Filosoftoh; Tawasantri :D

1."Tak Kenal Maka Santaaaii.."

Siang itu di Krapyak ada santri baru, Irkhamni namanya, di kemudian hari kawan-kawan memanggilnya "Pimen", karena sangkin sering dan khasnya dia mengucapkan "Pimen Seeeh!" (Bahasa Tegal, artinya; Gimana Sih!). Setelah lapor ke pengurus pondok, Pimen diarahkan untuk sowan ke Kiai segera.

"Setelah ini, njenengan sowan ke Pak Yai, itu nDalem beliau yang warna ijo.." kata pengurus sambil menunjuk tempat yang dimaksud.

Sorenya, Pimen beranjak ke ndalem. Sesampainya di halaman, dia bingung karena belum pernah melihat Pak Yai dan tidak tahu apakah beliau ada di ndalem atau tidak. Nah, kebetulan, di rumah sebelah rumah Kiai ada seorang bapak yang sedang duduk-duduk santai, asik merokok, berpeci hitam, bersarung kotak-kotak dan berkaos oblong.

"Ngapunten Pak, numpang tanya. Pak Kiai Najib nya ada nggak ya?" tanya Pimen.

"Oh wonten Kang.." jawab Bapak itu.

"Matursuwun nggeh Pak.." kata Pimen.

"Nggih.. nggih.." sahut Bapak itu.

Setelah mengetuk pintu, mengucap salam, Pimen dipersilakan masuk oleh santri khadim (abdi dalem).

"Monggo Kang, lungguh rumiyin.. sambil nunggu Pak Yai rawuh.." kata khadim mempersilakan.

Pimen pun masuk, berbarengan dengan Bapak yang ditanyanya tadi, bedanya, sekarang Si Bapak sudah memakai baju batik, rapi.

"Wah, ternyata Si Bapak juga mau sowan.." pikir Pimen.

Kemudian mereka duduk di ruang tamu lesehan itu. Pimen memperhatikan seisi ruangan, sederhana. Di situlah tempat para santri Ngantor (Ngantri Setor) Tahfidz al-Quran tiap pagi dan malam. Di lemari nampak kitab-kitab berjejer rapi dan beberapa biji trophy yang mentereng, di sinilah dia akan menjalani riyadhoh di hari-hari selanjutnya.

"Asmane sinten Kang?" tanya Bapak di sebelahnya, memecah lamunan Pimen.

"Ngapunten?" sahut Pimen, kurang dengar.

"Asmane njenengan sinten?" tanya Bapak, mengulangi.

"Ooh.. Irkhamni Pak.." jawabnya singkat.

"Saking pundi asline?" tanya Bapak.

"Saking Tegal.." jawabnya.

"Ooh Tegal.. bade ngaos ten mriki?" tanya Bapak.

"Enggih Pak.." jawab Pimen mulai gundah, kapan Pak Yai rawuh.

"Riyin mondok ten pundi Kang?" tanya Bapak.

"Di Tegal Pak, Pesantren Babakan.." jawabnya, mulai resah, memangnya tindak ke mana sih Pak Yai.

"Ooh.." sahut Bapak.

"Sa'niki nyambi kuliah?" tanya Bapak lagi, mengorek informasi.

"Nggih Pak.." jawab Pimen, semakin gelisah, apalagi langit sudah mulai senja menjelang Maghrib.

"UIN?" tanya Bapak itu, menebak.

"Mboten Pak, sanes.. Ngapunten Pak.. sekarang saya mau nanya.. Njenengan tau Pak Yai Najib tindak kemana?" jawab Pimen ketus, sembari bertanya karena sangkin galaunya.

"Lhah.. kulo Najib.." jawab Bapak itu, tersenyum.


*********

2. "Cinta Itu Goblok"

Ada ungkapan "Cinta Itu Buta", mungkin karena virus cinta bisa membuat pengidapnya jadi tak lagi melihat sisi negatif dari hal yang dicintainya. Cinta juga bisa membuat hal sederhana jadi rumit, hal mudah jadi susah, hal normal jadi abnormal, hal biasa jadi lebay, yang pede jadi grogi, yang waras jadi gila, dan yang cerdas jadi goblok.

Seperti seorang santri Krapyak ini, Sulaiman namanya, kawan-kawan memanggilnya Solomon. Sebagaimana santri salaf pada umumnya, Kang Solomon sangat ta'dzim dan cinta kepada Pak Yai.

Pagi itu, cerah dan sejuk, Pak Yai sedang santai di teras ndalem. Langit sudah terang namun lampu halaman pondok masih menyala. Lampu itu digantung di atas tiang besi setinggi tiga meteran, tersambung ke saklar di dinding bagasi ndalem.

Melihat ada Kang Solomon lewat sambil terbungkuk-bungkuk, Pak Yai nimbali;

"Kang Sulaiman!"

"Eh? Dalem Yai.." sahutnya kaget plus grogi, maklum jarang dipanggil oleh Kiai.

"Kang, kuwi pateni lampune, wis awan.." titah Kiai.

"Oh njih Yai." jawab Kang Solomon, sigap.

Lalu apa yang dia lakukan?

Kang Solomon lepas sandal, nyincing sarung, manjat tiang lampu, melepas bohlam, turun, lalu menghatur ke hadapan Pak Yai.

"Niki Yai, lampune.. hh.. hh.." haturnya sambil ngos-ngosan.

*********

3. "Mulutmu Singo-mu"

Kebiasaan misuh merupakan satu hal yang sulit disembuhkan, karena umpatan bisa keluar begitu saja jika sudah kulina, reflek. Termasuk salah satu kawan saya ini, sebut saja Fulan.

Suatu malam, seperti biasa, beberapa santri Krapyak cangkrukan sambil ngopi di jalan teras depan pondok.

Tiba-tiba, dari arah jalan ada sorot lampu motor mbok cemlorot yang cukup menjengkelkan karena menyilaukan mata. Secara reflek si Fulan misuh sembengok-mbengoknya;

"Daaanc*k! Pateni lampune! Guooobl*k!"

Setelah lampu motor dimatikan, maka tampak jelaslah sosok pengendara itu: Pak Yai.

Fulan kaget, mungkin saraf-saraf otaknya koslet seketika. Dia bengong, nyalami Pak Yai, lalu beranjak mundur, kabur. Untung Pak Yai nggak duko, hanya senyum-senyum.

Dan selama setengah bulan setelah itu, Kang Fulan gak berani setoran. Diterkam mulutnya sendiri. Hehehe.

Akhirulkalam.. Pengalaman (orang lain) adalah Guru Terbaik
:D

1 comment:

  1. WAKAKAKAK.......

    URIP YA JANE KUDU KAYA NGENE. MEN SEHAT!

    ReplyDelete

Powered by Blogger.