Langgar Khayalan

05:34
Tempo hari aku duduk bersama bocah-bocah di emper rumah orang yang tak punya halaman. Mengamati lalu lalang slender yang sedang memampat-ratakan aspal. Menyaksikan pembangunan sebagaimana wajarnya zaman.
Di dusunku sudah tidak ada lagi ruang terbuka umum seperti di masa aku belia dahulu. Di mana hamparannya masih tanah yang empuk untuk berjatuhan. Di mana anak-anak ceria bermain saban sore. Di mana para emak duduk-duduk di tepian pelataran, melihat anak-anak bermain sepak bola, gobak sodor, toktil-glatik, voli, hingga sepak takraw. Keasyikan semacam itu hanya bisa tumbuh di atas suburnya tanah, bukan gersangnya semen.

Ruang bermain dan arena pendidikan semacam itu dahulu tersedia secara alami di halaman orang, di kebun-kebun cengkeh, atau di pelataran-pelataran masjid dan langgar-langgar. Semuanya kini sirna sebab digerus perkembangan zaman. Hanya ada hamparan semen dan aspal, sekedar untuk lewat dan parkir kendaraan. Aku memaklumi keadaan ini sebagai tuntutan pembangunan yang tak perlu dipersalahkan. Tinggal bagaimana aku mengupayakan solusinya, atau minimal mau mengkhayalkannya.

Sayang berjuta sayang, sekolah-sekolah setempat yang notabene mendakwa sebagai lembaga pendidikan tidak bisa menjadi ruang belajar publik semacam itu. Entah TK-PAUD-nya, SD-MI-nya, SMP-MTs-nya, SMA-SMK-nya. Lengkap jenis sekolahan di desaku, namun sayang, tidak bisa menjadi ruang di mana masyarakat kampung bisa mengakses fasilitas-fasilitasnya dengan leluasa. Temboknya terlalu tinggi, pagarnya terlalu rapat. Hanya ramai di jam sekolah, sisa harinya jadi rumah hantu seperti kata Ki Hadjar Dewantara.

Atas segala kondisi ini, akupun kemudian mengkhayalkan sebuah ruang publik semi terbuka di kampung ini. Di mana anak-anak bisa berlarian bebas di sana, tertawa dan bermain sepuasnya tanpa hardikan orang-orang tua yang merasa terganggu tidur siangnya. Di mana para remaja bisa berkumpul ngobrol, membaca, berketerampilan, bermain, belajar, berkreasi, berkesenian, atau sekedar santai di waktu-waktu luangnya.

Di mana para pemuda-pemudinya bisa nongkrong mengobrolkan pemberdayaan, ngopi, diskusi tematik, belajar keterampilan dasar rumah tangga, masak bareng, membatik, pentas seni, internetan, mengaji dasar-dasar keagamaan secara dialogis, nonton film, bedah buku, atau sekedar ronda semalaman suntuk. Di mana teman-teman tunarungu atau difabel lainnya bisa berkumpul, mengaji, berdaya, bermain, berkreasi, dan berjejaring.

Berupa bangunan sederhana yang luas dan beratap tinggi. Di mana di empat sisi temboknya bisa kupajang buku berjajar-jajar. Berupa buku-buku bacaan anak bergambar, buku-buku keterampilan dan wirausaha, buku sejarah bangsa-bangsa seluruh dunia, buku-buku babon teori sains dan humaniora, buku biografi para tokoh pembangun kemanusiaan, hingga buku-buku keagamaan karya para ulama Nusantara.

Di pelataran depannya terbentang halaman tanah sepetak. Dipagari pohon-pohon jambu atau rambutan mengelilinginya. Sebagai arena bermain anak-anak desa. Sebagai ruang ngumpul para muda agar betah dan berdaya di desanya. Sebagai tempat bersosialisasi bagi teman-teman difabel agar tak merasa minder dan kesepian dalam pergaulan dunia.

Tapi aku masih merantau, padahal ruang semacam itu harus dibangun dengan modal sosial dan dedikasi yang kuat. Tak bisa ditinggal pergi, harus ditunggui dan jadi semacam jalan hidup alias tarekat. Dan satu lagi, aku masih kere, padahal untuk mewujudkannya juga butuh dana yang tak sedikit.

Maka aku baru bisa mengkhayalkannya saja. Mungkin kalau aku dikaruniai lahan yang cukup untuk diwakafkan, tidak akan kuwakafkan untuk jadi masjid megah atau sekolahan mewah. Akan kuwakafkan untuk dijadikan sepetak 'langgar' mungil tempat berjamaah dan ngaji, dilengkapi pendopo di depannya sebagai perpustakaan dan ruang berkegiatan, plus halaman tanah yang rindang sebagai ruang bermain anak dan kegiatan masyarakat. Syukur kalau ada cukup ruang juga untuk bertanam dan bertaman.

Sebagai pengantin baru serabutan yang mengais nafkah dengan menjajakan tulisan, saat ini aku hanya bisa berdoa. Semoga entah kapan saatnya Tuhan memperjalankanku dengan segala fasilitas dari-Nya, diiringi gema semesta yang mengaminkan segala yang kupinta. Bi barokati Laylatil Qadri.

___
Tuwel, malam 27 Ramadan 1439 - 11 Juni 2018

No comments:

Powered by Blogger.