Empat Jenis Rejeki dan Empat Cara Menjemputnya

06:22
Ada empat macam cara orang bekerja dalam rangka menjemput rejeki materialnya masing-masing, sebagaimana disebut Kiai Ihsan Jampes dalam Sirajut Thalibin-nya. Pertama, dengan cara meminta-minta sehingga di mata orang lain ia nampak terhina, yaitu pengemis. Namun bisa juga kita perluas sampelnya semisal penyodor proposal atau tukang valak.

Kedua, dengan cara menunggu, yaitu pedagang. Orang yang menyediakan suatu komoditas tertentu untuk dibeli orang lain, entah barang atau jasa. Ia menunggu dagangannya dibeli orang, baru kemudian rejeki materi ia dapatkan. Ketiga, dengan cara berlelah-lelah badan, yaitu para tukang, petani, juga karyawan kantoran. Mereka beraktivitas dari pagi hingga petang dengan menguras tenaga dan pikiran, entah usaha miliknya sendiri atau proyekan orang.

Keempat, tanpa meminta-minta, tanpa menunggu, pun tanpa berlelah-lelah badan. Yakni langsung mengambil jatah rejekinya kepada Sang Juragan Agung. Previlege semacam ini -uniknya- didapatkan oleh pribadi-pribadi yang sudah tak nguber-nguber rejeki material. Mereka sudah menenggelamkan diri dalam kebersamaan dengan-Nya selama belasan atau bahkan puluhan tahun hingga 'hilang' dalam samudera-Nya. Jenis manusia yang berkhidmah penuh pada Tuhan, yang kadang dimandati tugas kemanusiaan, dan untuk tugasnya itu ia disanguni 'pohon uang' oleh Sang Mahajuragan.

Oke, kita mungkin tak usah muluk berangan-angan dapat posisi tipe keempat. Lha wong shalat saja masih sebab 'menggugurkan kewajiban'. Kita juga sebisa mungkin tidak menjadi tipe pertama, meskipun tetap berupaya berbaik sangka dan welas asih kepada para peminta-minta. Maka jalan rejeki bagi kita yang musti diusahakan adalah bekerja secara wajar sebagaimana umumnya manusia. Entah ternak lele, berkebun organik, jualan akik, blantik tanah, penulis konten, jaga toko, pramusaji, pegawai ekspedisi, dan sebagainya.

Setelah lama tak muncul, siang tadi Simbok Peyek -begitu kami menyebutnya- datang dengan seruan khasnya, "Maseeee! Tumbas peyek mboteen?", sambil menjajakan beberapa bungkus jajanan renyah yang ia gendong dengan wakulnya. Ada peyek kacang, ada keripik gadung, kadang ada pula rengginang.

Sebungkus peyek dijual lima ribu perak. Setelah transaksi jual beli, simbok selalu bertanya apakah ada pakaian bekas. Kalau ada, dia akan minta. Kalau sudah diberi, simbok akan memberikan sebungkus peyek lagi. Jadi semacam barter. Kalau kau tolak barternya, ia akan ngotot sampai kau mau menerimanya. Pada intinya memang ia sebenarnya tak mau meminta-minta.

Siang itu nampaknya simbok begitu lelah. Katanya sudah keliling dari pagi, tapi kulihat keranjang peyeknya masih lumayan penuh. Berjalan kaki seharian di bawah terik matahari Jogja tentu bukan kegiatan yang enteng bagi nenek-nenek berusia 60-an tahun sepertinya.

"Njenengan mboten sayah, Mbah?" tanyaku saat ia mulai melilitkan jarik untuk menggendong keranjang.

"Yo sayah, Mas. Tapi yo urip kudu obah yo Mas," sahutnya. Aku manggut-manggut dan nyengir.

"Nderek ngombe angsal, Mas?" pintanya.

"Oh nggih to Mbah," sambarku sambil gelagapan cari gelas. Duh. Aku lupa belum isi ulang galon. Air minum persediaanku tinggal sebotol. Maka kutawarkan saja botol itu untuk dibawanya. Tapi ditolaknya.

"Cekap ngge tombo ngelak mawon. Maturnuwun, Mas.." katanya setelah minum seteguk air, lalu pamit melanjutkan kasabnya.

Memang betul bahwa rejeki sudah ada yang atur. Kita terlahir sudah sepaket dengan jatah rejeki masing-masing. Bahkan disebutkan oleh Kiai Ihsan Jampes, bahwa jika kau minta kepada Allah agar jatah rejekimu diputus, bahkan jika kau tukang maksiat kelas kakap sekalipun, bakal dijawab oleh Allah, "Heh goblok. Bagaimana kok Aku sudah menciptakanmu tapi aku tak memberi jatah rejeki buatmu!"

Namun bukan berarti kita hanya diam berpangku tangan sambil mengkhayalkan ketiban receh sepuluh milyar. Ada jenis rejeki yang terjamin (madhmuun), keterpenuhannya sudah dijamin oleh Allah sebagai 'bahan bakar' tubuh dalam rangka ibadah kepada-Nya, ukurannya ya sekedar bertahan hidup. Ada jenis rejeki yang sudah terjatah (maqsuum), tiap orang sudah punya ukuran masing-masing, dan jenis rejeki ini musti dijemput.

Tentang jatah rejeki yang konsepnya mirip gaji ala golongan pegawai negeri ini, aku jadi teringat pengalaman saat masih kuliah di STAN. Saat itu hari pertama kuliah. Ada perkenalan antara dosen dan mahasiswa. Pak Dosen menananyakan kepada kami, satu persatu, tentang tujuan kuliah di STAN.

