Delapan Tahun Deresan ALKITAB

07:40
Delapan tahun sudah rutinan ALKITAB berlangsung, sejak 2011. Diikuti oleh para santri asal Tegal-Brebes yang setoran kepada Romo Kiai Najib Krapyak. Baik yang sudah khatam ataupun belum, baik yang mukim maupun laju. Kegiatannya sederhana, sekedar simakan Quran mulai Fatehah sampai Nas seharian penuh secara estafet, lalu ditutup khataman dan makan-makan.

Tujuan utamanya juga sederhana; menggembirakan hati guru. Sebab kabarnya, beliau begitu bungah jika mendengar kabar para santrinya berkumpul menjaga hapalan Quran dan menyemarakkannya di daerah masing-masing. Selain itu juga untuk mempererat silaturahim sesama santri tahfizh, tentu saja juga untuk nderes bareng.

Deresan pertama digelar tahun 2011 di rumah Zia Tuwel. Saat itu para peserta ALKITAB belum ada yang khatam, masih ada yang baru 5 juz, paling banyak 25 juz. Tahun 2012 di rumah Syukur Larangan. Tahun 2013 di rumah Zaki Sangkanayu. Tahun 2014 di rumah Nadil Watujaya. Tahun 2015 di rumah Milyun Babakan. Tahun 2016 di rumah Hasan Bumijawa. Tahun 2017 di rumah Baha Jatinegara. Tahun ini, 2018, di rumah Irham Sokatengah, dan hampir semuanya sudah khatam.

Kami menyadari penuh, sebagaimana diwanti-wanti oleh guru kami, bahwa berapapun Quran yang didapat harus dijaga sekuat hati, sampai mati. Apalagi bagi yang sudah khatam 30 juz. Dosa besar jika sampai melalaikan ayat-ayat suci itu sebab malas nderes karena menganggapnya perkara sepele. Maka gelaran semacam ini menjadi pemacu bagi para huffadh untuk terus menjaga apa yang telah ia raih.

Selain itu juga kami mengakui, bahwa dalam hal menjaga Quran pada hakikatnya bukan kami yang menjaganya. Melainkan Quranlah yang menjaga kami dengan rasa malu. Menjaga dari dorongan-dorongan hawa nafsu dan perilaku-perilaku tercela. Quran adalah kawan hidup dan mati yang harus diakrabi terus menerus, begitu yang dipesankan guru-guru kami.

Zaki, salah satu pencetus rutinan ALKITAB ini, pernah mengutarakan cita-citanya. Jika kelak kawan-kawan sudah mudik dan menetap di kampung halaman, alangkah indahnya jika kami bisa membuat rutinan deresan selapan sekali, tidak hanya setahun sekali saat syawalan begini. Tidak hanya santri huffadh lulusan Krapyak, tetapi juga bersama para huffadh lulusan pesantren lain. Toh sanadnya juga kemungkinan besar sama-sama bermuara kepada Hadratussyaikh Mbah Kiai Munawwir.

Modelnya seperti simakan Sabtu Wage di Krapyak, berupa pembacaan 2 juz dengan tartil dan estafet, mungkin bisa dilengkapi dengan pengajian kitab tafsir atau lainnya. Lokasi keliling di masjid atau langgar lingkungan masing-masing alumni. Selain sebagai momen silaturahim dan deresan Quran antarhuffadh, juga sebagai media syiar Islam, khususnya syiar Quran wa fahmihi ala santri.

Namun hal ini baru wacana. Sebab mayoritas dari kami masih berkutat di Yogyakarta. Belum 'bali ndeso mbangun ndeso'. Semoga saja bisa terwujud dalam tempo yang tak terlalu lama. Semoga teman-teman huffadh Krapyak asal Tegal-Brebes dikaruniai kemudahan urusan rejeki, kesehatan, maupun keluarga, sehingga cita-cita tersebut bisa terwujud. Atau minimal untuk saat ini, rutinan simakan syawalan bisa terus berlanjut. Aamiin.
___
Sokatengah, Bumijawa
Jumat 22 Juni 2018

No comments:

Powered by Blogger.