KASIHAN PAK BEYE

02:59
Aku bukan siapa-siapa di dalam atmosfer negeri ini. Pejabat? Bukan. Wakil rakyat? Bukan. Pengamat kenegaraan? Bukan. Mahasiswa kritis? Bukan, malah cenderung apatis. Rakyat jelata? Iya, tapi karena merasa tidak dianggap oleh siapa-siapa, berarti ya tidak sah kerakyatjelataanku.

Maka dengan kebukansiapa-siapaan ini, aku bebas bercerita apa saja sekehendakku. Sejak berhari-hari lalu kita disuguhi pemandangan yang riuh ramai. Di sana-sini keributan terjadi, mahasiswa pionnya. Otaknya entah siapa. Yang jelas rebut. Entah itu disebabkan kedengkian politik, agenda revolusi bawah tanah, konspirasi zionis, atau apapun teorinya, yang jelas ribut.

Demo BBM yang memuncak pada dini hari tadi (Sabtu 31 Maret) di berbagai lokasi hanyalah aksi simbolik mahasiswa yang mewakili masyarakat atas kemuakan mereka terhadap kepemimpinan SBY. Ya, kenaikan harga BBM hanya momen, tapi alasan di belakang aksi demo beribu-ribu orang itu adalah kebosanan. Ya, bosan. Bosan dengan keadaan yang panas di sana-sini. Bosan dengan curahan hati seorang mantan jenderal tentara yang gagah berani dan saat ini menjabat RI-1.

Aku yang bukan siapa-siapa dan tak punya peran apa-apa di wilayah yang bernama Indonesia kok ya ikut-ikutan pusing melihat semua fenomena ini. Bukan pusing sih sebenarnya, hanya prihatin. Dari kasus skandal bank, korupsi mafia pajak, mafia hukum, mafia partai, mafia banggar, mafia kasus, mafia proyek DPR, mafia PSSI, mafia telek, mafia tai, mafia asu, dan sebagainya. Semuanya dilembeki (antonim dari ditegasi) dengan sengaja oleh RI-1 kita. Entah kenapa. Kita butuh ketegasan dan kesigapan, ‘kan?

Apalagi setelah menyimak uraian Pak Busyro Muqoddas selaku pimpinan KPK semalam dalam Sarasehan Budaya bertajuk “Kultur Kenabian pada Masa Kontemporer” di halaman Masjid Al-Azhar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia [1]. Ada banyak sekali kebusukan isi perut dewan yang beliau lihat serta paparkan sesuai kapasitasnya sebagai alat kontrol finansial negara. Belum lagi tentang Perpres nomor 7 tahun 2007 yang mengatur besaran investasi asing di dalam negeri, ada ratusan bentuk usaha yang bisa menjadi ladang bagi mereka, urutan awalnya adalah pertambangan yang angka investasi asingnya melampaui 90%, dan urutan terbawah adalah usaha pijat (spa) yang angka investasi asingnya melampaui 50%.

HEDONISME = HUBBUD DUNYA = ENDAS DAJJAL

Akar dari semua bentuk penyimpangan di lingkar dalam kepengurusan Negara  –menurut Pak Busyro- adalah perilaku Hedonisme, yakni suatu dorongan nafsu untuk selalu memuaskan keinginan dan melahap kenikmatan bendawi, ragawi, duniawi, sepuas-puasnya. Persis seperti apa yang pernah dikemukakan Gus Mus dengan bahasa hadits, bahwa sumber segala kekacauan dan penyimpangan jabatan adalah kedunyan, atau Hubbud Dunya (Ketergantungan berlebihan terhadap dunia) ro’su kulli chothii-atin (merupakan Kepala bagi keseluruhan organ perilaku buruk). [2]

Terutama korupsi. Ya, korupsi. Dalam suatu acara majlis shalawat di alun-alun Keraton Yogyakarta malam Jum’at kemarin, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf mempertanyakan kepada Bapak Menteri Agama, Suryadharma Ali, tentang efektivitas administratif di lingkup Kementerian Agama dalam hal penggelontoran dana bantuan. Tak jarang, jika Habib Syech menyampaikan permohonan dana untuk yayasan pendidikan yang dikelolanya di Solo, gelontoran dana bantuan yang cair dari pusat berjumlah sekian puluh juta, tetapi yang sampai di kas yayasan hanya sekian belas juta setelah melalui lapisan-lapisan administrasi. Bukankah ini suatu derivasi yang sangat besar? Ini Kementerian Agama lho ya, agama! Islam lho ya. Ini untuk yayasan pendidikan lho ya, belum lagi dana haji. Belum lagi Kementerian yang lain. [3]

