Kerja Sosial Wakil Bupati Tegal - Umi Azizah

02:10
Oleh: @ziatuwel

"Dulu saya juga berpikir bahwa politik itu wilayah yang kotor, tapi ternyata banyak hal bisa dikerjakan melalui ranah politik," ungkap Bu Umi Azizah dengan begitu semangat, "Banyak kerja sosial yang bisa dilakukan, misalnya jihad untuk memanfaatkan anggaran daerah dengan sebaik-baiknya."

Jumat malam, 9 Maret 2018 wakil bupati Tegal asli warga desa Tuwel ini menyempatkan diri berkunjung kondangan di kediaman orang tua saya. Dalam kesempatan silaturahim ini beliau banyak menceritakan pengalaman dan pencapaian selama menjabat sebagai orang nomor dua sekabupaten Tegal.

"Saya selalu mengedepankan data dalam setiap perencanaan kebijakan. Misal program jambanisasi, terlaksana atas dasar data yang saya terima. Bahwa di seluruh wilayah kabupaten Tegal ini ada 37.000 rumah yang belum memiliki fasilitas MCK yang layak. Bagaimana tidak sedih melihat nenek-nenek di pelosok Sitail harus tertatih-tatih malam hari ke sungai untuk buang hajat," paparnya.

Saya, istri, bapak, dan ibu menyimak pemaparan beliau dengan seksama. Selain jambanisasi, beliau juga memperhatikan angka kematian ibu dan bayi. Melalui staf-staf ahlinya, beliau menginstruksikan untuk membuat statistik tentang angka kematian ibu dan bayi dan angka kerusakan jalan desa. Ternyata hasil yang ditemukan cukup mencengangkan; angka kerusakan jalan berbanding relatif lurus dengan angka kematian ibu dan bayi. Dengan modal data ini, beliaupun memulai program rabat beton di banyak ruas jalan desa-desa yang terabaikan.

"Saya terharu betul," kata Bu Umi, "Ada satu desa namanya Sigentong di Warureja yang jalannya itu sudah tidak berbentuk. Wis ora kaya dalan, bentuke kaya kali asat. Dan tidak pernah tersentuh program pembangunan ataupun perbaikan jalan sebelum-sebelumnya. Maka kami mulai proyek rabat beton di situ. Selang beberapa waktu, saya coba cek proyek di situ, memang baru jadi separo tapi masyarakat bungahnya luar biasa. Anak-anak berlarian, main sepeda di jalan yang masih belum jadi. Adanya jalan baru itu seakan-akan lebaran buat mereka. Pemandangan itu betul-betul bikin hati saya trenyuh."

Program rabat beton ini kemudian diratakan ke daerah-daerah lain sekabupaten Tegal. Maka praktis, angka kematian ibu dan bayi pun merosot tajam. Peringkat kabupaten Tegal dalam indeks keselamatan ibu dan bayi yang sebelumnya menduduki ranking ke-32 dari 35 kabupaten se-Jawa Tengah, meningkat menjadi ranking 22. Sedangkan dalam indeks kesehatan, Tegal kini menduduki peringkat ke-24 setelah berkubang lama di ranking ke-34 dari 35 kabupaten seprovinsi. Tentu saja kenaikan ranking ini sekedar alat ukur saja, sebab tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas kesehatan, keselamatan, dan kebersihan masyarakat.

Dalam hal kesejahteraan masyarakat ini Bu Umi memang tak main-main. Menurutnya, konsep pembenahan kesejahteraan masyarakat harus integratif. Maksudnya, kita tidak bisa sekedar memperbaiki fasilitas MCK seorang warga namun rumahnya reot tidak layak huni, atau anak-anaknya tidak mendapat akses pendidikan yang memadai. Pembenahan harus integratif.

Jika ada satu keluarga yang terdata tidak memiliki jamban, maka ada program jambanisasi. Kalau ternyata rumahnya tidak layak huni, ada program perbaikan RTLH. Kalau anak-anaknya putus sekolah, ada program Ayo Sekola Maning. Harus lengkap, katanya. Maka dari itu, anggaran untuk RW yang dulu hanya sejumlah 7 juta rupiah, kini ditingkatkan hampir tiga kali lipat menjadi 20 juta rupiah. Bagi Bu Umi, pembenahan yang nanggung hanya akan menghasilkan pembenahan yang tidak efektif. Maka langkah ini disebutnya sebagai 'jihad anggaran' demi kesejahteraan masyarakat.

