TOPO KENCOT :: Sekilas Pengantar Menyambut Ramadhan

22:41
Sebaiknya Anda tidak usah langsung percaya dengan segala informasi tentang faidah puasa dan lapar yang akan kita bicarakan di bawah ini.

Satu hal yang sangat erat kaitannya dengan Puasa, bahkan tak terpisahkan, yaitu Rasa Lapar alias Luwe atau Kencot.

Dalam kepercayaan agama apapun, puasa yang identik dengan kencot ini dijadikan sebagai suatu metode rialat atau exercise atau tapa dalam rangka melatih raga demi kesempurnaan jiwa agar semakin sensitif terhadap Kehendak Sang Mahakuasa.

Konon, suku Pheonix (Finiqi) di Mesir berpuasa dalam rangka memuja dewa mereka, Isis, selama beberapa hari, lalu memungkasi tapa mereka itu dengan perayaan persembahan kurban. Orang Yunani kuno melakukan puasa selama sepuluh hari dalam rangka menajamkan mata batin agar dapat memahami hakikat ketuhanan, sedangkan kaum wanitanya berpuasa sehari penuh lalu merayakan pemujaan Aluzis.

Begitu pula orang Romawi kuno, sejak tahun 193 SM setiap lima tahun sekali mereka melaksanakan puasa selama satu tahun penuh sebagai penghormatan terhadap dewa Siris. Agama dan kepercayaan manapun, terutama yang terdahulu, menjadikan puasa sebagai suatu metode pendekatan diri kepada Tuhan selama beberapa masa lalu ditutup dengan hari raya.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh 183)

Bahkan, konon, ritual tua berupa puasa ini sudah dicontohkan oleh abul basyar, Nabi Adam as. semenjak di surga, yakni dengan menahan diri dari memakan Khuldi, meskipun kemudian gagal terlepas dari apapun sebabnya.

Di sisi lain, Rasulullah Muhammad saw. agaknya telah mewanti-wanti umatnya untuk benar-benar memaknai rasa lapar ketika berpuasa, agar tidak terjerumus ke dalam tipe pelaku puasa yang beliau sampaikan;

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun (Shalat) malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.” (HR. Al-Bayhaqi)

Kesia-siaan rasa lapar dan kantuk tersebut bisa disebabkan adanya perilaku negatif dari orang yang berpuasa atau shalat, sehingga me-nol-kan kembali kegiatan positif yang sudah dilakukannya. Puasa tapi malah mengumbar syahwat, shalat tapi ngrasani orang, dan semisalnya.

Nah, alangkah sayang bila rasa lapar yang ditahan seharian menjadi sia-sia, entah karena apapun. Tentu kita enggan menyobek-nyobek uang merah karena tahu nilainya, atau menginjak-injak bubur ayam karena tahu enaknya. Begitu pula dengan Kencot, kita pasti tak tega menyia-nyiakannya jika tahu manfaatnya.

PERUT

Kalau bicara lapar, maka kita bicara perut. Konon, perut adalah sarangnya syahwat dan lahan subur bagi berbagai penyakit serta bahaya. Ketika si perut tuntas syahwatnya, maka tumbuhlah syahwat kemaluan (oho’-oho’), jika syahwat makan dan konak terpenuhi, maka akan muncul keinginan terhadap harta dan perhiasan, lalu seseorang akan berupaya mengumpulkan harta yang pada akhirnya juga merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan perut dan bawah perut.

Dalam teori kebutuhan, saat kebutuhan primer terpenuhi, bahkan berlebih, maka akan muncul nafsu kepada hal-hal sekunder, lalu komplementer. Bahkan kadang-kadang, hal yang komplementer pun dianggap primer, tahsiniyyah dianggap hajiyyah.

Begitu terus siklusnya, kepuasan syahwat menumbuhkan keinginan untuk mengumpulkan harta, ketika sudah terkumpul maka digunakan untuk memuaskan syahwat lagi. Lalu bangkitlah dorongan-dorongan untuk berlebih-lebihan, perasaan sombong dan pamer, kebanggan diri dan berbagai macam tindakan jiwa maupun raga yang berdampak negatif terhadap kesehatan keduanya. Semua itu disebabkan karena satu hal; pemenuhan kemauan perut yang berlebihan.

Maka tepatlah apa yang disampaikan Sayyiduna ‘Ali bin Abi Thalib;
Hancurnya anak Adam disebabkan oleh dua lubang; lubang masuk perut dan lubang kemaluan.”

Nah, oleh karena itu, keinginan perut haruslah dikendalikan dengan puasa yang menyebabkan rasa lapar. Ibarat bayi yang sudah kunjung besar tapi masih menyusu, maka dia harus disapih. Meskipun terus menangis, harus dipaksa agar bisa lepas dari kebiasaan netek itu. Begitu pun perut, harus diuji dengan rasa lapar alias kencot.

