Muhasabah Umur

08:30
KELAHIRAN

Hari itu, kau disambut dengan ribuan buncah senyuman manusia..
Hari itulah kau dilahirkan, hari ketika keadaanmu, hati maupun jasadmu suci dari segala kotoran dan dosa-dosa… bandingkan dengan keadaanmu kini…

Kau ditimang Bundamu dengan penuh kasih sayang, Ayahmu kumandangkan adzan di telinga kananmu dan iqamah di telinga kirimu, mereka berharap kelak kau akan menjadi seseorang yang teguh menyambut seruan adzan, seorang yang teguh mendirikan shalat, namun kenyataannya… lihatlah keadaan dirimu kini…

Kau dilahirkan bukan atas kehendak Ayah-Bundamu! Kau terlahir di muka bumi bukan karena kehendakmu sendiri! Kau dilahirkan di dunia ini bukan tanpa tujuan kehidupan!

Sungguh, kau hanyalah satu sel dari jutaan sel yang terkumpul dalam beberapa tetes cairan kental, cairan yang mengalir dari dahsyatnya birahi manusia sebelummu. Jutaan sel itu berasal dari sulbi Ayahmu, tiada pernah di dalam benak Ayahmu untuk mewujudkanmu…

Lalu Jutaan sel itu bertebaran di dalam rahim Bundamu, semua sel berjuang mencapai kehidupan alam rahim, lalu apa yang terjadi? Tahukah engkau apa yang terjadi?

Jutaan sel itu gagal semuanya, mereka semua mati dan terbuang, sel-sel itu mati dan terbuang kecuali hanya satu sel yang berhasil selamat ke alam rahim, hanya satu sel yang diizinkan Allah untuk bertahan hidup, hanya satu sel yang diizinkan membuahi sel telur dalam rahim Bundamu…

kemudian Allah jadikan sel itu gumpalan darah, Allah bentuk gumpalan darah itu menjadi gumpalan daging, dan seterusnya sehingga terbentuklah sesosok makhluk kecil tak berdaya… sesosok makhluk kecil tak bernyawa… sesosok makhluk kecil yang akan mengotori bumi dengan dosa-dosanya… sesosok makhluk kecil yang akan mendurhakai rahim Bunda yang mengandungnya… sesosok makhluk kecil yang melupakan proses penciptaannya…

ITULAH AKU DAN ENGKAU, ITULAH DIRIMU… engkaulah satu-satunya sel yang berhasil selamat dari jutaan sel saudaramu yang musnah di alam rahim…

Sungguh, tidaklah kau dilahirkan di dunia ini melainkan dengan sebuah tujuan… tidaklah kau diciptakan, tidaklah kau diizinkan selamat di alam rahim melainkan dibekali satu beban dan tanggung jawab…
Maka saudaraku, tetapkanlah tujuan hidupmu… perhatikanlah amanat dan tanggung jawabmu…


PERPISAHAN

Setelah sekian tahun kau hidup… betapa indahnya masa-masa naungan Ayah-Bunda… kau diasuh dengan asuhan yang terbaik dari keduanya, dididik, dicukupkan semua kebutuhanmu, diajari bermacam kata dan di antara keduanya kau merasakan kehangatan cinta…

Bundamu mendekapmu, ia menitikkan air mata saat kau dilahirkan… ia begitu bahagia saat menatap wajahmu pertama kali di pangkuannya, senyumnya begitu tulus…

Kemudian Bundamu mendekapmu, ia menitikkan air mata saat tubuhmu panas, badanmu lemah, ia khawatir saat engkau sakit… ia menangis tersedu melihat sakitmu yang semakin parah… ia menjagamu dengan sepenuh jiwanya.. berapapun waktu dan biaya tak dipedulikannya… ingatlah tangisan Bundamu saat itu… rasakanlah kepedihan hati Bundamu saat itu… kini, ketika kau dewasa… Bundamu pun merasakan perih, melihat buah hatinya membentaknya, hati Bundamu terluka, melihat buah hati yang dilindunginya durhaka…

Mengapa hanya karena masalah sepele kau membentak Bundamu..???
Mengapa hanya karena keinginanmu yang tak terpenuhi kau mendiamkan Bundamu…???
Mengapa saat Bundamu lemah kau tinggalkan ia demi kepentinganmu…???
Mengapa kau bentak Bundamu saat ia bertutur halus kepadamu…???

