MEREBUT PALESTINA

08:34
PENGANTAR

Tidak ada yang menyangkal, bahwa kekalahan Umat Islam dari pasukan Salib pada akhir abad 5 Hijriyah merupakan salah satu tragedi terbesar yang dialami oleh kaum Muslim! Tepatnya pada tahun 491 H / 1097 M Tentara Salib berhasil menguasai Anthakiyyah dan terus melakukan serbuan sehingga berhasil merebut Baitul Maqdis (Palestina) pada tahun 492 H / 1098 M.

Di setiap desa dan kota yang dilalui, pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap penduduk dengan cara yang sangat keji, kuda-kuda yang mereka tunggangi berlumuran darah korban-korban pembantaian, laki-laki, wanita maupun anak-anak! Semua peristiwa ini terjadi saat mayoritas masyarakat Muslim terlena dengan pertikaian dan perselisihan antara mereka sendiri!

Namun lebih dari menangisi sebuah tragedi, kita dituntut untuk merenung lebih jauh, faktor apa yang membuat khairu ummah (umat terbaik) ini bisa terpuruk, bahkan tidak berdaya sedikitpun saat menghadapi serangan Salibis itu. Kesimpulannya, tentu ada sesuatu yang tidak beres dengan umat ini, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas terdahulu (as-salafus-shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan, baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat biasa.

Namun fakta sejarah berbicara, sekitar 90 tahun kemudian, tampillah Shalahuddin yang memimpin pasukannya merebut Hitthin sebagai pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi??? Apakah Shalahuddin Al-Ayyubi ini adalah sosok utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat??? Apakah dia adalah seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya??? Jawabannya tentu; TIDAK! Shalahuddin ‘hanya’ seorang anak didik Nuruddin Zanki yang sudah mempersiapkan mimbar baru untuk Masjidil Aqsha jauh sebelum itu.

Di sisi lain, sejarah tidak akan dan tidak boleh melupakan karya serta peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti Al-Ghazzali, Abdulqadir Al-Jaylani, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dan sederetan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat. Mereka berhasil mengikis virus-virus yang menggerogoti imunitas internal umat, yakni; hegemoni filsafat, aliran kebatinan, dikotomi antara fiqih dan tasawuf, serta ekstrimisme madzhab yang dianut.

Sebelumnya, umat Islam semakin jauh meninggalkan sunnah Nabi saw. serta para shahabat terkemuka terutama Khulafaur Rasyidin. Perpecahan di antara kelompok madzhab memicu pertikaian antar penganutnya yang berakibat pada merosotnya kekuatan dan izzah Islam di mata kaum kuffar. Mengetahui hal yang demikian, pasukan Salib menyerang dan membantai kaum Muslimin yang sudah koyak dengan adanya perpecahan di tubuh internal agamanya sendiri.

Pencaplokan Palestina dan daerah-daerah lainnya bukannya membuat para Sultan sadar akan penderitaan dan bahaya yang ada, malah memperburuknya dengan hanya memikirkan masalah kesenangan dan nafsu pribadi. Mereka memperkaya diri dengan pungutan pajak yang tinggi yang menyengsarakan rakyat dan mereka bangga serta lalai dengan gelimang kemewahan harta yang sebagiannya diperoleh dengan cara yang dzolim.

Sementara rakyat mengalami kesengsaraan dan ketakutan serta kelaparan yang dahsyat hingga ada yang harus memakan daging bangkai saudaranya sendiri yang mati dan bahkan akibatnya muncul para kanibal dari Sudan yang biasa mencari korban orang-orang yang masih hidup. Mereka membantai dan memakannya ramai-ramai. Inilah sekelumit gambaran masa Islam saat para pemimpinnya begitu silau dengan harta dan kekuasaan sehingga semakin jauh meninggalkan Al-Quran dan Sunnah Nabinya, akibatnya, mereka menjadi rusak dan meninggalkan rakyatnya yang menderita.

Alhamdulillah, muncullah Imam Al-Ghazzali yang dengan akhlak, ilmu dan kecerdasannya, mampu menyatukan perpecahan madzhab yang terjadi sehingga mampu menyadarkan para tokoh dan penganut madzhab serta mengembalikan kondisi menjadi lebih baik. Selain usaha dan ilmu yang beliau ajarkan, curahan kecerdasannya menghasilkan karya-karya yang dengan izin Allah menyadarkan para penguasa, filosof, sufi sesat, serta kelompok ulama su’ atau ulama duniawi yang dengan ilmunya hanya bertujuan mencari simpati penguasa dan harta serta jabatan.

Disusul dengan Syaikh ‘Abdulqadir Al-Jaylani yang sedikitnya mengenyam ilmu Al-Ghazzali melalui guru-gurunya. Beliau pun ikut andil dalam membuat perubahan besar terhadap Islah bagi kaum muslimin yang pada saat itu pun masih mengalami keterpurukan. Maka dari sinilah, rantai Islah mulai padu dengan munculnya tokoh-tokoh ‘penguasa’ yang sadar akan pentingnya Islah seperti Sultan Nuruddin Zanki dan diteruskan oleh putra angkatnya yakni Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, di mana dia telah membuat kemenangan besar dengan menebas tuntas kaum Salib yang menguasai Palestina dan merebut kembali Masjidil Aqsha.

Dalam buku Hakadza Dzaharu Jil Shalahiddin wa Hakadza ‘Aadat al Quds susunan Dr. Majid Irsan Al-Kilani, kemenangan itu digambarkan sebagai berikut;

…Pertempuran pun berkecamuk dengan begitu sengitnya. Pasukan Muslim menyerbu dengan gigih demi meraih balasan surga dan mati syahid. Akhirnya mereka berhasil memasuki kota suci Baitul Maqdis dengan penuh gema takbir ALLAHU AKBAR dan tahlil LAA ILAAHA ILLALLAAH! Gelombang pasukan Muslim bergerak dengan pasti menuju Masjid Al-Aqsha yang telah bebas lalu membersihkannya dari segala noda dan kotoran yang ditinggalkan oleh kaum Salib.

Saat kaum muslimin melaksanakan Shalat Jum’at pertama, masjid begitu sesak dan mereka tidak kuasa menahan cucuran air mata karena haru. Shalahuddin Al-Ayyubi meminta Ibn Az-Zaki As-Syafi’i (pengikut madzhab Imam Syafi’i) untuk menyampaikan khutbah Jum’at, beliau membuka khutbahnya dengan mengutip firman Allah swt.:

“Maka orang-orang yang dzolim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Surah Al-An’am: 45)

Setelah melaksanakan shalat Jum’at, Shalahuddin memohon kepada Ibn Naja’ Al-Qadiri Al-Hambali (murid Syaikh Abdulqadir Al-Jaylani serta pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal) untuk menyampaikan mau’idzah (wejangan) penyemangat umat, dan saat itu, banyaklah orang yang tidak sanggup menahan cucuran air mata mereka…

Pada artikel selanjutnya, kita akan melihat, apa sih penyebab keterpurukan Umat Islam di masa itu? Lantas bagaimana kondisi tsaqafah islamiyah (intelektualitas islam) waktu itu? Apa penyakit-penyakit yang menjangkiti umat? Apa obatnya? Siapa saja yang menjadi ‘dokternya’? Dan bagaimana menghimpun seluruh unsur umat Islam sehingga dapat bersatu merebut Kejayaan Islam???

…bersambung…

Diringkas dari buku Hakadza Dzaharu Jil Shalahiddin wa Hakadza ‘Aadat al Quds susunan Dr. Majid Irsan Al-Kilani.

No comments:

Powered by Blogger.