Selingkar: Guru Muda Galau


"ANTARA IDEALISME DAN REALITA"
Agenda Duduk Selingkar #17

Sebagian besar penDuduk Selingkar sedang memasuki fase memapankan diri. Mereka mulai menyelaraskan pengetahuan dengan pengalaman, baik berupa pencaharian maupun pengabdian kemasyarakatan.

Tak jarang, dalam proses adaptasi kepribadian di lingkungan masing-masing, para penDuduk berbenturan dengan realita yang tak sesuai dengan idealisme yang sudah susah-susah dijaga. Tentang 'kenakalan' anak didik, apatisme rekan kerja, anarkisme klub hooligan, hingga rayuan-rayuan selangkangan.

Bagaimana kita sebaiknya menghadapi semua gejala ini? Baiknya kita rembugkan bersama, musyawarah untuk kemudian menyimpulkan mufakat; tentang bagaimana semestinya menjadi lebih dewasa.

Mari, ngobrol bersama kami dalam diskusi santai Duduk Selingkar. Tak seperti dahulu yang digelar tiap pekan dengan tema-tema teoritis melangit, kini forum diskusi santai ini lebih luwes dan menggara tema praktis membumi. Semoga bermanfaat.

Agenda: Ahad, 12 April 2015, pukul 14.00 - Maghrib di Krapyak, wetan Kandang Menjangan
 
Poster Selingkar #17
 "Jadilah lelaki yang kakinya melangkah di atas bumi, namun semangatnya menggantung tinggi di gugusan bintang."
Sejak bakda dzuhur aku dan Bima sudah stand by di wisma Abu Dhabi sambil nyawang gadis-gadis santriwati yang berlalu lalang. Menjelang Ashar, dua pemuda ganteng tiba di wetan Kandang Menjangan, Kholif dan Bastian. Dari roman muka merengut mereka, sepertinya mereka juga menjadi korban knalpot-knalpot bosok yang seharian kampanye di seantero Jogja.

Bakda Ashar para siluman lain mulai datang, ada Pram yang baru bangun sambil mengelap beleknya, Hartawan yang necis dengan senyum arumanisnya, Teguh dengan tawa kuntilanaknya, serta Sutri yang datang membawa sekeresek lidah buaya entah buat apa. Salis datang setengah jam kemudian, Said bergabung menjelang Maghrib, sementara Mukid dan Milyun nimbrung selepas Isya.

Setelah membantai sepiring pempek dan sebungkus gorengan yang langsung ludes dalam hitungan milidetik, kamipun mulai ngobrol santai. Kali ini, Bastian dan Teguh yang jadi pemantik. Keduanya berkisah panjang lebar tentang pengalamannya menjadi guru agama honorer di sekolahnya masing-masing. Bukan suatu kebetulan jika ternyata Tuhan menempatkan mereka berdua di sekolah yang gairah belajarnya rendah dan tingkat keisengan muridnya begitu tinggi.

Kenakalan Lingkungan

“Aku sebel banget,” ujar Bastian, “Segala upayaku untuk menumbuhkan gairah belajar anak-anak, dan mengangkat nama sekolah, berasa sia-sia aja!”

Di sekolah menengah kejuruan tempatnya mengajar, Bastian menghadapi anak-anak yang liar. Sembilan puluh persen lebih berasal dari latar belakang broken home dengan rupa-rupa problem keluarga. Pernah ketika dia mengajak muridnya shalat, ia malah dilempari kursi oleh si murid yang mungkin sedang badmood.

Pada pekan-pekan awal mengajar, Bastian mempraktekkan teori mengajar yang ia pelajari selama di kampus. Hasilnya? Zonk! Segala teknik pembelajaran dengan menggunakan teknologi mutakhir hanya membuatnya seperti badut di depan kelas. Seperti sales semok yang hanya jadi bahan godaan cowok hidung belang. Sama sekali tidak efektif. Seakan ada tembok yang tercipta antara si guru dengan muridnya, bahkan semakin tebal dan tinggi menjulang.