Tak ingatkah kau akan belaian cintanya saat kau terlelap tidur ketika kau masih belia? Tak ingatkah kau akan tutur halusnya saat kau berulah dengan kenakalanmu??? Tak ingatkah kau akan setiap bulir keringatnya saat ia menggendongmu kemanapun ia pergi…

sungguh, bila kau tidak dicintai Bundamu, kau tidak akan menjadi manusia saat ini! mungkin kau sudah menjadi janin-janin malang yang mati diaborsi! mungkin kau tidak akan ada di sini saat ini!
Lalu mengapa kau tak mau tunduk bersimpuh di hadapan Bundamu???

Apakah benar kau mencintai Bundamu???

Renungkanlah satu hari, di hari itu, kau pulang dari peraduanmu… sampai di halaman rumah, kau jumpai kerumunan tetangga berwajah sendu… berkumpul di ruang tamumu… kau masuk ke dalam penuh dengan tanda tanya, ada apa ini?

Di ruangan itu, kau melihat sebuah dipan dibentangkan, di atasnya terbujur sesosok tubuh manusia, ia terbungkus kain putih bersih di sekujur tubuhnya, tertutup rapat…

Kau melangkahkan kakimu dengan gemetar, mendekat dan terus mendekat…
Tak ada yang berkata-kata… semua hening tanpa suara…

Kau arahkan pandanganmu ke wajah sosok mayat itu, sambil kedua tanganmu menyingkap ikatan kain kafan di wajahnya…

Ketika kafan terbuka, ketika wajah keriput itu terlihat… kini kau tahu… itulah wajah yang tersenyum tulus saat kau lahir dengan tangisanmu, itulah wajah yang cemberut saat kau berulah dengan kenakalanmu, itulah wajah yang mencium dahimu saat pertama kau beranjak sekolah, itulah wajah yang tertawa gembira saat melihatmu melangkahkan kaki-kaki kecilmu,… itulah wajah yang pernah menangis karena bentakanmu… itulah wajah yang basah dengan air mata untuk mendoakan kebaikan bagimu… itulah wajah yang tak kau pedulikan saat sakit dideritanya... ya, ITULAH WAJAH BUNDAMU…

Kini dia tak lagi bisa memelukmu, tangannya kaku…
Kini tak lagi ia bisa menggendongmu, kaki-kaki tuanya pun kaku…
Kini dia tak bisa lagi menciummu, dia tak bisa lagi menghardikmu, dia tak bisa lagi mengomelimu, di tak bisa lagi cerewet padamu… Puaskah engkau kini???!!!

Tak bisa lagi kau mencium telapak kakinya… tak ada lagi untaian doa mustajab yang bisa kau pinta… tak ada lagi senyum gembira saat kau pulang ke rumah itu…



Jika kau seorang lelaki, maka kau akan merasakan betapa berat tanggung jawab seorang Ayah, kau akan tahu, setiap keriput di wajah seorang Ayah adalah cintanya untuk keluarga… setiap keringat yang tercucur dari tubuhnya adalah perjuangan bagimu…

Jika kau seorang lelaki, maka kau akan merasakan, betapa bahagianya melihat sang buah hati menyambut riang ayahnya, ketika ia pulang dengan penat menggelayuti bahunya…

Jika kau seorang lelaki, kau akan merasakan betapa bahagia seorang Ayah melihat buah hatinya tumbuh sehat, cerdas, tangkas dan sukses dalam kehidupannya…

