Simakan Al-Quran

01:24
Hari ini imtihan simakan (baca: sima'-an) para calon khotimin resmi dibuka. Selama sebulan ke depan akan ada pembacaan Al-Quran bil ghoib tiap hari oleh para calon khotimin, secara bergilir.

Imtihan adalah agenda tahunan untuk menguji pencapaian hapalan santri Madrasah Huffadh Krapyak sebelum mengikuti wisuda khataman. Dalam ujian ini, calon khotimin dipersilakan membaca hapalan Al-Qurannya sambil disimak oleh kawan-kawan santri lain. Dalam momen khataman tahun ini -yang digelar tiap dua tahun- Romo Kiai Najib akan mewisuda 35 khotimin tiga puluh juz bil ghoib dan 100-an khotimin juz 'amma, sekaligus memperingati haul KH. Muhammad Munawwir al-Muqri' wa dzurriyyatih.

Pagi hari, simakan dibuka dengan tartib Fatihah oleh Romo Kiai, kemudian dilanjutkan bacaan Al-Quran calon khotimin, dan setelah rampung 30 juz sore atau malamnya, ditutup dengan doa khotmil Quran oleh Romo Kiai. Begitu terus keesokan paginya, ganti calon khotimin lain. Maka kami percaya, momen ini menjadi saat yang istimewa untuk ngalap berkah dari bacaan dan riyadhah para huffadh dengan bacaan Qurannya. Tidak hanya ngalap berkah dari panganan yang disuguhkan, hehe, tapi juga dari nuansa ketenteraman dan atmosfer ayem yang dihidangkan.

Simakan, sebagaimana dipromosikan Gus Miek (KH Hamim Jazuli, Kediri), menjadi pengayem-ayem lingkungan sekitar secara -boleh dibilang- mistis. Ayat-ayat suci 'hanya' dibacakan, dengan tempo cepat (hadr), namun memancarkan aura ketenangan yang khas. Entah bagaimana menjelaskannya. Mungkin itu sebabnya banyak orang, ketika menggelar hajatan, membangun rumah atau tempat usaha, menyempatkan waktu untuk mengundang para huffadh dan menggelar simakan Al-Quran di tempatnya. Tabarruk bi istima'il Qur'an. Tentu saja hafidh yang didapuk simakan adalah mereka yang sudah lancar betul.

Ketika dahulu Mbah Yai Hisyam Kudus hendak mendirikan pesantren, beliau menggelar simakan. Sosok yang diamanati membaca tiga puluh juz bil ghoib hari itu ialah Gus Najib (kini pengasuh Pesantren Al Munawwir Krapyak), sedangkan yang menyimak ialah Gus Nawir (KH Munawwir, Tingkir, Salatiga). Pembacaan beliau sangat lancar, hanya ada 2-3 tempat di mana terjadi kesalahan pembacaan, namun itu pun bisa beliau koreksi sendiri. Setelah rampung 15 juz dan istirahat pada wayah Dzuhur, Gus Najib 'mengeluh' kepada kawannya, "Ya Allah, Kang Nawir.. Qur'anku rusak.. Dosa apa yang telah kuperbuat.. Ya Allah.."

Nah, idealisme yang diteladankan Romo Kiai semacam inilah yang sepertinya menjadi pemicu semangat para santri, terutama para calon khotimin di Madrasah Huffadh. Meski aku belum berkesempatan jadi bagian dari mereka, aku bisa merasakannya. Proses yang mereka lalui bukan hal yang ringan. Ini bukan hanya perkara sudah khatam atau masih awal, sudah lancar atau masih merangkak. Ini lebih kepada kesadaran atas tanggung jawab yang diemban dan sejauh mana setiap santri sudah menunaikan amanatnya.

Akhirnya, kuucapkan selamat bagi para khotimin yang telah melampaui proses begitu rupa di sini. Dan hendak memuncakinya dalam prosesi wisuda Khotmul Quran medio Maret nanti. Doakan juga kami, dalam munajat khatamanmu, agar bisa menyusul dengan baik. Tentu saja kita ingat wejangan Kiai Hasyim Muzadi beberapa tahun lalu di Krapyak, bahwa "Jangan terlena. Khatam bukanlah finish, melainkan garis start di mana kamu memulai perjalananmu."

Dan bagi kawan-kawan yang masih bertungkus lumus, mengais ayat demi ayat, menjaganya agar tak lepas dengan susah payah, mari tetap kuat. Biarpun dihajar habis-habisan oleh gilasan masa, mari tetap kuat. Toh atmosfer dan gaya tahfidh klasik ala Krapyak ini -sebagaimana dituturkan banyak alumni- menjadi ring tempur antara diri kita melawan nafsu masing-masing; mungkin ini yang disebut tirakat.

Momen imtihan simakan ini mau tak mau mengingatkanku pada sosok yang kumuat fotonya ini. Adik dari bapakku, Om Umar Basyir almarhum. Pertama kali aku terpesona dengan proses simakan adalah sebab beliau. Ia tunanetra, buta. Namun begitu fasih dan lanyah merapalkan ayat-ayat suci tiga puluh juz, bil ghoib tentunya. Ia khatam sejak belia di Benda dan Cirebon. Suaranya emas dan bahasanya simpatik sehingga khalayak betah berlama-lama menyimak ujarannya. Belum lagi kemampuannya memainkan organ, gitar, drum, flute, hingga gambus. Multitalenta.
Aku masih ingat betul saat bapak memboncengkannya dengan sepeda motor butut selepas simakan. Bapak ngebut karena dikejar hujan lebat di belakang, namun ia minta pelan-pelan saja, dan meskipun melaju santai, hujan deras tetap di belakang, nginthil. Aku juga masih ingat bagaimana ia meraba-raba wajahku untuk mengenali apa ini betul-betul aku, sebagaimana ia meraba-raba Mushaf Quran braille pemberian depag kala itu. Ia wafat beberapa tahun lalu sebab paru-paru basah. Ia telah khatam menjaga amanahnya dengan baik, dan para calon khotimin baru akan memulainya, sedangkan kami masih memapankan kuda-kuda.

Wa sahhil 'alaynaa hifdzohu tsumma darsahu, bi jaahin nabiy wal aali tsummas shohabati.. Lanaa al-Fatihah...

___
Krapyak, Sabtu 16/01 2016

1 comment:

  1. Mas ada syarat2 nya gak kalo mau ikut mondok huffadz di Krapyak? Matur nuwun

    ReplyDelete

Powered by Blogger.