Kemisan.. was A Legend

08:17
Rasanya tidak salah bila saya sebut Desa Tuwel sebagai Desa Religi, karena suburnya ritual-ritual keagamaan yang tumbuh di kampung itu. Baik ritual yang murni ibadah asli seperti sholat jama'ah, takbir hari raya, maupun ritual adat yang sudah dipenetrasi dengan nilai-nilai Islam sehingga bernilai ibadah, seperti tahlilan, keba, selametan dan sebagainya.

Satu hal lagi yang patut disyukuri dan dipertahankan adalah rimbunnya ritual keagamaan yang bersifat sosial, bukan individual. Hal ini mungkin tak terlepas dari kultur alamiah masyarakat pedesaan, damai. Maka dari itu, menjamurlah organisasi-organisasi ritual (Jam'iyyah) maupun paguyuban-paguyuban keagamaan (Ma'iyyah) di Desa Tuwel.

Coba kita hitung. Bagi bapak-bapak ada Jemuahan, Ahadan, Khataman (bagi pengikut Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah), Kemisan, dan sebagainya. Ibu-ibu juga punya Jemuahan, Ahadan, Rebo Pon, bla bla bla.. banyak! Belum lagi kegiatan-kagiatan di pesantren-pesantren dan langgar-langgar.. buuanyak!

Nah, dalam catatan ini, saya tidak akan mengurai asal mula maupun pola perkembangan ritual-sosial di atas. Hanya satu yang saya bicarakan, satu yang berkesan di hati saya, satu yang saya ikuti sejak masih ingusan, satu yang sayangnya sudah menjadi legenda, yakni Kemisan.

Kemisan adalah satu bentuk paguyuban yang 'terbit' dari rasa kebersamaan (Ma'iyyah), berhasil bertahan selama belasan tahun, dan 'surup' tenggelam beberapa saat setelah direformasi menjadi organisasi struktural (Jam'yyah). Sayang sekali.

Awalnya, paguyuban ini diikuti oleh bapak-bapak di wilayah Keseran, salah satu dusun di Desa Tuwel, entah tahun berapa saya belum tahu. Sebelum saya lahir, bapak saya sudah ikut Kemisan. Jadi saya ikut kemisan karena diajak bapak sejak kecil. Setelah melewati masa perkembangannya, Kemisan didominasi oleh kaum muda Keseran, dari 120 an anggota, 30% adalah anak-anak, 30% remaja, 30% pemuda, dan 10% orang tua.

Kemisan diadakan setiap hari Rabu Malam ba'da 'Isya, sekitar pukul delapan sampai setengah sepuluh malam berkeliling ke rumah-rumah anggota. Protokol acaranya; Pembukaan, Tilawatul Quran, Lantunan Sholawat, Sambutan Shohibul Bayt, Taushiyah, dan Tahlil, diakhiri makan bersama. Setiap anggota Kemisan, diharuskan pernah mendapat bagian pengisi acara, apakah menjadi protokol, pembaca al-Quran, pelantun sholawat, penceramah, atau pemimpin tahlil.

Dalam momen-momen tertentu, Kemisan juga sering mengadakan acara, baik itu penyembelihan hewan qurban, memeriahkan harihari besar Islam, sampai ziarah Walisongo keliling Jawa.

Nah, bagi saya, yang dimiliki oleh Kemisan hanyalah satu hal saja, yakni Manfaat. Karena di sana anak-anak bisa berlatih 'berbicara' di depan publik, berlatih merancang sesuatu, dan tentunya, berdzikir serta bersosialisasi. Ibaratnya, dari tujuh hari dalam seminggu, malam Kamis merupakan arena refreshing atau hiburan bagi anak-anak muda Keseran, bisa berkumpul, berdzikir, dan ngobrol bebas, apalagi ada jajan dan rokok gratis. Menyenangkan.
Pemuda Keseran di Puncak Gunung Slamet, 2007


Dari paguyuban-paguyuban non-formal semacam inilah, sebenarnya, tumbuh pemuda-pemuda yang cemerlang dengan kapasitasnya masing-masing untuk bisa memberi manfaat lingkungan sekitarnya. Diskusi-diskusi sederhana tentang desa, tentang bola, tentang apa saja. Ya lumayanlah, daripada sekedar gaple. Apalagi jika saya membayangkan kelak punya anak, pasti kegiatan semacam Kemisan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak saya.

Namun sayang, setelah belasan tahun bertahan, Ma'iyyah Kemisan bubar, meski secara de jure (hitam di atas putih) tidak ada pernyataan bubar, tapi de facto  sudah tak ada lagi geliat kegiatan Kemisan di Keseran. Peninggalan berupa karpet entah kemana, radio tape besar juga entah kemana, sedangkan rebana (empat biji dan satu bas) ada di tempat saya.

Ironisnya, saya ingat betul, luruh tenggelamnya Kemisan dimulai tepat setelah diadakannya Reformasi yang dimaksudkan untuk memajukan Kemisan itu sendiri. Malam itu, Reformasi dihadiri oleh sesepuh-sesepuh pionir Kemisan di masa lalu, beserta seluruh anggotanya.

Agenda Reformasinya adalah untuk menghidupkan kembali Kemisan atau revive, Kemisan tidak sekedar menjadi ma'iyyah tetapi juga dijadikan sebagai jam'iyyah yang secara struktural memiliki kedudukan-kedudukan formal organisasi. Ada dewan ini, dewan itu, seksi ini seksi itu, macam-macam. Pada saat itu juga dipilih ketua baru untuk memimpin Kemisan, sosok yang dianggap kredibel dan kompeten untuk memajukan Kemisan.

Tapi ternyata?
(Sebenarnya harus ada pertanyaan "kenapa?" dan jawaban "karena" di bagian ini, tapi saya wegah membahasnya)

Namun sedulur, secara pribadi, saya menganggap Kemisan tidaklah mati, dia hanya sedang tidur dalam jangka waktu yang lama, hibernasi, menunggu untuk dibangunkan oleh kita, bersama.

Jujur saja, saya rindu Kemisan. Kalau Anda, bagaimana?

---

:: Krapyak, Malam Purnama, November 2011 ::

No comments:

Powered by Blogger.