Jika kau seorang lelaki, kau akan merasakan betapa perihnya hati Ayah saat melihat buah hatinya tak lagi sudi mendengar suara serak sang Ayah…

Kau akan merasakan, betapa perih hati Ayah melihat buah hatinya tak lagi sudi mencium tangan keriput Ayah…

Kau akan merasakan, betapa sedih hati Ayah melihat buah hatinya lantang tak lagi sudi menatap wajah tua Sang Ayah…

Jika kau seorang lelaki…

kali ini yang kau temukan bukanlah jasad Bundamu, melainkan jasad kaku Ayahmu…
Lantas kau gendong jasad Ayahmu mamasuki liang kuburnya… bukankah kau ingat saat dia menggendongmu dulu ke ranjang goyangmu… dia tersenyum saat itu… namun kini kau menangis…

Kemudian kau buka penutup kafannya, lantas kau kumandangkan adzan di telinga Ayahmu di dalam liang kubur itu… bukankah kau ingat saat Ayahmu mendendangkan irama surga itu di telingamu… saat pertama kali kau hadir di alam dunia… kini giliranmu kumandangkan adzan di telinga Ayahmu…

Lalu kau palingkan muka Ayahmu, ciumkan wajah keriputnya ke dinding kubur… lantas kau tinggalkan dia sendiri, padahal Ayahmu tak pernah meninggalkanmu saat kau ketakutan sendiri… kini kau campakkan jasad Ayahmu di liang kubur sendiri…

Kini kau campakkan jasad Bundamu di liang itu sendiri…
Kini kau timbun jasad rahim yang mengandungmu…
Kau tumpahkan tanah-demi-tanah menimbun jasad lelah Ayah-Bundamu…
Kau pendam jasad Ayah-Bunda yang dulu menimang-nimangmu…
Tak ada lagi tangan seorang Ayah untuk kau cium, tak ada lagi doa Bunda yang bisa kau pinta…

Tak ada… tak ada…




PERJALANAN HIDUP

Kini kau menjadi seorang manusia… menjalani kehidupan sebagai seorang hamba…

Kau memiliki mulut, tangan, kaki, mata, hidung, telinga, perut, kemaluan, pikiran dan jiwa, maka pantaslah kau disebut manusia…

Allah Ta’ala sampaikan, “Tidaklah Aku ciptakan JIN dan MANUSIA melainkan untuk mengabdi kepadaKu…”
Bukankah ini berarti, jika JIN dan MANUSIA itu tak benar-benar mengabdi kepadaNya, berarti tak pantas ia disebut JIN ataupun MANUSIA… bukankah demikian???

Kita telah berpantas untuk menjadi manusia, namun sudahkah kau pantas disebut “manusia”?

Kau memang memiliki tangan… namun tangan ini penuh dengan kotoran-kotoran haram… penuh dengan noda-noda kemaksiatan… ternoda dengan harta yang seharusnya menjadi milik mereka yang berhak… tanganmu tak kau gunakan untuk mengabdi padaNya… sungguh saat itu tanganmu menangis…

Kau memang memiliki kaki… namun kakimu kau langkahkan untuk menyumpal hatimu dengan dunia, kau gunakan kaki itu untuk berjingkrak memenuhi hawa nafsu, kakimu tak kau gunakan untuk mengabdi padaNya, sungguh saat itu kakimu menangis…

Kau memang memiliki mata, namun matamu kau pandangkan kepada aurat, kau pandangkan kepada aib saudaramu, kau pandangkan dengan pandangan hasud dan dengki, tak kau pandangkan kepada ayat-ayat Allah, matamu tak kau gunakan untuk mengabdi padaNya...

