Salah satu mapel IPA favorit saya; SEJARAH

09:19
Tak bisa dipungkiri, saat SMA dulu, ada semacam hegemoni yang menyiratkan bahwa jurusan IPS adalah jurusan rendahan bila dibandingkan dengan jurusan IPA, diakui atau tidak secara lisan, setidaknya ya ada perasaan semacam itu lah saat penjurusan. Seakan-akan betapa ‘sialnya’ dia yang tersisih dan masuk di jurusan IPS. Apalagi jurusan Bahasa, ibaratnya seperti ‘orang kulit hitam’ di kala Apartheid masih berjaya, hina.
Huh, memuakkan..

Padahal, waktu penjurusan itu saya pilih jurusan Bahasa, kebetulan saya kesengsem sama Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris, tetapi karena tidak mencukupi persyaratan jumlah kelas, ditampunglah saya di jurusan IPA, meski dengan nilai Biologi yang sakarotul maut… hahahaha…

Mungkin hal yang melahirkan anggapan semacam ini adalah pengkotak-kotakan (dikotomi) ilmu. Khususnya antara IPA dengan IPS.

Di jurusan IPA, katanya, cenderung fokus kepada pelajaran-pelajaran analistis, penalaran logis dan saintis, sehingga lebih cocok diperuntukkan bagi mereka yang cara berpikirnya dominan Otak Kiri. Sedangkan di IPS, katanya, lebih terfokus kepada pelajaran-pelajaran memorial dan deskriptif, seperti sejarah, geografi, maupun sosiologi, tempat para pemakai Otak Kanan.

Terlihat betul ada dikotomi di sini. Aaah… panjang lebar kalau kita bicara dikotomi ilmu, belum lagi dikotomi antara Ilmu Agama dengan Ilmu yang dianggap Umum… beserta hubungannya dengan konflik teologi dan politik praktis masa lalu, sebagai akibat dari kelicikan (istilah antagonis bagi "kecerdikan") para penguasa kolonial..
Ah, lebih memuakkan..

Padahal, kalau mau fair, pengkajian sejarah maupun sosiologi tidak kalah analistis dibandingkan dengan kajian kimia maupun fisika, walau dengan metode yang berbeda tentunya. Dan lebih dari itu, bila kita mau melihat sisi urgensinya, pengkajian ilmu-ilmu sosial tidak kalah bergunanya bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu “alam” dalam kehidupan sehari-hari.
Saya di masa SMA dahulu.. hehe

Dan kalau mau agak sedikit jujur, bukankah makna kata “Alam” yang merupakan kata serapan dari bahasa Arab, dalam pemahaman teologi umat Islam berarti “Segala (benda) selain Allah”. Nah, makanya jika mengacu pengertian ini, antropologi, sosiologi dan sejarah pun termasuk Ilmu Pengetahuan Alam, kan?

Langsung saja, bukannya saya mau menghujat praktek pendidikan dikotomis antara ilmu sosial dan ilmu alam semacam ini, karena tak ada gunanya hujat-menghujat. Saya hanya ingin mengkritisi sikap kita sebagai pelaku pendidikan, baik itu pendidik, peserta didik, maupun sekarang mengaku sebagai manusia terdidik, yang seakan-akan menganaktirikan pelajaran-pelajaran sosial di jenjang-jenjang pendidikan formal, dan menganakemaskan pelajaran-pelajaran sains di sisi lain.

Kenapa kita tidak memproporsikan kualitas yang sama bagi keduanya? Mereka sama-sama anak kita, kenapa tidak kita berikan susu yang sama-sama segar? Kenapa Si IPA kita beri pisang dan Si IPS hanya kita beri kulitnya?

Mungkin anda bertanya, “Ah, apa itu penting?” Yo jelas penting, ndoro! Karena, sikap pilih kasih semacam itu akan mempengaruhi kualitas pengajaran Ilmu-ilmu Sosial tersebut, baik itu materi ajar maupun sarana pengajarannya. Dalam ocehan ini saya titik beratkan kepada Mata Pelajaran Sejarah yang saya alami secara pribadi dari jenjang SD sampai SMA.

