ETIKA DAKWAH

08:02
Semangat dalam berdakwah dan ber-amar-makruf-nahi-munkar merupakan nilai akhlak yang agung disisi Allah Ta’ala, karena dengan semua itu eksistensi agama ini bisa tegak, hanya untuk itulah Allah swt. mengutus para utusan dan nabi-Nya. Seandaianya tidak ada semangat dakwah yang dilakukan oleh para dai dan ulama di sepanjang masa, niscaya agama ini hanya akan menjadi sebuah cerita dalam catatan historis anak cucu Adam.

Pemuda yang hatinya cenderung untuk mengajak kebajikan dan mencegah kemungkaran adalah sosok pemuda mulia di sisi Tuhannya, dan dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung sebagaimana telah dijelasakan dalam al-Quran disurat Al-Imran ayat 104,
“dan hendaknya ada diantara kalian golongan yang menyeru pada kebaikan, memerintah pada kebajiakan dan mencegah kemungkaran, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Hanya saja kadang seorang muslim yang begitu bersemangat di dalam membela Islam terjebak untuk membela jati diri dan hawa nafsunya ketika misi dakwahnya berbenturan dengan orang lain, sehingga Islam yang sifatnya agung dan universal menjadi sebuah pemikiran dan misi yang ada pada dirinya.

Ketika hal ini terjadi, berarti dia bukan membela Islam, akan tetapi lebih cenderung membela misi dan pribadinya. Di sinilah letak permasalahan yang dialami oleh para aktifis dakwah ketika berseteru dalam menanggapi masalah-masalah keagamaan, sehingga benturan pemikiran dan fisik kerap terjadi di kalangan ormas-ormas keagamaan.

Dan tidak sedikit yang memakan korban gara-gara semua ini. Masalah Ahmadiyah yang berujung pada insiden Monas misalnya, adalah salah satu contoh dari permasalahan ini, dan masih akan timbul masalah yang kedua dan yang ketiga yang semuanya akan memakan korban dengan atas nama Agama Islam, agama yang membawa kasih sayang.

Hal ini terjadi, menurut pemikir besar Islam Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan al-Buthi, gara-gara para aktifis dakwah melupakan etika dakwah yang sebenarnya, menurutnya ada tiga hal yang harus dipahami oleh para aktifis.

PERTAMA

Dia harus memahami bahwa gerakan dan aktifitas dakwah yang sedang ia lakukan, pada hakekatnya adalah bentuk pengabdian seorang hamba pada Tuhannya, dia melakukan semua ini demi menggapai keridhoan-Nya. Pekerjaan yang dia lakukan bukan karena tuntutan hawa nafsu, bukan karena kepentingan pribadi atau kelompoknya dan bukan untuk menghancurkan atau mengalahkan kelompok lain, dan berharap untuk masuk didalam golongan yang disifati oleh Allah dengan firmanya,
“dan siapa yang lebih baik perkataanya, daripada orang-orang yang mengajak pada Allah dan beramal baik serta berkata aku termasuk orang-orang yang pasrah.” al-Fusshilat ; 33.
KEDUA

Kalau kita masih belum memahami atau sulit untuk melaksanakannya, maka kita harus kembali pada tujuan pokok adanya agama ini. Bukankah perintah dan larangan-larangan Allah diturunkan sebagai bentuk kasih sayang Allah pada semua hamba-hamba-Nya?

Perhatikan apa yang disampaikan oleh seorang ulama besar, Syaikh Izzuddin bin Abdissalam; “Kita tidak akan menemukan di setiap apa yang Allah turunkan berupa perintah atau larangan selain hal yang membawa kemaslahatan atau hal yang mencegah kerusakan manusia itu sendiri.”

Selanjutnya kalau diperhatikan secara seksama akan terutusnya para nabi dan rasul maka kita akan menemukan dengan jelas bahwa semua itu dilakukan oleh Allah sebagai bentuk dari penghormatan Allah dan kasih sayangnya kepada hamba-hamba-Nya. Bukankah Ia yang berfirman tentang Rasulullah SAW; “Aku tidak mengutusmu melainkan sebagai Rahmat untuk alam semesta.”

Kalau semua ini masih belum bisa diterima oleh seorang dai, maka lihatlah bagaimana pribadi sebaik-baik dai, yaitu Rasulullah SAW, dalam berdakwah dan beramar makruf nahi mungkar!

Beliau sama sekali tidak pernah mewarnai aksi-aksinya dengan kekerasan. Perhatikanlah kasus Thaif, beliau bila diminta untuk mendoakan seseorang beliau selalu mendokan dengan rahmat, pengampunan dan hidayah, meskipun yang didoakan adalah orang kafir atau orang yang memusuhinya.

