Kalamun dan Malam Pertama Mushthalah Tajwid

09:24
Oleh: @ziatuwel

Malam ini malam pertamaku menemani belajar adik-adik kelas 1 Tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin Kalibening Salatiga. Tiap malam Senin, kami mengaji kitab tipis berjudul Mushthalah Tajwid karangan pendekar Quran asal Semarang, KH. Abdullah Umar.

Beliau adalah ulama besar ahlul Quran, murid dari simbah KH. Arwani Amin Kudus dan KH. Umar Abdul Mannan Mangkuyudan Solo. Di Semarang, beliau membuka pesantren Tahaffuzh Al-Quran yang didedikasikan sebagai kawah candradimuka bagi para penghapal kitab suci.

Peninggalan fenomenal kemasyarakatan beliau yang hingga hari ini masih bisa kita jumpai adalah majlis simakan Al-Quran di Masjid Agung Semarang. Kukira model majlis yang beliau gagas tersebut adalah satu dari sedikit majlis simakan Quran kolosal di Nusantara. Bayangkan saja, penyimaknya penuh seantero masjid.
Namun untuk malam pertama ini, aku bersama adik-adik tsanawiyah belum mulai membahas isi kitab tersebut. Aku mengajak adik-adik terlebih dahulu memaknai syair Kalamun, susunan bait tentang keutamaan Al-Quran. Bait ini akan kami baca tiap usai ngaji kitab Musthalah Tajwid.

Di Krapyak, syair ini biasa dilantunkan bakda maghrib dan bakda subuh menjelang deresan. Syair tersebut kami lantunkan juga di kelas kami sebagai bentuk tabarruk terhadap guru besar Quran Nusantara, simbah Kiai Munawwir Krapyak.

Dalam kelas ini, aku bertekad untuk mengisinya lebih banyak dengan kisah-kisah. Tentunya dengan kisah-kisah nyata berkaitan dengan kemuliaan Quran dan orang-orang soleh. Aku tak ingin adik-adik merasa jenuh dengan teori-teori dan pengetahuan ketajwidan semata. Tujuan formal pembelajaran kelas ini kuniatkan tidak hanya agar mereka paham tajwid dan bernilai bagus saat tes, tidak. Tapi lebih kepada menumbuhkan katresnan kepada Kitab Suci Al-Quran.

Maka dua jam perdana malam inipun kugunakan penuh untuk menjelaskan perihal syair Kalamun. Berikut ini penjelasanku;

كلام قديم لا يمل سماعه
تنزه عن قول وفعل ونية

Kalam Suci (Al-Quran) yang Terdahulu tidaklah membosankan untuk disimak. Bersih dari segala macam ucapan, campur tangan, ataupun bersit hati makhluk.

Tidak akan pernah kita temukan satu hafizh-pun di dunia ini yang merasa bosan terhadap ayat-ayat Quran. Padahal setiap hari mereka mendarasnya, minimal 5-10 juz perhari. Berbeda jika yang didaras itu teks lain, berupa koran, novel, atau ilmu syariah sekalipun. Tidak ada kalam yang bisa membuat orang betah berlama-lama menyimaknya selain Quran yang suci.

Sang wali kelana, KH. Hamim Jazuli alias Gus Miek, konon hobinya adalah menyimak bacaan Quran. Bahkan beliau rela membayar santri untuk membacakan Quran. Sementara beliau duduk asyik menyimaknya. Di kemudian hari, beliau dikenal sebagai pendiri dan penyemarak majlis simakan Al-Quran dimana-mana, bahkan hingga menjadi tradisi di dalam lingkungan Kraton Kesultanan Yogyakarta.

به اشتفي من كل داء ونوره
دليل لقلبي عند جهلي وحيرتي

Dengab Al-Quran, aku mohon kesembuhan dari segala penyakit. Dan cahaya Quran menjadi petunjuk di kala linglung dan bingungku.

Quran bisa menjadi obat bagi segala penyakit zhahir dan batin. Tapi ada syaratnya; satu, asalkan tahu rumus dan ilmunya. Dua, bersih jiwa raga dari maksiat. Dan tiga, yakin semantap-mantapnya.

Hari Rabu tanggal 28 Juni lalu aku mulai mengaji setoran Quran kepada salah seorang paman di Kalibening sini. Tiap bakda Isya aku setoran seperempat juz kepadanya. Beliau adalah hafizh Quran jebolan Betengan (Demak). Hampir tiap malam saat aku datang untuk setor, selalu saja ada tamu 'sowan'.