Mayoritas teman menjawab dengan jawaban standar; menyenangkan orang tua. Sebagian lain menjawab; agar bisa langsung kerja, jadi PNS, dan sedikit yang menjawab agar bisa menjadi abdi negara. Nah, ada satu teman, duduk pas di sampingku, yang menjawab sekenanya. Aku tahu betul niatnya guyon, tapi Pak Dosen menanggapinya serius. Dan aku bersyukur beliau menanggapinya dengan serius.

"Kalau saya," kata temanku, "Pengen cepet kaya raya, Pak!" kata temanku itu. Sontak seantero kelas ketawa riuh, kecuali Pak Dosen.

"Kalau niat Anda semacam itu," sahut beliau dingin, "Maka saya sarankan mulai saat ini Anda segera angkat kaki dari sini."

Tentu saja jawaban ini bikin suasana jadi seram. Semua orang terbungkam.

"Pegawai negeri itu tidak mungkin kaya raya. Kekayaan adi abdi negara itu standar, Mas. Kalau ada pegawai negeri yang kaya raya, kemungkinannya dia punya usaha lain dan itupun pasti menelantarkan tugasnya sebagai abdi negara. Kemungkinan kedua, dia punya warisan berlimpah dan itupun nggak mungkin, karena dia pasti nggak bakal milih jadi pegawai negeri. Kemungkinan terakhir, ini yang paling mungkin, dia korupsi!"

Ada jenis rejeki yang dikuasakan (mamluuk), yakni apa yang sudah atau sedang kita pakai dan konsumsi, yang mana peruntukannya di dunia inj bakal dihisab kelak di akhirat. Dan satu lagi, ada jenis rejeki yang dijanjikan (maw'uud), yakni sebagai reward khusus bagi mereka yang bertakwa -dalam beragam bentuk dan ukuran ketakwaan, model rejeki yang nongolnya tanpa diduga-duga.

Dengan memahami empat jenis rejeki ini bisa membuat kita bersikap seimbang. Di satu sisi yakin terhadap rejeki yang memang sudah dijamin oleh Gusti Allah sebagai penguasa jagad raya. Di sisi lain kita tetap 'obah', bergerak mengais rejeki yang sudah dijatahkan dalam takaran yang kita butuhkan. Di satu sisi kita masih bisa menikmati rejeki yang sudah dikuasakan, di sisi lain kita berhati-hati agar semua itu kelak tidak menjadi beban perhitungan.

Bagi anak muda seperempat abad, usia 25 sampai 30-an, isu rejeki menjadi hal yang krusial. Apalagi bagi kita-kita yang tak mewarisi sawah berhektar-hektar atau tambang berlian. Krusial bagi kita-kita yang sedang mulai merintis usaha atau meniti karir profesional, sambil menata diri untuk menghadapi kehidupan dewasa; pernikahan dan rumah tangga.

Maka pemahaman tentang rejeki pun musti dimantapkan agar kita tak terjerumus dalam salah satu dari dua sisi ekstrim. Satu, malas bekerja dengan alasan rejeki sudah diatur. Dua, menafikan Gusti Allah dan menyandarkan segala pencapaian kepada usahanya sendiri. Keduanya sama-sama berbahaya.

Intinya, perkara rejeki tak usah terlalu dibingungkan, meski memang sering bikin bingung. Yang penting adalah bagaimana kita terus 'obah' semampunya. Serta terus belajar dan meningkatkan inovasi usaha sebagai bentuk ikhtiar menjemput rejeki yang dijatahkan Tuhan.

Tentu saja sekuat mungkin untuk mengais rejeki halal, sekuat mungkin menjaga diri dari anasir-anasir keharaman. Meskipun memang tak bisa kita pungkiri, di zaman akhir ini, kita tak bisa total melepaskan diri dari polusi riba.

Tempo hari Pak Ustadz As'ad berkisah, pernah ada seseorang yang berdoa, "Ya Allah, karuniakan padaku rejeki yang halal, thayyib, dan shafiy (suci, bersih betul dari segala kesyubhatan)."

Mendengar doa ini, seorang kiai menegurnya, "Tak usah segitunya," katanya, "Cukup berdoa; Ya Allah, karuniakan padaku rejeki yang halal, thayyib, dan tidak menjadi sebab aku diazab karenanya, kelak di akhirat."

Dalam kultur pesantren, ada satu prinsip yang sangat kuat dan menurutku harus dilestarikan. Bahwa, "Santri kalau sudah pulang harus mengamalkan ilmunya, sambil bekerja apa saja." Jadi yang ditekankan adalah berkiprah sosialnya, sesuatu yang nirlaba. Sedangkan pekerjaan diposisikan 'hanya' sebagai penunjang bagi aktivitas utama itu. Suatu pandangan hidup yang terbalik dengan perspektif dunia perkuliahan modern.

Terakhir, ingat terus kata Mas Ali Antoni; "Teruslah bekerja! Jangan berharap pada negara!" Lha nek PNS yo ora iso to Mas, njur sing arep nggaji sopo?! Hehehe.

 اللهم اغننا بحلالك عن حرامك وبطاعتك عن معصيتك وبفضلك عمن سواك

_____
Krapyak, Ahad Wage, 5 November 2017
Referensi: Sirajut Thalibin, 2/88-96

No comments:

Powered by Blogger.