Orang Jujur: Mukid dan Budi

Ada dua orang yang kukenal dan kuakui sesuai antara gaya tulisan dan gaya bicaranya. Orang jujur. Mereka adalah Mukid dan Budi. Gaya tulis absurd Si Mukid bisa kau baca di beranda facebooknya; Zainal Muhidin. Sedangkan Budi yang sudah off medsos -bahkan anti watsapp- bisa kau kepoin di blog sunyinya; budiografi.

Kenapa mereka kusebut orang jujur? Sebab sering kutemui orang yang sangat berbeda gaya bicaranya dengan nuansa tulisannya. Ada yang sangat atraktif dan nakal dalam tulisan, namun ternyata pemalu dalam obrolan. Ada yang das-des menukik tulisannya, namun bertele-tele ketika bicara.

Ada yang runtut struktur tulisannya, tapi belepotan saat ngomong. Ada yang mendayu aksaranya, tapi kering kerontang saat bercakap. Ada yang njlimet kosakatanya di artikel, tapi gagap saat dilisankan.

Nah, dua orang ini bukan model orang semacam itu. Apa adanya. Bagaimana mereka menulis persis dengan bagaimana mereka bicara. Mulai dari diksinya (pilihan kata), intonasinya, temanya, hingga nuansanya. Persis betul.

Jika ada orang yang penasaran dengan Mukid sebab sering membaca tulisan absurdnya, ya kujawab saja; "Mukid ya persis seperti tulisannya itu. Campuran antara filsuf dan bocah TK, lugu."

Kau bisa membayangkan gaya kontraktor muda yang masih jomblo ini dengan membaca salah satu tulisan terbarunya yang bicara tentang terorisme;

"Sebenarnya Teroris itu pernah tau ga sih kalau mereka itu sebenarnya Teroris? Saya sangsi kalau teroris itu merasa bahwa mereka teroris, dan malah berkeyakinan bahwa yang mereka lakukan adalah martabat, adalah kemuliaan, adalah pejuangan, adalah pemberontakan, adalah kepahlawanan, adalah kemenangan.

Jadi ini cuma gara gara salah prespektif saja? Teroris berpikir ini perbuatan mulia dan yang diteror itu perbuatan terkutuk. Djingan! Mung mergo salah mikir, iso bom boman ngunu iku. Iki ora 'mung', bukan 'cuma'. Buahaya cuk! Ojo maen-maen karo pikiran lho, opo mane perasaan, ojo!

Mulakne ta mikir dewe, berdaulat atas diri sendiri gitu lho. Ndas kog isine angin, emange ban motor, diglindengke mengarep manut, gelindingke memburi manut. Hmm.  Apa teroris ga pernah diajarin tepo seliro, ga tau baca-baca ajaran luhur para leluhur juga, ga pernah belajar PPKN  mungkin pas SD. Coba kalau teroris itu diteror oleh teroris lain, gimana coba? Ga mikir, dasar!"

Budi juga demikian. Tulisannya padat, pendek, penuh wawasan, dan sering melompat. Begitu pula cara dia bicara dan mengungkapkan sesuatu. Makanya kalau kuajak dia ngobrol, aku berasa jadi moderator karena harus memotong dan mengarahkan sesuai topik perbincangan awal.

Ini kukutipkan contoh tulisan terbaru calon bapak yang pernah menulis buku tentang batik untuk BNI ini dari blognya, berjudul 'Istriku';

"Aku bisa saja di tengah sawah lalu tiba-tiba ada di gedung berlantai puluhan bersama orang-orang berdasi dengan jam tangan mewah. Aku kemarin di tengah para tukang kayu lalu kini ada di tengah para pedagang kali lima. Hari ini aku menemanimu bercengkrama dengan mengajar dan menjahit lalu esok hari mungkin di tengah hiruk pikuk lapak sunday morning.

Aku seringkali disebut serabutan, serabut dari tali-temali kehidupan. Apa saja akan kulakukan asal membahagiakan jiwa murni ini. Tawa orang lain adalah gegap gempita di dadaku. Aku saja tak tahu aku siapa apalagi engkau?

Hidupku asyik menikmati musik yang berdebar di dadaku. Membaginya kepada orang-orang yang mengertiku."

Allahummahfazh-huma zhahiran wa bathinan, wa saa-ira rufaqa-i aynamaa kaanuu. Duh Gusti, semoga Engkau menjaga mereka berdua, lahir dan batin, beserta seluruh kawan-kawan hamba dimanapun mereka berada.
___
Foto: dokumentasi diskusi santai Duduk Selingkar ke-18 di emperan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.

No comments:

Powered by Blogger.