Minggu selanjutnya Bastian ganti metode. Dia lebih banyak mendengarkan murid-murid daripada menyampaikan materi pelajaran, bahkan sama sekali tidak membahas materi yang sudah diatur kurikulum. Dan ternyata langkah ini lumayan sukses. Di sini anak-anak menjadi lebih rileks ketika curhat pengalaman mereka di dalam kelas, guru hanya berperan sebagai mediator dan pengarah, serta sesekali menyampaikan nasihat. Tembok tebal itu semakin runtuh dan terciptalah hubungan emosional antara guru dan murid.

Atas langkahnya ini, Bastian justru tersandung masalah di lingkaran para guru. Dia disidang oleh assesor, dakwaannya: selama seminggu tidak pernah mengajar, hanya ngobrol saja dengan murid-muridnya. Namun argumen yang dilontarkan Bastian bisa diterima ‘hakim’, tapi dengan catatan: harus mulai mengajar seperti layaknya guru agama.

“Berarti hambatannya justru dari lingkungan guru, Bas?” tanya Sutri.

“Ya begitulah. Di lingkungan guru itu kayak ada genk-genk-an. Guru ini nggak suka guru itu, guru itu sensi sama guru sono. Ada semacam itu, jadi hawanya kurang mendukung untuk berinovasi,” curah Bastian.

Kemudian dia mengisahkan nasibnya beberapa waktu lalu dalam suatu event lomba karya ilmiah. Sebagai bentuk kepedulian kepada sekolah, Bastian mengajak murid-muridnya untuk ikut lomba bergengsi tingkat nasional, berkaitan dengan teknik mesin. Namun karena atmosfer sekolah kurang mendukung, ia mulai dari nol hingga jadi proposal konsep untuk diajukan, sendirian. Dalam proses ini, cibiran dan cemoohan kerap ia terima.

“Guru agama aja sok-sok-an ngurusi begituan! Halah buat apa sih, paling ya nggak menang!” tutur Bastian menirukan bisik-bisik ejekan rekan-rekan pengajar.

Rencananya, bila proposalnya tembus, maka kucuran dana proyek yang didapatkan akan dibagi tiga: untuk siswa, sekolah, dan ganti ongkos eksperimen yang sudah dikeluarkan. Nah, tak diduga, ternyata proposal yang ia ajukan tembus dan siap mendapat suntikan dana dari pusat. Ketika itulah rekan-rekan guru yang tadi mencibir mulai mendekatinya secara personal, merayu-rayu dengan kedipan-kedipan genit untuk ikut dilibatkan dalam proyek basah itu.

“Buaajingan tenan!” umpatku reflek.

“Lha iyo, mangkane aku kan jadi males,” sahut Bastian, “Bahkan waktu ujian praktek shalat, ada anak yang nggak hapal Fatehah sama sekali, lalu ‘kan aku suruh supaya dia menghapalkan dulu, baru bisa ikut ujian lagi. Eh, sama kepala sekolahnya, aku malah disuruh meluluskan aja. Kalau keadaan anak-anak yang parah begitu aku masih bisa menghadapi ya. Tapi kalau sudah lingkungan guru yang begitu, ah mending aku keluar aja deh, pindah!”

“Tapi apa kamu bisa jamin nggak bakal ketemu masalah-masalah baru di tempat lain yang mungkin lebih mengerikan, Bas?” tanyaku.

“Nggak juga sih,”

“Berarti masalah di sekolamu itu musti kamu hadapi, bukan kamu malah lari,” sambung Kholif bijaksana. Bastian manggut-manggut.

Tak berbeda jauh dengan Bastian, Teguh juga mengalami hal serupa. Bahkan sering terjadi ketika ulangan harian, siswa malah menyodorinya selembar dua puluh ribuan, nyogok! Jadi si guru diibaratkan polisi nakal nan kelaparan yang nilang di pinggir jalan. Jalur damai diselesaikan dengan uang. Belum lagi tingkah anak-anak yang sama sekali tak kondusif untuk belajar; main oper-operan bola, joget house music khas diskotik sampai buka baju, semua itu dilakukan saat guru sedang mengajar di dalam kelas. Jadi kalau ada siswa yang tidur ketika pelajaran, itu sudah paling mending.