Dalam rentang waktu yang demikian panjang itu, betapa banyak materi-materi Sejarah yang hanya diajarkan hanya sebagai fakta-fakta informatif dan kesimpulan-kesimpulan massif, persis seperti yang dialami mapel Pendidikan Agama di sekolah-sekolah kita.. ah, lagi-lagi fakta yang memuakkan...

Padahal sebagaimana dibisikkan secara santai oleh dosen makul Sejarah dan Kebudayaan Islam saya, Pak Rofik, bahwa di Kompetensi Dasar mapel sejarah pasti terdapat poin yang menyatakan bahwa guru dan siswa dituntut untuk menyimpulkan apa teladan atau hikmah yang bisa diambil dari peristiwa sejarah itu, Uswah atau ‘Ibrah.

Ketika kita belajar tentang pergerakan sosial misalnya, kita bisa lihat, betapa suksesnya revolusi-revolusi penuh kesabaran yang dilangsungkan dengan aksi anti-kekerasan, dan betapa lama rentang pengaruhnya.. ambil saja contoh sejarah tentang Rasulullah saw. dengan Fathu Makkahnya, atau Sidharta Gautama dengan Buddhismnya, atau Sang Mantan Pengacara, Mahatma Gandhi, dengan puasanya, atau Nelson Mandela dengan anti-apartheidnya.. semua pergerakan itu dilandasi ketulusan yang membuahkan kesabaran pelakunya, sehingga melahirkan tatanan masyarakat baru yang pengaruhnya berlangsung ‘abadi’, tidak seumur jagung!

“Jadi murid-murid, jika ingin mengubah keadaan di sekitar kita, harus kita awali dengan ketulusan, diiringi dengan kesabaran, kerjasama, dan jangan dinodai dengan kekerasan serta penindasan..”
Nah, begitu kalimat yang kira-kira bisa disimpulkan oleh sebuah Kelas Mapel Sejarah, kan? Bukankah hal ini, jika ditanamkan sejak dini, sudah bisa menjadi upaya penanggulangan Radikalisme?

Atau, kita sedang berada di sebuah kelas Sejarah yang membahas tentang Masa Kolonial Belanda di Nusantara, seharusnya kita tidak berhenti di tanggal-tanggal, tahun-tahun, dan peristiwa-peristiwa saja.. tetapi alangkah arifnya bila fasilitator pendidikan (guru) juga merangsang peserta didik untuk menganalisa, bagaimana bangsa kita bisa terjajah begitu lama dan bagaimana pula mekanisme kebangkitan pemuda-pemuda waktu itu bermula…

Misal, sang guru menceritakan tentang Snouck Hurgronje, seorang orientalis dari Kerajaan Belanda yang dikirim khusus ke Hindia Belanda untuk mengatasi pemberontakan di Aceh serta melumpuhkan kekuatan kaum santri. Bisa dilihat betapa gigihnya Snouck, sampai-sampai dia mempelajari kultur Islam ke Jeddah dan Mekah, selama 11 bulan menjadi seorang ‘santri’ bernama Abdul Ghoffar. Kemudian bagaimana Snouck membaur dengan masyarakat, beridentitas sebagai muslim muallaf, menikah dengan gadis-gadis pribumi, beranak-pinak dan bersosialisasi, semua itu dilakukannya untuk menemukan kelemahan-kelemahan vital Umat Islam sebagai kaum mayoritas di Nusantara ini.
Snouck Hurgronje bersama salah satu Pangeran Arab Saudi

Dari spionase itu, muncullah kesimpulan penting darinya berupa “Islam Politiek”, bahwa umat Islam di Nusantara jangan diganggu dalam urusan peribadatan ritual, justru harus difasilitasi dan dimanjakan… tetapi di sisi lain, gerak-gerik mereka harus dibatasi dalam hal politik dan pemikiran, bahkan harus diberangus… tidak ada pendidikan tinggi bagi kaum beragama (santri), hanya mereka kaum priyayi yang bisa mengecap pendidikan tinggi, itu pun pada akhirnya dijadikan pegawai-pegawai yang sudah didoktrin ala pemikiran Belanda. Dan yang lebih vital lagi, adalah adanya fakta berupa perbedaan-perbedaan di dalam Umat Islam itu sendiri, yang bisa disulap menjadi politik (licik) adu rakyat, Devide et Impera.

