Kiprah; Antara Alam Khayal dan Alam Nyata

00:22
Dalam pandangan dunia khayal kita di sekolah-sekolah, kampus-kampus, kantor-kantor, kau adalah apa yang kau dapatkan. Berupa seberapa bergengsi ijazahmu, seberapa banyak koleksi tropi dan piagammu, lalu akhirnya seberapa besar gaji dan pendapatanmu.

Bahkan lebih aneh dari itu, di alam akademis, kau dianggap sebab apa yang kau ketahui, kau pikirkan dan omongkan, berupa teori-teori, presentasi, maupun tesis dan disertasi.

Padahal di dunia nyata bersama orang-orang dan alam sekitar, kau adalah apa yang kau perbuat.
Ketidaksesuaian antara alam khayal dengan alam nyata inilah yang membuat kebanyakan orang kaget dan kecele. "Putus sekolah tapi kok bisa gerakin warga ya?" atau "Titelnya doktor kok gak inisiatif apa-apa ya?"

Mungkin itu semua terpatri sebab sudah sejak lama alam khayal dan realita kita dipisahkan oleh tembok tebal nan tinggi bernama institusi pendidikan. Mulai sejak TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, kita belajar di suatu planet yang terpisah dari bumi dan kemanusiaan. Kita sekolah tapi asing dengan lingkungan sekitar. Semakin lama durasi bersekolah, makin tercerabut kita dari akar.

Lalu di dalamnya, kita terbiasa dengan konsep nilai nominal, ranking, lalu tropi dan konsep-konsep prestasi individualistis. Semua itu makin memantapkan di alam bawah sadar kita bahwa; you are what you get for yourself. Maka lahirlah di kemudian hari orang-orang yang bangga dan dibanggakan sebab capaian akademisnya, maupun karier politisnya.

Namun kita tak bisa menutup mata bahwa masih ada banyak orang yang bergelut lama di alam khayal namun tetap cemerlang di alam nyata. Dalam rekam jejak orang-orang macam ini, bisa kita baca betapa keras upaya mereka menyesuaikan diri dengan realita.

Langkah awal mereka ditandai dengan kesadaran penuh bahwa ada problem, ada hal yang tak beres, ada ketimpangan antara khayalan dan kenyataan. Lalu mereka mulai bertindak, konsisten, sunyi, bertahap, ditentang, jatuh, bangkit, hingga di kemudian hari memanen hasilnya. Intinya, mereka melakoni proses yang panjang.

Betapa sering kita dengar ungkapan-ungkapan testimoni dari mereka para pejuang sosial. Orang-orang yang sudah memisahkan antara profesi (kasab) dan pengabdian (kiprah). Bahwa mereka menemukan kebahagiaan dalam pengabdian dan kiprah kemasyarakatan. Bahwa mereka mendapatkan apa yang disebut sebagai makna menjadi 'manusia'.

Mungkin ini pulalah mengapa di dalam Qur'an, disebutkan tiga sisi manusia; basyar, insan, naas. Yakni agar si manusia tak lupa, selain memenuhi kebutuhan fisik sebagai makhluk biologis individual (basyar) berupa ngasab dan mbojo, ia musti pula perhatikan hubungannya dengan Tuhan sebagai makhluk spiritual (insan), dan bertindak sesuatu sebagai respon atas problem masyarakat sebagai makhluk sosial (naas).

You are not just what you get, nor what you think and talk about. You are what you do. You do nothing, so you are nothing.

Itu saja sekelumit wejangan yang dibisikkan demit berupa wanita tua di Telaga Menjer padaku tempo hari. Mungkin sebagai tamparan buat orang besar kepala dan banyak gaya semacamku, yang hidupnya mung mampir pota-poto.

Jogja, 31/10/2015

No comments:

Powered by Blogger.