Manusia yang Hadir

06:08
Sering merasa sudah nggak bisa fokus baca buku? Atau nggak betah lama-lama wiridan? Atau dikit-dikit puyeng dan susah tidur? Atau sebentar-sebentar maunya ngelirik hape? Wah perlu diruqyah tuh, hehe. Nggak ding. Mungkin itu gejala Attention Deficit Disorder (ADD).

Diakui atau tidak, banyak di antara kita -termasuk hamba ini- yang mengidap ADD, yakni problem psikologis berupa susah fokus. Bentuknya yang paling ekstrim biasanya diidap sebagian anak usia belia, menyebabkan mereka jadi hiperaktif (polah gak karuan) dan impulsif (sembrono).

Bagi orang dewasa, gejala ADD bisa jadi lebih soft ketimbang yang dialami anak-anak, sehingga susah dideteksi. Tapi tetap saja sangat mengganggu pikiran dan bisa mempengaruhi kondisi fisik. Gejalanya sangat kentara; susah mengorganisir, sering gelisah, sembrono, susah fokus dan konsentrasi, ngelantur saat ngobrol, sulit memulai pekerjaan, sering terlambat, amarah labil, dan sulit menata prioritas.

Dari kacamata peruqyah, kalau kau merasakan semua gejala itu, mungkin ada jin nakal yang nongkrong di jidatmu itu. Maka musti segera disuwuk. Atau kalau mau, silakan suwuk sendiri dengan amalan yang ada di buku 'Khasiat Rahasia Ayat Al-Quran' karya Imam Al-Ghazali terbitan JagadPress, bisa diperoleh melalui nomor 085600999946. Ngiklan, hehe.

Namun dari perspektif psikologi, kemungkinan kau mengidap ADD atau problem psikis lainnya. Menurut Santrock dalam Educational Psychology, penyebab ADD masih belum jelas betul. Ada kemungkinan bawaan genetik, atau faktor konsumsi dan kondisi lingkungan sekitar. Teman-teman berbasik ilmu psikologi lebih berhak menjelaskannya, tentu beserta tips penanggulangan dan penanganannya.

Teori lain mengatakan bahwa gejala ADD ini sangat dipengaruhi gaya hidup modern saat ini. Faktornya ialah sebab kita digempur berbagai rangsangan indera begitu gemerlap, sehingga mengganggu sensitivitas otak. Demikian menurut Sayyid Aji (Ismail Fajrie Alatas) dalam ulasannya pada acara MATAN (Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyyah) di Malang. Kau bisa putar di Youtube.

Mata kita digempur, kita melihat kerlap-kerlip baliho atau lightbox papan-papan reklame. Belum lagi etalase dan ornamen-ornamen bersinar terang di gedung-gedung sepanjang jalan. Begitupun yang dialami indera pendengaran dengan gempuran polusi suara. Indera-indera lain juga kena, namun memang yang paling berefek pada pikiran dan kondisi psikis adalah pendengaran dan penglihatan.

Bahkan penduduk desa yang relatif lebih tenang pun bisa kena, berupa sorot perpindahan warna dan intensitas cahaya dari televisi secara begitu intensif. Belum lagi agresi yang menyerbu melalui aneka rupa aplikasi dan hiburan gajet-gajet canggih di tangan kita masing-masing. Umumnya, orang akan merasa sumpek, pusing, bahkan mual ketika terlalu banyak terpapar gemerlap sinar aneka warna non-harmonis, atau terlalu lama mendengar kebisingan non-ritmis.

Dan yang paling parah adalah ketika serbuan itu menembus barikade internal. Yakni akal dan jiwa kita. Kemudian menimbulkan kekacauan pikiran dan perasaan dengan frekuensi yang terlalu sering. Hal ini, bagi umat Islam, tentu sangat mengganggu. Karena bagi kaum muslimin, konsentrasi dan fokus adalah perkara primer dalam ritual ibadah. Kondisi ini lebih familiar dengan istilah 'khusyuk'.

Rasulullah menyatakan bahwa kadar diterimanya shalat sesuai dengan kadar kekhusyukan. Sayyiduna Ali menambahkan, kalau tak mampu khusyuk dalam seluruh shalat, ya minimal khusyuk saat takbir permulaan dan salam di pungkasan. Kemudian Imam Ghazali memberikan tips; kalau ingin bisa shalat khusyuk, maka harus dimulai dengan wudlu yang khusyuk.