Memang beliau ini dikenal sebagai orang dengan kemampuan istimewa. Banyak yang mendapatkan jalan solusi permasalahan hidup melalui beliau, khususnya kesembuhan dari beragam penyakit. Dan resep beliau hanya satu; mengistiqamahi Al-Quran.

Pernah juga ada cerita menarik di Krapyak. Ada salah satu santri yang sudah divonis tinggal dua bulan usianya, sebab tumor ganas yang sudah menggerogoti tubuhnya. Setelah sowan ke Romo Yai, ia dianjurkan untuk membaca Quran 40 hari berturut-turut tanpa henti kecuali untuk shalat dan hajat. Belum genap 40 hari, tumornya sudah hilang dan dia masih hidup hingga hari ini.

Tidak hanya penyakit fisik. Quran juga menjadi penyembuh bagi kegalauan batin dan kebuntuan pikiran. Saat banyak permasalahan mendera, sumpek, suntuk, maka mojoklah bersama Quran. Nderes sampai riak pikiran kembali jernih dan amuk jiwa kembali surut.

Bagi pelajar, Quran sangat bisa menajamkan kemampuan nalar berpikir dan mengingat. Kukisahkan riwayat seorang kawan di Krapyak. Santri yang khatam menghapal Quran hanya dalam waktu dua bulan. Ternyata rahasianya cukup 'sederhana'. Sejak usia tujuh tahun, ia diwajibkan orang tuanya untuk membaca Quran (nderes) setiap lepas maghrib hingga isya sebanyak satu juz. Setiap hari!

Maka praktis, dalam sebulan ia khatam Quran satu kali. Satu tahun 12 kali, 10 tahun 120 kali. Hingga usianya 25 maka sudah 20 tahun, berarti sudah 240 kali khataman Quran. Sehingga ketika ia memutuskan untuk menghapal, bacaan-bacaan Quran sudah sangat akrab di mata, lisan dan telinganya. Dua bulan khatam!

فيا ربي متعني بسر حروفه
ونور به قلبي وسمعي ومقلتي

Maka duh Gusti, manntapkan hamba dengan berkah rahasia huruf-huruf Quran. Dan dengan Quran terangi hati, pendengaran, dan penglihatan hamba.

وسهل علي حفظه ثم درسه
بجاه النبي والال ثم الصحابة

Serta mudahkan kami untuk menghapal dan mendarasnya. Hamba bettawasul dengan kedudukan Baginda Nabi Muhammad, keluarga, juga sahabatnya.

Syair Kalamun ini, sebagaimana pernah dijelaskan oleh guruku di Krapyak, Ustadz Abdul Jalil Muhammad, tidak hanya terkenal di kalangan santri Indonesia, di majlis-majlis ta'lim di Mekah juga sering dibacakan. Begitu pula dihapal oleh para santri di Yaman dan Chinguetti/Syinqithi (Mauritania). Bahkan diceritakan bahwa Syaikh Abdul Ghani al-Kousy, seorang sufi yang terkenal dengan suara yang merdu, membaca syair ini tiap malam habis 'isya di salah satu zawiyah di Beirut. Lalu, siapa pengarang syair ini?
Ibn al-'Imad al-Hanbali (w. 1089 H) dalam kitab Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar min Dzahab menjelaskan bahwa syair ini ditulis oleh seorang ulama sufi yang sangat terkenal, Syams al-Din Abu 'Ali Muhammad bin 'Ali bin 'Abdurrahman yang lebih terkenal dengan Ibn 'Iraq al-Dimasyqi. Beliau lahir pada tahun 878 H, melakukan perjalanan thalabul 'ilmi dari Damaskus, Beirut, Mesir, Mekah, Madinah dan lainnya. Wafat pada hari Selasa 14 bulan Shafar 933 H. dan dimakamkan di kuburan Mu'alla atau Ma'la, Mekah.

Naskah asli syair Kalamun hanya terdiri dari tiga bait pertama. Biasanya, setelah tiga bait ini ada beberapa bait tambahan yang bisa saja merupakan tambahan dari beberapa ulama selanjutnya. Sebagaimana yang kami baca di kelas ini, ada tambahan doa untuk dimudahkan menghapal dan memepelajari Quran. Semoga kita mendapat manfaat dan syafaat Quran dan Ahlul Quran. Amin.

___
Kalibening, 8 Juli 2018

No comments:

Powered by Blogger.