Kau memang memiliki mulut dan telinga, namun ucapanmu hanyalah cerca dan celaan, omong kosong tak berguna, Allah tak menjadi pembicaraan bagimu, Rasulullah tak menjadi buah bibir bagimu… kau penuhi lisanmu itu dengan caci dan ghibah, kau kunyah daging dan darah saudaramu dengan mulutmu itu, lihatlah kini, mulutmu penuh lumuran darah saudaramu sendiri, maukah kau dibangkitkan di hadapan Allah dalam keadaan mulut berlumur darah??? Kau tak pernah dengarkan nasihat dan ungkapan cinta dari Allah dengan telingamu, ya, mungkin kau pernah mendengarnya, namun tak pernah merasuk dalam kalbumu… mulut dan telingamu tak kau gunakan untuk mengabdi padaNya, sungguh saat itu mulut dan telingamu pun menangis…

kau biarkan masa mudamu berlalu begitu saja, bukankah para salaf meraih derajat yang tinggi di sisi Allah dengan perjuangan mereka di masa mudanya??? Bukankah masa muda adalah harta karun yang hanya kau dapatkan sekali seumur hidupmu…???

Lantas, bagaimana perlakuanmu terhadap harta yang berharga ini?? Masya—Allah! Siang kau lalaikan Allah, siang hari kau sibuk bercanda, siang hari tak kau sempatkan untuk memujiNya, siang hari kau sibukkan waktumu dengan dunia… sedangkan malamnya, kau mendengkur dibuai mimpi, malamnya, ketika Sang Pencipa menjemputmu di langit dunia tuk tunjukkan betapa besar cintanya, kau masih mendengkur terlelap dalam keadaan lelah setelah seharian tenggelam dalam hiruk pikuk dunia…

Tidakkah kau ingat siapa yang menciptakan dunia? Tidakkah kau ingat siapa yang mengizinkanmu berhasil bertahan hidup di alam rahim? Tidakkah kau ingat itu semua?? Lantas mengapa kau melupakan Allah di saat Dia mengunjungimu???

Sungguh, hatimu akan hancur bila cintamu ditolak oleh kekasih yang kau cinta, lantas kau pun tak bersemangat menjalani hari-harimu, sakit di hatimu akan terus terasa saat kau teringat kekasihmu itu…

Maka, duhai saudaraku, renungkanlah di saat kau menghadap Allah dengan amalanmu yang banyak, dengan dzikirmu, dengan shalatmu, dengan sedekahmu, dengan dakwahmu, dengan puasamu, namun ternyata, di saat itu, satu-satunya Dzat yang kau harapkan cintaNya saat itu, MENOLAKMU, bayangkan jika Allah menolak segala amalmu, lantas kepada siapa kau akan mengadu? Kepada siapa kau akan bernaung jika Sang Maharaja sudah menolak persembahanmu???

Sungguh, penolakan yang paling menyakitkan hati adalah penolakan dari Sang Pencipta, penolakan dari Allah, hatimu akan hancur ketika mendapatkan keputusan bahwa kau ditolak oleh Allah!!! Kau akan merasakan sakit hati terparah yang belum kau rasakan sebelumya!!! Sakit hati yang akan berlangsung selamanya!!! Sakit hati yang tidak berujung, sakit hati yang tak akan pernah sembuh… kau akan menyesal, mengapa kau tidak menyambut cinta Allah di sepertiga malam terakhir? Mengapa kau tidak sambut cinta Ilahi di waktu sahur yang mulia!! Mengapa kau campakkan cinta Allah dengan kesibukan-kesibukan duniawi!!???

Yaa Allaaahh… terimalah cintaku….

Begitulah kau lalui hari-harimu dengan kesia-siaan hingga masa tua menjemputmu, meninggalkan masa muda yang kau sesali, masa muda yang tak membuahkan bekal akhirat…

Kau menjalani masa tua tanpa mengenal Hakikat Kehidupan… karena masa mudamu kau habiskan tuk mengumpulkan harta, mempersiapkan masa pensiunmu… tapi mengapa, kau tak persiapkan masa pensiunmu di alam kubur??? Sungguh! Kematian adalah masa PENSIUN yang sebenarnya!! Mengapa tak kau persiapkan bekal untuk itu???