“Semua teori metode pembelajaran yang kita bawa dari kampus itu semua buuuuull shit!” seru Teguh penuh emosi, “Justru metode klasiklah yang efektif. Siswa kusuruh nulis di papan tulis, yang lain nyatet. Aku sesekali menerangkan. Kayak gitu malah anteng.”

“Ya sebenarnya teori di kampus itu nggak bullshit ya,” sangah Salis, “Hanya saja memang teori yang kita pelajari di kampus itu tidak berakar pada realita yang kita hadapi, jadinya ya nggak cocok ketika diterapkan pada realita yang sama sekali berbeda. Jadinya ya musti kita yang betul-betul menyesuaikan dengan keadaan.”

Teguh juga mempraktekkan metode pendekatan seperti Bastian. Di dalam kelas, dia lebih banyak berperan sebagai teman belajar, bukan pengajar. Siswa ia beri kesempatan untuk mencurahkan masalah-masalah yang dihadapi di kehidupan sehari-hari, kemudian siswa-siswa lain diberi kesempatan untuk menanggapi dengan gaya dan daya kritis masing-masing. Teguh hanya mengarahkan dan mengisi celahnya dengan nasihat-nasihat moral.

“Itu sangat efektif untuk memikat hati murid! Baru setelah itu kita bisa bicara materi pelajaran,” ungkap Teguh sambil sesekali mengelap ingusnya, “Dan satu lagi menurutku bisa mempengaruhi kelembutan hati anak-anak untuk menerima apa yang kita sampaikan,”

“Apa itu, Guh?”

“Baca Qur’an!”

“Maksudnya?”

“Sebelum mulai pelajaran, aku ajak anak-anak baca Qur’an beberapa bagian, atau surat-surat pendek,” jawab Teguh, “Setelah beberapa lama, aku merasakan perbedaan yang sangat gamblang antara penerimaan anak-anak di kelas yang dibiasakan seperti itu dengan kelas yang tidak pake metode itu. Rasanya lebih gimana gitu.”

“Jadi nggak nakal?”

“Ya nakal sih tetep, cuman ya beda aja taraf kenakalannya.”

Metode pendampingan yang dipraktekkan Bastian dan Teguh mengingatkanku pada Komunitas Belajar Qoryah Thoyyibah di Salatiga. Guru tak melulu menjadi pengajar, tetapi lebih berperan sebagai teman belajar.

Diskusi: Korban Sistem

“Masalah-masalah seperti itu memang klasik. Kalau guru-guru senior yang tua-tua itu dibikinkan forum kayak gini, saya kira yang bakal mereka keluhkan juga sama. Yaitu keliaran tingkah murid-murid dan apatisme oknum pendidik yang pada akhirnya mereka menyerah kepada keadaan dan ikut arus saja. Anda merasakan ketidaknyamanan ‘kan karena Anda masih muda dan bersemangat. Buat pendatang baru, hal-hal kayak gitu emang mengagetkan, apalagi sedang masanya cari penghormatan dari murid maupun guru-guru lainnya,” tanggap Salis, mahasiswa pascasarjana yang masih jomblo dan suka pacaran sama boneka Barbie.

“Kasus adanya oknum guru yang apus-apusan nilai murid, padahal si murid nggak bisa apa-apa, itu memang kondisi yang terjadi dalam persekolahan kita, terutama di sekolah-sekolah yang dianggap buangan. Itu namanya aksi tipu-tipu. Dan kalau mau ditelusuri lagi, kasus tipu-tipu begitu ada di setiap lapisan birokratif, bahkan sampai kementerian. Sisdiknas sudah mengatur jumlah maksimal murid dalam satu kelas hanya dua puluh, tapi kenyataannya bahkan sampai empat puluh lebih. Di kampus juga begitu. Ini kalau bukan tipu-tipu lalu apa namanya?” gugat Salis.