Integrasi ini juga diterapkan dalam kebijakan penutupan tiga lokalisasi di wilayah kabupaten Tegal yang baru-baru ini diresmikan oleh Bu Umi. Lokalisasi jangan hanya ditutup, tetapi penghuninya juga harus dibina, termasuk pembinaan untuk warga terdampak yang hidup di sekitar lokalisasi. Dari 400-an PSK yang menghuni tiga lokalisasi, terdata 250-an yang bersedia mengikuti program pembinaan. Pembenahan lingkungan bekas lokalisasi tidak hanya digarap aspek manusianya, tetapi juga lingkungan sekitarnya.

Dalam ranah sistem pemerintahan, Bu Umi bersama bupati Enthus Susmono juga berikhtiar untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Di antaranya adalah dengan mempermudah birokrasi berupa program SMS Lapor Bupati. Beliau menyediakan hotline bagi warga masyarakat sebagai kanal aduan langsung kepada pemimpin daerah.

Hasilnya? Aspirasi warga terserap dengan lebih baik sehingga bisa direspon dengan lebih tanggap. Hal ini menjadikan peringkat kabupaten Tegal dalam hal e-government naik dari ranking 32, menjadi ranking 22 pada awal 2017, kemudian naik lagi menduduki peringkat 17 pada awal tahun 2018 ini. Selain mempermudah birokrasi, beliau juga memberantas pungli dan budaya sogok yang sudah membudaya.

"Saya ingat saat pertama kali menjabat sebagai wakil bupati," kenangnya, "Ada bos ikan di wilayah Pantura yang agaknya punya masalah dengan warga sekitar. Dia datang ke kantor untuk mengadukan masalahnya sambil membawa amplop. Tentu saya paham apa maksudnya. Tapi saya juga tahu, dia sendiri sebenarnya juga tidak nyaman menawarkan amplop semacam itu. Saya tolak dan berikan penjelasan sebaik mungkin. Mulai saat itu hal-hal semacam itu kami tiadakan."

"Birokrasi sangat butuh orang-orang muda yang baik. Kalau orang-orangnya baik, insyaallah saya yakin pemerintahan pun akan bersih dan amanah demi kesejahteraan rakyat," ujarnya menutup obrolan kami tepat jam sepuluh malam.

Malam itu Bu Umi didampingi polwan muda yang ditugasi menjadi ajudan beliau selama masa pra-pilkada. Selang beberapa menit setelah keduanya pamitan, ibu saya baru ingat belum membawakan bingkisan sekedarnya buat tamu kondangan kami itu. Maka saya pun segera mengejar mereka di bawah rintik gerimis. Saya pikir tentu saja kendaraan beliau sudah jauh, dan saya harus menyusul sampai kediaman beliau yang berjarak tiga ratus meter dari rumah.

Namun ternyata saya salah. Keduanya tidak naik kendaraan pribadi apapun. Mereka jalan kaki berlindung payung selayaknya ibu-ibu yang pulang kondangan. Saya pun menyerahkan bingkisan itu sambil berkali-kali mohon maaf dan menghaturkan terima kasih. Beliau pun agaknya tak enak hati melihat saya musti berlarian sampai ngos-ngosan.

Didampingi ajudannya, Bu Umi melanjutkan perjalanan pulang di tengah gerimis malam. Sambil menatap siluet mereka dari kejauhan, diam-diam saya haturkan terima kasih atas bakti Anda untuk Tegal, Bu. Jika periode selanjutnya Anda terpilih lagi, semoga bisa mengayomi kami lebih baik lagi.

Jikapun tidak, saya yakin Anda pasti akan tetap mengabdi untuk Tegal dalam ranah yang lain. Sebab sosok seperti Anda tidak akan pernah sudi menghabiskan sisa usia hanya dengan diam tanpa amal bakti.


Tuwel, 16 Maret 2018. Foto: saya, Bu Umi Azizah, adik, istri. Disclaimer: artikel ini bukan dalam rangka kampanye :p

No comments:

Powered by Blogger.