di kelas dan mendengarkan keluh kesah muridnya ketimbang mengajar materi-materi agama. Sebab itulah, salah seorang guru senior menegurnya karena selama beberapa minggu ia tak kelihatan menggunakan kapur dan papan tulis.

Pelajaran agama sudah ada bukunya, siswa setingkat sekolah menengah atas semestinya tinggal membaca dan kemudian didiskusikan di kelas bersama guru. Tapi minat untuk membaca dan mendiskusikan itulah yang belum tumbuh. Maka tugas guru adalah menciptakan atmosfer nyaman antara guru dan murid, bukan sekedar sebagai teman, tapi sebagai pembimbing. Dari interaksi ini kemudian tumbuh minat dan peluang untuk diskusi materi pelajaran. Demikian yang diterapkan Bastian di sembilan kelas bimbingannya.

Lagipula, menurutnya, untuk model siswa-siswa ‘liar’ semacam itu, kompetensi yang dituju seharusnya tidak disamakan dengan sekolah-sekolah bersiswa santun. Jika di sana memburu pencapaian pemahaman terhadap materi, maka di sini cukup untuk memperhalus budi pekerti.

Pemikiran cemerlang nan sikap bijak ini, katanya, ia dapatkan dari diskusi rutin Selingkar yang legendaris itu. Torehan-torehan diskusi dalam komunitas itu sudah tertuang rapi dalam buku Duduk Selingkar yang bisa dipesan melalui nomor 085728253141 (Diandra). *Iklan woy!

Benar kata orang bahwa kedewasaan berkembang seiring pengalaman. Maka aku bersaksi bahwa Bastian saat ini sudah naik level dari Bastian culun yang kukenal lima tahun lalu di pojok masjid. Jelas dia jauh jauh jauh lebih keren daripada Bastian Steel yang sering nampang di tipi.

Oiya, kabar gembira buat remaja putri! Setahuku, Bastian ini masih jomblo dan siap menyambut kehadiran pendamping untuk mewarnai hari-harinya yang suram, model akhwat-akhwat lincahlah yang dia idam-idamkan. Berminat? Langsung inbox saja orangnya. colonthree emotikon

~

Oke, cukup promonya, kembali ke serambi masjid. Di tiang sebelah selatan mepet hydrant, kami sering ngobrol ringan. Mulai dari materi kuliah, pengalaman hidup, passion, hingga hal-hal sepele mengapa banyak banget upil-upil menempel di bawah meja-meja kelas dengan teksturnya yang selalu saja menggemaskan.

Dari sekian banyak rekaman obrolan di kepalaku, bisa kusimpulkan bahwa Bastian ini sosok mekatronik yang kesasar di fakultas pendidikan. Sering banget di sela obrolan mengenai agama dan teknis-teknis ibadah, Bastian mengungkapkan stetmen pesimistis tentang pengetahuan agamanya yang begitu minim. Lalu mulai membanding-bandingkan antara aku yang memang dari kecil ngemil bangku madrasah dengan dia yang hanya jebolan rohis SMA. Mana pantas jadi guru agama, katanya.

“Lhah, apakah agama itu hanya tumpukan materi, Bas?” tanyaku. Kemudian dia menghujaniku rentetan argumen dengan gerakan kepala mirip boneka Unyil. Menurutnya, adalah suatu keniscayaan bagi seorang calon guru agama untuk menyimpan ratusan atau ribuan file tentang dalil-dalil di memori otaknya. Sementara dia, justru lebih paham rangkaian listrik dan aplikasi software daripada skema wudhu dan tayammum.

Lalu aku bertanya padanya tentang alat yang ia buat sebagai karya skripsi. Ia pun menjelaskan tentang satu kotak mekanik hitam yang kusebut dengan ‘Pijit Nikmat’, heuheu. Jadi dengan alat itu, seorang siswa bisa ‘bermain’ pertanyaan-pertanyaan tentang materi agama tanpa harus menggunakan kertas dan pulpen. Ada beberapa tombol di sana untuk beragam fungsi. Pertanyaan dan jawaban pun bisa diupdate dengan laptop, tinggal colok dan input. Perolehan poin pun bisa langsung tertampilkan di monitor plasma sederhana si kotak. Jika jawaban siswa salah, kotak itu akan berbunyi ‘Oh No!’ dan jika benar, ‘Oh Yes!’. colonthree emotikon