Perkara khusyuk ini menjadi penting bukan hanya karena ia menjadi parameter kualitas hubungan dengan Tuhan. Tetapi juga bisa mempengaruhi kualitas kita menjalani kehidupan. Belakangan pernah kusimak wejangan Habib Luthfi, bahwa jika kita bisa khusyuk dalam shalat, maka dalam kehidupan keseharian pun bisa tertata dan semeleh. Hidup yang khusyuk.

Tentang hidup yang khusyuk ini kuingat kisah Syaikh Hamza Yusuf tentang salah satu gurunya. Syaikhah Maryam kalau tak salah ingat. Ketika pertama kali sowan, Syaikh Hamza ditanya oleh wanita alim nan zuhud itu tentang identitas, asal-usul, dan keluarganya. Sepuluh tahun kemudian, ketika ia sowan lagi, ulama wanita sepuh itu spontan menanyakan kabar anggota keluarga Syaikh Hamza dengan menyebut nama mereka satu persatu. Artinya, saat sang guru bertanya dahulu, ia tak sekedar basa-basi. Sang guru bertanya dengan penuh kehadiran diri (presence/khudlur), yang merupakan pengaruh langsung dari kebiasaan zikir yang selalu khusyuk.

Jadi, kualitas kekhusyukan dalam ritual ibadah berkaitan erat dengan kualitas hidup. Tapi memang pada prakteknya, khusyuk ini tak mudah. Apalagi bagi kita yang terjebak ADD, sebab kadung terbiasa dibombardir dengan asupan-asupan polusi inderawi tiap hari. Sangkin terbiasanya, sampai-sampai kita tak merasa sedang dicemari polusi.

Lalu bagaimana penawarnya? Sayyid Aji menyarankan kita untuk membiasakan diri dengan rutinan zikir dalam ruang dan waktu tertentu secara istiqamah (konsisten dan konstan). Misal, tiap bakda maghrib hingga isya duduk tenang mewiridkan ratib. Kalau belum bisa tiap hari ya seminggu tiga kali.

Atau sebagaimana diajarkan guru-guru kita sejak belia. Baca Quran dengan tartil sesuai tajwid. Mungkin sebelum subuh atau setelahnya, dengan membaca setengah juz Quran dengan pelan, sekedar bisa terdengar telinga sendiri. Saat suasana masih relatif hening dan udara masih cukup segar. Syaikh Hakim Chisyti dalam The Book of Sufi Healing menjabarkan dengan sangat gamblang, bahwa pembacaan lafal-lafal Quran sesuai aturan tajwid sangat berpengaruh positif terhadap kondisi fisik dan psikis kita. Terutama dalam urusan pernapasan.

Adapun tentang tata aturan zikir untuk dijadikan wirid sehari-hari, silakan konsultasikan dengan guru masing-masing. Begitu pula tata aturan tajwid, harus digurukan langsung kepada guru yang mumpuni. Namun kalau kau pernah sinau hukum-hukum tajwid tapi sudah lupa, kau bisa baca kembali di buku saku Tajwid Praktis yang menjadi bonus di setiap pembelian buku Khasiat Rahasia Ayat-ayat Al-Quran terbitan JagadPress. Untuk pemesanan hubungi 085600999946. Ngiklan maning, hehehe.

Terakhir. Selain wiridan, sebagai penyeimbang asupan polutif yang menyebabkan ADD, kita bisa juga membiasakan asupan-asupan visual maupun audio yang harmonis dan ritmis. Dalam hal ini, alam hayatilah juaranya. Hamparan kehijauan, gradasi senja, paduan warna lembut pelangi, taburan aurora, kubah langit biru, arak-arakan awan, kicau burung-burung di hutan, gemericik aliran sungai, deru air terjun, atau sekedar desir angir menerpa dahan-dahan pohon dan batang-batang bambu.

Itu semua adalah sarana alamiah terbaik untuk menetralisir indera-indera kita yang kadung tercemar polusi. Apesnya adalah, kita yang tercemari ini kemudian mencemari alam sekitar tiada henti. Sebagai penutup, biar kusajikan seintip pemandangan Desa Tuwel yang damai nan asri. Siapa tahu bisa sedikit menghibur siapapun engkau yang sedang bergalau hati.















_____
Tuwel - Krapyak, Senen Legi 23 Jumadil Ula 1438

No comments:

Powered by Blogger.