Pak Busyro menyampaikan banyak informasi tentang kondisi hukum dan penegakannya di negeri ini. Serta inovasi dalam upaya pembenahan kebobrokan-kebobrokan itu. Salah satu ide yang diusungnya adalah tentang Hukum Profetik. Yakni pembentukan serta pelaksanaan piranti-piranti hukum dengan melandaskan nilai-nilai moral kenabian (profetik, dari kata prophet) di dalamnya.

Penyampaian beliau ini dijabarkan dengan ilustrasi-ilustrasi oleh sahabat beliau yang sudah akrab sejak sama-sama bersekolah di SMA Muhammadiyyah 1 Yogyakarta dahulu, yakni Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun. [4]

RISALAH – NUBUWWAH – WILAYAH – KHILAFAH

Apa yang dimaksudkan dengan profetik (kenabian) tentu adalah keteladanan Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Cak Nun menjelaskan empat kewenangan kepemimpinan manusia di muka bumi. Yakni Risalah (Kerasulan), Nubuwwah (Kenabian), Wilayah (Kewalian) dan Khilafah (Kepenggantian). Kerasulan adalah mandat dari Allah kepada hamba-Nya dalam kepengurusan dunia untuk kemaslahatan dengan aturan-aturan tertentu, dalam derajat ini, hanya ada 25 sosok yang Allah pilih memikul tanggung jawab itu dari awal sampai akhir dunia. Kenabian mencakup mandat informasi ilahiyah tanpa ada kewenangan atau keharusan penyampaian, kabar yang masyhur dari para ulama ada sekitar 125.000 manusia-manusia yang mendapatkan mandat kenabian ini.

Untuk derajat kewalian, Cak Nun menyinggung tentang asal-usul nama Jalan Malioboro. Menurut beliau –entah referensi dari mana- nama tersebut berasal dari Kanjeng Sunan Kalijogo yang memang banyak peran beliau di masa-masa Mataram Islam dahulu. Malioboro merupakan kalimat persuasi dalam Bahasa Jawa “Malio Ngumboro”. Malio berarti me-wali-lah, jadilah wali, jadilah orang yang mencari kebenaran sejati. Sedangkan Ngumboro berarti mengembara atau mengelana. Singkatnya, Malioboro berarti “jadilah orang yang mencari kesejatian dengan mengelana”. Sebagaimana kita tahu, laku berkelana memang dijalani oleh para wali jaman dahulu. Entah itu dalam rangka mengais ilmu maupun berdakwah, terutama dalam menemukan kesejatian hidup. Dan jaman sekarang, sudah tidak ada orang yang seperti itu. [5]

Orang-orang arif dahulu tidak sembarangan memberikan nama jalan. Nama jalan dari Stasiun Tugu, lurus terus sampai Kantor Pos Besar, terus ke Alun-alun Keraton –masih menurut Cak Nun- mempunyai makna yang dalam. Diawali dengan Jalan Margo Utomo, artinya “jalan keutamaan”, merupakan tapak awal seorang hamba menempuh perjalanan spiritual. Ketika ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menapaki kehidupan dunia, si hamba memilih satu jalan yang utama untuk ditempuh, yakni pengabdian kepada Allah. Setelah Jl. Margo Utomo, si hamba menapaki Jl. Malioboro, yakni proses pencarian kesejatian hidup, suluk yang mengantarkannya kepada derajat Kewalian.

Setelah Jl. Malioboro, dia mulai menapaki Jl. Margo Mulyo, “jalan kemuliaan”, adapun “kemuliaan” dalam Bahasa Arab adalah Karomah, suatu hal yang Allah anugerahkan kepada Wali-Nya, apapun bentuknya. Selanjutnya, ada Jl. Pengurakan, kata ini tidak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, pengurakan berasal dari kata urak yang artinya –yang paling dekat- adalah “mengusir”, “membuang”, atau “melepaskan”. Jadi, pengurakan adalah suatu kondisi jiwa yang sudah bisa membuang segala atribut kedirian, keduniawian, dan segala hal yang bukan Allah Ta’ala.

