Menilai Orang

06:26
Di mana-mana, di kapan-kapan, di siapa-siapa, pasti sepakat bahwa menilai orang lain haruslah objektif, yakni fokus terhadap apa yang ada pada objek ternilai, bukan berdasar persepsi subjek yang menilai.

Saya juga sepakat akan hal itu. Tapi, kacamata objektif itu yang bagaimana? Apalagi bila menyangkut parameter yang digunakan. Semakin bingung saya. Ketika suatu tingkah laku dinilai secara objektif dengan ukuran norma agama atau adat istiadat justru bisa kikis objektivitasnya.

Ya, memang nilai agama atau adat adalah alat ukur, parameter, tapi itu kan sangat sempit. Maksudnya, ketika menggunakan norma agama Islam, maka objeknya haruslah orang Islam. Ketika nilai ukurnya adat Jogja, maka objeknya harus orang Jogja pula. Dzalim rasanya jika orang Batak yang cara bicaranya relatif nyaring diukur dengan nilai adat Surakarta. Atau menilai mode seorang cewek Katolik bercelana minipants berjalan di trotoar New York dengan nilai keislaman dan adat Jogja.

Jadi initnya, saya bingung ketika bertemu orang lain dan dituntut menilai kepribadiannya. Ukuran apa yang paling pas saya gunakan?

Kenapa saya sok bingung? Karena seringkali saya salah nilai terhadap orang lain. Ketika tutur kata seseorang begitu manis, sangat sesuai dengan kaidah unggah-ungguh suatu adat, ternyata eh ternyata.. maling. Ketika ada yang jagoan misuh dan ahli ngakak, ternyata begitu peka terhadap sesama.

Atau, ketika ada orang yang sekilas nampak begitu bersemangat dengan agama, ternyata tidak konsekuen. Ketika ada orang yang begitu jago bergaya, ternyata gampang bingung menghadapi problem. Apalagi jaman sekarang, ada sikap-sikap yang disebut alay, lebay, narsis, dan serumpunnya, yang sebenarnya sikap-sikap seperti ini pasti sudah ada sejak masa awal sejarah manusia.

Nah, njelehi-nya, sikap-sikap seperti ini, baik yang saya cermati di tayangan-tayangan musictainment, status-status facebook, atau yang lainnya, selalu dibalut dengan kain agama, dipoles dengan bedak kebijaksanaan, padahal aslinya: NOL. Nah inilah yang menyulitkan saya menilai.

Maka dari ini, saya nggak berminat lagi mengikuti parameter yang sering digunakan, entah itu agama atau adat tertentu, meskipun keduanya saya yakin memiliki titik-titik universal.

Akhirnya, saya bikin parameter bagi saya sendiri. Tiga poin menilai orang -dan diri sendiri- yang saya simpulkan atas dasar pengalaman, sama sekali tidak ada pengaruh dari teori psikologi manapun, insyaAllah  semi-orisinil. Yakni;

1. Bagaimana Si Orang Memperlakukan Orang Lain. Apakah peka atau tidak, apakah memiliki rasa timbal-balik atau tidak, apakah semena-mena atau tidak. Entah dia Yahudi kek, Nasrani kek, Zoroaster kek, tukang mabuk kek, tapi kalo masih peka sanubarinya, mengecam kebiadaban zionis atas warga Palestina, saya stempel dia; Baik.
 
2. Bagaimana Si Orang Memperlakukan Tugas alias Tanggung Jawab. Yakni sikapnya terhadap apa yang harus dia kerjakan dengan optimal. Ini gara-gara sering saya ketemu orang-orang yang nampak santai tak menggebu-gebu, tapi ternyata istiqomah (konsekuen dan konsisten) terhadap tanggung jawabnya. Orang macam ini, saya stempel: Juara!

3. Bagaimana Si Orang Menyikapi Suatu Masalah. Adalah tentang refleks ketika menghadapi problem, apakah panik atau tenang, apakah bijak atau ceroboh, apakah jernih atau keruh. Seganteng apapun orang, seglamour apapun gayanya, secemerlang apapun nilai akademisnya, kalo mudah galau terhadap masalah-masalah sepele, saya stempel: Nggak Mutu.

Dengan tiga jenis -atau lapis- lensa ini, saya bisa menilai orang macam apa saja, agama apa saja, etnis mana saja, usia berapa saja, bahkan makhluk apa saja. Iblis pun saya nilai, di poin 2 dan 3 saya acungi jempol secara objektif, dia Istiqomah dan Cerdas bukan main! Tapi berhubung sikapnya terhadap 'makhluk-tanah' begitu angkuh, maka di poin 1 dengan sukarela saya katakan: Lewaaaaaat!

Penilaian ini berlaku juga untuk menilai diri saya sendiri. Untungnya, ternyata parameter ini membuat saya lebih santai dan tak gampang kaget atau gumun terhadap tingkah orang, bagaimanapun pencitraan yang dilakukan, yaaa tentunya selama dalam kategori normal, bukan majdzub. Hehehe..
Politik Pencitraan Pak SBY, sampai kapan Pak?















:: Krapyak 20 - 12 - 2011 ::

1 comment:

Powered by Blogger.