“Untuk masalah kenakalan anak, ya itu memang konsekuensi di sekolah-sekolah yang kadung dianggap ‘jelek’, karena siswa-siswanya juga sisa dari sekolah-sekolah lain yang dianggap bagus. Namun kita tidak boleh berhenti pada kenakalan mereka, kita harus juga mengamati latar belakangnya. Ada apa sih di belakang kenakalan mereka, apa yang terjadi secara kultural di lingkungan mereka. Kita harus betul-betul memahami undercover problem di lingkungan hidup anak-anak, yakni agar kita bisa menentukan langkah yang tepat dalam proses pendidikan buat mereka,” jelas Salis panjang lebar.

“Saya sepakat dengan Salis,” sahut Hartawan. Dia mengemukakan pandangannya dari sudut pandang pemuda yang terjun berdakwah di ranah masyarakat awam. “Undercover problem itu memang musti diurai dengan jelas. Siswa-siswi itu hidup di tengah masyarakat, dan pusatnya adalah keluarga. Nah yang saya lihat, wali-wali murid itu seakan menyerahkan secara total pendidikan anak-anaknya kepada sekolah. Pokoke waton mbayar ya sing penting terima beres. Padahal ‘kan semestinya pendidikan utama anak ya di tengah keluarga, guru di sekolah hanya asisten saja.”

“Berarti musti ada penyuluhan kepada orang tua, ya Wan?” tanya Mukid.

“Iya. Jadi tidak hanya pendidikan kepada anak, tetapi juga pendidikan kepada orang tua tentang pentingnya pendidikan keluarga,” sahut Hartawan, “Tapi berkali-kali saya terlibat dalam event semacam itu, hasilnya tetep sama aja. Mereka manggut-manggut di forum, tapi kemudian di rumah ya lepas lagi.”

“Gimana menurutmu, Pram?” tanyaku pada Pramono, pemuda Wonosobo bertabur pesona.

“Memang begitu,” sahut Pram, “Saya jadi ingat zaman sekola dasar dahulu.”

Tiba-tiba angin berhembus kencang, kicau gagak terdengar, para penDuduk merinding sambil khidmat mendengarkan.

“Masa-masa SD, aku selalu juara kelas, minimal ranking empat lah. Di TPA, aku malah selalu ranking satu. Ya namanya anak-anak sekolahan, itu adalah prestasi yang patut dibanggakan. Tapi setiap kali penerimaan raport, orang tuaku jarang hadir, kadang diwakilkan, kadang datang tapi telat banget. Seakan-akan pencapaianku itu tidak dianggap sebagai prestasi. Padahal anak-anak seusiaku waktu itu sangat butu apresiasi. Di sini kadang aku merasa sedih,”

Sutri mulai berlinang air mata, bersandar di bahu Salis. Pram melanjutkan kisahnya,

“Nah, waktu masuk SMP, ada satu kejadian yang mengubah segalanya. Aku berantem sama kakak kelas, heboh sampai dipanggilkan polisi. Mendengar ada kasus itu, eh, orang tuaku langsung datang ke sekolah sambil menyalah-nyalahkanku. Ketika itu aku sakit hati banget. Selama juara kelas tidak pernah diapresiasi, tapi begitu berantem begini langsung ditanggapi. Oo berarti di sinilah prestasiku. Maka sejak itu aku sudah persetan dengan yang namanya belajar. Jalurku sudah berubah. Selain itu, dengan suka berantem, aku disegani teman-teman. Jadi, menurut pengalamanku itu, pengaruh keluarga dan lingkungan sangat kental dalam kepribadian anak.”

“Tapi kamu jangan nyalahin orang tuamu lho, Pram,” sambung Teguh.

“Lha ya enggak, aku memaklumi aja. Lagian ini ‘kan akhirnya jadi cermin buatku,” sahut Pramono.

“Iya ya, Pram,” Mukid bersuara, “Keluarga dan lingkungan pergaulan yang dominan membentuk kepribadian anak. Berarti sekolah semestinya menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk belajar. Bukan malah menjadi horor yang penuh ketakutan-ketakutan, membebani dengan berbagai tuntutan-tuntutan dan target-target pencapaian.”

