GURU MURSYID??? APAAN TUH?!

08:56
Bagaimana sih 'Memilih' Guru Mursyid itu???

Di antara Panjenengan saya anggap banyak yang jauh lebih tahu mengenai pembahasan tentang GURU MURSYID atau juga disebut MUROBBIYU AR-RUH, atau SYAIKH AT-TAHKIM.

Bagi temen-temen yang jauh lebih tahu, dan saya yakin banyak di antara Panjenengan yang jauh lebih tahu, tentang perihal MURSYID dengan referensi kitab ulama salaf yang lebih terperinci dan mendalam, atau mungkin dari pengalaman, saya mohon-dengan-sangat agar Panjenengan semua mau menambahi dan berbagi ilmu.

Berikut penjelasan Al-Imam Abdullah Al-Haddad rahimahullah di dalam Kitab “Risaalah Aadaab Suluukil Muriid” perihal SYAIKH (kurang lebihnya, mohon dikoreksi);

Fashlun [BAGIAN KE-17]

Setiap orang yang sedang menapaki jalan menuju kebeningan hati dan kebahagiaan akhirat (selanjutnya, orang seperti ini kita sebut; MURIID) haruslah berupaya keras untuk dapat bersahabat dengan orang-orang yang berperangai baik (Al-Akhyar) dan senantiasa membiasakan diri berkumpul serta bercengkerama dengan orang-orang shalih yang gemar berbuat baik (Al-Abror).

Bukan hanya itu, seorang MURIID juga harus berupaya untuk mendapatkan sosok Guru (Syaikh) yang dapat menunjukkan kepadanya jalan menuju Allah, serta menasihatinya bagaimana menempuh jalan itu. Karena dia tidak akan sampai kepada tujuannya bila tanpa bimbingan Guru.

Adapun kriteria Syaikh yang harus dicari, ditemukan dan dipilihnya adalah;
- Memiliki akhlaq (kepribadian) yang baik, shalih.
- Memiliki pemahaman terhadap Syari’at.
- Menapaki Thariqah (dalam hal ini, maksudnya ia memiliki ketersambungan batiniyah dengan ulama salaf, dalam ilmu maupun amalan).
- Mampu merasakan getaran-getaran batiniyyah murid serta hal-hal yang bersifat hakiki.
- Cerdas Akal dan Hatinya, maksudnya memiliki akal dan hati yang mampu memahami keadaan muridnya, serta memiliki metode yang bagus dan kebijaksanaan dalam membimbing murid-muridnya.

Nah, jika seorang MURIID sepertimu sudah menemukan sosok ulama yang demikian, maka jangan ragu lagi, cepat-cepatlah engkau MENGIKATKAN dirimu dengannya! (karena orang yang memenuhi criteria seperti ini sudah amat sangat jarang).

Lantas perhatikan pula beberapa ADAB berikut ini;

PERTAMA: PATUHI PERINTAH GURUMU

Setelah engkau menjadikannya sebagai Syaikh At-Tahkim (guru yang memberikan keputusan tentang segala hal bagi perjalanan batiniyahmu), maka apapun yang hendak kau perbuat, mintalah pertimbangan dari Sang Guru terlebih dahulu.

Ikuti setiap langkah perilakunya, dan patuhi setiap ucap dan perkataannya. Kecuali terhadap hal-hal yang menjadi peran khusus seorang Guru, seperti berbaur dengan berbagai macam orang untuk berdakwah, baik itu kepada orang yang memang sudah baik atau bahkan kepada orang yang jauh dari Allah.

KEDUA: SELALU BERBAIK SANGKA

Jangan sekali-kali berburuk sangka (su-uddzonn) terhadap Syaikhmu, baik tentang hal-hal yang dzohir maupun hal-hal batin yang tak kasat mata. Jika terlintas di dalam benakmu suatu prasangka buruk tentang Syaikh At-Tahkim, maka cepat-cepatlah tepis segala pemikiran itu, lantas cobalah ganti dengan prasangka baik dengan berbagai alasan-alasan yang baik pula.

Kalau hati masih saja tidak bisa menghilangkan kecurigaan atau prasangka buruk itu, sampai-sampai perasaan seperti ini justru mengganggumu, maka segeralah nyatakan langsung rasa penasaran itu di hadapan Sang Guru dalam satu kesempatan yang khusus, agar kau mendapatkan penjelasan yang gamblang dan lebih mempererat keterikatanmu dengan Syaikhmu.