Selanjutnya tentang Khilafah, merupakan derajat kewenangan yang ditanggung oleh setiap manusia sebagai khalifatullah di muka bumi, setidaknya atas dirinya sendiri. Dalam hal ini, Cak Nun mengaitkan kekhalifahan dengan penegakan hukum. Jika ingin cermin ideal dalam segala hal, khususnya tentang penegakan hukum, maka pahamilah kehidupan Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, beliaulah kompleksitas kenabian serta kerasulan. Pribadi setiap Rasul ada dalam diri beliau. Terutama mempelajari kontekstualitas sikap di masa hidup beliau.

Jangan lupa dengan pribadi empat Khalifah setelah Rasulullah, yakni (saadaatuna) Abu Bakr, ‘Umar. ‘Utsman dan ‘Ali. Dari Umar kita bisa meneladani ketegasan, dari Abu Bakr ada kelembutan, dari ‘Utsman ada pertimbangan dan dari ‘Ali ada kewaskitaan spiritual serta kecemerlangan intelektual dalam penegakan hukum.

CINTA KASIH YANG KONTEKSTUAL

Karena, seharusnya, yang digunakan oleh seorang hakim saat memutuskan suatu perkara hukum adalah nurani. Tidak sekadar pasal-pasal hukum yang jumlahnya ribuan itu. Sedangkan nurani berhubungan dengan spiritualitas, yakni kemuliaan akhlak yang -tidak bisa tidak- harus bercermin kepada sosok manusia sempurna, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Inilah inti dari gagasan Hukum Profetik yang diusung Pak Busyro Muqoddas.

Ada banyak hal yang Cak Nun kemukakan, tentang konsep Nur Muhammad sebagai awal penciptaan, tentang kebahagiaan menjadi umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, tentang konspirasi Dajjal terhadap kehidupan dunia melalui tangan Zionis dan Amerika, tentang laku almarhum Gombloh yang selalu membelanjakan honornya untuk disebarkan (dalam arti yang sebenarnya) di lokalisasi Doli dalam bentuk kutang. Serta hal-hal lain yang mencerahkan serta –setidaknya- membesarkan hatiku yang bukan siapa-siapa. Meyakinkan rakyat kecil macam kani bahwa kita semua adalah makhluk ras manusia yang istimewa, dan akan ada kebangkitan peradaban dari sini, bukan dari sana atau dari mana-mana.

Semua orang, bagaimanapun orangnya, sudah seharusnya kita cintai. Koruptor sekalipun, seharusnya kita cintai. Adapun cara mencintai harus sesuai dengan penempatannya. Bukti cinta kita kepada maling ya dengan menghukumnya setelah sebelumnya meneliti kesalahannya. Semua perbuatan atas dasar cinta, kasih sayang, rahmah. Termasuk mencintai SBY.

Tapi tetap saja, aku masih belum bisa berhenti misuhi SBY. Entah kenapa. Mungkin karena sangkin cintanya daku kepada bapak presiden kita ini. Padahal Pak SBY tak salah apa-apa kepadaku, dan aku juga tak berkepentingan apa-apa bila SBY tetap bersemayam atau guling dari singgasananya. Mungkin alasanku misuh adalah karena menyesal sudah mencoblos beliau saat pemilu dulu. Kenapa aku tidak nunut laku almarhum Gus Dur untuk golput. [6]

Jadi hakikatnya, aku misuhi diriku sendiri, asu!

Parahnya, pagi tadi, setelah sarapan sego kucing dan udud Djarum (ngutang) di angkringan, aku rebah ngantuk di aula MH1, sambil memutar playlist band-band lokal masa remajaku dahulu. Ada Peterpan, Slank, Padi, Jamrud, Dewa, Wayang, Gigi, Sheila On 7, T-Five, Edane dan tentunya Bondan & F2B. Sampai tertidurlah aku.

Saat tidur, aku bermimpi mendampingi Pak SBY memasuki ruang sidang paripurna. Karena ketua sidang melarang orang yang tidak berkewenangan berada di dalam ruang sidang, maka aku pun keluar. Di mimbar kehormatan, Pak SBY malah bernyanyi dengan lantang lagu Realistic dan Respector-nya Bondan & F2B sambil dilatari Bu Ani yang berpantomim dramatis. Oh, ternyata pemimpin yang rocker tidak hanya Pak Jokowi, ternyata SBY juga. Hahaha…

Untungnya, majlis nyanyian SBY terganggu suara solawat Ya Nabi dari ruang sidang lain, aku pun terbangun sambil misuh-misuh, ternyata kawan-kawan santri lagi nyetel lagu solawat.