“Itu dia!” sambar Salis, “Banyak sekolah-sekolah yang memiliki kebijakan rasis. Mereka hanya menerima anak-anak yang sudah ‘baik’ saja. Tidak mau menerima ‘sampah’, karena sekolahnya dianggap sebagai kawah pengkaderan para pemimpin masa depan. Padahal idealnya ‘kan sekolah-sekolah itu harus mau menerima ‘sampah’, lalu kemudian mengelola ‘sampah’ itu bagaimana caranya biar bermanfaat.”

“Eh, tunggu! Tunggu!” potong Bima, “Aku nggak setuju kalo siswa-siswa nakal itu disebut sampah, justru mereka adalah harta karun yang harus diterima dan dipoles. Persis seperti kata Mukid tadi, sekolah harusnya tidak menjadi rumah hantu yang menakutkan. Pada kenyataannya, murid-murid sekolah itu ‘kan pada ketakutan, takut nilai jeblok, takut nggak lulus, takut dihukum, dan bertumpuk ketakutan ada di sekolahan. Nah, anak-anak yang disebut nakal itu sudah tidak memiliki ketakutan semacam itu lagi, berarti mereka sudah lebih merdeka dari anak-anak sekolahan yang nurut-nurut itu. Secara psikologis, mereka sudah punya modal menjadi orang-orang besar yang penuh keberanian. Makanya menurutku, mereka bukan sampah, tapi harta!”

Para penDuduk terpana, semua mulut kami menganga, melongo menyimak paparan Bima.

“Iya, sih. Aku jadi inget cerita Pak Din waktu di Salatiga,” sambungku, “Ada anak-anak jalanan di daerah Bogor yang dipesantrenkan. Tujuannya baik, tapi caranya nggak tepat. Mereka ‘dipenjara’ di sana, memang fasilitas sangat mapan, tapi jiwa mereka tidak diarahkan. Akhirnya ya pada kabur. Itu semua terjadi karena konsep pendidikan yang dipraktekkan seperti ketok magic. Ada barang-barang pekok, masukin sekolah, terus diservis biar mulus lagi. Padahal karakter anak ‘kan nggak bisa diketok magic kayak gitu.”

“Bicara kenakalan,” sambung Said, “Sebagai guru muda memang cukup memusingkan. Apalagi kalau yang nakal itu dari jenis kenakalan wanita. Duh, susah susah susah,” katanya sambil membenahi keranjang-keranjang roti jualannya.

“Maksude piye Id?” tanya Pram, antusias.

“Kalau yang dicontohkan Bastian sama Teguh tadi itu ‘kan sebenarnya kenakalan-kenakalan yang terjadi hampir di semua sekolahan. Baik yang negeri atau swasta, favorit atau buangan, tentu dengan kadar keparahan yang berbeda-beda. Dan itu kebanyakan siswa-siswa laki-laki. Lha kalau perempuan mala lebih nggilani,”

“Lha yo piye maksudmu Suuuu!” aku misuh lagi.

“Pernah terjadi di tempat aku mengajar dulu. Siswi yang jeblok nilainya, malah menawarkan diri untuk dikelon, asalkan nilainya selamat. Ini ‘kan jelas-jelas bikin mumet ndasku.”

“Wah, tenane Id??!” kejar Pram.

“Tenan! Mangkane dulu waktu ada lowongan ngajar di situ, aku nggak nawarin kalian. Lha kalian semua ini ‘kan siluman. Hahahaha.”

“Itu masih mending!” sasar Salis.

“Mending ndasmu, Lis!”

“Lha iya. Di satu sekolah (menyebutkan lokasi), malah pernah terjadi siswa-siswanya mau memperkosa mahasiswi yang lagi praktek ngajar di situ. Dia ditarik-tarik dan digrepe-grepe siswa-siswanya di dalam kelas, jerit-jerit lalu kabur. Itu ‘kan ngeri!”

“Eddiaaan!” Mukid gedek-gedek, “Generasi selangkangan tenan.”

“Semua itu,” sambung Said, “Menurutku bermuara pada satu problem, yaitu ekonomi. Di dalam undang-undang dasar itu jelas disebutkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, tapi sayangnya kewajiban negara untuk memfasilitasi secara penuh hanya sebatas pendidikan dasar. Coba kalau tanggung jawab pemerintah sampai ke strata satu misalnya, dengan optimalisasi anggaran yang 20 persen itu, serta penanganan pendidikan yang serius, maka anak-anak akan enjoy belajar.

