Pelatihan Ilmu Faraidh di Madrasah Huffadh 1 Al-Munawwir

15:55
Ada pemandangan yang berbeda di Madrasah Huffadh 1 kali ini. Dua malam ini telah diselenggarakan  pelatihan Faraidh (perhitungan waris) bersama Ustadz Ahmad Syahir dari Indramayu. Beliau memang sedang menggalakkan pelatihan semacam ini, terutama di pesantren-pesantren.

Pelatihan digelar dalam dua pertemuan, yakni malam Kamis dan malam Jum’at. Pada malam Kamis, pelatihan dimulai pukul 20.00 WIB dan ditutup puku 22.00, kemudian dilanjutkan –secara spontan- dengan gurah massal. Sedangkan pada malam kedua, pelatihan dimulai pukul 20.00, dirakhiri pada pukul 22.00 dengan shalawat dan musafahah.



Rujukan yang digunakan adalah modul Jadwal Faraidh Praktis susunan Kiai Rochmadi dari Kowangan -  Temanggung yang tak lain merupakan guru dari pemateri.

Dengan gayanya yang khas, Ustadz Syahir menerangkan satu persatu bab praktis tentang ilmu waris di dalam modul tersebut. Mulai dari Jenis Ahli Waris hingga masalah Dzu Faradh dan Jami’atayn. Tak jarang, di sela-sela penyampaian beliau mengajak para peserta pelatihan untuk mendendangkan shalawat bersama-sama.

Ilmu Faraidh, menurut beliau, adalah suatu cabang keilmuan Islam yang mulai jarang diminati para santri, apalagi diamalkan di masyarakat. Kebanyakan ahli waris membagi harta warisan dengan cara ridho-birridho, sukarela, tidak lagi menggunakan perhitungan yang sudah paten di dalam Al-Quran dan Sunnah. Padahal, ayat yang menjelaskan tentang perhitungan waris merupakan tuntunan yang sudah jelas.

Ketika seseorang meninggal dunia,maka segala hal yang ada padanya kembali kepada Allah swt., tidak terkecuali harta peninggalannya. Oleh sebab itu, harta waris yang ada harus dibagi menggunakan ukuran yang sudah Allah tetapkan, karena setiap ahli waris memiliki takaran jatah yang sudah ditentukan. Nashiiban Mafruudhoo.

Ketidakpopuleran ilmu faraidh maupun pengamalan pembagian waris di Indonesia tidak terlepas dari faktor sejarah. Sejak tanggal 1 April 1937, Pemerintah Kolonial Belanda menghapuskan kewenangan pembagian waris dari Pengadilan Agama. Maka sejak itu, Pengadilan Agama hanya mengurusi masalah Nikah – Talak – Rujuk saja. Sedangkan urusan warisan ditangani oleh Pengadilan Umum (Landraad) yang notabene menggunakan dasar hukum adat, bukan hukum Islam. Padalhal pada saat itu, kaum Muslimin tidak banyak yang mengerti ilmu faraidh dan tidak banyak pula yang mengamalkannya.
Hal seperti ini sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah saw.;

“Belajarlah ilmu faraidh dan ajarkanlah kepada manusia karena ilmu faraidh bernilai separuh ilmu, tetapi dia dilupakan. Padahal ilmu faraidh itu ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku.” (HR Ibnu Majah dan Daruquthni).

Namun, melihat  antusiasme 70-an santri Madrasah Huffadh 1, serta pemuda-pemudi lain di tempat-tempat lain yang mengikuti pelatihan semacam ini, sekiranya ‘ramalan’ Rasulullah saw. bukanlah untuk saat ini. Insyaa-Llah.

Krapyak, 10-11 Oktober 2012

1 comment:

  1. bisa minta alamat / nmr hp nya ustadz syahir ?? supaya bisa menularkan ilmunya di pondok sarang

    ReplyDelete

Powered by Blogger.