Astaghfirullah.. dosa opooo aku kok nganti ngimpikno esbeye



FOOTNOTE:

[1] M. Busyro Muqoddas, S.H, M.Hum (lahir di Yogyakarta, 17 Juli 1952; umur 59 tahun) adalah ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia Menggantikan Ketua KPK Antasari Azhar, Busyro dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden RI pada 20 Desember 2010. Sebelumnya, Busyro merupakan ketua merangkap anggota Komisi Yudisial RI periode 2005-2010. M. Busyro Muqoddas lulus Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1977. Gelar Magister Hukum diperoleh dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada tahun 1995. (Wikipedia)


[2] Disampaikan dalam beberapa kaesempatan, salah satunya saat mauidzah hasanah dalam rangka Haul KH Ali Maksum Krapyak tahun 2011 lalu.
Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri), kini Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Leteh Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Belajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan Universitas Al-Azhar Kairo, disamping di pesantren ayahnya sendiri, Raudlatuth Tholibin Rembang. (Wikipedia)


[3] Informasi ini penulis dapatkan dari Gus Talkhis Ulin Nuha yang berkesempatan menghadiri acara tersebut.
Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm. Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh dan imam Masjid Jami' Assegaf di Pasar Kliwon, Solo), beliau juga pendiri dan pengasuh majelis ta'lim, zikir, dan sholawat Ahbabul Musthofa Jawa tengah. Habib kelahiran Solo, 20 September 1961 ini juga pendiri FOSMIL. Beliau tinggal di Jl.KH.Muzakir-Gg.Bengawan Solo VI No.12 Semanggi Kidul - Solo 57117. Dari http://nurulmusthofatondokerto.blogspot.com/p/profil-al-habib-syech-bin-abdulqodir.html


Drs. Suryadharma Ali MSi. (lahir di Jakarta, 19 September 1956; umur 55 tahun) adalah Menteri Agama Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada Kabinet Indonesia Bersatu. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta, pada tahun 1984. Pada tahun 1985 ia berkarier di PT. Hero Supermarket, hingga tahun 1999 di mana ia menduduki posisi Deputi Direktur perusahaan ritel tersebut. Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi ritel di Indonesia.Pada Februari 2007, Suryadharma terpilih sebagai Ketua Umum PPP dan menggantikan Hamzah Haz. (Wikipedia)


 [4] Cak Nun (Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 58 tahun) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung napas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi UGM. Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor karena melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha.


Bersama grup musik Kiai Kanjeng, ia menyelenggarakan acara-acara bersama Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Di kota lain juga masih mempunyai agenda rutin bulanan seperti Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandang Ate Mandar, Maiyah Baradah Sidoarjo, dan masih ada beberapa lain yang bersifat tentative namun sering seperti di Bandung, Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.


[5] Seringkali di banyak kesempatan Cak Nun menyampaikan informasi-informasi yang asing, keluar dari mainstream, susah dilacak literaturnya, tapi pas, gathuk. Dalam istilah keilmuan Islam, ada tiga macam epistemologi, yakni Bayani yang bertumpu pada keterangan tekstual, lalu Burhani yang mengandalkan analisa akal, serta Irfani yang menyandarkan pada ilham serta ketajaman batin. Jika mengamati olah spiritual Cak Nun serta pergaulan beliau dengan sosok-sosok majdzub, maka penulis memperkirakan bahwa informasi yang beliau dapatkan adalah termasuk epistemologi ‘Irfani.
Wallahu A’lam.


[6] Pernyataan Gus Dur ini bisa dibaca di okezone.com, Minggu (14/6/2009);
Pernyataan KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur soal rencana mengabaikan hak pilihnya alias golput pada pilpres mendatang, dinilai sejumlah pihak tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pilihan kader-kader pendukungnya. "Tidak terlalu berpengaruh. Justru pernyataan seperti ini malah menghilangkan aura Gus Dur sebagai guru bangsa, sebagai mantan presiden," ujar pengamat politik Burhanudin Muhtadi. (benarkah begitu?)


KH Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Wikipedia)

:: Krapyak, 31 Maret 2012 ::

No comments:

Powered by Blogger.