Bastian menjelaskan panjang lebar tentang cara kerja alat itu, teori maupun teknisnya. Aku melongo sambil garuk-garuk brewok. Lalu kutanggapi. Aku tidak tahu menahu barang sebiji upilpun tentang alat dan teknis semacam itu. Pengetahuannya tentang mekanika yang aplikatif secara otodidak tidak kalah dengan pengetahuan agamaku yang kubawa dari madrasah dan sangat terbatas. Tapi ‘kan, tanya Bastian, pengetahuan agama itu lebih mulia daripada pengetahuan mekanika? Artinya, orang yang lebih banyak tahu tentang agama secara otomatis lebih mulia ketimbang orang lain.

Pernyataan Bastian ini jelas mencerminan cara berpikir khas orang eksak. A sama dengan B, B sama dengan C, maka A sama dengan C. Siapa bilang? Gugatku. Menurut penelaahanku, kiai-kiai dan tokoh-tokoh agama di kampung maupun berbagai belahan dunia manapun dimuliakan masyarakat bukan sekedar sebab pengetahuannya. Melainkan sebab pengamalannya terhadap pengetahuan dan pengayomannya terhadap masyarakat. Nah, orang-orang seperti mereka tidaklah banyak. Kalau orang dengan wawasan agama bertumpuk sih banyak berceceran di kampus-kampus semacam UIN.

Memang benar bahwa pengetahuan agama bisa menuntun seseorang pada kesalehan dan kejernihan diri. Tapi apa selalu begitu? Bagi cara berpikir eksak; lhoh, mestinya orang yang banyak tahu agama adalah orang yang paling baik tingkah lakunya dong, maka sebab itu, ia orang yang paling layak dihormati. Sayangnya, bunga tak selalu harum dan capaian wawasan memang tak berbanding lurus dengan penghayatan.

Kalau yang diandalkan sarjana agama sekedar asupan-asupan materi dan data-data di kepala, itu hanyalah menjadi ‘pengetahuan’ agama, belum menjadi ‘ilmu’. Lhoh, memang beda ya ‘pengetahuan’ dan ‘ilmu’? Oke, kita bahas.

Dalam Bahasa Indonesia, istilah ‘pengetahuan’ sering dibersamakan dengan ‘ilmu’, menjadi ‘ilmu pengetahuan’, sehingga maknanya setara dan sebatas lahir. Memang iya bahwa ‘ilmu’ dalam Bahasa Arab secara literer berarti ‘pengetahuan’. Orang yang tahu disebut ‘aalim’ (diserap jadi ‘alim’), objek yang diketahui disebut ‘ma’lum’ (diserap jadi ‘maklum’), dan pengetahuan yang dimaksud disebut ‘ilmu’. Namun ada pemaknaan lain dalam konteks keagamaan.

Kalau sekedar harfiah, istilah ‘ulama’ (bentuk jamak dari ‘aalim’) hanya akan diartikan sebagai; orang-orang yang mengetahui hal-hal spesifik secara mendalam. Artinya, kumpulan rapat para pakar fisika di suatu ruangan bisa disebut sebagai konferensi ulama. Namun kita punya pemaknaan secara istilah yang tak berhenti pada arti harfiah.

Di dalam Islam, pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang mengantarkan segenap kesadaran menuju ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan terhadap sesama makhluk Tuhan. Dan ilmu tersebut adalah ilmu agama. Sehingga hanya orang yang berpengetahuan agamalah yang disebut sebagai ‘aalim’, jamaknya; ‘ulama’. Apalagi jika mengacu kepada berbagai teks-teks suci Islam, baik al-Qur’an maupun al-Hadits. Di sana tertulis ketat kriteria bagaimana ‘ulama itu.

Di dalam ayat suci disebutkan bahwa ‘ulama adalah orang-orang yang begitu meresapnya ketundukan mereka terhadap Tuhan sehingga menumbuhkan rasa takut akan Ketidakrelaan-Nya. Sedangkan dalam redaksi hadits disampaikan bahwa ulama adalah pewaris para nabi, baik berupa warisan ilmu, sikap, etika, maupun wibawa.

