Tahqiq dan Tahap Pertama Pendidikan Akhlak

20:06
Oleh: Zia Ul Haq

Maraknya kasus siswa menganiaya teman (rundung/bully) hingga menganiaya guru sampai meninggal, saya jadi teringat istilah 'tahqiq'. Dalam proses belajar membaca Quran, tahap pertama disebut 'tahqiq', yakni belajar mengucapkan makhraj huruf-huruf dengan benar sesuai 'hak-hak huruf'. Mana dhod dan mana tho, bagaimana kaf dan bagaimana qof. Sehingga ketika dia nanti naik ke tahap tajwid, tartil, taghanni, atau bahkan berkenan tahfizh, bacaan makhrajnya sudah benar. Tidak 'nggrathul'.

Uniknya, dalam pelajaran Akhlak di madrasah, tepatnya di tingkat awaliy/ibtidaiy, materi pertama yang dipelajari juga tentang 'hak-hak'. Ambil contoh kitab tipis Washoya itu. Bab-bab awal yang disuguhkan adalah tentang 'Hak Allah', 'Hak Rasulullah', 'Hak Orang Tua', 'Hak Guru', 'Hak Teman', 'Hak Badan', serta 'Hak Tetangga'. Baru kemudian bab selanjutnya berisi arahan untuk rajin belajar, giat bekerja, pilih teman, jaga kebersihan, disiplin waktu, dan segala pengarahan bagaimana menjadi anak saleh.

Lebih unik lagi, hampir tidak akan kita temukan 'Hak Diri Kita' di dalam materi hak-hak itu. Artinya; perspektif Akhlak adalah memahami dan menghormati hak-hak pihak lain serta berupaya memenuhinya. Bukan melulu tentang hak diri kita dan bagaimana agar orang lain mau menghormatinya.

Nah, meminjam istilah teknis belajar baca Quran ini, proses mengaji hak-hak dalam pelajaran Akhlak ini bisa kita sebut sebagai 'tahqiq'. Jadi, kalaupun misal anak Anda tidak ngaji di madrasah atau pesantren, sebab Anda adalah muslim yang berlatar belakang 'umum', maka jangan lupa ketika dia mulai baligh kenalkanlah kepada hak-hak di luar dirinya.

Sebab pondasi akhlak sangat penting setelah pondasi tauhid. Kalau Anda hanya membekalinya pondasi tauhid, bisa jadi dia tidak luwes dalam bergaul dengan mereka yang berbeda. Kadang-kadang dengan yang sama pun dicari-cari perbedaannya. Sebab itulah saya ingin memperkenalkan khazanah-khazanah kecil ini kepada Anda, khususnya yang berlatar non-pesantren dan non-madrasah.

Hal ini menjadi penting setelah melihat tak sedikit buku-buku anak yang memuat pelajaran akidah-akhlak, tapi dengan nuansa yang 'keras'. Nuansa yang tercakup dalam lagu anak TK yang sempat populer: 'Islam Islam Yes! Kafir Kafir No!', bagi saya lagu ini berisi kalimat yang haq namun dengan bungkus yang jelek. Saya sering curiga, orang-orang yang gampang terbawa ajakan manis ekstrimis itu selain tidak ngaji secara berjenjang, berghirah tanpa berilmu, juga tidak pernah mengenyam pelajaran Akhlak humanis.

Belakangan saya menyadari bahwa kitab kecil yang diajarkan para guru kita di madrasah, semisal Washoya, Akhlak lil Banin, dan sejenisnya, sangat humanis. Selain memantapkan landasan tauhid dengan mengenalkan hak-hak Allah dan Rasulullah, juga mengenalkan hak-hak sesama manusia, bahkan lingkungan sekitar. Sampai-sampai dahulu guru saya pernah berbisik, "Tak perlu sampai kitab yang tebal-tebal, ente bisa ngamalin isi Washoya saja sudah cukup jadi bekal buat hidup dan mati."

Tapi ya bagaimana, kita berada di zaman ketika banyak orang bernafsu 'tahfizh' tapi tidak mau 'tahqiq'. Paham ya maksudnya?

~
Tuwel, 12 Februari 2018

No comments:

Powered by Blogger.