Kenapa mereka tidak menikmati sekolah, lalu menjadi nakal dengan kenakalan berbagai rupa, ya karena mereka tidak enjoy dengan proses belajar. Karena memang tujuan kemudian adalah golet duit. Sekolah nggo nggolet duit. Mindsetnya kayak gitu. Jadi kalau sudah bisa golet duit sendiri, sekolah ya nggak penting lagi. Cewek yang sudah bisa golet duit sendiri, dengan melacur, lalu persetan dengan sekolahan dan keluarga, itu ‘kan korban mindset bahwa pendidikan buat nyari uang. Ya secara kemandirian bolehlah diapresiasi, tapi kalau terjadinya kayak gitu ‘kan kasihan.

Belum lagi dari sisi guru. Selama Anda jadi guru honorer, apalagi kalau jadi PNS, Anda tidak akan pernah leluasa melakukan inovasi-inovasi pendidikan yang manusiawi. Sebagus apapun konsep yang Anda punya. Soalnya Anda dibayar, jadi bawahan, dan terikat di situ. Beda lagi jika Anda mendidik murni mendidik, tidak ketergantungan secara finansial terhadap profesi sebagai pendidik.

Apalagi jika Anda menjadi donatur di lingkungan itu. Apapun langkah inovasi yang Anda lakukan, tidak akan ada yang berani menghalangi, lha wong Anda punya duit. Di zaman materiil ini, fulus sangat berkuasa dalam sistem birokratif semacam itu, Bung!” papar Said ngalor ngidul.

“Maksudmu, guru nggak usah tergantung gaji, Id? Lha njur piye nasibku?” tanya Bastian.

“Yo mangkane, musti wirausaha! Merdeka dan berdaulat secara ekonomi. Ketika Anda sudah berdaulat secara ekonomi, maka Anda bisa bermanuver di dunia pendidikan secanggih yang Anda mau, leher Anda tidak dikungkung, hidung Anda tidak dicocok kayak kerbau. Sehingga bisa memberikan pencerahan kepada dunia. Biar kita saja yang jadi korban sistem pendidikan yang kacau ini, misalnya bertahun-tahun sinau Bahasa Inggris tapi ora ono bekase blas, itu ‘kan berarti ada yang error dengan sistem sekolah kita, ya biar kita saja yang bernasib begitu, asalkan murid-murid kita jangan sampai mengalami,” jawab Said.

“Tapi apa mungkin,” selaku, “Orang udah mapan berwirausaha, bahkan sampai sukses meraih laba, masih sempat meluangkan energi secara serius di dunia pendidikan?”

“Seribu satu itu,” sahut Kholif.

“Ya paling mung Said thok kui,” sambung Sutri.

“Lha mungkin saja,” sambar Said, “Daripada nggrundel di hati gara-gara gaji sedikit jadi guru honorer, berangkat pagi pakai kemeja dan sepatu rapi, pulang siang capek seharian, tapi gaji ngos-ngosan, itu kerja apa dikerjain? Ya mending ‘kan wirausaha, terus tetep ngajar di sekolah tanpa tendensi apa-apa, murni ngajar.”

“Tapi kenyataannya kok susa ya. Guruku zaman sekolah dulu ada yang bisnis di luar. Dia malah nggak serius ngajar, jarang masuk kelas, masuk pun cuma ninggal tugas atau teks buat disalin. Sama sekali nggak ada iktikad serius buat mendidik,” curhatku.

“Ya nggak harus wirausaha sih,” tanggap Salis, “Seperti kata Said tadi, kalau anggaran buat pendidikan itu mulus, dan tingkat kemakmuran guru dan penanganan pendidikan betul-betul terjamin, ya faktor ekonomi sudah tereliminasi.”

“Ujung-ujungnya kok duit!” gugat Mukid, geram.