KEMATIAN

Ketika Sang Pemutus Kenikmatan datang menjemputmu, kau tak memiliki persiapan apapun, kau hanya memiliki tangan, kaki, mulut, telinga dan segala pikiran yang berlumur dosa…

Kau hanya bisa mengerang saat Sang Izrail mencabut ruhmu, ruh yang ditiupkan Allah bertahun-tahun lalu ke dalam jasadmu, ruh yang memasuki jasadmu dalam keadaan suci, dan kini keluar dalam keadaan kotor penuh maksiat…

Andaikan saat itu ditunda… namun saat itu tak akan pernah tertunda…
Kau hanya bisa terpaku saat sanak-kerabatmu membersihkan tubuhmu dari kotoran ragawi, membungkus jasadmu dengan kafan, menyolatimu lalu berarak mengantarmu ke pusaramu, pusara yang kan kau diami sendiri…

Penutup wajahmu dibuka, di saat terakhir kau meninggalkan dunia, kau mendengar suara yang persis seperti suara yang kau dengar ketika pertama kali memasuki alam dunia, ya, suara Adzan… suara yang kau abaikan ketika hidup, suara yang kau remehkan di kala muda, suara yang kau sepelekan di masa tua, dan kini menyambutmu di akhir masamu…

ALLAHU AKBAR (Kumandang Adzan)…

Wajahmu dibuka, diciumkan ke dinding kubur, ditutup tubuhmu dengan papan-papan penyangga, lantas kau dipendam… pendaman kuburmu pun harus dalam, agar tak ada yang bisa mencium bau busukmu saat jasadmu membangkai kelak, agar bau busuk yang dahsyat kelak tak tercium dan mengganggu manusia lain yang masih belum jadi bangkai sepertimu…

engkau akan sendiri, tak ada teman terdekat sekalipun yang mau menemani di kuburmu, tak satupun dari mereka mau peduli terhadap hewan tanah yg menggerogotimu, lalu hewan tanah akan menggerogoti tubuhmu sedikit demi sedikit, masuk ke dalam hidungmu, telingamu, mulutmu, semua lubang di tubuhmu…

hewan-hewan tanah itu, cacing, belatung, kelabang, semuanya berkeliaran di paru-parumu, dan mungkin menjadikan otak di kepalamu sebagai tempat bertelur. Lalu kau akan habis menjadi tulang, lalu habis lebur menjadi tanah.., musnah.., tak lagi terlihat bentuk ini, tak lagi ada suara ini, suara yang kau banggakan… tak ada lagi wujud ini, rupa kecantikan yang kau banggakan… semua habislah sudah begitu saja….

Entah bagaimana nasibmu kelak di hari kebangkitan…

Wahai Saudaraku, ingatlah bahwa maut membayangimu lebih dekat dari bayanganmu sendiri, dan ingatlah bahwa satu hela nafasmu adalah selangkah lebih dekat menuju AJAL.


MUNAJAT KERINDUAN (by; Habib Munzir Almusawa)

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillaah.. was-shalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah…

Ketika malam telah larut, alam pikiranku melayang mengembara ke arah kegelapan malam, pikiranku menerawang ke sebuah kuburan yang kaku, gundukan tanah merah yang dingin, perut bumi yang menjadi kediamanku kelak, di dalamnya tak lain cacing dan serangga pemakan bangkai, tubuhku yang tak mampu menepis binatang yang menggerogotiku dan menjadikan tubuhku sarang dan tempat bertelur...

Alangkah tak berdayanya tubuh ini, sahabatku meninggalkanku, anak istriku meninggalkanku, orangtuaku meninggalkanku, semua orang yang kukenal melupakanku, mereka tak mau ikut mati bersamaku, mereka tak mau tahu lagi apa yang menimpaku dikuburku, mereka tak mau walau hanya menepiskan cacing yang menggerogoti tubuhku...