Indah nian pernyataan Al-Muhaddits Makhul bin Syahrab As-Syami;
“Ibadah paling utama setelah ibadah fardu adalah Lapar dan Dahaga.”

LAPAR vs KENYANG

Syaikh Muhammad Khair Ramadhan, dalam mukaddimahnya di kitab Al-Juu' karya Al-Hafidz Ibnu Abi Dunya memaparkan setidaknya ada sepuluh faedah rasa lapar, yakni;

(1) Jernihnya hati, tenangnya rasa. Sebaliknya, kenyang menimbulkan malas, keruhnya hati, dan sulit menghapal, terutama bagi anak kecil atau pemuda.

(2) Sensitif terhadap kenikmatan ibadah. Menyebabkan dzikir membekas di jiwa. Munculnya kebijaksanaan. Betapa banyak orang berdzikir dengan lisan dan memahami maknanya tetapi sama sekali tak membekas di hati, kecuali setelah dihilangkan hijab berupa rasa kenyang. As-Sari bin Yan’am Al-Jublani menghibur orang yang lapar; “Tidaklah rasa lapar itu menyisakan kekosongan, melainkan Allah isi kekosongan itu dengan Hikmah (Kebijaksanaan) dan Wara’ (Rasa Nrimo dan Sumarah).” 

(3) Memunculkan kesadaran tentang kerendahan dan kehinaan diri (tadzallul), serta berkurangnya keriangan yang bisa melalaikan hati dari Yang Mahakuasa.

(4) Mengingatkan tentang kekurangan dan kesusahan. Sehingga selalu ingat terhadap keadaan orang susah serta kesengsaraan yang dideritanya. Seorang yang cerdas, tentu akan berpikir bahwa kesusahan di akhirat pasti lebih berat daripada kesusahan di dunia, hal itu akan dirasakannya bila dia terus menerus menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang bermula dari rasa kenyang.

(5) Menekan keinginan untuk maksiat. Karena awal mula maksiat adalah adanya keinginan dan kekuatan, adanya keinginan dan kekuatan tentu berasal dari asupan makanan dan rasa kenyang.

(6) Menjadikan susah tidur dan terus terjaga, tidak ngantukan. Semakin kenyang seseorang, banyak makan, maka makin banyak minum pula, lalu makin keraslah kerja metabolisme pencernaan sehingga membutuhkan kadar oksigen ekstra, maka timbullah rasa kantuk dan makin banyak tidurlah ia, makin banyak tidur maka makin banyak pula waktu terbuang, padahal waktu adalah modal utama seseorang untuk beribadah.

(7) Memudahkan jalan untuk ibadah. Yusuf bin Asbath As-Syaibani, seorang zahid yang konon tidak makan kecuali dari harta halal hasil kerja kerasnya sendiri, bilapun tak ada yang bisa didapatkannya untuk dibawa ke rumah maka dia akan membungkus tanah agar tidak ada yang merasa kasihan, pernah berujar;
Lapar adalah bibit seluruh kebaikan di muka bumi.” 

(8) Menjaga kesehatan. Dengan semakin sedikitnya makan, makin sedikit pula resiko masuknya sumber penyakit ke dalam perut. Rasulullah saw. memperingatkan kita tentang potensi negatif perut bagi kesehatan jiwa dan raga;
Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya sendiri.” 

(9) Menjadikan lebih irit pengeluaran. Logis, karena semakin sedikit makan, tentu makin sedikit pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makan. Ketika makan pun tidak akan berlebih-lebihan, karena bagi orang lapar, makanan yang sederhana pun sudah cukup memuaskan.

Dalam hal keiritan dan kecukupan ini, bisa kita pahami dari ujaran Nabiyullah 'Isa berikut. Suatu hari, para hawari bertanya kepada Nabi ‘Isa as.;
Apa yang kita makan Wahai Nabi?” 
“Roti gandum.” 
“Lalu kita minum apa?”
 “Air putih.”
 “Kita tidur dimana?”
 “Di tanah saja.”
Wahai Tuanku, sepertinya engkau memerintahkan kami hal-hal yang berat melulu.."
"Loh, kita tidak butuh apa-apa lagi, karena itu semua sudah cukup memuaskan kalian.” 
“Bagaimana bisa?” 
“Ya.. Tidakkah kalian lihat.. Bagi orang yang lapar karena puasa, maka sepotong roti gandum pun akan terasa nikmat. Bagi orang yang haus, setetes air putih amatlah menyegarkan. Bagi orang yang lelah bangun untuk salat, hamparan bumi ini sangatlah nyaman untuk rebah.”

(10) Membuka jalan untuk menyedekahkan kelebihan harta atau makanan. Daripada makanan mubadzir karena tidak dimakan, mending disedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan. Dan hal ini justru menjadi tradisi, bahkan sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin berlomba-lomba untuk menyediakan santap berbuka ala kadarnya bagi orang yang berpuasa.