Ketika seorang sahabat datang dan berkata kepada beliau, “Ya Rasulallah sesungguhnya kaum Daus telah berpaling dan ingkar pada kita, maka doakanlah mereka (agar binasa). Rasulullah mengangkat tangan seraya berdoa Ya Allah berikanlah hidayah pada kaum Daus dan datangkanlah pada kami dalam keadaan beriman.” Itulah sikap Rasulullah sendiri, belum lagi sabda dan anjurannya mengenai kasih sayang dan perdamaian.

Peperangan dan Kekerasan dalam Islam

Lihatlah kembali latar belakang peperangan yang terjadi di masa Rasulullah! Para ulama dan fuqaha telah menetapkan bahwa hukum asal dalam berdakwah adalah dengan kasih sayang dan perdamaian, sedangkan peperangan dan kekerasan dilakukan dalam keadaan darurat, yang oleh para fuqaha distilahkan dengan khilaful ashl.

Dan rahmat itu sendiri dalam keadaan tertentu memang menuntut adanya perang. Namun, peperangan dan kekerasan hanya bisa dilakukan ketika kaum muslimin sudah mempunyai kekuatan (Syaukah), seperti ketika Rasulullah setelah hijrah ke Madinah, sebelum itu sedikitpun Rasulullah tidak pernah melakukan aksi yang bersifat fisik.

Semua itu ketika berhadapan dengan orang kafir yang menentang atau menghalangi Dakwah Islamiah, itupun hanya boleh diputuskan oleh imam yang sah. Sedangkan peperangan antara sesama kaum muslimin itu hanya boleh dilakukan bila ada satu kelompok yang menentang pada sebuah pemerintahan yang sah, itupun setelah melalui beberapa proses. Itulah ketentuan umum boleh dan tidaknya seorang dai melakukan aksi fisik dalam dakwahnya.

Adapun masalah memukul, melukai atau menyakiti sesama muslim, islam mempunyai aturan-aturan yang jelas, seperti pemukulan yang dilakukan oleh seorang imam yang menta’zir (menghukum) rakyatnya dengan tujuan agar lebih baik, qishosh itupun setelah melalui proses panjang, seorang guru yang mendidik muridnya itupun dengan syarat tidak melukai atau membuatnya patah. Pemukulan yang dilakukan diluar itu maka hukumnya haram. Apapun bentuk dan alasannya.

Jadi kekerasan dan tindakan anarkis sama sekali tidak mencerminkan ajaran islam. Dari itu Rasulullah SAW bersabda “Lemah lembut pasti akan menyeimbangkan setiap perkara.”

KETIGA

Seorang dai harus meyakini bahwa dakwah yang sedang dia jalani hanyalah melaksanakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada hambanya-hamba-Nya. Dalam artian: seorang dai tidak mempunyai kemampuan untuk memberi hidayah, tidak pula mengubah sebuah sistem kemasyarakatan seperti yang dia kehendaki dan tidak pula menunggu sebuah hasil dari apa yang dia kerjakan.

Akan tetapi dia hanya berusaha mengajak manusia ke jalan Allah sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah. Adapun hasilnya dia pasrahkan kepada Allah. Hal ini bukan berarti kita tidak mempunyai target atau strategi, akan tetapi kita harus menyadari bahwa target utama kita adalah keridhaan Allah. Sehingga seorang dai tidak terkesan memaksakan kehendak yang bukan dalam kemampuannya.

Al-Musnid Al-Habib Umar Bin Hafidz (Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut) dalam salah satu ceramahnya juga pernah berkata, “Tugas dai sejati adalah menanam dengan sebaik mungkin, sedangkan tumbuh dan hasilnya dipasrahkan kepada Allah.”

Hal ini harus diperhatikan oleh seorang aktifis, sebab tidak sedikit dari aktifis islam yang kurang memperhatikan masalah ini, sehingga mereka berusaha melaksanakan sesuatu yang bukan tugasnya bahkan kadang berlanjut pada hal yang tidak semestinya dilakukan. Disnilah letak masalah yang kerap membawa konflik antara ormas islam dengan pemerintah atau ormas sesama ormasnya. Apalagi kadang memaksakan kehendak dengan segala cara yang jelas membahayakan agama dan Negara, seperti meminta bantuan pihak asing dan semacamnya.

Disadur oleh Ziaulhaq
dari tulisan As-Sayyid Hamid Ja’far al-Qadri
peneliti di Lembaga Kajian Islam al-Ghanna, Jakarta

No comments:

Powered by Blogger.