Mereka tak perduli lagi tubuhku membusuk sedikit demi sedikit, hingga tubuhku hancur dan berbau, hingga tubuhku menjadi tulang, lalu habis musnah menjadi tanah, kemana aku akan pergi? Saat itu ruhku akan melayang memenuhi panggilan Penciptaku.

Wahai Allah, tak ada selain-Mu, Engkaulah yang akan menepiskan semua serangga yang mendekati tubuhku, akan Kau jaga tubuhku yang masuk dalam perut bumi, Engkau mendengar jeritan hatiku yang merindukan-Mu, maka dengarlah Wahai Yang menciptakan harapan, Wahai Yang menciptakan segala kerinduan, Wahai Yang menciptakan keinginan untuk mengadu, kulontarkan kalimat yang kini hampir memecahkan kalbuku, Aku tak mempunyai selain-Mu untuk mengadu, untuk menolong, untuk memberi, untuk diharapkan, untuk bergerak, untuk bernafas, untuk berucap, untuk bersuara, untuk mendengar, untuk melihat, untuk melangkah, untuk bergerak, untuk berfikir, untuk makan, untuk minum, untuk tersenyum, untuk bergembira, untuk segala-galanya, selain Engkau.

Semua yang kumiliki, dan yang tak kumilki adalah milik-Mu, tubuhku milik-Mu, makananku milik-Mu, semua yang kulihat milik-Mu, semua yang kudengar Milik-Mu, semua yang kuuucapkan milik-Mu, semua langkahku milik-Mu, setiap nafasku milik-Mu, setiap detak jantungku milik-Mu, perasaanku milik-Mu, kerinduanku milik-Mu, harapanku milik-Mu, kesedihanku milik-Mu, kegembiraanku milik-Mu...

Alangkah indahnya wahai Rabb, Karena Engkau memilikiku, Engkau menggenggam diriku, Engkau mengaturku, Engkau menjagaku, Engkau melindungiku, Engkau mengayomiku, Engkau melimpahkan kelembutan-Mu padaku, aku merindukan-Mu wahai Allah, Engkau memanggilku agar aku dekat kepada Mu wahai Allah…

Wahai Yang menciptakan cinta kasih di seluruh kalbu hamba-Nya, Engkau menghendaki aku mencintai-Mu wahai Allah.., wahai yang menciptakan lidah hamba-Nya, Engkau menghendaki aku menyebut nama-Mu wahai Allah… wahai yang menciptakan segala yang indah, keindahan yang terlihat dan yang tak terlihat, keindahan yang terdengar dan tak terdengar, keindahan yang terucapkan dan tak terucapkan, keindahan yang terasa dan tak dapat dirasa, keindahan yang diketahui dan yang tak diketahui, keindahan yang tersaksikan dan yang tersembunyi, semua keindahan itu berasal dari keindahan Mu wahai Allah, maka betapa indahnya Engkau .., betapa lembutnya Engkau…

Maka Wahai Pencipta Keindahan, Wahai Pencipta Kelembutan, Wahai Pencipta Kasih Sayang, sebagaimana Engkau perlihatkan keindahan yang ada pada makhluk-Mu, sebagaimana Engkau perlihatkan kelembutan yang ada pada makhluk-Mu, sebagaimana Engkau perlihatkan kasih sayang yang ada pada makhluk-Mu, maka perlihatkan padaku Keindahan Mu wahai Allah… perlihatkan kelembutan-Mu wahai Allah.., perlihatkan kasih sayang-Mu wahai Allah…,

walau hanya berupa harapan, walau hanya berupa sangkaan, walau hanya berupa khayalan, walau hanya berupa kerinduan, walau hanya berupa keinginan, walau hanya berupa airmata, walau hanya berupa pemberian, walau hanya berupa lamunan, walau hanya berupa kemudahan, walau hanya berupa pertolongan, asalkan aku mengetahui bahwa itu datang dari kelembutan-Mu, datang dari kasih sayang-Mu, datang dari keindahan-Mu…

