Fans Berat Gus Mus

Sosok shahibul fadhilah al-mukarram KH A. Mustofa Bisri memang top di kalangan santri, bukan berarti kiai-kiai lain tidak top, justru itu, seakan-akan Gus Mus mewakili ke-top-an para kiai. Beliau tidak hanya menjadi sosok kiai yang memang dihormati di kalangan santri, tapi juga sebagai budayawan yang diidolakan, dengan pandangan-pandangannya, dengan syair-syairnya. Khususnya di kalangan santri Krapyak, Yogyakarta.

Salah satu fans Gus Mus ini adalah temen saya, Muhson asal Purbalingga. Suatu hari di malam Jum'at, beberapa minggu lalu, Muhson yang penggemar Power Metal ini menghampiri saya,

"Zi.. Ada Gus Mus di tempat temenku.. Dateng yuk!" ajaknya.

"Beneran Son?! Di mana? Acara apa?" tanyaku antusias.

"Beneran! Di Jalan Paris (Parangtritis). Nih SMS dari temenku.." jawabnya sambil menunjukkan layar HP-nya.

"Son, malem ini ada Gus Mus di tempatku, ceramah pengajian umum. Dateng ya. Ntar ta' siapin gurameh bakar." bunyi SMS itu.

"Wah.. Gimana ya Son.. Pengen sih.. Tapi kan di pondok ada acara.. Ajak yang lain aja deh.." kataku agak bingung.

"Ah.. Yo wes, tapi jangan nyesel ya.." sahut Muhson kecewa.

Setelah merayu-rayu, akhirnya Muhson berhasil mengajak satu teman, Iqbal namanya, anak Brebes. Tanpa banyak cakap, ba'da Isya mereka berdua meluncur dengan Supra-X madul-madul milik Muhson ke tempat yang dimaksud.

Menyusuri jalanan malam sepanjang Jalan Parangtritis. Setelah menempuh jarak sekitar 8 kilometer setelah pom bensin, mereka masuk gang kecil yang berkelak-kelok, gelap. Meski tak pernah kesana, Muhson tetep PD dengan dinavigasi SMS temannya.

"Son.. Kok gak nyampe-nyampe ya?" tanya Iqbal mengusik kesunyian.

"Sabar Bal.. pahalanya tambah banyak.." jawab Muhson, santai.

"Tapi masa' sih Gus Mus ceramah di pelosok begini? Mana gelap, dingin lagi.. Emangnya beneran pengajian umum?" sahut Iqbal, ragu.

"Ya katanya sih begitu.. Lha ya namanya juga kiai yang merakyat, nggak masalah dong.." jawab Muhson, makin santai.

Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka sampai juga di tempat yang dimaksud.

"Aah.. Alhamdulillah sampai juga, Son.." kata Iqbal, penat.

"Iya Bal.. Kangen kita terobati juga.." sahut Muhson, lega.

Mereka saling berpandangan, seperti ingin mengatakan bahwa perjuangan mereka menembus malam tidaklah sia-sia. Terdengar seseorang sedang berbicara di atas panggung. Hanya nampak beberapa puluh orang duduk di depan panggung. Untuk memastikan, Muhson bertanya kepada pengunjung di baris paling belakang,

"Ngapunten Pak, Gus Mus-nya sudah rawuh belum ya?" tanyanya.

"Oh sudah Mas, dari tadi kok, itu beliau di dalam rumah.." jawab Si Bapak.

"Beliau belum ceramah tho Pak?" sambar Iqbal.

"Oh belum, ini masih sambutan-sambutan kok.." jawab Si Bapak, mantap.

Muhson dan Iqbal saling berpandangan, sumringah. Setelah beberapa sambutan berlalu, terdengar ucapan Panatacara yang melegakan;

"Poro rawuh ingkang minulyo.. Menuju acara inti, yakni taushiyyah dan do'a penutup, maka mari kita siapkan hati, simak dengan seksama nasihat-nasihat yang akan al-mukarram sampaikan, semoga akan membekas di hati kita semua, terlaksana di dalam perilaku keseharian kita, aamiin. Untuk itu, dumateng Romo Kiai Haji MUSTOFA IMRON dari Magelang, kami persilakan. Sholluu 'alan Nabii Muhammad!"

Tercengang, Iqbal dan Muhson lagi-lagi saling berpandangan.

"Endi koncomu kae Son!?" tanya Iqbal, agak geram.

"Embuh Bal, kowe pengen Mie Ayam ora? Tak traktir wes.. yuk.." jawab Muhson, gak nyambung.

Muhson dan Iqbal, Dartilovers

Iqbal, !@#!%$!%%^!%!???

Muhson, sok Power Metal

:: Krapyak, November 2011 ::

No comments:

Powered by Blogger.