KETIGA: TAAT DI MANA SAJA

Jangan sampai ketaatanmu kepada Guru hanya sebatas saat engkau berada di hadapannya saja. Sedangkan saat ia tak ada (ghaib), kau justru bermaksiat, melenceng dari perintahnya. Hal seperti ini justru akan sangat mempercepat kehancuran seorang MURIID.

KEEMPAT: JANGAN MENDUA

Jangan menduakan Gurumu. Maksudnya, jangan menumpang arus yang berbeda (dengan mengikuti Syaikh yang lain) dalam perbaikan hatimu, tanpa seijin Syaikh At-Tahkim.

Kalau Syaikh At-Tahkim telah mengijinkanmu, ya silakan, tapi tetaplah jaga hati, jangan pernah mengunggul-unggulkan antara satu guru dengan yang lain, dan tetaplah ta’dzim kepada beliau-beliau.

Nah, kalau Syaikh At-Tahkim tidak mengijinkan, ya jangan berani-berani kau melanggarnya. Kenapa? Karena Gurumu itu lebih tahu tentang kemaslahatanmu di dalam perjalanan batiniyyah ini. Inilah salah satu ‘tugas’ dari Syaikh At-Tahkim; memilihkan pilihan terbaik bagimu.

Untuk itu, ketika Syaikh At-Tahkim tidak mengijinkanmu untuk khidmat, untuk mengikuti arus Syaikh lain, jangan sekali-kali kau berprasangka bahwa Gurumu itu iri (hasud) atau merasa tersaingi. Sungguh, perlindungan Allah selalu meliputi orang-orang yang ‘arif dari hal-hal semacam ini (hasud dan sejenisnya).

KELIMA: JANGAN MEMANDANG KAROMAH DAN MUKASYAFAH

Jangan sekali-kali memandang kemuliaan seorang Syaikh dari Karomahnya (keanehan-keanehan yang luar biasa) ataupun Mukasyafahnya (penerawangan atau penyingkapan hal gaib).

Karena terkadang, ada beberapa MURIID yang mendatangi seorang Syaikh dengan harapan agar keadaan batinnya diterawang oleh Syaikh itu. Namun, Sang Syaikh justru tidak menyingkapkannya, dia berbicara biasa-biasa saja, sama sekali tidak menyinggung tentang hal-hal rahasia dalam diri Si MURIID. Kemudian hal ini menjadikan Si MURIID pergi dan menjadi tidak percaya kepada Syaikh tersebut. Padahal ternyata, Syaikh itu adalah seorang wali.

Asal kau tahu, para wali itu adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam mengunci dan menjaga kerahasiaan hal-hal yang memang rahasia (Al-Asror), serta sangat menjauhi untuk menampakkan Karomah maupun keluarbiasaan-keluarbiasaan (Khowariq).

Kebanyakan Karomah yang terjadi dalam kehidupan para wali, terjadi di luar kehendak wali itu sendiri, bukan kemauan mereka. Adapun, jika Karomah itu memang sudah terlanjur nampak, maka wali tersebut dapat dipastikan akan berwasiat kepada orang yang melihat karomahnya itu, agar jangan sampai menceritakan apa yang dilihatnya selama Sang Wali belum meninggalkan dunia.

Nah, kalaupun ada di antara para wali yang menampakkan Karomahnya dengan kemauan mereka, dengan kesengajaan mereka sendiri, maka hal ini dimaksudkan untuk menjaga suatu maslahat yang jauh lebih rahasia lagi.

KEENAM: JIKA BERJAUHAN DENGAN SYAIKH

Sosok Syaikh At-Tahkim yang paripurna (Al-Kamil) itu bisa selalu membimbing MURIID dengan petuahnya, atau perilakunya, atau penjagaannya baik saat dia hadir ataupun ghaib.

Maksudnya, jika engkau merasa jauh (secara geografis) dari Gurumu, kebetulan kau hendak pergi ke tempat yang berjauhan dengan Sang Guru, maka tetaplah meminta petunjuk darinya terhadap hal-hal yang harus kau lakukan atau hal-hal yang harus kau jauhi dan kau jaga di tempat tujuanmu. Hal ini dimaksudkan agar hubunganmu dengan Syaikh senantiasa erat dan rekat.

Karena, hal yang paling berbahaya bagi seorang MURIID adalah jika perasaan Sang Guru berubah, menjadi tidak ridha kepadanya sebab unturnya keterikatan batin.

