Duduk Selingkar; Mukaddimah

13:59


MUKADDIMAH

Beberapa pemuda sepakat membentuk suatu wadah diskusi yang bersifat santai namun serius. Hal ini merupakan klimaks dari akumulasi kejenuhan kami dengan rutinitas yang ‘hampa’ di kampus.

Sebagian dari kami bisa disebut ‘apatis’ jika ukurannya adalah keaktivan dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan atau pergerakan. Namun uniknya, tidak sedikit dari kami yang justru sangat aktif di medan juang nyata; masyarakat.

Ketika saya berbincang dengan Bung Irfan –aktivis Karang Taruna- tentang kemerdekaan dan ekspresionisme, atau saat bercakap dengan Bung Said –pemuda mandiri- tentang implementasi keilmuan dalam era modern, atau saat berbincang dengan Bung Adam –gus- tentang keliaran dunia malam, atau saat berbincang dengan Bung Syafak –pembimbing madrasah- tentang manajemen komunikasi masyarakat, atau saat berbincang dengan Bung Yasin –ustadz pesantren- tentang korelasi masa lampau dan masa depan, atau saat berbincang dengan Bung Bastian –pengamat personaliti- tentang kematangan kepribadian, atau saat berbincang dengan Bung Muhid –pemikir filosofis- tentang keseimbangan intelektual dan spiritual, serta perbincangan-perbincangan lain bersama kawan-kawan lain di momen-momen tertentu, memperlihatkan kepada saya adanya potensi kecemerlangan ide dalam setiap obrolan.

Sementara itu, kami tidak punya wadah yang cukup luas untuk menampung tumpahan-tumpahan ide jika dibatasi dengan tembok kelas yang formal. Sedangkan, letupan-letupan ide jika didiamkan, justru akan mematikan tempat tumbuhnya ide tersebut, yakni pikiran. Maka dari itu, sejak Kamis (18/10/2012) kami mulai duduk bersama dalam satu lingkaran, bertukar pikir tentang apa saja.

Sementara ini, yang kami bahas adalah buku. Satu pertemuan satu buku. Dalam rangka menajamkan kembali pemahaman terhadap suatu wacana, serta memadukan satu wacana dengan wacana-wacana lain agar tidak sempit pemahaman. Bukankah semakin luas sudut pandang kita, makin bijak pula kita dalam penilaian terhadap berbagai hal? Dan tukar wacana hanya bisa terjadi dalam suatu diskusi.

Ini adalah Duduk Selingkar, ya, Selingkar. Karena tidak ada yang di depan, kami semua di depan. Juga tidak ada yang di belakang, kami semua di belakang. Setiap orang berhak mendengarkan maupun berbicara. Setiap pikiran boleh menerima sebaik menyangkal. Hanya ada satu aturan di sini; respek terhadap pendapat lain.

Tidak ada ruginya berdiskusi. Setidaknya, masing-masing dari kami bisa menelaah apa yang sudah dipahami, bertukar pikir, berbicara, mendengarkan, memperhatikan, dan tentunya; menghargai.

Selingkar hanya mengandalkan kebersamaan. Selingkar tidak menjadikan peselingkar menjadi apa-apa selain dirinya sendiri. Selingkar bukan ajang unjuk gigi, hanya satu upaya mengenal jati diri melalui diskusi. Karena dalam setiap diskusi pasti ada titik temu maupun perbedaan. Nah, proses inilah yang kemudian akan mengasah kdewasaan dalam persamaan maupun perbedaan.

Ya. Semoga rahmat Tuhan senantiasa mengucur deras kepada lingkaran pemuda-pemuda ini. Amin.

--
Jogja, 11 Dzulhijjah 1433

No comments:

Powered by Blogger.