“Kalau membahas sirkulasi anggaran, ruwet. Mending kita kembali ke urusan filosofis sekaligus teknis pragmatis lagi aja, yakni bagaimana kita bersikap di dalam sistem yang runyam ini,” sergahku sebagai moderator, “Kalau bikin sistem sendiri sih kayaknya belum saatnya ya. Apalagi kuda-kuda kita belum kokoh betul,”

“Iya,” sahut Salis, “Kita sudah melalui masa-masa omong kosong di kampus dengan berbagai teorinya. Kecuali yang belum lulus,” katanya sambil melirikku, jingak! “Untuk masa-masa kita sekarang memang musti banyak menyerap pengalaman apapun realita yang kita hadapi di lingkungan masing-masing.”

“Tapi ya musti tetep belajar, jangan waton manut dan akhirnya katut,” tambah Teguh.

“Sebagai guru, kita musti menjalin hubungan dengan murid secara intens tidak hanya ketika di kelas, tetapi juga di luar kelas,” kata Kholif, “Dan menurut pengalamanku, murid-murd bakal lebih nyaman ketika kita berinteraksi dengan mereka di luar sekolah, di lingkungan masing-masing.”

“Betul!” sambung Bima, “Waktu KKN di MI dulu, ketika TPQ di kelas, anak-anak ribut bukan main. Tapi ketika sorenya aku ngisi TPQ di kampung, eh mereka bisa anteng dan kondusif. Padahal anak-anaknya ya itu-itu juga, gurunya juga sama, yang dipelajari juga sama. Aneh.”

“Wah, aku jadi inget juga zaman KKN,” kata Pram. Lagi-lagi forum menjadi hening, semua menyimak dengan khidmat.

“Waktu mau masuk kelas yang terkenal nakal, aku diwanti-wanti guru agar hati-hati sama beberapa murid. Kemudian aku catet siapa saja mereka. Setelah itu, ketka di luar sekolah, aku ajak mereka futsal, ngobrol, curhat masalah, ndengerin mereka, ya nyatanya ketika ngajar di kelas aman-aman aja. Nggak ada yang bertingka. Guru yang menasihatiku malah bingung, kok bisa ya, begitu.”

“Ya itu semua juga karena anak-anak jadi korban mindset. Karena selama ini sekolah jadi tembok pembatas antara kehidupan riil dengan pembelajaran. Seakan-akan dua hal itu beda makhluk, padahal ‘kan mustinya padu,” ungkapku.

“Sepakat!” sambar Teguh, “Hubungan dengan murid di luar sekolah, terutama di lingkungan mereka tinggal, memang harus diintensifkan, apalagi sebagai guru agama, kita musti rajin-rajin blusukan dan pencitraan. Hahaha. Sebab, kalau anak-anak di lingkungannya nakal, yang dilihat ya guru agamanya. Bukan guru matematika apalagi guru Bahasa Indonesia.”

“Nah itu juga nggak jelas,” potong Said, “Peran guru agama di kelas ‘kan nggak jelas, ranah pendidikan agama kita itu apa? Apakah ranah ritus semacam fikih dan tata cara ibadah, ataukah moral yang hubungannya sama akhlak?”

“Ya jelas akhlak lah,” sambungku, “Apa kita sanggup mengajarkan materi-materi agama yang bertumpuk itu dalam beberapa jam seminggu dan berharap anak-anak jadi ‘alim? Apakah kita setega itu membuang-buang waktu yang tidak banyak hanya untuk menjejali anak-anak dengan asupan-asupan yang hanya bakal digunakan buat ujian kelulusan? Eman-eman banget to yo.

Makanya kalau aku sih punya konsep, kelak kalau tertakdir ngajar di sekolahan. Anak-anak bakal kuwajibkan ngaji di lingkungannya masing-masing, entah madrasah, majlis ta’lim atau pesantren. Sebagai guru agama, aku tinggal mengontrol pencapaian ngaji mereka, kemudian menguji secara periodik terhadap portofolio secara lisan. Tugas rutinku di kelas ya seperti yang dipraktekkan Teguh sama Bastian itu; memantapkan akhlak dengan cara mendampingi anak-anak memahami dirinya masing-masing,” usulku.