Ingatlah! Seorang MURIID tidak akan mendapatkan keberhasilan rohani walaupun ia berguru dari ULAMA manapun di penjuru timur dan barat, jika Syaikh At-Tahkim tidak meridhainya.

KETUJUH: JANGAN SEENAKNYA

Tidak sepatutnya seorang MURIID yang sedang mencari guru, mengaku-ngaku setiap orang yang berpredikat ulama sebagai Syaikh At-Tahkimnya. Sebelum menentukan apakah ulama ini menjadi Syaikh At-Tahkimmu atau bukan, kau harus mengetahui dulu bagaimana keadaan Syaikh itu (sebagaimana dijelaskan tentang kriteria di atas), serta merasakan adanya kecocokan dan kemantapan hati dengan Sang Syaikh. Barulah kau silakan menghadap calon mursyidmu itu.

Dan bagi seorang Syaikh, juga tidak sepatutnya langsung menerima begitu saja keinginan seorang MURIID untuk berguru, kecuali bila sudah nampak dari Si MURIID ini tanda-tanda kesungguhan dalam menapaki jalan penyucian jiwa dan pembersihan hati yang akan menjadi bekal utamanya ‘menuju’ Allah Ta’ala.

KEDELAPAN: SYAIKH AT-TAHKIM DAN SYAIKH AT-TABARRUK

Nah, semua yang sudah diterangkan di atas, adalah sikap SEORANG MURIID KEPADA SYAIKH AT-TAHKIMNYA, yakni harus seperti kepasrahan seonggok jenazah terhadap orang yang memandikannya, atau seperti seorang bayi kecil terhadap ibu yang mengurusnya.

Namun, itu semua tidak berlaku bagi SYAIKH AT-TABARRUK (Guru yang engkau harapkan darinya keberkahan). Jika yang kau maksudkan itu untuk Tabarruk (ngalap keberkahan), baik ilmu, nasihat, maupun doa, bukan untuk Tahkim (menentukan kemana kau akan melangkah), maka silakan ziarahilah ulama sebanyak-banyaknya, kunjungilah para Syaikh di mana saja, untuk mendapatkan bagian keberkahan dari mereka. Hal ini tentu teramat baik.

KESEMBILAN: TIDAK PUNYA MURSYID?

Nah, jika seorang MURIID tidak atau belum dapat menemukan Syaikh, karena berbagai kendala, maka baginya tetap harus bersungguh-sungguh dalam bermunajat kepada Allah Ta’ala dengan mengadukan segala kelemahan, agar dipertemukan dengan sosok Syaikh yang dapat membimbingnya.

Terkadang, sebagian MURIID yang bersungguh-sungguh membersihkan hatinya, menyangka bahwa dia tidak punya mursyid, tidak punya Syaikh At-Tahkim. Padahal sebenarnya ada sosok Syaikh At-Tahkim yang membimbing dan mengawasinya dengan pandangan batin, namun Si MURIID tidak mengetahuinya, tidak melihatnya.

Dan memang, Guru-guru semacam ini, Syaikh-syaikh Muhaqqiquun seperti ini, memang benar-benar ada.

Subhaanallaah...
Mahasuci Allah, Dzat Yang tidak akan menunjukkan Para Wali-Nya melainkan dengan petunjuk dari-Nya. Dan Dialah Dzat Yang tidak akan menyampaikan seorangpun kepada para Wali-Nya kecuali memang orang yang sudah dikehendaki untuk sampai kepada-Nya.

[Wallaahu A’lam wa Ahkam]


al-Habib Umar bin Hafidh bersama muridnya, al-Habib Mundzir al-Musawa

---
Dinukil dari Fashal (bagian) ke-17 Kitab “Risaalah Aadaabu Suluukil Muriid”
Susunan Al-‘Alim Al-‘Allamah Barokatul Anam Quthbul Irsyad wa Ghoutsil Bilad Al-Imam Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad Al-Haddad Al-Hadhrami As-Syafi’i.
dibacakan dalam Jalsah Balagh Ramadhan
Bersama Al-Ustadz Al-Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan Ibni Syaikh Abibakr bin Salim
6-14 Ramadhan 1430 H / 26 Agustus – 3 September 2009 M
Pesantren Al-Fachriyyah, Tangerang, Banten

No comments:

Powered by Blogger.