Alangkah kecewa hamba yang hanya memiliki harapan, hamba yang hanya memiliki khayalan, hamba yang hanya memiliki lamunan, hamba yang hanya memiliki kerinduan, hamba yang hanya ingin dekat, hamba yang hanya mendambakan kelembutan, hamba yang hanya mendambakan ayoman, hamba yang hanya mendambakan kasih sayang, sedangkan modal semua harapanku hanyalah airmata, apakah ia harus dikecewakan oleh Yang Maha tak mengecewakan, alangkah hancur perasaannya kalau kerinduannya ditolak oleh Yang Maha tak menolak kerinduan,

alangkah berkeping kepingnya kecintaannya, bila keinginannya untuk dekat tertolak oleh Yang Maha tak menolak hamba-Nya yang ingin dekat, itu semua tak ada pada Dzat-Mu, itu semua tak ada dalam Sifat-Mu, itu semua tak ada pada Perbuatan-Mu…

Apalagi yang akan membuatku tertolak sedangkan Engkau Yang Maha Menerima, apalagi yang akan membuatku tersingkir sedangkan Engkau yang Maha Merangkul, apalagi yang membuatku terjauhkan, sedangkan Engkaulah Yang Maha Mendekatkan, salahkah aku merindukan Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan kerinduanku pada-Mu, salahkah aku menginginkan dekat pada-Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan keinginanku untuk dekat kepada-Mu, salahkah aku merasa tenggelam dalam samudera Kelembutan-Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan perasaan itu di hatiku.

Wahai Allah.., wahai yang menamakan diri-Nya “Allah”, wahai yang menginginkan nama-Nya dipanggil “Allah”, wahai yang menginginkan lidahku memanggil Dzat-Nya dengan panggilan “Allah”, wahai yang menginginkan aku mengharapkan-Nya dengan mengingat Nama “Allah”, wahai yang menciptakan lidahku bergetar menyebut Nama “Allah”, wahai yang memberikan kemampuan pada jemariku menuliskan Nama “Allah”.., maka dengan kemauan-Mu kusebut Nama-Mu Allah.., dengan keinginan-Mu kurindukan Engkau Allah.., dengan keinginan-Mu aku ingin dekat kepada-Mu wahai Allah?

Salahkah aku berkeinginan, salahkah aku merindukan, salahkah aku ingin dekat, sedangkan semua getaran kalbuku itu adalah keinginan-Mu wahai Allah?, maka sebagaimana Kau jadikan cacing merangkak tanpa tangan dan kaki, maka jadikan aku merangkak kepadamu tanpa hambatan, sebagaimana Kau jadikan anjing najis bertasbih mensucikan-Mu, maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanmu, sebagaimana kaujadikan air mengalir menjadi beku, maka jadikan harapanku mengalir ke arah-Mu dan membeku di pintu-Mu, sebagaimana Kau jadikan gunung batu menjadi debu, maka jadikan seluruh kesalahanku menjadi debu dihadapan Keagungan-Mu, sebagaimana Kau jadikan bumi perkasa terinjak-injak,

maka jadikan hawa nafsuku terinjak-injak kerinduanku kepada-Mu, sebagaimana Kau jadikan raja berwibawa terkalahkan dan terhinakan, maka jadikan kesombonganku terhinakan oleh kewibawaan-Mu, sebagaimana kau jadikan sesuatu yang bergerak menjadi diam, maka jadikan tubuhku yang bergerak berubah diam dari segala yang tak Kau ridhai, sebagaimana kau jadikan semua yang ada menjadi fana, maka jadikanlah gunung dosa ini fana dalam kelembutan-Mu, sebagaimana kau jadikan yang tak mungkin menjadi kepastian, maka Jadikan semua ketidakmungkinanku untuk dekat menjadi janji kepastian.

Duhai Allah, Duhai Penciptaku, aku merindukanmu…

Jangan Kau tolak kerinduanku ini, Duhai Allaaah…

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin…


- Jakarta, 2009 -

No comments:

Powered by Blogger.