Selain itu, lapar adalah sunnah Rasulillah saw., betapa banyak hadits yang menerangkan tentang laku beliau dengan rasa lapar. Sebaliknya, kenyang merupakan suatu hal yang tidak pernah dirasakan oleh beliau ‘alaihissholaatu was salaam.

Bahkan, Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah ra. berujar;
“Mula-mula bid’ah yang muncul setelah Rasulullah saw. wafat adalah rasa kenyang, ketika perut suatu kaum kenyang maka bergairahlah nafsunya terhadap dunia.

Mengomentari ucapan Sayyidah ‘Aisyah tersebut, Imam Ghazali menyimpulkan;
Wah, jika begitu, maka lapar tidak hanya mengandung satu faedah, tetapi malah gudangnya berbagai macam faedah (karena meredupkan api gairah terhadap dunia).”

Begitu berbahayanya rayuan perut sampai-sampai al-Imam Hasan al-Bashri menyatakan;
“Hal yang ‘memelesetkan’ bapakmu dahulu, Adam as., adalah makanan (Khuldi). Dan itulah yang akan memelesetkanmu hingga hari Kiamat kelak.

LAPAR SEUMUR HIDUP

Paparan di atas bukan berarti kenyang itu mutlak haram, lapar juga bukan hal yang wajib secara syar’i. Hanya saja, rasa lapar merupakan teladan salafusshalih, bahkan para nabi terdahulu. Sedangkan rasa kenyang sudah sangat tenar bahayanya serta bertabur anjuran-anjuran untuk menjauhinya.

Sebagian ulama Hanafiah bahkan ada yang mengharamkan kenyang dan bermewah-mewahan dalam hidangan. Namun, Imam Muhammad Khatib As-Syarbini, seorang imam dari kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa tidak bermewah-mewahan dalam hidangan adalah hal yang mubah dan mustahab. Tapi boleh saja jika ingin menghidangkan berbagai macam makanan, asalkan karena suatu kebutuhan, misalnya untuk menjamu tamu atau memeriahkan hari raya bersama keluarga. Dan harus diingat, bahwa berlebih-lebihan terhadap makanan halal adalah makruh.

Begitu hebatnya kedudukan Lapar, bukan lantas menjadikan seseorang meninggalkan makan saa sekali. Lapar yang dimaksud adalah untuk mengontrol nafsu, bukan untuk bunuh diri dengan kelaparan. Sebaik-baik hal dan lelaku adalah yang moderat, tengah-tengah. Ya makan, ya lapar.

Artinya, silakan makan asalkan tidak sampai memenuhi perut dan agar tidak merasa tersiksa karena kelaparan. Karena penuhnya perut bisa menyebabkan kelalaian hati dan keengganan untuk ibadah, sedangkan perihnya kelaparan pun sama saja bahayanya. Semua itu berlandaskan kesadaran bahwa tujuan dari aktivitas makan adalah demi kelangsungan hidup dan mengisi energi dzahir untuk beribadah.

Sehingga, bila aktivitas makan tersebut berlebihan justru akan melenceng dari tujuan sejatinya. Dengan logika agraria, Al-Husain bin Abdurrahman menyampaikan;
Kebanyakan makan bisa mematikan hati sebagaimana kebanyakan air bisa mematikan tanaman.”

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari kekenyangan dan dapat merasakan lapar terus menerus? Coba simak dialog dua sufi ini;
Apa wirid yang kau dawamkan wahai Abdullah?” tanya Abu Abdirrahman Al-‘Umri.
“Yang kudawamkan adalah tidak kenyang alias lapar seumur hidup.” Jawab Abdullah bin Marzuq.
“Wah, bagaimana mungkin orang hidup di dunia kok bisa kuat begitu?”
“Ah gampang saja, Kawan...”
“Caranya?”
“Jangan makan jika belum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang, sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sisanya untuk napas. Seperti anjuran Nabi kita Muhammad. Nah, itulah yang namanya Lapar seumur hidup!”

Sekali lagi saya tekankan, Anda jangan langsung percaya dengan informasi di atas. lebih baik Anda meragukannya, lalu mulai membuktikannya sendiri. :)

Wallaahu A'lam
­

---------
Pustaka;
Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu, Syaikh Ahmad bin Ali Al-Jurjawi, Darul Kutubil Islamiyyah, Beirut.
Al-Juu’, Al-Hafidz Abu Bakr Abdullah Ibnu Abi Dunya, Daru Ibnu Hazm Beirut.
Ihya’ ‘Ulumiddin, Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad A-Ghazali, Maktabah wa Mathba’ah Al-Masyhad Al-Husaini, Kairo.
Mughnil Muhtaj Syarhul Minhaj, Imam Muhammad Khatib As-Syarbini, Darul Fikr, Beirut.

Kitab Al-Juu' (Kencot) susunan Al-Hafidz Abubakar Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Dunya (w. 281 H)
 ---
Krapyak, Sya'ban 2012Top of Form
Bottom of Form

No comments:

Powered by Blogger.