Bajiguuuurrr…

Setidaknya, dari uraian kelas Sejarah ini, para siswa bisa menyimpulkan bahwa Pendidikan itu penting, sepenting Kemerdekaan itu sendiri. Di situ siswa akan mengerti, betapa liciknya penjajah menyusupkan racun-racun kebodohan dan fanatisme yang berujung kepada perpecahan. Nah, dari kesimpulan semacam ini, setidaknya kan bisa menumbuhkan rasa betapa pentingnya persatuan dan betapa berharganya pengetahuan.

Atau, di kelas Sejarah yang lebih intensif lagi, bisa diceritakan tentang kisah pergerakan Wahhabisme di Timur Tengah. Dengan mengusung jargon yang begitu mulia; “Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah”, mereka melakukan revolusi ‘suci’ Pemurnian Tauhid, namun di sisi lain yang menjadi fakta penting adalah, gerakan mereka justru menikam eksistensi Kekhilafahan Ottoman pada waktu itu.

Di kala para penguasa Arab di bawah otoritas Turki Usmani bahu-membahu menghadapi serangan dari Barat, gerakan Wahhabi justru bersekutu dengan Inggris melumpuhkan kekuasaan Ottoman, bertindak separatis, sehingga pada akhirnya runtuhlah Kekhalifahan Islam terakhir itu. Dan merupakan fakta sejarah pula, bahwa Wahhabisme dengan Bani Saud justru membentuk suatu Kerajaan, bukan kekhalifahan, sungguh sesuatu yang bertolak belakang dengan semangat ‘salaf’ yang selalu didengung-dengungkan oleh gerakan puritan Wahhabi. Lantas apa yang terjadi? Runtuhlah Kekhilafahan besar, dan munculnya Kerajaan Keluarga Saud kecil (Mamlakah Sa'udiyyah al-'Arabiyyah)... artinya, Perpecahan.

Membaca fakta sejarah ini, para siswa bisa digiring sehingga sampai kepada suatu pemahaman, bahwa gaya perjuangan ala Wahhabi ini tidak bisa diterapkan di Nusantara yang multi-‘urf (budaya), sangat berlawanan dengan Wahhabisme yang anti-‘urf dan melegalkan pembantaian. Jika metode Wahhabi itu dipaksakan di sini, gerakan separatis akan menjamur, pecahlah NKRI, lahirlah kesultanan-kesultanan kecil, dan Indonesia mungkin hanya tinggal Jawa saja, atau mungkin hanya tinggal Tegal saja... Wallahu A’lam.

Nah, dari uraian yang kacau balau ini, saya hanya ingin mengajak temen-temen semua sebagai pelaku sejarah.. setidaknya untuk tertarik kepada wacana-wacana sejarah di masa lampau, sehingga mau memetik satu atau lebih buah pelajaran, baik pahit ataupun manis.. sebagaimana jargon khas Bung Karno; JAS MERAH! Jangan Sampai Melupakan Sejarah!

Dan lebih jauh lagi, agar kita bisa menyampaikan uraian Sejarah kepada generasi mendatang lengkap dengan hikmahnya, tidak sekedar informasi kata-kata dan angka-angka saja… baik itu sejarah perjuangan bangsa, sejarah industri, sejarah revolusi dunia, sejarah agama-agama, dan yang terpenting adalah sejarah kehidupan kita sendiri...

Begitu pula di wilayah kajian Ilmu-ilmu Sosial yang lain, sosiologi kah, antropologi kah, semuanya... dan harus diterapkan di segala jenjang serta jenis lapangan pendidikan... baik itu di ranah playgroup, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, bangku kuliah, madrasah, pesantren, majlis ta'lim, halaqah, dan terutama Sekolah Keluarga kita masing-masing...

Hal ini sudah selayaknya disadari kembali dengan sesadar-sadarnya oleh semua kalangan pendidik profesional... baik itu Guru Bahasa, Guru Agama, Guru SD, Guru Kelas, bahkan Guru Matematika sekalipun... bukankah semua bentuk Ilmu juga ada sejarah perjalanannya???

Dan pada hakikatnya, bukankah kita semua adalah calon guru, terutama guru bagi keluarga, istri (-istri) dan anak-anak kita kelak… iya kan? ;-)

Krapyak
Senin, 4 Juli 2011

No comments:

Powered by Blogger.