Imam al-Ghazali bahkan menuliskan diferensiasi antara ulama sejati dan ulama gadungan. Kriteria itu menyangkut kepakaran terhadap sumber-sumber hukum Islam, disiplin ritual, kedalaman spiritual, konsistensi terhadap pelaksanaan hukum, hingga karakter dan tingkah laku keseharian. Lalu dari istilah ‘ulama’ ini muncul turunan sebutan-sebutan lokal lain semisal ‘syaikh’ (Arab), ‘kiai’ (Jawa), ‘ustadz’ (Persia), dan semacamnya. Untuk hal ini pernah kutuangkan di dalam artikel "Panggil Aku Ustadz!"

“Wah, berarti ulama itu bukan sekedar orang yang berpengetahuan agama banyak dong?” sahut Bastian mulai paham. Ya jelas, jawabku. Bahkan seperti yang sudah kuuraikan tadi, ada kode etik langsung dari Allah maupun Rasulullah bagi sosok-sosok ulama. Ayat maupun hadits yang sekilas nampak sebagai pujian kepada ulama, sejatinya adalah kode etik yang musti dipatuhi oleh siapapun yang merasa jadi ulama.

Seperti ayat Qur’an yang menyatakan bahwa orang-orang yang bisa tunduk takut secara total kepada Allah hanyalah kelompok ulama. Atau hadits yang menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Aku membaca ayat dan hadits itu bukan sebagai sanjungan yang bisa menggiring ke jurang kebanggaan. Melainkan sebagai kode etik keulamaan yang baku; bahwa ulama semestinya tunduk total pada aturan Ilahi, dan sebisa mungkin mewarisi sikap dan teladan para nabi. Berat, ‘kan?

Bastian manggut-manggut. “Berarti,” gumamnya, “Tidak semua orang berpengetahuan agama layak disebut ‘ulama’, dan pengetahuan agama seseorang belum tentu membuatnya jadi pribadi yang soleh. Tapi kok bisa ya?”

Ya karena kesalehan dan ketertundukan itu berakar pada penghayatan, bukan pengetahuan an sich. Pengetahuan hanya menjadi modal saja. Namun bila modal tak diolah, hanya ditampung di gudang, tentu hanya akan menumpuk dan akhirnya membusuk. Jadi, orang yang kesana kemari mengais pengetahuan di bangku-bangku sekolahan, sejatinya hanya sedang mengumpulkan modal. Termasuk pengetahuan agama di madrasah-madrasah.

Ketika modal itu sudah dipunyai, yakni koleksi pengetahuan (‘ilm), langkah selanjutnya adalah mengasah pemahaman atas apa yang sudah diketahui (fahm). Lalu dilanjutkan dengan penghayatan dengan pelaksanaan (‘amal). Nah, kontinuitas pengamalan plus penghayatan inilah yang bisa membuahan keberimbangan persepsi (‘adl) dan kebijaksanaan (hikmah).

Keempat dimensi inilah; ‘ilm, fahm, ‘amal, dan hikmah, yang membuat sosok kiai sepuh dihormati masyarakat secara sadar dan sukarela. Bukan atas paksaan, sogokan, maupun pencitraan. Sedangkan kebijaksanaan yang dimaksud adalah pemahaman dan penyikapan mendalam terhadap suatu hal sesuai dengan posisinya yang tepat.

Dengan demikian perbedaan antara ‘ilmu’ dan ‘pengetahuan’ akan lebih kentara. Ada jarak antara keduanya tentang kekentalan, kepadatan, kedalaman, kepekatan, dan rasa.

Nah, untuk konteks perbandingan aku dan Bastian, kami seimbang. Bedanya, koleksi pengetahuan agamaku mungkin sedikit lebih banyak dari dia, dan koleksi pengetahuan mekaniknya jauh lebih banyak dariku. Untuk penghayatan, tak usah ditanya. Tentu saja –kuakui- pengamalan dan penghayatan Bastian terhadap pengetahuan mekanika yang ia miliki lebih mendalam daripada pengamalanku terhadap pengetahuan agamaku.

Belum lagi kalau bicara pengamalan pengetahuan tentang pendidikan. Jelas aku tertinggal jauh di belakang. Dia sudah terjun, aku masih tidur berkemul sarung. Dalam konteks Islam, siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mengajarinya hal-hal yang belum ia ketahui. Dan berbagai asupan yang telah Bastian dapatkan semasa di kampus Selingkar, sudah diamalkan dengan baik di medan juangnya sekarang.

Jadi, siapa yang akan kau pilih, Nona? Aku atau dia?? *lhoh!
 

~
Krapyak, 20/02/2015

No comments:

Powered by Blogger.