Solusi: Berkelana

Setelah berjam-jam ngobrol, kami mengakhiri diskusi dengan closing statement dari masing-masing penDuduk. Sepuluh pemuda wajib mengungkapkan kesimpulannya masing-masing dan solusi praktis apa yang bisa diupayakan, setidaknya untuk pribadi.

Said: “Bagaimanapun keadaan yang dihadapi; bocah nakal, sistem runyam, atmosfer sumuk, ojo nyerah! Dan saya juga pengen sharing masalah yang hampir bikin ndasku njebluk, nanti di kesempatan ngobrol yang akan datang.”

Pram: “Ada dua faktor kenakalan anak, yakni masalah keluarga dan pengaruh lingkungan. Maka guru harus betul-betul memahami itu. Caranya adalah dengan menjalin hubungan emosional dengan murid.”

Kholif: “Untuk mendidik murid, kita semestinya jangan hanya terpaku di sekolahan saja. Harus ada kerjasama antara guru dengan lingkungan pendidikan murid secara komplt. Yakni dengan pihak sekolah, orang tua, dan lingkungan relijus; masjid. Repot? Ya memang harus berani repot.”

Hartawan: “Intinya, kita harus bisa menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi murid bagaimanapun bentuknya, sesua dengan keadaan.”

Sutri: “Saya setuju dengan Hartawan. Belajar harus nyaman. Dulu waktu SD, sekolah itu layaknya taman bermain desa. Sama sekali tidak terpisah dari desa, tidak seperti sekolah-sekolah sekarang. Untuk beli jam dinding kelas, kami jual sayur yang kami tanam di pekarangan sekolah. Asik sekali. Saya juga setuju dengan Pram, bahwa guru harus menjalin hubungan dengan murid, namun tidak hanya secara emosional, tetapi juga spiritual. Caranya, guru harus rajin mendoakan dan kirim fatihah buat murid-muridnya.”

Salis: “Saya yakin sistem yang sudah ada ini juga punya tujuan baik. Adapun kekurangan dan lubang-lubang yang ada ya kita yang menambalnya. Dengan memahami kesalahan-kesalahan itu, kita bisa memperbaikinya sedikit demi sedikit. Saat ini, tugas kita adalah berkelana memperkaya pengalaman.”

Bima: “Anak nakal bukan sampah, tapi harta. Dalam mengolah harta itu, jare Simbahku, sing penting sabar.”

Mukid: “Mmuuach mmuaach mmuach. Tidak ada murid yang nakal, yang nakal adalah guru. Tidak ada murid jelek, yang jelek adalah guru. Ketika kau memandang murid, maka ketahuilah bahwa dia adalah dirimu. Ya, dirimuuuach.”

Milyun: “Betul apa kata Salis. Sistem yang ada sekarang tentu kepingin ndandani sistem yang sudah-sudah. Begitu terus perbaikan-perbaikan. Namun mustinya, sistem yang dibuat ini sudah baik, tinggal pelakunya saja mau bener atau tidak. Ibaratnya, sebagus apapun motor, kalau si pengendara ngawur mengisi tanki bahan bakar dengan air, ya mblebek. Kalau motornya butut, diisi dengan bensin, dirawat dengan servis yang baik, si pengendara menaati sistem sesuai prosedur, ya semua bakal beres. Jadi ya tinggal bagaimana kitanya, mau jadi orang baik walaupun seorang thok, atau mau ngikut arus brengsek beramai-ramai.”

Teguh: “Guru harus ikhlas, tidak boleh mutungan.”

Obrolan bertema resmi “Idealisme dan Realita (Menyikapi Dunia Sekolah Para Guru Muda)” ini ditutup jam 21.00. Selanjutnya para penDuduk membincangkan dhemit Sindoro dan penunggu Laut Kidul hingga tengah malam, betul-betul melenakan bahwa kami adalah jomblo-jomblo yang butuh kehangatan. Sampai jumpa bulan depan.
Duduk Selingkar #17
~
Diskusi Santai Selingkar #17
Ahad 12 April 2015 di Krapyak, Yogyakarta, Indonesia.

No comments:

Powered by Blogger.